
Hay para readers yang setia. Terima kasih untuk kalian yang sudah baik banget buat ngikuti Raihan Si Pria Arrogant dan novel-novel aku yang lainnya.
Raihan si Pria Arrogant akan lompat 1 tahun kemudian ya teman-teman. Terus kasih, koment, Like dan vote yang banyak ya. Biar cerita Raihan si Pria Arrogant semakin menari Terima kasih...
1 Tahun kemudian.
" Amira sayang cepat, nanti kamu telat sekolah, Amira," teriak Raina yang sedari tadi mengomel di meja makan sambil menuang susu ke dalam gelas dengan mengusap-usap perutnya yang sudah mulai membesar.
" Amira, buruan dong," teriaknya lagi yang melihat anaknya tidak kunjung menuruni anak tangga.
Bukan Amira yang turun melainkan Raka yang sudah rapi dengan stelan kemeja dan jasnya dengan tas yang di pegangnya. Raka langsung mendekati Raina yang sedari tadi mengoceh.
" Pagi sayang," sapa Raka mencium kening Raina.
" Pagi," jawab Raina.
" Kenapa teriak-teriak dari tadi," ujar Raka berlutut di depan Raina dan mengusap perut Raina, menempelkan telinganya pada kandungan Raina yang sudah memasuki 7 bulan.
" Anak kita bilang, kamu jangan galak-galak," ujar Raka mengangkat kepalanya melihat ke arah Raina.
" Gimana nggak galak. Amira dari tadi lama banget, dah tau mau telat," ujar Raina kesal. Raka hanya geleng-geleng dan mencium kandungan istrinya.
" Morning mama, morning papa," sahut Amira yang menuruni anak tangga dengan berlari.
" Pelan-pelan Amira," ujar Raka ngeri-ngeri sedap dengan Amira yang berlari di anak tangga.
" Kamu itu lama banget sih," protes Raina saat Amira sudah di depannya.
" Maaf mama," jawab Amira, lalu ikutan papanya mengusap perut buncit mamanya.
" Dedeknya gerak lagi pa," tanya Amira.
" Iya sayang, coba kamu dengarkan," ujar Raka kembali menempelkan telinganya pada kandungan istrinya. Amira langsung ikut-ikutan papanya.
" Iya benar, dedeknya kayak ngomong," sahut Amira polos. Raka dan Raina hanya tersenyum melihat Amira.
" Mama kapan dedeknya ke luar?" tanya Amira.
" Sebentar lagi, makanya Amira jadi kakak, jangan bandel-bandel, nanti dedeknya akan mau ke luar," sahut Raina.
" Baik mama," jawab Amira mengajukan jempolnya dan mengedipkan 1 matanya.
__ADS_1
" Ya sudah ayo kita sarapan," ujar Raina. Raka kembali berdiri, menarik kursi untuk Raina dan Amira lalu Raka pun duduk di hadapan Raina.
" Sayang, nanti aku pulang agak telat ya, soalnya aku harus gantiin kak Raihan meeting," ujar Raka.
" Memang Om Raihan sama Tante Nayra belom pulang?" tanya Amira.
" Mereka pulang besok," jawab Raka.
" Kalau begitu nanti Amira mau Vidio Call biar di beliin oleh-oleh dari Paris," ujar Amira.
" Kamu ini selalu aja bikin repot Tante Nayra dan Om Raihan," sahut Raina.
" Orang Om sama Tante aja nggak marah," sahut Amira mengerucutkan bibirnya.
" Sudah jangan di lanjutkan ributnya, ayo kita lanjutin sarapannya," sahut Raka yang sudah terbiasa dalam pertengkaran ibu dan anak yang setiap hari ribut.
************
Paris.
Raina di dalam kamar mandi hotel tempat mereka menginap. Nayra berdiri di depan wastafel dengan memejamkan matanya dengan benda yang di pegangnya tespeck.
Nayra sangat dek-dekan sampai tidak berani melihat garis pada tespeck tersebut. Dengan perlahan Nayra membuka matanya mengintip demi sedikit ke arah tespeck tersebut dan melihat garisnya yang ternyata masih 1.
Raihan membuka pintu kamar mandi. Melihat istrinya dari cermin. Wajah cantik istrinya yang sangat murung. Raihan yang seperti tau kenapa istrinya murung langsung memeluk Nayra dari belakang, melingkarkan tangannganya di pinggang Nayra dan menempelkan pipinya pada Nayra.
" Kenapa sayang?" tanya Raihan memeluk erat.
" Masih negatif," jawab Nayra dengan suara yang tidak bersemangat. Tetapi Raihan menanggapinya tersenyum lebar.
" Tidak apa-apa, mungkin belum rezeki. Itu berarti Tuhan belum memberi kita kepercayaan," sahut Raihan yang terus memberi semangat istrinya. Nayra membalikkan tubuhnya dan menghadap Raihan.
" Maaf, aku belum bisa memberikanmu anak," ujar Nayra merasa bersalah. Tetapi Raihan malah tersenyum.
" Hey, kenapa harus minta maaf, apa yang salah. Itu bukan salah kamu. Semua itu Tuhan yang mengatur. Lagi pula aku ingin terus berduaan sama kamu. Aku ingin fokus istriku kepadaku saja," ujar Raihan mengusap-usap pipi Nayra.
Nayra langsung mewek dan memeluk Raihan. Raihan selalu mengatakan hal itu berulang-ulang setiap tespecknya gagal lagi. Tetapi Nayra terus merasa bersalah pada Raihan.
" Hey, jangan sedih, kenapa harus menyedihkan hal yang tidak penting, Nara kita menikah baru lebih satu tahun. Jadi kenapa harus merasa seperti ini. Di luar sana banyak orang yang menikah sudah puluhan tahun. Dan belum di beri kepercayaan juga. Tetapi mereka tidak pernah mengeluh," jelas Raihan lagi yang terus memberi Nayra semangat.
Raihan melepas pelukan istrinya, memegang dagu Nayra mensejajarkan wajahnya dengan Raihan. Dugaannya benar air mata Nayra kembali menetes. Raihan menghela napasnya dan mengusap air mata itu.
__ADS_1
" Jangan seperti ini lagi," ujar Raihan yang terus mengusap air mata itu. Nayra mengangguk.
" Ya sudah kita mau kemana hari ini, sebelum kita kembali ke Indonesia?" tanya Raihan.
" Aku mau belanja, cari oleh-oleh buat mama, papa, papa Arya, Alya, Amira, kak Carey dan yang lainnya," jawab Nayra.
" Ya sudah sayang, kita belanja, tetapi bagaimana jika nanti saja," ujar Raihan membuat Nayra bingung.
" Memang kamu mau ngapain?" tanya Nayra. Raihan tersenyum miring dan langsung menggendong Nayra. Membuat mata Nayra membulat saat berada di gendongan Raihan. Nayra dengan cepat mengalungkan tangannya di leher Raihan.
" Aku ingin bersamamu. Kita harus terus mencoba bukan," sahut Raihan dengan seriangi nakal di wajahnya. Nayra merapatkan giginya dan langsung memukul dada Raihan.
" Bukannya tadi malam sudah," ujar Nayra mengingatkan.
" Dan ini sudah pagi, jadi waktunya sudah beda," jawab Raihan dengan seriangi nakal di wajahnya.
" Dasar," desis Nayra. Raihan mengendong istrinya, keluar dari kamar mandi dan apa lagi jika tidak meremehkan Nayra di atas tempat tidur dan menindih tubuh Nayra.
" I love you," lirih Raihan mengusap-usap pipi Nayra.
" I love you to," jawab Nayra. Raihan yang tidak ingin menunggu lama langsung melahap bibir Nayra. Mereka kembali melakukan hubungan itu dengan penuh cinta.
Raihan dan Nayra sudah seminggu berada di Paris. Apalagi jika tidak berbulan madu yang sudah entah berapa kali.
Nayra sampai detik ini belum mengandung. Sebelumnya Nayra pernah hamil. Tetapi belum rezeki memasuki usia 2 bulan. Nayra mengalami keguguran. Karena kelelehan berpikir.
Nayra memang kembali melanjutkan S-2nya di Perth Australia. Nayra harus ke Australia 1 Minggu sekali untuk kuliah dan memang Raihan pasti menemaninya. Jika tidak Raihan, adiknya tirinya Alya, atau kalau tidak Raina.
Tetapi karena Nayra yang kelelahan. Nayra mengalami ke guguran. Semenjak itu Raihan tidak memberi izin Nayra Kuliah di Luar Negri dan melanjutkan S-2nya di Indonesia. Karena dia tidak mau istrinya kenapa-napa.
Selama 1 tahun belakangan Raihan dan Nayra memang di sibukkan dengan bisnis yang mereka bangun dari nol.
Raihan sudah tidak mengabdi di perusahan papanya lagi. Dia membangun bisnis hotel dari hasil uangnya sendiri. Dan selama setahu belakangan Bisnis Raihan dan Nayra mengalami perkembangan yang besar.
Hotel Nara itulah nama hotel tersebut. Menjadi hotel terbesar di Jakarta dan bahkan sudah ada beberapa di Luar kota, di kota-kota besar dan 1 bulan yang lalu Hotel Nara juga launching di Paris.
Semua memang hasil jerih payah Raihan dan Nayra. Nayra selalu mendampingi suaminya dan juga menjadi sekretaris pribadi Raihan di Perusahaan maupun di rumah sendiri.
Semetara Raka sendiri adalah direktur di hotel tersebut dan Raina sendiri tidak bekerja. Dia menjadi ibu rumah tangga yang fokus pada Amira dan calon bayinya.
Hanya saja sesekali Raina masih tetap menulis. Karena memang itu adalah hobinya. Dan itu juga tidak pernah menguras tenaganya.
__ADS_1
Bersambung.......