Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 163


__ADS_3

Nayra mengikuti Raihan memasuki kamar. Saat memasuki kamar Raihan sudah berada di tempat tidur dengan berbaring miring yang berarti membelakangi Nayra.


Nayra menghela napasnya dan ikut naik ke atas tempat tidur. Nayra mematikan lampu yang di sampingnya dan perlahan lalu berbaring menarik selimut.


Nayra melihat Raihan yang tidak juga melihatnya sedikitpun. Memilih memiringkan tubuhnya membelakangi Raihan.


Butir air mata yang jatuh di pipinya di hapusnya dengan pelan. Nayra sempat Sengugukan karena menahan air matanya.


Raihan menyadari jika Nayra masih menangis. Raihan menelan salavinanya dan memejamkan matanya.


************


Mentari pagi kembali tiba. Seperti biasa Nayra akan menyiapkan sarapan pagi. Nayra tidak membangunkan Raihan. Karena takut Raihan marah ke padanya.


Tetapi mendengar suara air kamar mandi mungkin Raihan sudah bangun dan sudah bersiap-siap. Tidak berapa lama Raihan pun menghampiri dapur. Seperti biasa sebelum kekantor Raihan akan sarapan dulu.


Raihan menarik kursi dana memulai memakan nasi goreng buatan Nayra. Seperti biasanya. Tetapi meja makan tidak mengeluarkan suara sama sekali.


Hanya ada suara hentingan sendok tanpa ada obrolan. Baik Nayra dan Raihan yang duduk berhadapan sama-sama membisu. Ke-2 nya mungkin menenangkan hati masing-masing akibat perkelahian tadi malam.


Nayra juga sudah lelah minta maaf. Mungkin Raihan butuh waktu jadi dia lebih memilih diam.


Tidak waktu sarapan dan di dalam mobil ke-2 nya masih tetap diam tanpa ada pembicaraan. Raihan dan Nayra menuju kantor. Meski mereka ribut.


Tetapi Raihan tidak mungkin meninggalkan Nayra sendirian di Apertemen walau Raihan sangat kesal dengan istrinya itu. Sesekali Nayra melihat ke arah Raihan.


Suaminya sangat dingin kepadanya. Bahkan tidak berbicara satu katapun. Nayra menahan air matanya agar tidak jatuh. Dia tidak ingin menangis terus didepan Raihan.


************


Sarapan juga di adakan di rumah Raina bersama orang tuanya dan putri kecilnya.


" Mama nanti jemput Amira kan?" tanya Amira.


" Pasti sayang," jawab Raina sambil mengolesi selai ke roti.


" Hmmmm, jadi Amira tidak mau, Oma yang jemput," sahut Zira.


" Soalnya kalau Oma, pasti sama supir, kalau mama pasti sama Om Raka. Jadi Amira maunya di jemput Om Raka," jawab Amira dengan cerianya.


" Benarkah," sahut Zira. Amira mengangguk sementara Raina hanya tersenyum.

__ADS_1


" Kayanya Opa lihat kamu sayang banget sama Om Raka," sahut Addrian merasa cemburu.


" Tidak Opa Amira sayang sama Opa, Oma, mama, om Raihan, Tante Nayra, dan juga Om Raka," jelas Amira.


" Tapi kayaknya lebih sayang Om Raka deh," sahut Addrian.


" Iya memang, mama juga bilang kalau mama sayang sama om Raka," sahut Amira polos.


Membuat Raina kaget dan tersedak makanan.


Uhuk-uhuk-uhuk.


Raina langsung buru-buru minum saat Amira berbicara seperti itu. Zira dan Addrian saling melihat dan melihat Kearah Raina dengan tatapan curiga.


" Amira tau dari mana, kalau mama sayang sama om Raka?" tanya Zira memperjelas sambil terus melihat Raina yang dengan wajahnya yang memerah merona.


" Mama yang bilang, iya kan ma," lempar Amira membuat Raina semakin gugup. Addrian dan Zira tersenyum melihat Raina menunggu jawaban Raina.


" Kapan mama bilang," lirih Raina pelan yang malu di depan orang tuanya.


" Tadi malam, mama juga bilang makasih sama Nayra. Karena Amira sudah dekat dengan Om Raka," Amira malah memperjelas semuanya. Membuat Raina memejamkan matanya.


" Sayang sudah," geram Raina yang salah tingkah.


" Maksud papa apa?" tanya Raina panik.


" Raina kamu mengerti maksud papa. Papa akan sangat marah. Jika kamu berhubungan diam-diam dengan Raka. Kalian bukan anak remaja yang harus pacaran tanpa sepengetahuan orang tua," tegas Addrian.


" Nggak ada yang pacaran diam-diam pa, Amira salah tangkap, papa jangan buat kesimpulan seperti itu," sahut Raina yang panik jika papanya membahas itu dengan Raka.


" Lalu kenapa Raka tidak datang juga kepada papa," sahut Addrian.


" Iya Raina kalian tidak boleh berpacaran terus menerus, kasian Amira. Itu juga contoh yang tidak baik alangkah baiknya kalian langsung menikah," sahut Zira.


" Ma, mama itu salah paham. Tidak seperti itu konsepnya," sahut Raina gugup.


" Kalau begitu, papa harus tanyakan Raka hal ini," sahut Addrian.


" Gawat jika papa tanyakan hal itu. Siapa tau aku aja yang kepedean jika Raka menyukaiku. Mau di taruh mana muka ku. Jika Raka tidak mempunyai perasaan apa-apa kepadaku. Tapi Raka menciumku dan menjelaskan itu kepada ku. Itu berarti dia menyukaiku," batin Raina yang bingung.


" Benar kata papa kamu Raina jika memang kalian ada hubungan. Kalian harus serius jangan berhubungan seperti ini," sambung Zira.

__ADS_1


" Iya ma. Tapi untuk masalah itu nanti saja dulu. Raina belum ada kepikiran untuk hal-hal semua itu," sahut Raina gugup.


" Ya sudah kalau begitu semua ada di tangan kamu," sahut Addrian kembali menyerahkan kepada Raina.


Addrian sudah mengenal Raka sejak lama. Dia juga mengetahui latar belang Raka dan bagi Addrian jika putrinya ingin menjalin hubungan dengan Raka itu tidak masalah.


Asal Raka bisa menerima Raina apa adanya. Karena Raina tidak sama dengan wanita yang lainnya Raina sudah pernah menikah dan memiliki anak.


**********


Raihan sibuk di meja kerjanya yang terus fokus pada laptop dan jarinya yang mengetik dengan dengan lincah sementara Nayra duduk di sofa dia terus melihat Raihan yang sama sekali tidak berbicara kepadanya. Jangankan bicara melihatnya pun tidak.


" Kamu benar-benar semarah itu Raihan sampai kamu benar-benar tidak ingin melihatku. Kamu terus mengacuhkanku," batin Nayra mengusap air matanya yang kembali menetes.


" Aku cari mau cari makan dulu," lirih Nayra mengusap air matanya.


Dan memilih pergi. Raihan menghentikan ketikannya melihat ke arah Nayra yang memasukkan hanphonenya ke dalam tasnya bergegas pergi. Raihan menarik napasnya.


Raina yang merasa tidak di pedulikan lebih memilih pergi. Saat tangannya memegang gagang pintu Raihan mengehentikan ya dengan memegang tangan Nayra yang di atas kenopi pintu.


" Ada apa?" tanya Nayra dengan suara seraknya. Membalikkan badannya melihat Addrian yang sudah berdiri di depannya. Raihan memeluk Nayra dengan erat.


Raihan memeluk erat. Membuat Raina menangis semakin menjadi-jadi di pelukan Raihan.


" Kenapa kamu terus mendiamkanku, aku tau aku salah. Tapi kamu tidak harus mengacuhkanku seperti ini. Apa kamu membenciku sampai tidak ingin melihatku. Sampai tidak ingin bicara denganku?" Nayra terus mengeluh menangis Sengugukan.


" Maafkan aku, jangan melakukan itu lagi, aku tidak ingin kamu melakukan itu lagi," ujar Raihan benar-benar menurunkan egonya. Dia sangat tidak tega melihat Istrinya terus bersedih.


" Iya aku yang minta maaf. Maaf sudah membuatmu marah. Aku janji tidak akan melakukan itu lagi, aku janji tidak akan membuatmu marah lagi, aku janji," ujar Nayra terus menerus mengulang kalimatnya.


Raihan melepas pelukannya dan melihat. Memegang ke dua pipi Nayra melihat wajah Nayra yang penuh air mata.


" Jangan menangis lagi. Maaf tidak seharusnya aku membentakmu. Tidak seharusnya aku marah kepadamu. Aku tidak suka caramu Nara. Aku tidak pernah meminta apapun kepadamu. Aku hanya ingin kau cepat sembuh. Aku menikahimu bukan untuk semua itu. Karena aku mencintaimu hanya itu," ujar Raihan dengan tulus.


" Jadi jangan melakukan itu lagi, kamu mau menurutiku?" tanya Raihan. Nayra mengangguk cepat. Raihan tersenyum.


" sudah jangan menangis lagi," ujar Raihan sambil mengusap air mata Nayra. Raihan mencium keningnya dan kembali memeluknya.


" Kamu sudah tidak marah lagi denganku?" tanya Nayra memastikan.


" Hmmmm, aku tidak bisa marah berlama-lama kepadamu," sahut Raihan mengusap-usap punggung istrinya.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹🌹 Bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2