
Setelah mengobrol bersama Alex dan Sony di taman belakang. Akhirnya Raihan memasuki kamar. Saat memasuki kamar. Raihan melihat Nayra yang sudah tertidur lelap. Mungkin Raina sangat lelah sampai ketiduran tanpa menunggu Raihan.
Raihan geleng-geleng dan menutup pintu kamar. Lalu menghampiri istrinya yang tertidur miring. Raihan menarik selimut sampai ke dada Nayra dan menaiki ranjang Raihan mencium pipi Raina dari belakang.
" Seharusnya aku lebih cepat memasuki kamar, agar kita bisa menghabiskan malam bersama," ujar Raihan ditelinga istrinya yang sepertinya Raihan punya rencana indah malam ini pada Nayra. Tetapi gagal karena Nayra sudah tertidur lelap.
Raihan yang tidak ingin mengganggu istrinya pun memeluk Nayra dari belakang dan perlahan memejamkan matanya. Dia harus menunda keinginannya. Masih ada waktu beberapa hari lagi untuk melanjutkan sesi bulan madu di Bali.
**********
Malam berikutnya di Bali. Zira, Addrian dan orang tua Raka sudah kembali ke Jakarta. Sementara Raihan dan yang lainnya masih berada di Bali.
Seperti biasa setelah melakukan aktivitas seharian dari bermain di pantai, berbelanja dan yang lainnya. Sekarang tinggal lelahnya dan sudah waktunya tidur.
Raihan yang tidak ingin melewatkan malam bersama istrinya. Cepat-cepat memasuki kamar. Nayra yang sedang berdiri di depan cermin menyisir rambutnya. Langsung di peluk Raihan dari belakang. Sontak membuat Nayra kaget.
" Raihan," lirih Raina, Raihan menenggelamkan kepalanya di leher Nayra dan mencium pipi Nayra.
" Aku merindukanmu," ujar Raihan lembut yang di penuhi gairah.
" Raihan geli, jangan seperti ini," protes Nayra yang terus menciumi pipi Nayra dengan penuh hasrat.
" Sayang ayo melakukannya, aku ingin memilikimu malam ini," ujar Raihan meminta pada Nayra. Nayra tersenyum dan menghadap suaminya. Melihat mata Raihan yang benar-benar di penuhi gairah.
" Apa kamu benar-benar menginginkanku?" tanya Nayra.
" Iya aku ingin menghabisimu malam ini," jawab Raihan tersenyum nakal dan mencium kening Nayra. Nayra memejamkan matanya menerima ciuman hangat itu.
Mata Raihan langsung turun pada bibir merah Nayra. Raihan memiringkan kepalanya ingin meraih bibir itu.
Tok tok tok tok. Hampir saja bibir itu habisi Raihan kalau pintu tidak di ketuk. Ada saja yang mengganggu mereka. Raihan langsung merapatkan giginya kesal. Ada saja yang mengganggunya.
" Apa mereka tidak punya kamar," geram Raihan kesal.
" Sudah biar aku buka dulu," ujar Nayra melepas tangan Raihan dari pinggangnya dan berjalan membuka pintu. Saat Raina membuka pintu matanya langsung turun kebawah melihat Amira yang datang membawa bonekanya dengan matanya yang mengantuk.
__ADS_1
" Amira sayang ada apa?" tanya Nayra berjongkok. Amira tidak menjawab langsung melewati Nayra dan berlalu ke tempat tidur. Membuat Nayra dan Raihan heran.
" Amira mau bobo sini," ujar Amira yang sudah naik ke atas tempat tidur. Nayra berdiri dan tidak bisa menjawab apa-apa.
Sementara Raihan melebarkan matanya melihat Amira yang dengan enteng sudah berbaring di tempat tidur.
" Amira yakin mau, bobok sini?" tanya Raihan memastikan, " di sini sempit Amira kenapa juga harus tidur di sini. Memang Amira tidak ada kamar, di sini kamarnya tidak bagus, dan pasti Amira nyesal," Raihan terus merocos mengatakan yang tidak-tidak agar Amira tidak tidur di kamar itu.
Sementara Nayra yang masih berdiri di depan pintu hanya tertawa kecil. Melihat suaminya yang berusaha membujuk Amira agar tidak tidur bersama mereka.
" Om Raihan Diamlah! Amira mau tidur di sini, memang kenapa, tidak boleh Amira bobo sini?" tanya Amira dengan suara keras. Raihan menggeleng jika di tanyak jelas tidak boleh.
" Tante Nayra Amira bolehkan bobo sini?" tanya Amira dengan wajah kesalnya dengan omnya yang ingin mengusirnya. Nayra tersenyum lebar, berjalan dan menghampiri Nayra.
" Boleh dong sayang, Tante jelas sangat senang, bisa tidur sama Amira," jawab Nayra tanpa masalah yang sudah berada di atas tempat tidur mengusap rambut Amira.
" Tuh, om Raihan boleh kok sama Tante Nayra," sahut Amira mengejek Raihan.
" Ishhh," desis Raihan geram. Gagal lagi dia malam ini berduaan dengan Amira.
" Ya sudah Amira sekarang bobo ya," ujar Nayra yang terus mengusap rambut agar tertidur pulas.
" Iya Tante," jawab Amira.
Raihan yang kesal tetap menyusul ketempat tidur berbaring di belakang Nayra yang menidurkan Amira.
" Kenapa juga harus tidur di sini," oceh Raihan menatap langit kamar. Nayra yang mendengarnya menengok kebelakang dan mencium pipi Raihan. Agar wajah kesal itu berubah.
" Mungkin kak Raina dan Raka lagi berduaan," bisik Nayra yang mengerti jika ada pengantin baru.
" Apa tadi malam mereka masih kurang," sahut Raihan kesal, " Berduaan tetapi harus mengorbankan orang lain," lanjut Raihan yang terus mengoceh.
" Sudahlah Raihan, jangan berisik terus, nanti Amira tidak mau tidur," sahut Nayra yang kesal mendengar ocehan Raihan. Raihan pun menarik napasnya perlahan lalu memeluk Nayra dari belakang.
" Jika aku dapat kesempatan aku tidak akan melepaskanmu," bisik Raihan mencium pipi Nayra.
__ADS_1
" Terserah kamu," sahut Nayra yang terus menidurkan Amira sampai mata Amira terpejam.
**********
Nayra dan Raihan harus menjadi korban malam ini demi pasangan pengantin baru Raka dan Raina. Setelah memastikan putrinya tidur dengan aman. Raina kembali memasuki kamar.
Ya Raina memang menunggui di depan kamar Raihan, dia juga yang membujuk-bujuk Amira agar tidur bersama Raihan dan Nayra. Semuanya tidak sia-sia dan berjalan dengan lancar.
" Amira sudah tidur?" tanya Raka yang sudah duduk di pinggir ranjang. Raina yang masih berdiri di depan pintu menganggu dengan tersenyum. Lalu Raina menghampiri Raka yang duduk di pinggir ranjang.
" Lalu jika Amira sudah tidur, apa yang harus kita lakukan?" tanya Raka menggoda Raina dengan tatapan mematikan.
" Apaan sih," jawab Raina menjadi malu.
Raina memegang pipi Raka dan mencium pipi Raka lembut.
" Maaf ya pasti kemarin Amira membuatmu kesal," ujar Raina merasa bersalah.
" Aku tidak berpikir sampai situ," jawab Raka. Tangan Raka mengusap lembut pipi Raina.
" Aku mencintaimu, maaf aku pernah mencium wanita lain di belakangmu," ujar Raka yang masih bersalah jika mengingat hal itu. Raina menggeleng dan tersenyum pada Raka.
" Apa-apa saja yang kamu dan dia lakukan, apa wanita itu menciumi tubuhmu?" tanya Raina menatap curiga.
" Iya seperti yang aku katakan kemarin dia.... Empp," belum sempat Raka menjelaskan. Raina menutup mulut Raka dengan bibirnya. Bukan sekedar kecupan tetapi Raina mencium dengan dalam.
Raka tidak menghilangkan kesempatan membalas ciuman dari istrinya. Kali ini Raina yang terlihat agresif di bandingkan Raka.
Tangan Raina bahkan berjalan membuka kancing kemeja Raka sampai Raka juga sudah berbaring di atas tempat tidur dengan ciuman yang tidak lepas sama sekali.
Lama berciuman Raina yang berada di atas tubuh Raka melepas ciuman itu. Sehingga keduanya sama-sama ngos-ngosan.
" Aku akan menghapus semua perbuatan wanita itu di tubuhmu," ujar Raina dengan napas tersenggal-senggal.
" Kamu yang akan melakukannya?" tanya Raka dengan suara berat membelai rambut Raina. Raina mengangguk yakin....
__ADS_1
Bersambung.....