
Kantor Polisi
Di dalam jeruji besi di sudut ruangan terlihat Carey yang duduk memeluk Ke-2 lututnya. Sesekali wanita itu menarik rambutnya kasar.
" Mama pasti bohong. Tidak mungkin Nayra adikku. Mama pasti bohong," ucapnya dengan mengacak rambutnya.
Carey semakin frustasi saat Jihan menceritakan jika Nayra adalah adik kandung Carey.
" Apa aku benar-benar mencelakakan Nayra. Tidak aku tidak melakukannya. Aku tidak mengetahui itu. Itu bukan salahku. Itu salah mama. Itu salah Tante Zira. Mereka yang salah aku sama sekali tidak melakukan apapun. Mereka yang sudah membuat semua itu terjadi, ini bukan salahku, bukan!" teriak Carey yang tidak ingin di salahkan.
" Aku tidak bersalah, tidak! aku tidak salah! tidak," Carey teriak-teriak histeris.
" Heh! diam jangan berisik," ucap Polisi wanita yang menghampiri Carey saat suara Carey yang berteriak menggelegar.
Carey yang melihat Polisi tersebut langsung berdiri dan menghampirinya.
" Aku tidak bersalah, aku tidak pernah mencelakai adikku sendiri!" teriak Carey dengan matanya yang melotot.
" Katakan kepada mereka. Aku hanya mencelakai Nayra. Karena dia merebut Raihan dari ku. Aku tidak pernah mencelakai adikku. Hanya Nayra bukan adikku," ujarnya lagi yang sekarang malah tertawa.
" Iya, ha-ha-ha-ha, aku tidak tau jika itu adikku. Jadi bukan salahku, benarkan!" Polisi tersebut heran melihat Carey yang tertawa-tawa sendiri.
" Nayra adikku. Aku malah mencelakainya, aku sungguh hebat, tapi itu bukan salahku, aku tidak tau, itu salah mereka," ujar Carey lagi. Terus menerus berbicara seperti orang gila.
Kebenaran yang terjadi membuat Carey, terkadang merasa bersalah. Terkadang menyalahkan mamanya.
Dia tidak ingin menerima kenyataan bahwa dia mencelakakan adiknya sendiri. Carey hanya menangis jika mengingat perbuatannya. Tetapi kembali tertawa. Hanya itu yang terus menerus di lakukan Carey.
*********
Mentari pagi kembali tiba. Di rumah Raihan sudah ada Andini dan Eyang Farah, mendengar cerita dari Raina. Eyang Farah dan Andini langsung kerumah Addrian dan Zira.
Mereka duduk di ruang tamu dengan gelisah. Meski Raihan sudah memberi tahu jika Nayra sudah di temukan. Mereka tetap cemas. Karena Raihan mengatakan jika Nayra masih tidak ingin bicara.
Bahkan Nayra sempat pingsan. Raihan memang sengaja tidak membawa Nayra pulang. Untuk memberikan Nayra ketenangan.
" Kenapa semua ini bisa terjadi, Kamu ini kenapa sih, Zira, bisa-bisanya menyembunyikan hal sebesar ini," ujar Farah menyalahkan menantunya. Zira hanya menunduk dengan wajah kecemasannya. Karena terus memikirkan Nayra.
" Ma, sudahlah apa gunanya menyalahkan Zira. Semua itu tidak mudah," sahut Addrian membela istrinya. Karena dia tau bagaimana perasaan istrinya.
" Kalian juga, ketika sudah mengetahuinya, bukannya langsung di beritahu, malah di biarkan lagi," oceh Farah lagi.
__ADS_1
" Eyang, kondisi Nayra pada saat itu tidak memungkinkan untuk memberitahunya," sahut Raina memberikan alasan.
" Terus sekarang bagaimana apa bedanya. Sama saja kan. Bahkan lebih Farah. Dia bahkan menganggap jika Raihan ikut-ikutan. Sekarang siapa lagi yang di percayainya. Tidak ada. Bahkan dia tidak mau bicara dengan Raihan. Coba saja kalian beritahu lebih awal. Semua tidak akan seperti ini," Farah terus memarahi orang-orang yang menyembunyikan semua rahasia itu.
" Ma, nasi sudah menjadi bubur. Sekarang kita hanya memikirkan. Bagaimana caranya agar Nayra bisa menerima semuanya, tidak ada gunanya melihat kebelakang lagi," ujar Addrian.
" Lalu bagaimana dengan Si David apa dia sudah tau juga?" tanya Farah.
" Jihan sudah memberitahunya. Dan kita juga tidak tau bagaimana reaksi Mas David setelah ini," jawab Zira penuh kekhawatiran.
" Untung saja kak Raihan dan Nayra sudah menikah. Jika mereka belum menikah. Aku tidak tau bagaimana hubungan kak Raihan dan Nayra selanjutnya," batin Andini, merasa sedikit lega.
" Hhhhhhh, masalah ada saja yang terjadi. Setelah ini apa lagi yang akan terjadi," keluh Farah memijat kepalanya. Masalah yang terjadi pada cucunya benar-benar membuat Farah ikut stress.
" Mama," teriak Amira dari depan pintu yang baru pulang sekolah. Semua mata langsung tertuju pada Amira yang sekarang berlari menghampirinya.
" Sayang," sahut Raina memeluk Raina.
" Kamu pulang sama siapa?" tanya Raina heran. Karena dia hampir lupa menjemput Amira.
" Om Raka, itu," jawab Amira menunjuk Raka yang datang dari pintu dan menghampiri. Setelah beberapa hari Raina baru melihat Raka sekarang.
Raina menanggapi datar. Dia memang belum menceritakan hubungannya dengan Raka yang benar-benar sudah selesai. Karena memang keluarga masih memikirkan masalah Nayra. Jadi Raina belum sempat untuk membahas masalahnya.
" Ayo Raka, kamu duduk!" ajak Farah. Raka melihat ke arah Raina yang Raina langsung mengalihkan pandangannya. Dia benar-benar tidak ingin melihat Raka.
" Maaf, eyang, pak Addrian, Bu, Zira. Saya harus kembali kekantor. Karena tadi meninggalkan pekerjaan," sahut Raka yang tidak mau membuat Raina tidak nyaman.
" Om mau pulang?" tanya Amira. Raka tersenyum.
" Iya sayang om, lagi ada pekerjaan," jawab Raka lembut.
" Amira biarin omnya pergi ya, Amira main sama Tante Andini," bujuk Andini.
" Baiklah, tapi nanti om main lagi ya sama Amira. Bolehkan ma," ujar Amira yang langsung bertanya pada Raina membuat Raina kaget dan tidak tau harus menjawab apa. Sementara Raka tau jika Raina pasti tidak akan mengijinkan itu.
" Mama?" tegur Amira karena tidak mendapat jawaban dari mamanya.
" Iya sayang," jawab Raina datar tanpa ekspresi.
Lebih baik mengiyakan dari pada semua orang mempertanyakan masalahnya dengan Raka.
__ADS_1
" Makasih mama," sahut Amira tertawa bahagia.
" Maaf Raina. Aku tau hal ini membuat kamu tidak nyaman. Meski kamu tidak memberiku kesempatan, aku akan tetap membuktikan. Jika aku tidak bersalah," batin Raka merasa tidak enak.
*************
Di sisi lain Nayra terbaring miring dengan selang infus di tangannya. Raihan memang memanggil dokter karena melihat kondisi Nayra yang semakin lemah.
Nayra bahkan tidak mau berbicara sedari tadi. Menangis juga tidak. Air matanya seakan habis sehingga tidak bisa ke luar lagi.
Setelah mengantarkan Dokter ke luar dari rumah kaca tersebut. Raihan kembali masuk dengan membawakan makanan yang juga di antara kurir. Raihan masih melihat Nayra terus memiringkan tubuhnya. Mungkin tidak ingin melihat Raihan.
Raihan menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. Raihan meletakkan makanan di atas meja dan mendekati Nayra. Raihan menaiki ranjang dan langsung memeluk Nayra dari belakang.
Berbaring miring seperti istrinya dan melihat wajah istrinya yang dia tanpa ada air mata.
" Nara," lirih memegang tangan Nayra. Nayra langsung menggeserkan tangannya, tidak ingin di sentuh oleh Raihan.
" Kamu masih marah kepadaku?" tanya Raihan yang dari tadi malam di diamkan Nayra.
" Maafkan aku, jangan seperti ini, aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Nara aku tau ini berat untuk kamu. Maafkan aku!" Raihan hanya bisa meminta maaf untuk membujuk Nayra. Raihan mengusap-usap bahu Nayra dan mencium pipinya. Nayra memejamkan matanya saat merasakan itu.
" Kenapa tidak memberi tahuku dari awal?" tanya Nayra dengan suara yang tidak jelas keluar.
" Iya aku tau, memang itu kesalahanku, aku hanya ingin kamu pelan-pelan bisa menerimanya. Aku akan memberitahumu ketika kami benar-benar siap," jelas Raihan.
" Kapan kamu mengetahui semuanya?" tanya Nayra.
" Aku mengetahui semenjak kamu ke luar dari rumah sakit. Keadaan kamu tidak memungkinkan untuk mengetahui hal itu," jelas Raihan lagi.
" Nara, aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan hal ini dari mu. Percayalah aku hanya tidak ingin melihatmu menderita. Aku tidak sanggup melihatmu terus menerus terluka. Makanya aku mencari waktu yang tepat untuk memberi tahumu. Nara kamu harus tau semua orang menyayangimu. Aku, mama dan yang lainnya tidak memberitahumu karena takut kondisi kamu yang tidak stabil," jelas Raihan.
" Tetapi tetap saja, kamu membiarkanku, beberapa hari ini kebingungan, kamu tega melakukannya," ujar Nayra kembali menangis.
" Iya aku tau, maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kau terus terluka. Aku hanya ingin mencari waktu yang tepat. Jangan marah lagi aku mohon. Semua orang mengkhawatirkan mu," ujar Raihan mencium kembali kening Nayra.
Nayra pun membalikkan badannya dan memeluk Raihan menangis kembali di dada bidang suaminya.
" Lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya, hiks-hiks-hiks?" tanya Nayra yang berada dalam pelukan suaminya.
...🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1