
Della dan Angga masih saling melihat dengan rasa terkejut. Bagaimana tidak ke-2 nya tidak pernah bertemu dan sekarang bertemu dalam keadaan yang berbeda.
" Angga, jadi dia yang memiliki Perusahaan ini," ujar Della di dalam hatinya.
" Jadi Della. Jadi Della klien nya, apa Della yang akan menikah," batin Angga dengan rasa penasaran.
" Kalau begitu saya permisi Pak!" ujar pamit Karyawan tersebut membuyarkan lamunan Angga dan Della.
" Oh iya, silahkan!" ujar Angga gugup.
" Mari Bu," karyawan itu juga berpamitan dengan Della. Della mengangguk tersenyum. Della begitu gugup dengan terlihat dari ke-2 tangannya yang menggengam erat tasnya di depannya.
Setelah kepergian karyawan tersebut, Angga langsung berdiri dan ke luar dari area kursinya, begitu juga dengan Della mulai melangkah mendekati Angga dengan rasa canggung.
" Hay," sapa Della yang benar-benar gugup. Tidak pernah bertemu dengan Angga membuatnya bingung harus menyapa seperti apa.
" Hay," sahut Angga dengan senyumnya, " kamu apa kabar?" tanya Angga mengulurkan tangannya.
" Hmmm, baik aku baik," jawab Della menerima jabatan tangan Angga.
Tetapi mereka bukannya melepas malah saling melihat. Mungkin telapak tangan mereka sama-sama dingin. Karena grogi yang begitu besar. Della yang sadar langsung melepas jabatan tangan itu.
" Silahkan duduk!" ujar Angga dengan gugup mempersilahkan Della duduk di sofa yang ada di ruangannya.
" Terimakasih!" jawab Della, langsung duduk. Dan Angga juga duduk didekat Della.
" Aku tidak menyangka kalau klien itu adalah kamu," ujar Angga basa-basi.
" Kamu benar, aku juga masih kaget. Jika pimpinan wedding organizer itu adalah kamu, tidak menyangka kita akan bertemu," sahut Della yang berusaha tenang menutupi rasa canggungnya.
" Kamu yang akan menikah?" tanya Angga memberanikan diri. Sedari tadi dia sangat penasaran dengan hal itu dan akhirnya pertanyaan itu lolos dari mulutnya.
Della tersenyum mengangguk. Saat memastikan bahwa tebakan Angga benar. Seperti ada rasa sayatan di hatinya. Entah apa artinya.
Tetapi Angga tetap menanggapi dengan senyuman. Seakan bahagia dengan pernikahan Della.
" Kalau begitu selamat, aku ikut bahagia dengan pernikahanmu," ujar Angga.
Della hanya tersenyum mengangguk. Dia tidak tau mengapa saat Angga memberinya selamat. Seakan hatinya bergemuruh tidak menentu. Seharusnya dia bahagia karena akhirnya menikah. Tetapi pertemuannya dengan Angga membuat Della seakan bergejolak.
" Hmmmm, baiklah kita mulai saja," sahut Angga mengalihkan.
" Iya," sahut Della yang benar-benar sangat canggung dan tidak nyaman jika harus mempersiapkan pernikahan dengan Pria yang pernah di cintainya dan mungkin itu membuat dadanya semakin sesak.
__ADS_1
Angga yang berusaha frofesional menunjukkan beberapa katalog kepada Della. Della melihat dengan serius. Walau hatinya juga tidak tenang.
" Dia menikah, aku tidak menyangka jika pertemuan kami. Justru kabar pernikahannya," batin Angga yang terus melihat Della dengan serius membolak-balikan katalog tersebut.
Della yang sadar di lihati akhirnya melihat ke arah Angga.
" Ada apa?" tanya Della.
" Tidak, aku hanya melihat keningmu terluka," jawab Angga. Della langsung memegang keningnya dan menutupi dengan rambutnya.
" Aku hanya ceroboh tadi, jadi kebentur," jawab Della bohong. Tidak mungkin dia mengatakan jika itu perbuatan calon suaminya.
Angga berdiri dan menuju meja kerjanya, membuka lacinya dan mengambil heandsaples. Angga kembali duduk di samping Della. Dan sekarang sangat dekat.
Reflex Angga menyinggirkan rambut di kening Della yang menutupi luka itu dan langsung menempelkan heandsaples tersebut pada kening Della yang luka.
Sontak hal itu membuat jantung Della berdebar kencang. Sentuhan tangan Angga seakan dirindukannya.
Della hanya bisa diam dan tidak menolak dengan perlakuan Angga malah Della terus melihat Angga yang lembut memperlakukannya.
Mata Pria itu tidak pernah berubah. Mata yang dulu membuatnya jatuh cinta. Menyukai sejak kecil dan akhirnya mengatakan itu cinta ketika sudah mengerti arti cinta.
Tetapi sayang cinta Della bertepuk sebelah tangan. Dan akhirnya memilih melupakan Angga.
Alhasil ke-2nya saling beradu pandang dengan perasaan dan gejolak hati masing-masing. Yang tidak tau arti apakah ke-2nya saling merindukan atau apa.
" Kamu tidak pernah berubah Della," batin Angga yang sebenarnya merindukan Della. Tetapi dia menahan perasaannya. Karena Della telah memiliki calon suaminya dan akan menikah dalam waktu dekat.
" Terima kasih," ujar Della menjauh sedikit. Dia sudah memiliki kekasih dan akan menikah. Della berusaha menahan dirinya agar tidak menghiyanati calon suaminya.
" Sorry," sahut Angga yang juga merasa tidak enak.
" Hmmm, aku_ aku ketoilet sebentar," ujar Della terbata-bata. Della yang tidak ingin terlihat gugup di depan Angga buru-buru berdiri dan pergi dari hadapan Angga. Keluar dari ruangan itu mencari toilet.
Setelah kepergian Della Angga hanya menarik napas panjang. Mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.
" Kenapa harus Della," gumamnya yang seakan tidak menginginkan pertemuan seperti ini. Angga memang tidak pernah bertemu Della. Selain sibuk.
Dia juga mendengar Della sering ditugaskan di luar kota. Mungkin itu yang membuatnya tidak pernah bertemu Della. Wanita yang ingin di temuinya saat pertama kali keluar dari penjara.
Tetapi sia-sia karena Angga tidak bisa menemui Della dan sekarang bertemu ketika Della akan menjadi istri orang lain.
****************
__ADS_1
Amira sekarang sedang membongkar oleh-oleh dari pasutri yang terus memanjakannya. Nayra dan Raihan hanya saling melihat dengan senyum mereka.
Bagaimana melihat Amira yang merasa senang. Amira memang semakin hari semakin manja dengan Raihan dan Nayra. Raihan dan Nayra juga sering membawa Amira pergi ke Luar kota atau Luar Negri.
Dan pasti Raina akan mengomel jika Amira terlalu di manjakan pasangan suami istri itu. Raina, Raihan dan Nayra duduk di sofa dan terus melihat bagaimana Amira semangatnya mengeluarkan semua hadiah dari paper bag di lantai.
" Bilang makasih sama Tante Nayra," ujar Raina.
" Makasih Tante, Makasih Om," ujar Amira yang langsung memeluk Nayra yang duduk di sofa.
" Sama-sama sayang," jawab Nayra.
" Tante, nanti kalau dedeknya Amira Lahir. Tante akan tetap beliin Amira hadiah kan?" tanya Amira memastikan.
Belakang ini Amira memang sangat takut jika calon adiknya mengambil perhatian orang-orang.
Termasuk Raihan dan Nayra. Tetapi Amira juga sangat menyayangi calon adiknya dan ingin calon adiknya cepat-cepat lahir
" Ke-2nya, harus di belikan lah," sahut Raihan.
" Tetapi Amira lebih banyak kan," sahut Amira yang benar-benar tidak mau disayangi. Nayra hanya menggeleng melihat Amira yang sangat cemburuan.
" Tergantung siapa yang baik, dan paling sayang sama Om," sahut Raihan. Amira langsung mendekati Raihan dan memeluk juga mencium pipi Raihan.
" Amira sangat sayang sama om," ujar Amira yang merayu Raihan. Membuat Nayra dan Raina tersenyum lebar.
" Sama Tante tidak?" tanya Nayra yang juga ingin di sayang.
" Sayang juga, sangat sayang," jawab Amira.
" Sayang kalau ada maunya," sahut Raina sewot.
" Tidak kok mah, memang Amira sayang sama om dan Tante kok," sahut Amira meyakinkan.
" Iya Tante percaya kok," sahut Nayra. Membuat Amira tertawa bahagia.
" Hmmmm, oh iya Zetty, Raka masih meeting?" tanya Raihan.
" Sebentar lagi kayaknya selesai kak, soalnya aku juga sudah bilang kakak mau datang," jawab Raina.
" Oke baguslah, kita tunggu aja, aku mau ngobrol sebentar denganya," ujar Raihan. Raina mengangguk.
Bersambung......
__ADS_1