
Malam sudah berganti menjadi pagi yang cerah. Tidak ada yang berubah Angga masih tetap berada di rumah sakit. Angga masih tidak sadarkan diri. Della sudah mengganti pakaiannya.
Celine memang membawanya pulang untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian. Karena baju Della yang kotor dan pasti bau amis. Setelah mengganti pakaian Della kembali Kerumah sakit.
Della duduk di atas kursi rodanya di samping Angga. Ke-2 tangannya memegang tangan Angga dengan erat. Air matanya terus menetes ketika melihat Pria yang di cintainya benar-benar tidak sadarkan diri.
Della memang masih bersyukur jika Angga selamat. Walau dia tidak tau bagaimana kedepannya nanti. Karena Dokter juga mengatakan harapan begitu tipis. Della hanya bisa berdoa. Dia juga adalah Dokter yang paham dengan kondisi Angga.
" Angga bangun lah. Kamu jangan menyiksaku seperti ini. Kamu tidak boleh pergi. Aku tidak tau siapa lagi yang akan bersamaku. Hanya kamu yang bisa merawatku Angga. Aku mohon bangunlah. Berikan aku kesempatan untuk membalas kebaikan mu, Angga jangan membiarkan ku hidup sendirian. Bangunlah Angga, aku mohon Angga dengarkan aku Angga," ujar Della yang terus menangis berbicara pada pria yang tidak sadarkan diri itu.
" Angga, jangan seperti ini kepadaku. Aku mohon bangunlah. Maafkan aku Angga. Maafkan aku. Aku sudah mempermaikan perasaan kamu. Maafkan kata-kata ku dulu yang menyalahkan mu atas apa yang terjadi kepadaku. Aku tidak pernah menyalahkan mu Angga. Aku mengatakan itu agar kamu menjauhiku. Aku tidak ingin menyusahkan mu. Aku mengatakan semuanya. Aku mengatakan mencintai Ramah dan menyalahkan kamu atas apa yang terjadi kepadaku. Itu semua aku katakan. Karena aku hanya ingin kamu menjauhiku,"
" Ketahuilah Angga, aku tidak pernah mencintai Ramah, aku hanya mencintaimu. Aku sangat cemburu Angga saat kamu mengenalkan seorang wanita kepadaku. Aku cemburu Angga. Aku sangat bahagia Angga saat untuk yang ke-2 kalinya kamu melamarku. Aku tidak pernah menolak lamaran itu. Aku membiarkan rencana pernikahan kita. Karena yang kamu katakan benar.
" Jika aku sangat mencintaimu. Aku mencintaimu dan ingin menjadi istrimu. Angga aku sudah tidak peduli apapun lagi. Aku sungguh ingin menikah dengan mu. Aku mohon Angga bangun lah. Biarkan aku membalas semua kebaikan mu. Aku mohon Angga, Angga aku mohon," ujar Della yang terus menangis senggugukan di depan Angga yang sama sekali tidak sadarkan diri. Dia benar-benar mengakui semuanya tanpa ada yang tersisa lagi di dalam hatinya.
Della meletakkan kepalanya di dada Angga yang menangis dengan air matanya yang membanjiri dada yang tanpa pakaian itu dengan tangan Della yang terus memegang tangan kiri Angga.
Kata-kata aku mencintai beberapa kali di ucapkan Della. Ternyata mampu membuat air mata jatuh dari kelopak mata Angga. Jari tangan kanan Angga bergerak.
Telinganya sepertinya sangat berfungsi ketika dia juga mendengarkan suara tangisan dan merasa dingin di dadanya dengan air mata Della yang terus mengalir.
Perlahan tapi pasti. Angga membuka matanya. Rabun pandangan awal saat dia melihat. Tetapi lama kelamaan pandangan itu sangat jelas dan akhirnya bisa melihat dengan sempurna. Melihat langit-langit kamar yang dia sendiri tidak mampu mengatakan di mana keberadaannya.
__ADS_1
Penciumannya hanya mencium bau-bau yang khas yang bisa di tebaknya dia berada di rumah sakit. Suara Isak tangis itu membuat Angga menoleh kekirinya dan melihat Della yang memeluknya yang menangis tersedu-sedu.
Tangan kanan Angga perlahan bergerak dan berusaha untuk menggapai kepala Della. Usahanya tidak sia-sia dan dengan lembut Angga mengusap rambut Della.
Della yang menangis di pelukan itu dengan matanya yang memejam. Membuka matanya dengan cepat. Saat merasa ada yang mengusap kepalanya. Della dengan cepat mengangkat kepalanya dari tubuh itu.
Tangan itu ternyata milik Angga. Della benar-benar kaget dengan Angga yang ternyata sudah bangun.
" Angga!" lirih Della yang tidak percaya Angga menganggukkan pelan matanya dengan tersenyum tipis. Sakit yang di alami Angga masih mampu membuat Angga tersenyum.
" Kamu sudah sadar?" tanya Della yang tidak percaya yang memegang pipi Angga.
" Aku akan panggil Dokter," sahut Della tergesa-gesa yang ingin mendorong kursi rodanya. Tetapi Angga menghentikannya membuat Della heran.
" Aku tidak apa-apa, kamu di sini saja," ujar Angga dengan suara pelan. Meraih tangan Della dan meletakkan di dadanya. Dengan menatap Della dalam-dalam.
" Aku sangat bersyukur, saat aku bangun. Kamu ada di sampingku. Aku benar-benar sangat bersyukur Della. Tetap bersama ku Della. Aku sangat mencintaimu," ujar Angga dengan meneteskan air mata mengatakan kata itu lagi.
" Menikah lah denganku," ujar Angga yang kembali melamar Della. " Della maukah kamu menikah denganku?" tanya Angga lagi. Della mengangguk kan kepalanya dengan cepat yang tidak akan menolak lagi lamaran itu.
Angga tersenyum dengan air matanya yang ikut mengalir. Saat lamarannya benar-benar di terima.
Della pun kembali memeluk Angga dengan erat. Angga tersenyum lebar dengan apa yang di lihatnya.
__ADS_1
" Maafkan aku Angga. Maafkan aku," sahut Della yang terus meminta maaf pada Angga yang masih saja menangis di pelukan pria itu.
" Tidak ada yang perlu di maafkan. Kamu tidak bersalah dan semua yang terjadi bukan kesalahan kamu," sahut Angga dengan terus mengusap-usap rambut Della yang berada di pelukannya.
Walau Angga sudah siuman Della masih tetap menangis di pelukan Angga. Dia bersyukur karena di berikan kesempatan untuk bisa bersama Angga memulai kehidupan mereka yang baru.
*******
Sementara di sisi lain Raihan dan Dion masih berada di kantor polisi yang masih mengurus masalah Karen. Di mana ternyata Karen telah melarikan diri.
Raihan dan Dion tampak frustasi dengan laporan polisi Karen yang sudah menjadi buronan.
" Ini sangat bahaya jika dia berkeliaran," sahut Dion dengan wajah cemasnya.
" Kamu benar, ini benar-benar sangat bahaya. Jika Karen tidak juga di temukan. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Raihan yang juga bingung.
" Tenanglah, kita akan menyelesaikan masalah ini. Sekarang kita sebaiknya Kerumah sakit. Carey mengabari jika Angga sudah sadarkan diri," sahut Dion.
" Angga sudah sadarkan diri?" tanya Raihan tidak percaya.
" Hmmm, iya. Kamu benar Angga sudah sadarkan diri," sahut Dion.
" Syukurlah kalau begitu, Ya sudah kita Kerumah sakit sekarang," sahut Raihan. Dion mengangguk dan akhirnya mereka berdua pergi dari kantor polisi.
__ADS_1
Polisi memang sedang mencari Karen. Karen jelas menjadi tersangka karena memang wajahnya tertangkap cctv. Dan karena berhasil meloloskan diri. Setelah mengetahui dia sedang di cari polisi.
Bersambung..