Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 68


__ADS_3

Raihan pun membuang napasnya perlahan dan menandatangani laporan yang di berikan Anita.


Tidak sadar jika Raihan memang merindukan Nayra. Padahal baru 2 hari Nayra tidak ada di kantor. Dia sudah serindu itu.


" Kenapa dia tidak masuk?" tanya Raihan, selesai menandatangani laporan nya.


" Maksud Bapak siapa?" tanya Anita bingung.


" Nara," ujar Raihan yang tidak bisa membohongi perasaannya jika dia sudah mulai kehilangan.


" Nara, Nara siapa?" tanya Anita semakin bingung.


" Siapa lagi jika bukan temanmu," ujar Raihan mulai kesal.


" Oh Nayra, maksudnya,"


" Iya, kenapa dia terus bolos kerja. Apa dia pikir ini kantornya," sahut Raihan menekan suaranya.


" Nayra tidak bolos Pak. Dia kan pergi ke Turki," jawab Anita. Raihan mendengarnya kaget dan langsung melihat ke arah Anita.


" Turki," ujar Raihan.


" Iya ke Turki, Cappadocia," jawab Anita dengan tenang. Karena memang setaunya Nayra sedang pergi.


" Nayra akan melanjutkan S2 nya di Turki," ucapan Zira tiba-tiba teringat di benak Raihan.


" Mama," desis Raihan mengepal tangannya langsung berdiri dan pergi buru-buru.


" Pak," panggil Anita.


" Ada apa sih, kok malah main pergi aja," gumam Anita bingung menggaruk kepalanya dengan jarinya.


Raihan langsung berjalan cepat keluar dari Adverb. Raihan memasuki mobilnya.


" Kak Raihan," panggil Andini membuat Raihan menghentikan membuka pintu.


" Andini," ujar Raihan. Andini menghampiri Raihan.


" Andini pengen ngomong sama kakak," ujar Andini.


" Nanti saja kakak sedang buru-buru," ujar Raihan membuka kembali pintu mobilnya.


" Tetapi ini mengenai Nayra," ujar Andini membuat Raihan tidak jadi membuka pintu mobilnya.


" Masuklah, kita bicara di mobil," ujar Raihan setelah berpikir.


Andini dan Raihan sudah berada di dalam mobil.


" Ada apa?" tanya Raihan.


Andini mengambil ponselnya dan membuka salah satu Vidio dari galeri ponselnya.


" Lihatlah!" Andini memberikan Vidio itu pada Raihan. Raihan melihatnya dan menekan tombol play.

__ADS_1


Di dalam Vidio itu terlihat. Nayra dan Zira yang berbicara. Nayra yang masih memakai seragam sekolah.


" Nara boleh Tante minta sesuatu sama kamu?" tanya Zira.


" Iya Tante boleh," jawab Nayra.


" Nara, kamu selesaikan hubungan kamu dengan Raihan," ujar Zira membuat Nayra bingung.


" Maksud Tante?" tanya Nayra.


" Putuskan Raihan. Kamu harus fokus dengan sekolah kamu. Dan Raihan juga harus fokus pada kuliahnya dan Adverb," jelas Zira.


" Tapi Tante apa kehadiran Nayra membuat kak Raihan terganggu," ujar Nayra dengan gugup.


" Pasti, dia akan terlalu fokus kepada kamu. Hubungan kalian lebih baik berhenti. Kamu juga masih terlalu kecil untuk berpacaran," ucap Zira.


" Lalu bagaimana jika kak Raihan marah. Karena tidak masuk akal, kalau Nayra tiba-tiba minta putus," ujar Nayra.


" Kamu lakukan saja apa yang Tante katakan. Dan jangan katakan pada Raihan. Jika Tante menyuruh kamu melakukan itu," ujar Zira.


" Kamu bisakan melakukannya, demi Tante," ujar Zira memegang pipi Nayra. Dengan ragu Nayra mengangguk.


Raihan benar-benar kaget mendengar dan melihat Vidio itu. Andini memutar satu Vidio lagi. Raihan kembali melihatnya dan melihat Nayra yang menangis memohon pada Zira. Untuk bicara dengannya melalu telpon.


Tetapi Zira sama sekali tidak memberi Nayra izin. Padahal saat itu penerbangannya di Cancel.


Mata Raihan memerah menahan emosinya dengan apa yang di lihatnya. Kebenaran yang selama ini di tutupi dan Raihan menyalahkan Nayra. Dan dugaannya benar jika mamanya ada di balik semua ini


" Mama, mama terlalu jauh mencampuri urusan Raihan dan Nayra, jadi selama ini benar dugaan Raihan. Jika mama ada di belakang semua ini," desis Raihan dengan mengepal tangannya. Matanya mulai berkaca-kaca dengan kebenaran yang baru saja terungkap.


Di sisi lain Raka sedang menemui Zira di ruang tamu. Zira yang duduk sementara Raka berdiri di depannya.


" Ini Bu," ujar Raka memberi Zira beberapa foto. Zira melihat foto-foto Nayra yang berada di kantor Polisi dan bahkan fotonya saat di tampar oleh ibu tiri Nayra.


" Apa dia jadi menemui papanya?" tanya Zira.


" Tidak Bu," jawab Raka.


" Mengapa ke-2 orang tuanya terus saja menyulitkannya, Mamanya juga selalu bikin susah. Jika di penjara bukannya jauh lebih baik," gumam Zira.


" Lalu apa yang harus saya lakukan Bu?" tanya Raka.


" Kamu urus mamanya dan juga adiknya Zira. Hhhhhhh..... pokoknya kamu selesaikan semua masalah keluarganya Nayra," perintah Zira yang semakin pusing.


" Baik Bu," jawab Raka.


" Apa Raihan tau soal ini?" tanya Zira.


" Saya rasa Pak Raihan tidak tau," jawab Raka.


" Ya sudah jangan beri tau dia," ujar Zira.


" Apa lagi yang Raihan tidak boleh tau ma," sahut Raihan tiba-tiba yang berdiri di depan pintu dan langsung menghampiri Zira.

__ADS_1


" Raihan," ujar Zira melihat Raihan.


" Kalau begitu saya permisi Bu," ujar Raka pamit. Zira hanya mengangguk. Raka melewati Raihan dan membungkukkan tubuhnya.


" Apa yang mama sembunyikan lagi dari Raihan?" tanya Raihan menekan suaranya sudah berdiri di depan mamanya. Z


" Apa maksud kamu mama tidak mengerti," sahut Zira yang juga sudah berdiri di depan Raihan.


" Kenapa mama menyuruh Nayra memutuskan Raihan?" tanya Raihan pada intinya.


Zira mendengarnya menjadi terdiam. Dia bisa melihat wajah Raihan yang sudah di penuhi amarah.


" Jawab ma, kenapa mama melakukan ini. Jadi mama di balik berakhirnya hubungan Raihan dan Nayra, mama menyuruh Nayra untuk mengakhiri hubungan kami," ujar Raihan tidak habis pikir.


" Kenapa mama melakukan semua itu?" tanya Raihan menekan suaranya.


" Raihan, dengarkan mama dulu," Zira mencoba menenagkan Raihan yang di penuhi amarah.


" Apa sebenarnya yang mama inginkan. Mama membiarkan semua ini terjadi. Selama 7 tahun Raihan seperti ini. Mama membiarkan Raihan salah paham pada Nayra sampai detik ini, kenapa mama melakukan ini?" teriak Raihan dengan rahang kokohnya. Amarahnya yang memuncak.


" Raihan hidup menderita dan selalu berpikir jika Nara adalah penyebabnya," teriak Raihan.


" Mama membiarkan kebencian Raihan kepadanya semakin besar, kenapa mama melakukan ini," Bentak Raihan lagi.


" Keterlaluan, mama sangat keterlaluan. Bukan hanya itu. Bahkan Nara datang saat itu. Tetapi mama tidak memberinya kesempatan untuk bicara pada Raihan. Bahkan mama tau jika penerbangan Raihan di cancel. Tapi mama malah diam dan tidak memberi taunya," teriak Raihan tidak bisa mengontrol emosinya.


Sementara Zira hanya diam. Tanpa bisa menjawab apa-apa. Dia masih tidak percaya


" Kenapa mama tega sama Raihan. Kenapa mama melakukan ini," teriak Raihan tanpa bisa mengontrol emosinya.


" Dan sekarang mama mengirimnya ke Turki," ujar Raihan lagi.


" Nayra ke Turki?" tanya Zira bingung.


" Mama sengaja mengirimnya ke sana. Melanjutkan S2 nya agar Raihan dan Nara tidak bisa bersama. Sebenarnya apa yang ada di pikiran mama. Mama ingin Raihan tidak bersamanya," tebak Raihan dengan air matanya sudah mulai keluar.


" Raihan, mama tidak tau jika Nayra pergi ke Turki," sahut Zira yang memang tidak mengetahui hal itu.


" Bohong, mama selalu berpura-pura seperti ini. Dulu juga mama pura-pura tidak tau dan sekarang mama juga seperti itu. Mama benar-benar ingin memisahkan Raihan dengannya. Mama ingin menghancurkan Raihan dengan 2 kali kehilangannya," teriak Raihan.


" Raihan cukup. Kamu yang membuat dia pergi, kenapa menyalahkan mama. Mama juga tidak tau kalau Nayra pergi ke turki," jelas Zira.


" Benar, semua memang tidak salah mama. Karena kehidupan Raihan dan Nara ada di tangan mama. Raihan tidak menyangka jika mama benar-benar ada di balik semua ini," ujar Raihan.


" Raihan kamu jangan bicara sembarang, tidak semua apa yang kamu pikirkan perbuatan mama," sahut Zira.


" Busyyit. Mama memang hanya ingin Raihan gila. Mama hanya ingin Raihan hancur," ujar Raihan yang benar-benar tidak habis pikir.


" Raihan kecewa sama mama," ujarnya lagi dengan penuh penekanan dan penegasan. Raihan langsung pergi. Dia sudah habis kata-kata untuk mamanya.


" Raihan," teriak Zira. Raihan tidak mendengarkan sama sekali dan tetap melanjutkan langkahnya keluar dari rumah itu.


Kepergian Raihan membuat Zira terduduk lemas. Zira memijat kepalanya yang terasa berat.

__ADS_1


" Akhirnya Raihan mengetahui semuanya, aku tidak menyangka semuanya itu di ketahuinya," gumamnya.


...Bersambung..........


__ADS_2