Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 327


__ADS_3

Addrian dan yang lainnya ternyata datang di saat yang tepat. Tetapi hanya mereka saja. Dan polisi sama sekali belum datang.


" Papa," lirih Raihan yang melihat papanya.


" Papa," ucap Luci juga yang sedari tadi memegang tangan Celine mereka saling melihat dan tersenyum karena melihat papanya datang.


Sisil yang mendengar suara itu langsung menoleh kebelakang dan melihat Addrian kakak tirinya itu.


" Kamu benar-benar wanita gila. Kamu tidak pernah berubah. Apa yang kamu lakukan. Apa kamu tidak bisa membiarkan orang hidup tenang," sahut Addrian dengan suaranya yang menggelegar penuh emosi melihat Sisil yang membuatnya muak.


" Sisil. Masa lalu adalah masa lalu. Kami sudah memaafkan semua perbuatanmu dan seharusnya kamu menerima semua yang tejadi pada kamu dengan lapang dada dan bukan malah dendam seperti ini," sambung Roni.


" Apa kamu tidak malu. Mengungkap masa lalu. Kami bahkan berusaha menutupi siapa kamu yang dulu sangat kejam. Kami menutupi aib kamu demi kehormatan kamu sebagai saudara dari istriku. Tetapi kamu dengan bangganya mengumbarnya dan seakan paling menderita," sahut Ilham lagi yang menambahi.


" Sudahi semua ini dan kembalilah kejalan yang benar. Jangan menggunakan orang lain hanya untuk hati kamu yang sangat kotor itu," sahut Roni lagi.


" Kalian semua hanya bisa berbicara tanpa tau apa yang aku rasakan. Kamu Addrian Atmaja Wijaya," tunjuk Sisil pada Addrian dengan penuh kebencian.


" Kamu sudah mencuri kebahagiaanku. Sekalipun kau atau papamu tidak pernah melihatku di penjara. Kalian hanya ingin aku membusuk di penjara. kalian tidak tau apa yang aku rasakan di dalam sana. Hidupku menderita dan bahkan sampai aku keluar dari penjara. Kalian kembali membuangku, tanpaemperdulikanku," teriak Sisil dengan geram yang mengingat penderitaannya sampai dia mempunyai dendam yang mendalam.


" Tidak ada yang membuangmu. Kami bahkan memberimu banyak kesempatan. Tapi kau sendiri yang menjauh dari keluarga kami," sahut Addrian.


" Kau dengar Sisil. Banyak cara yang aku lakukan agar kau tidak merasa sendiri. Aku juga beberapa kali harus bertengkar dengan Kayla dan Putri hanya untuk membelamu dan membuatmu merasa jika kau punya keluarga. Tetapi kau selalu salah paham dan sibuk dengan hatimu yang sudah di penuhi dendam," ujar Addrian yang mencoba membuat Sisil mengerti.


" Persetan semuanya," teriak Sisil.


" Aku sudah tidak peduli semua itu. Kata-kata manis kalian. Bagiku semua itu hanya sampah. Aku sangat muak mendengar ocehan kalian yang sangat menjijikkan itu," ujar Sisil yang memang sudah menutup mata, telinga dan hatinya atas orang-orang yang ingin kembali memberinya kesempatan.


" Kalian pikir aku akan terkecoh. Tidak kali ini. Jika kalian juga sudah berkumpul di sini. Maka kalian juga sebaiknya harus mati," ucap Sisil dengan sinis. Membuat Addrian dan yang lainnya saling melihat.


" Hati-hati Addrian, dia memegang pistol," ucap Ilham memberi ingat.


" Iya, anak buahnya juga sangat banyak," sahut Tomy. Yang harus lebih waspada.


" Habisi mereka semua!" perintah Sisil pada anak buahnya. Tanpa menunggu lama anak buahnya pun mulai menyerang baik dari kelompok Addrian maupun Raihan.


Vira langsung menghampiri kakaknya yang sudah tergelatak di tanah. Vira berlutut di samping kakaknya.


" Kak, kakak bangun, maafin Vira kak, kak bangun," ucap Vira yang sudah menangis Senggukan melihat darah kental yang sudah mengalir.


" Kakak," ujar Vira.


" Dion bawa dia kemobil," ucap Sony yang memberi arahan sambil berkelahi dengan 2 Pria anak buah Sisil.


Dion langsung mengangguk dan mencoba membawanya Ramah. Tetapi salah seorang anak buah Sisil ingin memukul. Dion dari belakang. Belum sempat itu terjadi. Angga langsung menendang perutnya. Sehingga anak buah Sisil langsung tergeletak


" Ayo cepat pergi, Andini, Luci, Celine, kalian juga pergi," ucap Angga dengan mendesak.

__ADS_1


Mereka mengangguk dan ikut memasuki mobil sementara Angga dan Sony melindungi mereka. Sampai masuk mobil Karena anak buah Sisil pasti akan menyerang.


Dengan Cepat Vira membukakan pintu mobil dan langsung mendudukkan Ramah yang terluka parah. Celina, Andini dan Luci pun ikut masuk mobil. Sementara Angga di sekitar mobil menjaga mereka. Sementara Sony sudah kembali di keperkelahian.


" Kak, bangun kak, bangun," ucap Vira yang melihat Ramah sudah tidak sadarkan diri. Dion yang do samping Ramah langsung membuka baju Dion dan langsung menahan darah Dion agar tidak semakin mengalir deras.


" Tolong ambil P3K," ucap Dion. Andini yang duduk di depan langsung mengambil.


" Dion hanya melakukan pertolongan pertama pada sahabatnya Ramah.


" Bagaimana ini, mereka semakin kuat," ucap Andini yang panik yang terus melihat perkelahian yang sangat sit di tebak siapa yang akan menang.


" Semoga semuanya baik-baik saja," sabun Celine yang juga dek-dekan dan matanya fokus pada papanya yang takut terjadi sesuatu pada papanya.


Sementara di bangku paling belakang Dion dan Vira terus membantu Ramah. Memakaikan cara apapun agar Ramah bertahan.


Sudah lebih 20 menit perkelahian terjadi. Tetapi semuanya sama-sama bonyok. Sementara Sisil masih tetap memegang pistol dan bahkan menodongkan pistolnya seperti dia ingin mengincar sesuatu yang ingin di tembakannya.


" Sial aku tidak akan membiarkan mereka menang, aku harus membalaskan Dendamku. Jika aku sampai kalah. Aku bisa masuk penjara lagi dan kali ini aku bis-bisa membusuk di penjara," batin Sisil yang tampak ketakutan. Jika dia akan kalah.


Karena melihat dari baku hantam yang terjadi di depannya. Beberapa anak buahnya sudah tergelatak. Hal itu jelas membuatnya sangat panik.


Sampai tiba saatnya Sisil mendapat cela saat melihat Addrian kakak tirinya itu.


" Hentikan semuanya!" teriak Sisil yang tiba-tiba sudah mengarahkan pistol pada Addrian Dan semua mata langsung tertuju pada Addrian dan kaget melihat tindakan Sisil.


" Apa yang kau lakukan," teriak Raihan yang mencemaskan papanya yang sudah mengangkat ke-2 tangan. Seakan menyerah dengan Sisil.


" Jika kau tidak ingin anak-anak itu yang bertanggung jawab. Maka kau yang harus bertanggung jawab," ucap Sisil sinis yang terus maju dan Addrian terus mundur kepinggir tebing.


Raihan semakin panik melihatnya dan bahkan melihat lautan yang mungkin papanya jika terus mundur akan bisa terjatuh.


" Jangan macam-macam kau Sisil," teriak Ilaha.


" Diamlah!" teriak Sisil yang memutar tubuhnya dan mengarahkan kepada siapapun yang berani bicara. Membuat semua cemas dengan Sisil yang memang di pengaruhi iblis.


" Sekali tarikan. Peluru ini akan menembus jantung kalian," teriak Sisil lagi.


" Kau hanya ingin aku bukan. Maka biar aku saja," sahut Addrian.


" Bagus jika kau sadar. Kau memang harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi padaku," ucap Sisil tersenyum penuh..


" Pa," Raihan semakin panik dengan papanya. Yang benar-benar bisa mengenai peluru seperti Ramah tadi.


Sementara di dalam mobil Andini dan yang lainnya juga schok dengan apa yang mereka lihat.


" Om Addrian, bagaimana jika Om Addrian tertembak," ujar Andini yang di penuhi ketakutan.

__ADS_1


" Dia benar-benar wanita jahat," ujar Luci yang juga ketakutan.


Liu -liu- Liu -liu- Liu -liu- Liu -liu- Liu -liu-


Suara sirene mobil polisi terdengar kuat. Membuat semuanya melihat kearah beberapa mobil polisi.


" Syukurlah polisi datang," ujar Celine merasa cukup lega saat melihat mobil polisi berdatangan dan tanpa menunggu para polisi langsung keluar dari dalam mobil dengan tembak mereka yang sedang seperti melakukan peperangan.


" Sial," desis Sisil yang benar-benar panik.


" Jangan bergerak. Tempat ini sudah di kepung. Turunkan senjata mu!" perintah polisi dengan lantang dan para polisi sudah mengelilingi Sisil dengan senjata mereka yang siap memusnakan Sisil.


Sementara polisi yang lainnya sudah menangkapi para anak buah susul membawa paksa kedalam mobil polisi untuk di amankan.


" Turunkan senjata mu, jangan main-main dengan kami," ujar polisi sekali lagi memberi peringatan Pada Sisil.


" Tidak akan. Aku tidak akan mati, sebelum dia mati," batin Sisil yang terus melangkah maju mendekati Addrian Dan Addrian terus mundur.


" Sisil turunkan senjata mu. Jangan seperti ini. Kau tetap adikku, kita harus memulai semuanya," ujar Addrian yang berusaha membujuk.


" Kata adik sudah berakhir kau harus mati. Untuk mempertanggung jawabkan perbuatan mu," ucap Sisil menarik pelatuk pistolnya. Raihan yang melihatnya melebarkan matanya dan melihat Sisil akan menembakkan di dada ayahnya.


Dorrrr.


" Papa," teriak Aditya langsung berlari mendorong papanya dan dan tembakan itu mengenai dadanya.


" Raihan," teriak Addrian saat Aditya tertembak.


Dorrrrrrr dorrrr.


Tembakan juga mengenai Sisil dari polisi dan Raihan yang terkena tembakan di dadanya tidak bisa seimbang sampai akhirnya Raihan terjatuh dari atas tebing.


" Raihan," teriak Addrian dan juga semua orang yang berteriak dan berlari ke arah tebing.


Prangggg


Nayra kaget saat berdiri di dekat cermin saat foto pernikahannya dengan Raihan yang menempel di dinding terjatuh.


" Raihan," lirih Nayra tiba-tiba debaran jantungnya berdetak tidak beraturan. Nayra langsung melangkah cepat pada foto yang jatuh itu dan langsung berjongkok.


" Kenapa perasaanku tidak enak, apa yang terjadi," ujar Nayra merasakan firasat buruk. Nayra mulai membersihkan bekas pecahan kaca yang ada di atas foto itu.


" Auhhhh," lirih Nayra ketika jarinya terkena pecahan kaca dan darahnya yang menetes sangat deras langsung jatuh pada wajah Raihan.


" Raihan," Nayra meneteskan air matanya saat memang merasakan ada yang tidak beres. Dia sangat takut.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2