Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 400.


__ADS_3

Dara pun membuka pintu untuk rumahnya yang ternyata datang adalah Saski membuat Dara kaget tiba-tiba yang datang kerumahnya adalah mama dari Sony.


" Tante Saski," sahut Dara masih terlihat terkejut.


" Kamu apa kabar Dara?" tanya Saski.


" Baik Tante," jawab Dara. Ternyata ucapan Dara terdengar oleh Vira yang ada di dapur dan.


" Tante Saski, ngapain mamanya Sony kemari," batinnya kebingungan dan buru-buru merapikan dirinya agar dan langsung menghampiri ruang tamu.


" Ayo Tante masuk!" ajak Dara dengan ramah.


" Makasih Dara," sahut Saski dan langsung mengikuti masuk kedalam rumah dan langsung duduk di ruang tamu.


" Tante mau minum apa?" tanya Dara.


" Tidak usah repot-repot Dara. Tante hanya sebentar saja," sahut Saski. " Hmmm, mana Vira?" tanya Saski.


" Tumben sekali Tante Saski menanyakan Vira," batin Dara.


" Saya di sini Tante," sahut Vira dengan lembut. Saski langsung melihat wanita yang tidak pernah di temuinya itu. Saski melihat perut wanita itu sudah membesar. Jangan tanya tatapan Saski masih terlihat kesal.


" Duduklah!" sahut Saski dengan Datar.


" Baik Tante," sahut Vira yang langsung duduk.


" Hmmm, kalau begitu Dara masuk dulu, Tante sama Vira mengobrol saja," sahut Dara yang tampaknya tidak ingin mengganggu.


" Tidak Dara," sahut Saski, " Kamu di sini saja," ujar Saski.


" Hmm, baiklah Tante," sahut Dara yang duduk di samping Vira.


" Berapa bulan kandungan kamu?" tanya Saski ketus memasukinya bukan ke -6," jawab Vira yang kandungannya memang sudah membesar.


" Hmmm, begitu rupanya. Apa masih perlu kamu menikah dengan Sony?" tanya Sasy dengan ketus.


" Sangat perlu," jawab Vira dengan cepat dan yakin sampai Dara menoleh kearahnya yang merasa heran.


" Aneh sekali, biasanya Vira tidak terlalu bersemangat untuk pernikahannya. Tetapi kenapa dia terkesan sangat ingin menikah. Padahal dulu dia juga menolak hal itu," batin Dara merasakan aneh.

__ADS_1


" Tapi kamu tidak bisa menikah dalam waktu dekat ini," sahut Saski.


" Kenapa?" tanya Vira.


" Sony sedang ada pekerjaan. Kebetulan dia sedang keluar Negeri untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan di perusahaan yang akan di masukinya untuk bekerja," jawab Saski.


" Apa! Sony keluar Negri," batin Dara yang terpekik kaget, karena Sony yang keluar Negri yang sejujurnya dia tidak mengetahui sama sekali dengan hal itu.


" Memang kapan Sony pergi?" tanya Vira.


" Dia berangkat kemarin," jawab Saski.


" Lalu kapan dia pulang?" tanya Vira lagi.


" Mungkin agak lama. Sampai pelatihannya selesai," sahut Saski dengan santai.


" Apa tidak bisa di tunda dulu," sahut Vira yang tampaknya begitu mendesak. Sampai Saski dan Dara melihat ke arahnya yang mungkin geram dengan Vira yang begitu mendesak.


" Maksud saya seperti ini, bukannya kandungan saya sudah semakin membesar dan jika pernikahannya di tunda. Perut saya akan semakin membesar," ucap Vira memberikan alasannya.


" Perut kamu memang sudah besar. Tidak ada yang perlu di sembunyikan. Kalau tau malu jangan berbuat sesuka hati," ujar Saski dengan sinis yang penuh dengan sindiran.


" Anak ini benar-benar, sepertinya semakin lama semakin bertingkah," batin Saski yang kesal dengan Vira yang banyak bicara.


" Hmmm, Vira. Tidak apa-apa, yang penting pernikahan kamu dan Sony akan tetap berjalan," sahut Dara yang mencoba mencairkan suasana karena melihat Saski mulai emosi dengan Vira.


" Dia enak bicara. Bilang aja dia suka dengan penundaan pernikahan itu," batin Vira kesal dengan Dara.


" Kamu itu tidak bersyukur ya Vira. Sudah bagus saya mau menikahkan kamu. Tapi apa yang kamu lakukan. Kamu banyak protes," sahut Saski kesal.


" Tante sudahlah," sahut Dara yang mencegah keributan.


" Sudah bersyukur Dara mau menolong kamu. Dia bahkan rela memohon kepada saya," lanjut Saski yang memang tidak bisa mengontrol emosinya jika berhadapan dengan Vira.


" Tante, sudah," sahut Dara lagi.


" Dia memang paling pintar caper. Kamu pikir pernikahan ku di tunda. Aku akan berubah pikiran gitu. Tidak aku tidak akan berubah pikiran sama sekali," batin Vira yang tampak kesal dengan Dara.


" Baiklah! saya datang kemari hanya ingin menyampaikan saja. Jadi kamu jangan bertingkah yang aneh-aneh. Sudah syukur saya memberi kamu izin, dengan menikahkan kamu dengan Sony. Supaya rasa malu kamu itu berkurang," ujar Saski menegaskan. Vira hanya diam mengumpat di dalam hatinya.

__ADS_1


" Walau kamu menikah dengan Sony. Bukan berarti saya akan berbaik hati kepada kamu. Jadi kamu berterima kasihlah kepada Dara atas semua yang terjadi," tegas Saski.


" Tante sudahlah," sahut Dara yang malah panik dengan kata-kata Saski yang menyakiti hati Vira dan pasti Dara sangat khawatir dengan kondisi mental Vira yang berpengaruh pada kandungannya.


" Baiklah! saya permisi. Dara Tante pulang dulu ya. Kamu jaga diri dan selalu berhati-hati. Kita tidak tau dari mana datangnya mala petaka bisa saja dari orang yang paling terdekat," ujar Saski menyarankan dengan memegang lengan Dara.


" Iya Tante," sahut Dara tersenyum.


" Apa maksud wanita," batin Vira yang sudah kesintingan melihat Saski.


" Ya sudah, Tante balik," sahut Saski yang kembali pamitan. Dara mengangguk dan Saski pun langsung pergi dan hanya tinggal Dara dan Vira yang ada di sana.


" Vira, kamu jangan masukin ke hati ya kata-kata Tante Saski," ujar Dara. Vira melihatnya dengan kesal lalu pergi tanpa menjawab apa-apa yang di katakan Dara.


" Vira," panggil Dara yang tidak di pedulikan Vira. Dan Dara terlihat merasa bersalah.


" Hmmm, kenapa semuanya jadi seperti ini dan kenapa Sony harus pergi di saat dia akan menikah dengan Vira," batin Dara yang terlihat pusing.


**********


Angga dan Karen sedang makan bersama di salah satu Restaurant terdekat di perusahaan Angga. Angga memang langsung menemuinya karena Karen terus menelpon dan memaksa untuk bertemu.


" Jadi ulang tahun kamu akan di rayakan di Villa keluarga kamu?" tanya Karen yang sepertinya sudah mendapat cerita dari Angga.


" Iya. Akan di adakan di sana?" jawab Angga.


" Hmmm, kalau begitu akan datang tepat waktu. Bukannya aku adalah tamu special kamu," sahut Karen dengan wajahnya yang ceria.


Angga memang mengundang Karen. Karena Karen adalah kekasihnya dan tidak mungkin mengundang wanita itu. Walau itu hanya akan mempersulit hubungannya dengan Della dan pasti mamanya tidak menyukainya. Tetapi apa mau di kata dia memang harus mengundang Karen.


" Oh iya. Kamu mau di kasih kado apa?" tanya Karen.


" Tidak perlu kado. Kamu datang saja. Itu sudah cukup," sahut Angga. Karen tersenyum lebar mendengarnya.


" Hmmm, kamu ini benar-benar sweet, aku sangat bahagia. Akhirnya hubungan kita kembali baik. Ya aku memang melupakan kejadian di hotel kemarin. Demi untuk menjalin hubungan kita yang jauh lebih baik," sahut Karen. Angga hanya menanggapi datar.


" Aku harus bisa mendapat perhatian orang tua Angga supaya aku bisa menikah dengan Angga secepatnya," batin Karen tersenyum miring. Sementara Angga hanya biasa-biasa saja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2