
Nayra dan Raihan masih berada di dalam kamar dan masih betah berduaan dia atas ranjang dan Raihan masih telanjang dada sementara Nayra memakai dalaman piyamanya. Nayra yang berada di pelukan Raihan memainkan jarinya di dada Raihan, seperti melukis-lukis sesuatu.
" Kamu tidak jadi kekantor?" tanya Nayra melihat suaminya. Raihan tersenyum mendengarnya.
" Kamu benar-benar jahil, berani menyuruhku kekantor setelah kamu mengajakku di sini," ucap Raihan mencubit pipi pipi Nayra dengan lembut.
" Jadi kamu menyesal. karena aku sudah menyita waktumu?" tanya Nayra kesal.
" Aku tidak mengatakan apapun. Aku juga tidak menyesal sama sekali. Dan mana mungkin aku menyesal. Aku justru menyesal kenapa tidak melakukannya dari kemarin-kemarin, kenapa aku tidak sepintar istriku ini," ucap Raihan dengan tersenyum kebahagian.
Bagiamana tidak bahagia. Dia baru saja mendapatkan jatah dari istrinya. Jadi jelas dia bahagia.
" Lalu kenapa aku melihat ada penyesalan di wajah tampan ini," ucap Nayra dengan wajahnya yang penuh curiga.
" Kamu hanya mengarang. Tidak kekantor selamanya pun asal bersamamu setiap hari aku rela. Jadi mana mungkin aku kecewa atau menyesal," ucap Raihan.
" Kalau kamu tidak kekantor. Lalu kita makan apa?" tanya Nayra melihat suaminya.
" Makan cinta," jawab Raihan tersenyum lebar.
" Ishhh kamu ini," ucap Nayra kesal. Raihan mengusap-usap rambut Nayra dan juga mencium lembut kening Nayra.
" Sayang!" tegur Raihan.
" Hmmm," jawab Nayra dengan deheman.
" Aku perhatikan kamu semakin lama semakin cantik," ujar Raihan yang kembali menggoda istrinya. Nayra tersenyum lebar mendengarnya.
" Kamu bisa aja. Kamu memang paling pintar menggoda," ucap Nayra dengan kesalnya.
" Aku serius sayang, aku juga semakin mencintaimu. Kamu sangat cantik dan membuatku harus jatuh cinta setiap hari denganmu," ucap Raihan menggombal istrinya dan mengecup bibir istrinya.
" Aku sangat mencintaimu," ujar Raihan yang mengatakan cinta pada istrinya.
" Aku juga mencintaimu," jawab Nayra. Tersenyum lebar. Raihan kembali mengecup bibir Nayra dan mungkin tidak hanya ingin mengecup. Tetapi mencium lebih dalam.
tok-tok-tok-tok.
Aksi Raihan harus terhentikan dengan ketukan pintu. Membuat Raihan dan Nayra saling melihat dan wajah Raihan pasti kesal dengan niatnya yang harus gagal maning.
" Raihan, Nayra, sayang buka pintunya, nih baby nya sudah mau di gendong mamanya," ujar Jidan dari luar pintu yang mengetuk. Nayra dan Raihan yang mendengarnya dari dalam saling melihat.
" Kamu yang buka sana!" ujar Nayra pada suaminya.
__ADS_1
" Kamu ajalah," sahut Raihan yang sepertinya malas bergerak.
" Sayang, kamu dong, kan aku kayak gini mana mungkin buka pintu kan malu sama mama," ujar Nayra melihat keadaannya dan tidak mungkin membuka pintu.
" Sama, aku juga, kayak gini, jadi sama saja," sahut Raihan yang tidak mau kalah.
Suami istri itu malah sibuk bertengkar. Tidak ada yang mau membuka pintu, sepertinya memang mereka malas untuk bergerak. Jadi tidak ada yang mau mengalah.
" Nayra!" panggil Jihan lagi.
" Tuh, mama manggil nama kamu. Jadi kamu yang buka," ujar Raihan yang merasa menang dari istrinya.
" Raihan, kamu juga ada di dalam kan," sahut Jihan lagi yang sekarang memanggil nama menantunya.
" Tuh, mama juga manggil kamu. Jadi kamu yang buka pintu, sana!" ujar Nayra menegaskan.
" Sayang kamu aja dong, aku juga tidak pakai baju," sahut Raihan yang banyak alasan.
" Kamu tinggal masukin kaos. Jadi apa susahnya, cepat sayang sana, kasian anak kita. Aku mau ke kamar mandi," ujar Nayra yang mendesak suaminya yang sama sekali tidak mau bangkit dari ranjang.
" Sayang buruan, kamu ini yah," Nayra mendorong suaminya agar bergerak dari ranjang. Sampai akhirnya sang suami pun mengalah, membuang napasnya dengan berat dan langsung pergi membuka pintu.
Nayra tertawa kecil yang sepertinya merasa menang dari Raihan, makanya dia senyum -senyum. Tetapi Nayra juga langsung bangkit dari ranjang menuju kamar mandi.
" Mama, maaf ya lama bukanya," ujar Raihan merasa tidak enak dan langsung mengambil alih ananknya dari gendongan mertuanya.
" Tidak apa-apa," sahut Jihan. " Ya sudah mama mau kedapur dulu," ujar Jihan. Raihan menganggukkan kepalanya.
" Kamu tidak kekantor?" tanya Jihan. Raihan tersenyum tipis.
" Tidak ma, besok saja," sahut Raihan.
" Hmmm, ya sudah kalau begitu, mama kedapur dulu," ujar Jihan pamitan. Raihan mengangguk-angguk. Dan menutup pintu kamar kembali setelah mertuanya pergi.
" Sayang maaf ya, kamu sudah lama-lama sama Oma," ujar Raihan sambil berjalan. Menggendong putri kecilnya itu ketempat tidur bayi. Sementara Nayra sepertinya sedang mandi. Karena terdengar suara air hidup.
***********
Kondisi Dion akhirnya pulih. Dia hanya di rawat beberapa hari di rumah. Dan hari ini Dion tampak sudah sembuh. Dion juga sepertinya sudah bisa berangkat kerja. Karena dia sudah tapi dengan pakainya.
Tiba-tiba Carey masuk kedalam kamar dengan membawakan secangkir teh dan melihat suaminya sedang memakaikan dasi di depan cermin.
" Kamu yakin mau kekantor?" tanya Carey yang merasa suaminya masih sakit dan belum bisa kekantor.
__ADS_1
" Iya. Soalnya pekerjaan sudah semakin banyak," jawab Dion. Carey berdiri di depannya dan memberikannya teh.
" Makasih!" ucap Dion yang mengambil cangkir teh itu dan meminumnya.
" Kamu nyetir sendiri atau pakai supir?" tanya Carey.
" Aku menyetir sendiri," jawab Dion.
" Kamu yakin bisa?" tanya Carey yang tampak panik.
" Hmmm, aku yakin bisa. Lagian aku sudah sembuh. Jadi tidak ada yang perlu di Khawatirkan," ucap Dion meyakinkan Cherry.
" Ya sudah, aku pergi dulu," ujar Dion pamit, memberikan kembali cangkir teh itu pada istrinya.
" Dion tunggu!" ujar Carey membuat langkah suaminya terhenti.
" Ada apa?" tanya Dion.
" Hmmm, aku nanti mau cek kandungan. Kamu bisa temani aku," ujar Carey dengan pelan. " Lalu tidak bisa ya udah," ucap Carey yang Dion belum menjawab dia sudah memutuskan duluan. Mungkin dia ragu dengan mempertanyakan hal itu pada Dion, makanya dia menarik kata-katanya kembali.
" Aku tidak menjawab apa-apa," ujar Dion.
" Aku takut kamu tidak mau," ujar Carey dengan pelan. Dion tersenyum.
" Jam berapa kamu pergi?" tanya Dion.
" Sekitar jam 1 an," jawab Carey.
" Hmmm, ya sudah, aku akan menjemputmu nanti," ujar Dion dengan lembut. Carey tersenyum mendengarnya.
" Hmmm, iya makasih ya," ujar Carey dengan senyum lebar.
" Ya sudah aku pergi dulu," ujar Dion pamit lagi.
" Dion! tunggu!" ujar Carey lagi yang membuat langkah Dion berhenti kembali dan menghadap Carey.
" Ada apa?" tanya Dion. Carey menghampiri Dion dan mencium punggung tangan Dion. Dion tersenyum melihatnya sepertinya rumah tangga mereka kembali mencair.
" Assalamualaikum," ucap Carey dengan lembut.
" Walaikum salam," sahut Dion tersenyum manis.
" Aku pergi," ujar Dion lagi. Carey mengangguk-angguk. Dion sepertinya akan semangat bekerja. Jika sang istrinya sudah kembali membuka hatinya. Awal yang bagus untuk memperbaiki hubungan rumah tangga mereka.
__ADS_1
Bersambung....