Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 80


__ADS_3

Hey, aku masih bicara Nayra," tegur Andini.


" Entahlah Andini aku masih meragukan semua ketulusan Raihan. Aku tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang pura-pura," ujar Nayra yang masih ragu.


" Nayra jangan hanya karena 1 kesalahan. Kamu menutup semua kebaikan yang di lakukan kak Raihan kepada kamu. Kamu harus tau dalam hubungan kalian tidak ada yang salah dan yang benar. Nayra apa kamu akan tetap seperti ini. Apa kamu akan membiarkan kak Raihan berjuang sendiri. Ingatlah dia pergi karena kesalah pahaman dan semua itu berlalu sampai 7 tahun. Dia kembali dan tetap seperti itu. Tetapi sekarang kak Raihan hanya ingin memperjuangkan hubungan kalian," ujar Andini dengan bijak mencoba membuka hati Nayra.


" Nayra kamu sendiri tau siapa yang di hadapi kak Raihan semuanya tidak mudah. Ayolah Nayra kembali kepadanya," ujar Andini meyakinkan.


Nayra berdiri dan kembali kepada sayur sop. Andini menarik napas panjang. Sepertinya usianya sia-sia meluluhkan hati Nayra.


Andini pun kembali melanjutkan memotong sayur panjang lebar bicara tidak ada gunanya. Toh Nayra tidak mendengarkannya.


Tiba-tiba Nayra melettakkan rantang di samping Andini membuat Andini kaget dan mengangkat kepalanya melihat ke arah Nayra.


" Kalau pulang mampirlah ke Adverb, antarkan untuk Raihan!" ujar Nayra mencuci tangannya di wastafel. Mendengarnya Andini langsung tersenyum.


Andini berdiri dan menghampiri temannya itu dan memeluknya dari belakang.


" Begitu dong," ujar Andini mencium pipi Nayra.


" Issss, Andini," protes Nayra yang sangat geli. Nayra langsung menghapusnya.


" Masa iya kak Raihan aja yang boleh cium," ujar Andini menggoda Nayra.


" Ihhhh, kamu ini," sahut Nayra kesal dengan wajahnya yang sudah merah seperti tomat.


************


Andini langsung mengantarkan masakan Nayra pada Raihan yang memang sudah berada di kantor. Andini kekantor di temani oleh Amira. Sebelumnya memang Raina menelpon Andini minta tolong untuk menjemput Amira.


Tetapi Amira malah pengen ikut kekantor dan tidak mau pulang. Dari pada mendengarkan ocehan Amira yang ujung-ujungnya ngambek. Andini pun membawanya.


Mereka sudah tiba di Adverb. Amira yang masih memakai seragam sekolahnya dengan rambutnya di kepang 2 terlihat bahagia dengan menggengam tangan Andini.


" Mama," panggil Amira yang melihat mamanya dan langsung memeluknya.


" Sayang kamu kok ada di sini?" tanya Raina berjongkok memegang pipi Amira.


" Aku sama Tante Andini," jawab Amira. Raina langsung melihat ke arah Andini seolah bertanya.


" Aku hanya ngantarkan ini, kita akan pulang kok," sahut Andini lalu pergi keruangan Raihan.


" Sayang, kamu langsung pulang ya, tidak boleh main lagi," ujar Raina dengan tegas. Andini tersenyum ketika melihat seseorang yang berdiri sedang menelpon.


" Om Raka," teriak Amira yang langsung berlari ke arah Raka dan langsung memeluk pinggang Raka dengan erat.


" Amira, kok ada di sini?" tanya Raka mengusap kepala Amira lembut. Raina berdiri hanya melihat saja bagaimana putrinya yang terlihat bahagia dengan Raka.


" Mau cari Om," jawab Amira mengangkat kepalanya melihat ke arah Raka. Raka mengkerutkan keningnya.

__ADS_1


" Kenapa Om Raka tidak pernah menjemput Amira lagi?" tanya Amira dengan wajah sedihnya. Raka langsung menoleh ke arah Raina yang terlihat cuek.


" Om Raka banyak pekerjaan?" jawab Raka mengusap rambut Amira.


" Tetapi Amira kangen Om," ujar Amira dengan wajah cemberutnya.


Raihan dan Andini keluar dari ruangan Raihan dan melihat Amira yang tampak sedih yang memeluk pinggang Raka dengan erat.


Andini dan Raihan saling melihat. Mereka juga melihat Raina yang tampak judes. Kedua sepupu itu heran dan sama-sama menggedikkan bahu mereka.


Raina baru menyadari ternyata Andini dan Raihan sudah berada di dekatnya. Raina pun menghampiri Amira dan Raka.


" Amira sudah, Tante Andini sudah selesai, sekarang kamu pulang sama Tante Andini," ujar Raina mencoba melepaskan tangan Amira dari pinggang Raka. Tetapi Amira malah mempererat pelukannya.


" Bentar dulu mama, kan Amira belum selesai dengan om Raka," sahut Amira yang melawan.


" Amira, mama bilang ayo," tegas Raina melebarkan matanya. Pertanda dia sudah marah.


" Tidak mau," sahut Amira melawan.


" Amira Om masih banyak pekerjaan, kamu pulang ya," bujuk Raka dengan lembut. Dia tidak ingin gara-gara dia. Raina semakin marah.


" Tapi Om antar Amira ya," ujar Amira yang memang ingin bersama Raka.


" Tidak bisa Amira," sahut Raina menarik tangan Amira. Amira malah menepisnya.


" Tapi ma," Amira sudah mulai merengek bahkan matanya berkaca-kaca.


Amira yang mendengar bentakan mamanya melepas pelan ke-tangannya dari pinggang Raka. Dan menunduk. Sepertinya air mata Amira sudah menetes di pipinya.


Raihan yang melihat situasi itu langsung menghampiri Raina.


" Zetty apa-apain sih kamu," tegur Raihan. Amira mendengar suara Raihan langsung mendekati Raihan dan memeluk pinggang Raihan.


" Om Raihan. Amira nggak mau pulang, Amira masih mau main," ujar Amira yang menangis Senggukan karena mendapat bentakan dari Raina.


" Huss, shut, sayang diam ya," Raihan berjongkok dan mengusap air mata Amira.


" Hey jangan menangis," Raihan mencoba menenagkan Amira. Sementara Raka hanya bisa melihat tanpa melakukan apa-apa.


" Amira nggak mau pulang Om, Amira masih mau di sini," renge Amira yang mencari pembekalan.


" Mama bilang pulang, kamu harus makan, jangan main terus," tegas Raina yang terus mengomeli. Membuat Amira semakin menangis.


" Zetty cukup ya," ujar Raihan yang tidak suka melihat sikap adiknya yang kasar kepada keponakannya itu.


" Ya sudah kamu sama om ya, kita makan di ruangan Om, mau kan," ujar Raihan membujuk Amira dan terus menghapus air mata Amira. Dengan cepat Amira mengangguk.


Raina yang kesal, langsung meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi dia juga melihat ke arah Raka dengan sinis.

__ADS_1


" Mama akan marah Om?" tanya Amira melihat kepergian mamanya. Dia tau mamanya pasti marah kepadanya.


" Tidak sayang, tidak akan marah, ayo," ujar Raihan dan menggendong Amira ke dalam ruangannya.


Raka pun yang merasa bersalah juga pergi meninggalkan tempat itu.


*********


Amira pun makan di ruangan Raihan. Dia duduk di sofa makan bersama Andini sementara Raihan hanya melihat saja. Sambil memeriksa beberapa berkas-berkas penting.


" Om tidak makan?" tanya Amira yang makan dengan lahap sambil tangannya memegang ceker.


" Kamu makan saja, Om sudah kenyang," jawab Raihan.


" Ini buatan Tante Nayra ya," tebak Amira.


Andini dan Raka langsung melihat. Andini mengangkat bahunya. Perasaan dia tidak mengatakan apa-apa kepada Amira.


" Kamu tau dari mana?" tanya Andini.


" Oma tidak memasak ini. Pasti Tante Nayra yang masak," jawab Amira.


" Sudahlah makan saja. Itu tidak penting dari mana," sahut Raihan.


" Boleh Amira habiskan?" tanya Amira ragu. Raihan melihat sup itu memang tinggal sedikit. Padahal dia belum mencicipinya. Raihan hanya meneguk ludahnya.


" Boleh tidak Om?" tanya Amira lagi. Raihan mengangguk dengan terpaksa.


Dan mengalihkan pandangannya pada berkas-berkasnha. Andini yang melihatnya hanya tersenyum penuh arti. Dia tau kakak sepupunya itu pasti sangat berat hati.


" Tetapi Tante Nayra kan memberikannya pada Om," ujar Amira yang ragu.


" Kalau begitu jangan di habiskan," gumam Raihan pelan. Andini tertawa kecil mendengar ucapan Raihan.


" Ya sudah ini untuk om saja," ujar Amira menyerah. Raihan yang tampak terlihat sok sibuk dengan berkas-berkas nya tersenyum.


Setelah selesai makan bersama. Akhirnya Andini dan Amira pun pulang. Raihan juga harus mengeluarkan tenaga untuk membujuk agar Amira mau pulang.


Sekarang Raihan sedang menikmati sisa makan siang itu yang hampir di habiskan oleh keponakannya. Raihan malah makan sambil tersenyum.


Raihan melihat ke bangku kerja Nayra. Dengan senyum di wajahnya.


" Awas saja kamu Nayra. Kalau sudah masuk kantor. Kamu pikir kamu bisa lolos dari ku," ujar Raihan dengan senyum lebar di wajahnya.


Hatinya berbunga-bunga dapat kiriman makanan dari wanita pujaannya. Jadi wajar saja dia ingin Nayra cepat-cepat masuk kantor. Agar dia bisa menggodanya terus menerus.


Raihan melanjutkan makanannya dengan pelan-pelan agar rasa masakan itu bisa di cerna. Wajahnya semakin tampan ketika tersenyum terus.


Mungkin orang yang melihat Raihan akan menyangka Raihan sudah gila. Bagaimana tidak Raihan makan sambil senyam-senyum. Namanya sedang di mabuk cinta.

__ADS_1


.🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung....🌹🌹🌹🌹


__ADS_2