Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 122


__ADS_3

" Aku hanya mengingat perkataanmu. Jika aku tidak boleh menerima bantuan Tante Zira lagi. Bantuan besar maupun sekecil apapun. Termasuk bekerja Di Adverb. Adalah salah satu bantuannya. Aku harus lepas secepatnya biar tidak terikat hutang budi yang berkepanjangan," ujar Nayra.


Raihan menggenggam lengan Nayra yang melingkar di lehernya.


" Kamu yakin dengan keputusan kamu?" tanya Raihan.


" Hmmmm. Aku sangat yakin. Jika aku memperpanjang kontrak aku akan semakin lama berhutang budi. Lagi pula bekerja di Adverb sudah cukup untukku. Apa lagi yang aku cari. Aku sudah mendapatkanmu kembali. Jadi untuk apa aku berada di Adverb lagi," ujar Nayra.


" Jadi benar. Alasan kamu bekerja di Adverb memang sengaja untuk mengincarku?" tanya Raihan mendongakkan kepalanya ke atas. Tanpa berdosa Nayra mengangguk.


" Berarti kamu tau akibat dari perbuatanmu," ujar Raihan.


" Apa?" tanya Nayra penasaran.


" Ketika kamu berhasil menjadikanku milikmu. Itu berati kau tidak akan pernah lepas dari ku. Aku tidak akan melepaskanmu walau sebentar saja," jawab Raihan Nayra tersenyum lebar mendengarnya.


" Iya aku tau, itu memang resiko yang sudah aku pikirkan, aku pasti tidak mudah untuk di lepaskan," ujar Nayra.


" Dasar nakal," desis Raihan mencubit hidung Nayra.


" Sakit," keluh Nayra menepis tangan raihan. Raihan terkekeh melihatnya.


" Jika tidak bekerja di Adverb kamu akan bekerja di mana?" tanya Raihan. Nayra masih memegang hidungnya.


" Hmmmm, aku belum memikirkannya, kamu ada ide?" tanya Nayra balik.


" Ada," jawab Raihan cepat.


" Apa?" tanya Nayra serius.


" Jadilah istriku. Itu sudah pekerjaan yang terbaik," jawab Raihan.


" Benarkah, jika aku menjadi istrimu adalah pekerjaan yang terbaik?" tanya Nayra menyipitkan matanya.


" Hmmmm," Raihan meraih tangan Nayra membawa Nayra duduk di pangkuannya. Raihan menggenggam tangan Nayra dengan erat.


" Aku akan membahagiakanmu, akan menjagamu. Akan selalu ada untukmu," ujar Raihan dengan tulus. Membuat Nayra tersenyum.


" Apa aku harus buat surat lamaran untuk pekerjaan itu?" tanya Nayra dengan nada bercanda.


" Tidak perlu. Aku sudah tau kinerjamu, kinerja dalam hal apapun. Jadi kamu tidak perluenhikuti proses yang sulit," jawab Raihan.


" Apa saingan ku banyak?" tanya Nayra.


" Sangat banyak. Tapi aku memilihmu. Tanpa tes," jawab Raihan.


" Baiklah aku akan pikirkan pekerjaan itu," sahut Nayra.


" Enak saja berpikir, menikah denganku tidak perlu berpikir," sahut Raihan.


" Dasar pemaksa," ujar Nayra memukul dada Raihan pelan. Raihan terkekeh.


" Oh iya Raihan kamu sudah minta maaf sama Tante Zira?" tanya Nayra.

__ADS_1


" Aku belum bertemu dengan mama atau papa. Jangan memikirkan mereka. Jika waktunya tepat aku akan minta maaf. Tetapi walau minta maaf aku tidak akan mengubah keputusanku," ucap Raihan.


" Iya aku tau, ya sudah aku kembali bekerja dulu," ujar Nayra pamit.


" Kita makan siang bersama," ajak Raihan.


" Iya, tapi nanti ya soalnya pekerjaanku masih banyak," ujar Nayra.


" Jangan terlalu memaksakan pekerjaan, kamu harus memikirkan lambungmu. Aku tidak mau maag mu kambuh," ujar Raihan mengingatkan.


" Sip pak bos," sahut Nayra memberi hormat pada Raihan tersenyum melihat kelakuan Nayra.


" Ya sudah kalau begitu aku pergi dulu," ujar Nayra pamit bangkit dari pangkuan Raihan. Tetapi Raihan menahan tangannya.


" Apa lagi?" tanya Nayra.


" Nanti malam kita makan malam di luar!" ujar Raihan.


" Bukannya kamu ada meeting nanti malam dengan klien," sahut Nayra yang sudah melihat jadwal Raihan.


" Hmmmm, setelah selesai meeting kita akan bersama. Aku akan menjemputmu," ujar Raihan.


" Baiklah," sahut Nayra. Nayra kembali berdiri dan tetap tangannya di tahan.


" Ada apa lagi Raihan?" tanya Nayra menekan suaranya.


" Dandanlah yang cantik!" ujar Raihan.


" Sangat cantik. Tetapi aku ingin melihatmu berbeda, karena menurutku ini sangat special," ujar Raihan.


" Baiklah, aku akan mengikuti apa yang kamu katakan," jawab Nayra, " aku sudah bisa pergi?" tanya Nayra.


Raihan menganggukkan matanya. Nayra tersenyum dan kemudian pergi tanpa di tahan Raihan lagi. Sebenarnya Raihan ingin berlama-lama bermesraan dengan Nayra.


Tetapi dia juga melihat pekerjaan Nayra yang sangat banyak. Dia juga tidak ingin membuat kekasihnya kewalahan.


***********


Mall


Jihan jalan-jalan di Mall sendirian tanpa di temani Carey. Jihan memasuki toko bunga yang ada Mall tersebut. Jihan mulai Memilih-milihat indahnya bunga Liliy favoritnya.


" Mengingat bunga ini aku jadi kepikiran tentang gadis yang bernama Nara," batin Jihan sambil memegang bunga Liliy mengingat Nayra yang merebutkan bunga yang sama dengannya.


" Bagaimana keadaannya. Dan Raihan bagaimana Raihan. Bukannya mereka pacaran. Zira mengatakan Raihan belum pulang. Pasti ini sulit untuk Raihan. Aku tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiranku. Kenapa aku seakan tidak setuju dengan perjodohan Carey dan Raihan. Padahal aku tau jika Carey sangat mencintai Raihan. Tapi aku juga bisa melihat dari cara bicara dan pandangan Raihan terhadap Nara. Itu jelas Raihan dan gadis itu saling mencintai. Aku bahkan seperti melihat Addrian dan Zira dulu," Jihan terus bergerutu di dalam hatinya sambil terus memegang bunga Liliy tersebut.


" Mungkin saja mereka sedang di uji. Lalu bagaimana dengan Carey. Dia bahkan memaksakan dirinya untuk hal ini," lanjutnya lagi dengan hati yang bingung.


Ternyata di sisi lain David juga berada di Mall yang sama. David yang di temani Asisten pribadinya. David menghentikan langkahnya ketika berada di depan toko bunga.


" Aduh saya lupa kita mampir dulu kesini sebentar," ujar David setelah mengingat sesuatu.


" Bapak ingin membeli bunga?" tanya Yogi Asisiten Pak David.

__ADS_1


" Iya benar, saya ingin membelikan untuk Nayra. Dia akan ulang tahun besok jadi saya ingin memberinya bunga. Karena dia belum memberitahukan permintaannya ke pada saya," jawab David.


" Kalau begitu mari Pak," ujar Yogi mempersilahkan majikannya masuk terlebih dahulu.


David tersenyum dan memasuki toko bunga tersebut ikut memilih-milih yang menurutnya akan di sukai Nayra.


" Mungkin ini saja kali ya," ucap David ketika melihat mawar, " wanita banyak yang suka mawar," ujar David menerka-nerka.


" Tetapi Pak yang saya tau. Kalau Bu Nayra suka dengan Bunga liliy," sahut Yogi.


" Benarkah, ya ampun kenapa kamu tidak bilang sama dari tadi. Bunga liliy seperti kesukaan Ji....," David menghentikan ucapannya yang spontan terucap.


" Siapa Pak?" tanya Yogi penasaran dengan kelanjutan ucapan itu.


" Ahhhhh, tidak bukan siapa-siapa, saya Ingan ada saudara yang menyukai bunga Liliy," sahut David mengelak. Yogi hanya mengangguk.


" Kalau begitu di mana kita menemukan bunga yang di sukai Nayra?" tanya David melihat di sekitarnya dan tidak melihat bunga itu.


Yogi juga mulai menggerakkan kepalanya mencari keberadaan bunga tersebut.


" Di sana Pak," tunjuk Yogi. Melihat sekumpulan jenis bunga Liliy.


" Oh iya ayo kita lihat mana yang bagus," ujar David berjalan terlebih dahulu dan di ikuti Yogi.


Jihan masih memilih-milih bunga. Jihan ingin mengambil bunga Liliy yang lumayan susah untuk di ambil.


" Kemana pelayannya?" tanyanya kesulitan untuk mengambilnya.


" Mbak, tolong," panggil Jihan berbalik badan mencari pelayan.


Tetapi Jihan tiba-tiba terkejut saat melihat David berjalan mengarah kepadanya.


" Mas David," gumam Jihan dengan napasnya yang tiba-tiba sesak melihat langkah David semakin dekat dengannya. Dengan cepat Jihan langsung berbalik badan membelakangi David yang mungkin sudah hampir sampai.


" Ada apa ya Mbak?" tanya pelayan yang sudah berada di depan Jihan. Jihan tidak menjawab, wajahnya malah pucat.


" Jadi benar kata Carey. Mas David ada di Jakarta," batinnya masih tidak percaya.


" Mbak, ada apa?" tanya pelayan sekali lagi yang tidak mendapat respon dari Jihan.


Pelayan tersebut melihat 2 orang pria yang menghampirinya. Pelayan yang merasa di acuhkan oleh Jihan langsung beralih kepada David dan Yogi.


" Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya pelayan pada David.


" Oh iya benar, saya ingin bunga Liliy dengan warna yang banyak," jawab David.


" Baik Pak silahkan di pilih," sahut pelayan dengan ramah mempersilahkan.


Mata David mengarah pada punggung Jihan. David merasa aneh dengan wanita yang tegak membelakanginya itu.


David yang penasaran dengan wanita itu perlahan melangkahkan kakinya dengan pelan untuk mendekati Jihan. Sampai David sudah berada di belakang Jihan yang masih Schok.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2