
Keesokan harinya. Nayra keluar dari kamar dengan cepat. Nayra menuruni anak tangga. Raihan sudah pergi 2 hari. Dan suaminya itu belum pulang juga membuatnya khawatir. Semenjak suaminya pergi.
Nayra memang tinggal di rumah mertuanya dan juga banyak orang-orang yang tinggal di sana. Seperti sekarang ruang tamu itu sudah penuh dengan orang-orang dan pasti dengan wajah yang tegang dan penuh kekhawatiran.
Apa lagi jika bukan karena orang-orang pergi dalam misi penyelamatan. Untuk membawa teman-teman mereka kembali.
" Nayra," ucap Zira ketika menantunya itu menuruni anak tangga dengan langkah yang sangat cepat. Membuatnya khawatir dengan kondisi kehamilan menantunya.
" Apa Raihan sudah memberikan kabar?" tanya Nayra. Tujuannya menghampiri ruang tamu itu memang hanya untuk menanyakan suaminya. Karena dia sendiri memang tidak bisa berkomunikasi dengan suaminya.
" Pa!" tegur Nayra pada Addrian. Karena dia tidak mendapat jawaban apa-apa.
" Belum Nayra," jawab Addrian membuat Nayra langsung sedih dan bertambah khawatir. Dara dan Carey langsung menghampiri Nayra. Memberikan kekuatan pada adiknya itu.
" Kamu tenang ya. Raihan pasti akan memberikan kabar," ujar Carey mengusap pundak Nayra.
" Benar Nayra. Mungkin Raihan dan yang lainnya sedang kesulitan berkomunikasi," sambung Dara yang berpikiran positif. Agar memang segala hal berjalan dengan positif.
" Kapan terakhir kali Raihan memberikan kabar?" tanya Nayra yang sudah meneteskan air mata perasaannya semakin tidak menentu.
" Semalam sore. Dia hanya mengatakan menemukan mobil yang miliknya yang di pakai Andini," sahut Addrian.
" Berarti mereka sudah tau di mana tempatnya. Lokasinya sudah di temukan?" tanya Nayra dengan mendesak. Addrian mengangguk.
" Di mana?" tanya Nayra yang sangat ingin tau. Mungkin dia juga akan pergi kesana untuk menyusul suaminya. Ya mungkin ide gila itu sudah ada di kepalanya.
" Nayra untuk apa?" sahut Jihan.
" Jika sudah tau tempatnya. Jadi ayo pergi kesana. Mungkin saja mereka sedang kesulitan," ujar Nayra yang memang benar memiliki ide buruknya dengan perasaannya yang semakin cemas.
" Sayang kamu jangan gegabah. Raihan dan yang lainnya akan bisa menyelesaikan masalah. Mereka bisa menghadapinya," sahut Jihan yang mencoba memberikan putrinya ketenangan.
" Benar Nayra. Kita berdoa saja dari sini. Semoga semuanya lancar," sahut Kayla.
" Tante tau kamu khawatir. Tante juga khawatir. Tetapi Tante yakin Raihan, Alex, Dion dan Raka akan kembali secepatnya," sahut Saski yang menambahi lagi.
" Tapi. Jika kita menunggu saja. Tidak ada gunanya. Siapa tau mereka butuh bantuan kita," sahut Nayra yang semakin cemas. Dia tidak akan tenang jika tidak melihat suaminya.
Jihan memberi kode pada Carey. Agar membawa Nayra kekamar. Carey menganggukkan kepalanya.
" Ayo Nayra. Kita ke atas. Kamu harus istirahat. Jangan memikirkan apapun. Kita istirahat dulu. Kita berdoa agar semuanya baik-baik," ujar Carey mengajak adiknya untuk pergi.
__ADS_1
" Tapi kak," sahut Nayra penuh kekhawatiran.
" Sudah Nayra ayo," sahut Dara yang juga membujuk Nayra. Nayra dengan perasaannya yang tidak menentu akhirnya mengikut saja. Dia mungkin harus berdoa. Agar suaminya cepat kembali.
" Mama apa yang kamu pikirkan. Mama juga mencemaskan Raihan. Tapi ini jalan yang sudah di ambil oleh Raihan," batin Zira yang hanya berpura-pura kuat dan ikhlas melepas kepergian anaknya yang bisa di katakan mengantarkan nyawa.
************
Pagi sudah kembali malam lagi hari sudah gelap. Carey berada di dalam kamarnya sedang bersujud dengan memakai mukenah dan bertasbih. Selesai sholat isya dia bertasbih, memohon perlindungan agar suaminya tetap selamat. Dia juga sudah berdoa sebelumnya.
Mulutnya yang terus komat-kamit mengucapkan kalimat tasbih dengan khusuk. Dengan perasaannya yang di penuhi ketakutan. Ini memang ketakutan yang paling terbesar dalam hidupnya. Dia pada akhirnya takut. Jika Dion benar-benar pergi meninggalkannya.
Dan Dion, Alex, Raihan, dan Raka. Ternyata sedang melakukan pertarungan baku hantam di gedung tua. Tempat penyekapan Sony, Luci, Celine dan Andini.
Mereka ber-4 harus melawan orang-orang yang sangat kuat dan jumlah yang banyak sampai mereka tidak bisa menghitungnya. Kedatangan mereka menjadi kebahagian untuk Sisil. Jadi semakin banyak anak-anak dari wanita-wanita yang di bencinya. Dan dia tidak sabaran mengirim mayatnya.
Sisil menjadi penonton di antara perkelahian itu. Meski beberapa anak buahnya sudah terlumpuhkan. Tetapi dia tetap duduk dengan santai bak seorang putri. Dengan keyakinan jika anak-anak buahnya akan menang melawan Raihan dan yang lainnya.
Karena Raihan, Raka, Dion dan Alex juga sudah terluka. Karena pertempuran sejak siang itu tidak mungkin membuat mereka mulus-mulus saja.
Bahkan tenaga mereka juga sudah mulai berkurang sedikit demi sedikit. Sementara Sisil anak buahnya yang kalah satu langsung di ganti 2 jadi Raihan dan temannya mana mungkin terkalahkan.
" Brukk," pukulan keras melayang kepunggung Dion. Membuat Dion terjatuh dengan ke-2 lutut menyentuh tanah.
Jatuhnya Dion bersamaan dengan putusnya tali tasbih Carey.
" Astagfirullah," lirih Carey dengan air matanya jatuh dan butiran tasbih itu berserakan di lantai. Dion mengusap dadanya. Debaran jantungnya memompa kencang seperti dia habis mengitari Monas sampai debaran jantung itu tidak normal.
" Dion," satu nama itu terucap dari mulutnya dengan air matanya yang jatuh semakin banyak.
" Apa yang terjadi. Ya Allah aku mohon lindung Dion. Aku mohon ya Allah, selamatkan dia. Kembalikan dia kepadaku," ujar Carey langsung mengadahkan tangannya keatas memohon kepada sang penciptanya agar sang suami di selamatkan.
*******
Raina yang mondar-mandir di pinggir ranjang. Dia sangat gelisah. Perasaannya sangat tidak tenang. Bahkan dia ingin menangis. Tetapi air matanya tidak kunjung tumpah juga.
" Aku mohon Raka. kembali lah dengan cepat," ujar Raina yang sudah duduk di pinggir ranjang dengan mengusap wajahnya sampai kepucuknya kepalanya.
Raina tersentak kaget saat sentuhan tangan kecil memegang pundaknya membuatnya menoleh kebelakang. Yang ternyata melihat Amira.
" Amira," lirih Raina.
__ADS_1
" Mama kenapa belum tidur?" tanya Amira. Yang terbangun karena mamanya yang belum tidur sama sekali.
Raina langsung meraih tangan Amira sehingga Amira duduk di sampingnya dan langsung memeluknya.
" Mama belum mengantuk sayang," jawab Raina.
" Mama memikirkan papa?" tanya Amira yang menebak perasaan mamanya.
" Tidak sayang," jawab Raina yang tidak ingin mau Amira kepikiran.
" Tapi Amira memikirkan papa. Amira mimpi kalau ada orang yang jahat sama papa," ucap Amira yang memeluk mamanya erat. Dia juga terbangun. Karena bermimpi papanya.
" Mama juga kepikiran dengan papa. Mama juga tidak tau kenapa perasaan mama yang seperti itu. Raka kembalilah. Kamu lihat Amira sangat mencemaskan kamu. Kembalilah Raka," batin Raina yang akhirnya meneteskan air mata. Sambil memeluk putrinya dengan erat.
**********
Nayra juga di kamarnya dengan gelisah. Dia juga sedang sholat dan berdoa dengan air matanya yang mengalir dengan deras. Firasatnya sebagai istri sangat kuat. Suaminya yang tidak kembali sampai sekarang membuatnya semakin takut.
" Ya Allah aku mohon berilah perlindungan pada suamiku. Aku mohon ya Allah tolong selamatkan dia. Jangan biarkan terjadi apa-apa kepadanya. Jauhkan dia dari segala musibah. Aku mohon ya Allah berikan dia keselamatan," ujar Nayra yang terus berdoa meminta perlindungan pada sang pencipta agar suaminya baik-baik saja.
***********
Andini dan Sony berusaha membangunkan Luci dan juga Celine yang juga mereka tidak tau kenapa. Ke-2 orang itu bisa ada di sana.
" Apa mereka di jebak juga?" tebak Andini yang kebingungan.
" Aku tidak tau. Tetapi mungkin iya," sahut Sony yang juga tidak mengerti. Kenapa mereka ada di sana.
" Lalu bagaimana cara membangunkan. Kak Celine dan Luci. Semetara kakak saja lama sekali bangunnya," ucap Andini yang tidak sudah kebingungan. Dan bahkan tidak tau mau berbuat apa-apa lagi.
" Sepertinya. Mereka kenak obat bius. Makanya bangun sangat lama," ucap Sony. Asal menebak-nebak.
" Masa iya," sahut Andini tidak percaya.
" Aku hanya menebak-nebak saja," sahut Sony. Andini berdiri.
" Mau kemana kamu?" tanya Sony.
" Mau melihat situasi sebentar," jawab Andini yang melihat keluar dari lubang kecil itu.
Bersambung.....
__ADS_1