Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 395


__ADS_3

" Jadi kamu tau semuanya," ujar Della gugup. Angga mengangguk tersenyum


" Aku tau dari Luci dan dia menceritakan semuanya. Bahkan dia mencari kamu. Karena kamu hanya bilang ke toilet. Tapi kamu malah mengikutiku sampai ke hotel," ujar Angga membuat Della tidak bisa berkutik apa-apa lagi.


" Jadi semuanya sudah di ketahui Angga," batin Della.


" Katakan Della, apa kamu panik saat aku dan Karen ada di hotel?" tanya Angga yang butuh jawaban.


" Kenapa apa kamu menyesal. Karena aku menelponmu. Apa kamu merasa. Aku menggagalkan semua rencanamu dengannya. Apa aku mengganggu kesenanganmu?" tanya Della yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan Angga.


" Tidak. Aku tidak menyesal. Karena kamu datang dan menghubungiku. Tetapi aku butuh alasan kenapa kamu melakukan itu," ujar Angga yang masih membutuhkan jawaban dari Della.


" Aku tidak mungkin mengatakan kepada Angga. Jika Karen sudah menikah. Aku tidak punya bukti apa-apa dan mana mungkin Angga percaya kepadaku," batin Della yang tampak gelisah.


" Kenapa diam Della bicara dan katakan alasan kamu melakukannya?" tanya Angga lagi.


" Kenapa kamu harus bertanya. Apapun itu itu tidak penting. Jadi jangan bertanya yang tidak ada jawabannya dan menyinggirlah dari ku," ujar Della mendorong Angga. Tetapi Angga menahan tubuhnya.


" Apa kamu masih mencintaiku Della?" tanya Angga yang ingin perasaannya terjawab. Dan Della menatap Angga yang juga menatapnya dengan dalam.


" Jangan menanyakan hal itu di saat kamu memliki seorang kekasih," ujar Della.


" Lalu bagaimana jika aku tidak memiliki seorang kekasih. Apa ada kesempatan untukku?" tanya Angga yang sepertinya masih mengharapkan Della kembali kepadanya.


Yang mungkin saja pacaran dengan Karen. Hanya sebagai pelampiasan saja. Yang mungkin ingin menjernihkan pikirannya dari perasaannya pada Della yang tidak bisa berhenti.


" Della, aku tau kamu masih mencintaiku. Aku tidak tau apa yang membuatmu sampai tidak mengakui perasaanmu. Aku tidak tau apa lagi yang harus aku lakukan. Aku tidak tau apa lagi yang membuat ada jarak di antara kita. Ramah sudah tiada. Tetapi kenapa kamu masih tetap tidak memberiku kesempatan," batin Angga yang ingin mendapatkan harapan dari Della.


" Meskipun aku mencintaimu. Tetapi cintaku hanya akan menyusahkanmu. Aku tidak bisa apa-apa Angga dan mana mungkin kamu menikahiku dalam keadaan seperti ini. Aku hanya akan membuatmu repot," batin Della yang selalu merasa tidak pantas karena kekurangan fisiknya yang membuatnya ingin tersadar.


Mereka sibuk dengan perasaan mereka masing dengan gejolak yang mereka rasakan dan sampai terdengarnya hentakan kaki dan orang-orang yang bergerutu membuat Angga dan Della tersadar dari lamunan.


Angga menoleh ke arah ujung pintu masuk yang mungkin yang lainnya akan sampai dan Angga langsung beralih dari hadapan Della. Della menarik napasnya panjang dan membuang perlahan merasakan lega saat apa yang terjadi tidak sampai ketahuan orang tua mereka.


Angga berdiri merapikan dirinya. Begitu juga Della yang memegang rambut sembari mengusap-usapnya dan merapikan sedikit-sedikit seperti menghilangkan salah tingkah yang masih ada.

__ADS_1


" Hmmm, mereka sudah di sini kan, aku bilang juga apa," sahut Aca yang orang-orang itu sudah sampai ke lokasi.


" Iya benar, Angga memang tau aja. Jadi nggak usah di suruh-suruh lagi," sahut Kayla. Angga dan Della saling melihat dan kembali mengalihkan pandangan ketika mereka gugup.


" Ya sudah, ayo kita mulai baberque sudah lapar ini," sahut Ilham mengusap perutnya yang sepertinya ingin di isi.


" Iya sayang kamu sabar dong," sahut Kayla.


" Luci sama Celine mana ma?" tanya Della yang tidak melihat ke-2 adiknya.


" Lagi beberes barang-barang, lagi nyusun di kamar," sahut Aca.


" Hmmm, begitu rupanya," sahut Della yang sudah mulai tenang dan tidak gugup lagi.


" Ya sudah, Angga kamu ambil makanya di bawah!" perintah Kayla.


" Iya ma," jawab Angga.


" Sekalian ya Angga, kamu juga langsung suruh Luci dan Celine kemari," sahut Kayla yang juga meminta tolong.


" Iya, Tante," jawab Angga langsung bergerak.


Angga pun langsung menuruni anak tangga dan mengambil kedapur bahan makanan. Angga menggunakan keranjang agar bahan bahan yang di perlukan itu bisa satu tempat. Angga mengeluarkan dari kulkas dengan menyusun rapi di dalam keranjang.


Dratttt, Dratttt, Dratttt.


Ponsel Angga tiba-tiba berdering dan Angga langsung mengambil dari dalam sakunya dan melihat panggilan masuk dari Karen.


" Ngapain Karen nelpon?" tanyanya di dalam hatinya yang penasaran. Angga pun langsung mengangkatnya.


📞" Kamu di mana?" tanya Karen langsung pada intinya.


📞" Memang ada apa?" tanya Angga.


📞" Angga jawab saja. Kamu di mana. Sekketaris kamu bilang, kamu pulang cepat. Lalu kamu di mana. Kamu juga tidak ada di rumah," sahut Karen dengan suaranya yang tampak kesal.

__ADS_1


📞" Kamu kerumahku?" tanya Angga heran.


" Kamu tidak menjawab telponku. Jadi mau tidak mau aku akan harus ketumahmu dan bibi bilang kamu sedang di Ancol. Kamu ngapain di sana?" sahut Karen yang secepat kilat mendapatkan kabar.


📞" Aku sedang ada urusan keluarga. Sudahlah Karen. Aku sibuk. Nanti aku akan menelponmu," ujar Angga yang malas untuk berdebat.


📞" Aku akan menyusulmu," sahut Karen. Membuat Angga kaget.


📞" Kamu jangan melakukan itu. Aku sedang bersama keluargaku. Jadi jangan memperkeruh suasana. Kita akan bicara nanti," tegas Angga.


📞" Tidak Angga. Kamu menghindariku. Kita harus bicara dulu. Kamu tidak boleh menghindariku seperti ini," tegas Karen.


📞" Aku bilang nanti maka nanti. Jadi jangan mencari masalah. Aku sedang sibuk. Jika kamu tetap menyusulku. Maka jangan bicara denganku," tegas Angga yang memberikan ancaman dan langsung mematikan toonnya.


" Angga, Angga! panggil Karen dengan menggeertakkan kakinya yang penuh kemarahan dengan Angga yang mematikan ponselnya.


" Sial!" geram Karen yang kekesalan yang benar-benar di kacangi oleh Angga.


Sementara Angga membuang napasnya perlahan kedepan yang telah menerima telpon dari Karen yang membuatnya sesikit kesal.


" Bisa-bisanya Karen punya pikiran untuk menyusulku. Mama bisa mengamuk jika hal itu sampai terjadi. Karena benar-benar cari gara-gara mulu," batin Angga yang sempat sesak napas dengan kelakukan Karen.


Angga pun kembali melanjutkan pekerjaannya dengan memasukkan bahan makanan yang di ambilnya dari dalam kulkas ke dalam keranjang dan langsung pergi begitu pekerjaannya sudah selesai.


Angga menuju kamar tamu yang di sana ada Luci dan Celine untuk memanggil ke-2 wanita itu untuk ikut naik keatas balkon karena yang lain sudah menunggu mereka.


Tiba di depan ruangan itu Angga yang ingin mengetuk pintu tiba-tiba berhenti ketika mendengar Luci bicara.


" Ya tetap saja kasihan kak Della. Dia sepertinya berusaha keras untuk menjauhkan Karen dan kak Angga. Tetapi dengan menutupi perasaannya," sahut Luci.


" Maksud kamu?" tanya Celine.


" Ya ampun kak Celine masa kakak tidak tau. Kak Della itu mencintai kak Angga dan aku sering menangkap kak Della yang beberapa kali tidak sengaja memergoki kak Angga dan pacarnya yang bermesraan," ujar Luci.


" Kalau begitu kenapa kak Della tidak mengatakan perasaannya pada Angga?" tanya Celine heran.

__ADS_1


" Ya elah. Kak Della juga tau diri kali. Dia sadar siapa dia. Dalam kondisi dia yang cacat seperti itu. Kak Della juga sadar diri yang tidak mungkin akan membebankan diri pada orang lain dan mungkin dengan memendam rasa cukup untuknya," sahut Luci yang tampaknya tau banyak mengenai Della dan yang lainnya.


Bersambung


__ADS_2