
Angga dan Karen pun akhirnya makan malam bersama di salah satu Restaurant yang cukup terkenal dan tidak jauh dari kantor Angga. Sebenarnya Angga sudah malas untuk makan malam.
Karena pikirannya yang tidak tenang. Tetapi Karen sepertinya sangat mendesak. Jadi mau tidak mau Angga menurut saja.
" Nih, aak," ujar Karen menyuapkan Angga makanan miliknya dan Angga langsung membuka mulutnya.
" Enak?" tanya Karen. Angga mengangguk.
" Aku harus bisa secepatnya lebih dekat dengan Angga. Sebelum teman-teman Angga mencurigaiku. Aku harus bisa menguasai Angga," batin Karen yang sepertinya punya rencana lain untuk Angga. Seperti mendekati Angga. Karena ada maunya.
" Hmmm, Angga," tegur Karen.
" Iya kenapa?" tanya Angga sambil mengunyah makanannya.
" Hmmm. Kapan sih kamu bawa aku ketemu orang tua kamu lagi?" tanya Karen membuat Angga terdiam dan berhenti makan dan melihat Karen sebentar.
" Memang ada apa, bukannya kemarin kamu sudah ketemu?" tanya Angga.
" Kemarin kan tidak formal. Aku ingin ketemu formal, kan kamu tau sendiri. Kemarin saja waktu nya juga tidak banyak dan aku pun tidak bisa berkata," sahut Karen.
" Tapi mama sepertinya tidak menyukai Karen, karena mungkin mama menilai Karen yang berlebihan saat di pesta Alex dan juga Andini," batin Angga.
" Kamu kenapa diam?" tanya Karen.
" Hmmm, nanti saja kalau ada waktu soalnya mama lagi sedang sibuk," jawab Angga yang tidak bisa menjanjikan apa-apa.
Wajah Karen terlihat sendu saat mendengarnya dan Karen langsung memegang tangan Angga yang berada di dekat piring. Menumpuk dengan tangannya.
" Angga aku mencintai kamu. Aku mau hubungan kita jauh lebih serius. Aku tidak mau main-main lagi dengan kamu. Kita harus membicarakan semuanya dengan serius," ujar Karen yang sepertinya menuntut hubungan jelas dengan Angga dan Angga hanya diam. Seakan tidak bisa merespon apa-apa.
" Jadi aku ingin kita berdua. Bukan hanya pacaran. Tetapi juga melaksanakan ikatan pernikahan," ujar Karen yang langsung to the point.
" Aku mengerti Karen. Nanti aku akan coba mengatur waktu untuk pertemuan kamu dan mama. Jadi bersabar lah," sahut Angga mencoba membuat Karen mengerti.
" Hmm. Baiklah, aku tunggu?" sahut Karen.
" Angga sepertinya ragu berhubungan denganku. Tidak ini tidak bisa di biarkan. Aku harus mendapatkan Angga. Dia benar-benar harus menjadi milikku. Aku harus melakukan hal yang lebih jauh agar Angga benar-benar bisa bersamaku," batin Karen yang mempunyai niat jahat pada Angga.
Di tempat yang sama ternyata Della dan Luci sedang ada di sana dan sekarang Luci sedang kekamar mandi.
" Kakak tunggu bentar sini ya!" ujar Luci saat mereka ber-2 sudah berada di depan toilet.
" Hmmm, iya kamu jangan lama-lama ya," ucap Luci.
" Hmm, iya kak, hanya sebentar saja kok," sahut Luci.
__ADS_1
Luci pun memasuki kamar mandi dan Della menunggu di dekat kamar mandi. Della mendorong kursi rodanya agak menjauh dari depan kamar mandi agar tidak menghalangi orang yang ingin masuk.
" Aku menunggu di sini saja," ujarnya sambil bermain ponselnya.
Baru juga Della menepi dari depan kamar mandi. Tiba-tiba Karen keluar dari kamar mandi.
" Keren," lirih Della yang melihat Karen berdiri di depan kamar mandi dengan Merapi-rapikan pakainanya.
" Ngapain dia di sini?" tanya Della heran.
" Apa dia lagi sama Angga," ucapnya menebak-nebak.
" Ma," tiba-tiba terlihat seorang pria yang memanggil Karen Ma.
Yang membuat Della kaget. Melihat Pria dewasa yang menghampiri Karen dan wajah Karen langsung seketika panik dan melihat di sekelilingnya seakan takut ada yang melihatnya.
" Pa," sahut Karen tampak panik dan mendengar jawaban itu membuat Della semakin kaget.
" Kamu ngapain di sini?" tanya Pria itu.
" Oh, itu aku lagi makan sama teman aku," jawab Karen bohong dengan wajahnya yang panik.
" Kamu sendiri sedang apa di sini?" tanya Karen.
" Hmm, aku lagi ketemu klien, dan sudah selesai juga," jawab Pria tersebut.
" Ya sudah kamu sudah selesai. Ayo kita pulang sekalian kasian anak kita menunggu di rumah sendirian," sahut Pria itu.
Della mendengarnya semakin kaget yang mengatakan anak sampai Della menutup mulutnya dengan tangannya.
" Anak apa maksudnya. Apa Karen sudah menikah, bahkan mereka memanggil papa dan mama. Karen jelas berarti sudah menikah," batin Della yang menebak-nebak.
" Hmmm, kamu duluan aja deh pulangnya soalnya aku masih ada pembicaraan sedikit dengan teman aku," sahut Karen yang tidak mungkin pulang tanpa memberi tahu Angga.
" Ya sudah kalau begitu. Ayo aku temani," sahut Pria itu membuat Karen melotot. Dia benar-benar kaget dan sepertinya takut. Karena memang tidak mungkin suaminya menemaninya.
" Nggak usah, aku bentar aja kok. Aku akan langsung pulang begitu sudah selesai. Jadi kamu pulang aja dulu. Nanti aku akan nyusul kok. Soalnya mama juga bawa mobil," ujar Karen yang tampak gugup.
" Bisa gawat kalau mas Danu ketemu dengan Angga. Jangan sampai Angga juga melihat mas Danu," batin Karen yang panik dengan wajahnya yang penuh kegelisahan.
" Sudah pa, pulanglah bukannya Diki, sedang menunggu," desak Karen.
" Ya sudah. Tapi kamu tidak apa-apa kan?" tanya Danu. Karen langsung menggeleng.
" Ya sudah kalau begitu aku pulang duluan," ujar Danu. Karen mengangguk. Sebelum pulang Danu mencium pipi Karen. Lalu pergi dan kepergian Danu membuat Karen bernapas lega.
__ADS_1
" Hhhhh, untung aja aku tidak ketauan. Pokoknya Angga tidak boleh tau. Jika aku sudah menikah," ucap Karen yabg mengusap dadanya. Karen melihat kembali di sekitarnya. Takut ada yang melihatnya.
" Astagfirullah, jadi Karen sudah menikah dan Angga. Apa Angga tau. Tidak mungkin. Jika Angga tau mana mungkin Angga mau berpacaran dengan wanita yang sudah menikah, itu sangat tidak mungkin," batin Della yang benar-benar terkejut dengan apa yang di dengarnya.
" Aku harus cepat-cepat mendesak Angga untuk menikahiku. Setelah dia patuh dan tunduk padaku. Aku akan menceraikan mas Danu. Karena aku tidak mau hidup dengannya. Aku hanya menginginkan Angga. Jadi aku harus segera merencanakan semua rencanaku. Sebelum Angga tau. Jika aku sudah menikah," ucap Karen yang penuh Rencana. Yang jelas terdengar di telinga Della.
" Ya ampun. Jadi Angga tidak tau. Jika Karen sudah menikah dan Karen punya niat jahat pada Angga. Bahkan Karen akan meninggalkan rumah tangganya. Hanya untuk hal yang tidak pantas," batin Della dengan wajahnya yang penuh kecemasan dengan Angga yang sedang dalam masalah.
Karen pun akhirnya meninggalkan tempat itu dan untung saja. Karen tidak melihatnya. Tidak berapa lama setelah kepergian Karen Luci pun keluar dari kamar mandi dan langsung melihat kakaknya dan langsung menghampiri kakaknya.
" Kakak!" tegur Luci.
" Ha, iya Luci," sahut Della.
" Ayo kita pulang!" ajak Luci.
" Hmm, nanti dulu. Kakak mau pesan makanan untuk mama dulu," ujar Della yang sepertinya ingin melakukan sesuatu.
" Oh begitu," sahut Luci. " Ya sudah ayok," sahut Luci. Della mengangguk dan mendorong kursi roda kakaknya kembali memasuki Restaurant.
Dan tiba di Restauran kembali. Luci tampak memesan makanan di depan kasir. Sementara Della melihat di sekitarnya dan melihat di mana Angga dan tidak susah mencarinya Della langsung menemukan Angga.
Della melihat Angga makan bersama Karen dengan romantis masih makan bersama.
" Kasian Angga yang harus tertipu dengan Karen. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak mungkin membiarkan Angga terjebak oleh wanita yang benar-benar sangat jahat," batin Della yang terus melihat ke arah Angga dan Karen yang dari kejauhan 12 meter.
Dan Angga dan Karen sama sekali tidak melihat Della dan juga Luci. Luci sendiri juga sibuk memesan makanan.
Lama melihat. Della melihat Angga dan Karen beranjak dari tempat duduk mereka yang mungkin sudah selesai makan. Bahkan Karen terlihat mengandeng Angga dan menempel- nempel dengan Angga.
" Benar-benar tidak tau malu. Bisa-bisanya dia seperti itu. Padahal dia sudah menikah," batin Della yang melihat terus pasangan itu ke luar dari Restauran.
" Luci," tegur Della.
" Ha iya kak kenapa?" tanya Luci.
" Kakak mau ke toilet dulu. Kamu tunggu saja di sini," ujar Della.
" Sebentar kak. Biar Luci temani," sahut Luci.
" Tidak usah. Kamu tunggu saja makanannya. Kakak bisa sendiri kok," sahut Della menolak. Sementara wajah Luci ragu melepaskan kakaknya.
" Kakak yakin?" tanya Luci benar-benar tidak rela melepas sang kakak.
" Iya Luci. Kakak yakin. Jadi kamu tunggu sini. Kakak akan pergi sebentar," ujar Della.
__ADS_1
" Ya sudah kalau begitu," sahut Luci masih ragu. Della mengangguk dan akhirnya pergi sendiri dengan mendorong kursi rodanya sendiri.
Bersambung