
Raihan dan Nayra sedang siap-siap untuk kerumah Jihan. Menyambut lamaran dari Dion teman Raihan.
Raihan sedang memakai dasi di meja rias. Saat pulang bekerja. Raihan benar-benar kaget dengan cerita istrinya yang mengatakan kalau Carey akan di lamar.
Hal yang membuatnya lebih kaget. Saat mengetahui siapa yang melamar temannya itu yang tak lain ternyata Dion sahabatnya sendiri yang harus di temuinya tidak lama ini
Nayra juga sangat kaget awalnya dengan cerita sang mama. Pasti dia sama kagetnya dengan Raihan. Ketika mengetahui Pria yang akan menjadi suami kakaknya. Menurutnya bahkan itu tidak mungkin terjadi.
Tetapi mama dan kakaknya sendiri menerima silaturrahmi itu dengan baik. Untuk keputusan selanjutnya akan di serahkan kepada Carey tanpa ada ikut campur.
Saat melihat sang suami memasang dasinya. Nayra yang sudah selesai berkemas, langsung menghampiri sang suami mengambil alih pekerjaan suami dengan berdiri di depan Raihan memasangkan dasinya.
" Ini benar atau tidak?" tanya Raihan yang masih tidak percaya dengan cerita istrinya tadi.
" Benar dong sayang masa aku bohong," jawab Nayra sembari memasangkan dasi suaminya.
" Kok bisa sih," sahut Raihan masih tidak percaya.
" Bukannya kamu juga mengharapkan hal itu. Sebelumnya kamu pernah mengatakan kalau kamu ingin menjodohkan kak Carey dengan teman kamu. Kenapa sekarang kamu jadi kaget gitu," ujar Nayra terus memasang dasi suaminya.
" Aku hanya tidak percaya saja. Padahal aku belum melakukan apa-apa. Tapi sudah seperti itu saja. Ahhhh sudalah mungkin mereka memang sudah di takdirkan untuk berjodoh," sahut Raihan. Nayra diam dan tidak menanggapi apa yang di katakan suaminya.
" Kamu sendiri bagaimana apa tanggapan kamu dengan hal ini?" tanya Raihan meletakkan ke-2 tangannya di pinggang istrinya.
" Aku juga tidak tau. Semua itu tergantung kak Carey. Kita berdoa saja mana yang terbaik. Apapun keputusan kak Carey itu sudah yang terbaik," ujar Nayra dengan penuh harapan.
" Kamu benar," sahut Raihan.
" Ya sudah, ayo kita berangkat! nanti kita telat," ujar Nayra melihat waktu sudah semakin malam. Raihan menganggukkan kepalanya.
**********
Sekeras apapun Dion menolak perjodohan dari sang mama. Tetapi tetap mamanya pemenangnya. Dengan wajahnya yang mengkerut seperti memikirkan banyak hutang Dion di dalam mobil di kursi belakang duduk di samping sang mama.
Dengan memakai kemeja putih dan jas hitam. Dion terlihat tampan seperti ingin menemui calon istri yang di cintai. Tapi kata itu jauh dari kenyataan. Dia menuruti kemauan sang mama. Karena memang terbiasa menurutinya tanpa membantah.
Dan sekarang pun akhirnya terjadi. Dia harus datang kerumah wanita yang membuatnya. Tidak membayangkan bagaimana nasipnya selanjutnya.
__ADS_1
Tidak pernah di bayangkannya akan menikah dengan wanita seperti Carey. Wanita yang sudah membuatnya memiliki kesan buruk. Karena pertemuan awal mereka yang tidak baik.
" Sial, kenapa aku bisa terjebak dalam hal ini. Apa yang di inginkan wanita itu. Apa dia setidak laku itu. Sampai harus aku yang menjadi suaminya. Wanita itu benar-benar masalah besar dalam hidupku," batin Dion dengan penuh kekesalan yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
" Kenapa dia harus menerima perjodohan ini. Wanita itu benar-benar sinting," Dion hanya bisa mengoceh di dalam hatinya. Karena jika mengoceh di depan sang mama sudah tidak ada gunanya lagi.
" Dion mama harap. Kamu jaga sikap ya. Sopanlah berbicara pada mamanya Carey. Seperti Carey sopan bicara sama mama," ujar mamanya memperingatkan Dion sebelum mereka sampai.
" Dia itu pintar cari perhatian beda sama Dion. Jadi Dion tidak bisa di paksakan untuk berakting," desis Dion yang langsung sewot.
" Kamu ini ya. Kalau di kasih tau, bisanya ngebantah aja. Pokoknya awas kalau kamu bikin malu," tegas sang mama mengingatkan kembali. Dion tidak menjawab lagi. Mimik wajahnya yang penuh kemarahan sudah menjawab semuanya.
********
Nayra dan Raihan sudah sampai terlebih dahulu dari pada Dion dan mamanya. Nayra juga membantu sang mamanya membuatkan makan malam.
Nayra harus menggunakan masker saat datang kerumah sang mama. Agar hidungnya tidak mencium aroma yang tidak sedap itu. Aroma bunga yang membuatnya ingin mual-mual.
Maklumlah dia memang sedikit alay. Padahal bisa di katakan semua bunga-bunga itu ada di lantai bawah. Tetapi Nayra tetap memakai maskernya dalam menyiapkan makan malam. Jihan sudah paham meski baru tadi pagi mengetahuinya.
Sementara Carey baru selesai sholat isya. Carey bertasbih tetap meminta petunjuk kepada sang penciptanya untuk keputusan dalam hidupnya.
Carey ingin yang terbaik dalam hidupnya. Pernikahan akan seumur hidup. Jadi dia ingin saran dari Allah untuknya.
" Menikahlah dengan anak Tante," perkataan wanita yang sangat lembut itu membuat Carey kaget.
Saat wanita itu duduk di depannya. Telapak tangannya yang masih mulus. Mengusap lembut tangan Carey. Berkata lembut dengan wajah ketulusan meminta dirinya untuk menjadi istri dari anaknya.
Wajar Carey schok dengan hal itu. Tetapi mungkin itu sudah takdir yang di berikan Allah kepadanya. Sebagai manusia dia hanya menyerahkan semuanya kepada Allah saja.
Setelah selai sholat dengan khusuk Carey membuka mukenanya. Matanya langsung menoleh kebelakang melihat jam yang menggantung di dingding.
" Apa mereka sudah datang," batin Carey merasa dek-dekan.
tok-tok-tok.
" Masuk! ujar Carey mendengar kamarnya di ketuk. Saat pintu terbuka yang ternyata sang adik yang masih tetap menggunakan masker berdiri didepan pintu.
__ADS_1
" Mereka sudah datang. Kakak sedang di tunggu!" ujar Nayra dengan suara tidak berapa jelas. Tetapi Carey dapat mendengarnya.
" Iya, kakak pakai hijab dulu," jawab Carey. Nayra menganguk tersenyum masuk kedalam kamar sang kakak.
Nayra duduk di pinggir ranjang. Sementara Carey merapikan alat sholatnya menyimpannya pada tempatnya dan mulai memasangkan hijabnya di depan cermin.
" Bagaimana perasaan kakak?" tanya Nayra.
" Pasti sangat dek-dekan.Tapi kakak akan menghadapi semuanya," jawab Carey sembari memakai hijabnya.
" Apa kakak akan menerimanya?" tanya Nayra pelan.
Dia sudah tidak sabaran menunggu nanti. Dia ingin bertanya sekarang dan mengetahui terlebih dahulu keputusan kakaknya. Carey yang sudah selesai memasangkan hijabnya menoleh ke arah Nayra.
" Ayo mereka sudah menunggu," ujar Carey yang tidak menjawab pertanyaan sang adik.
" Hmmmm, ayo," sahut Nayra.
Ternyata Dion dan sang mama langsung beralih kemeja makan. Sementara beberapa bingkisan yang sudah di siapkan sang mama yang di bantu para pelayannya sudah memenuhi ruang tamu.
Dion yang duduk di samping sang mama. Menggoyang-goyangkan kakinya. Dia berharap ada keajaiban hari ini. Di mana wanita itu menolak perjodohan yang menurutnya tidak masuk akal.
Sementara Raihan yang duduk di sampingnya sang teman bisa melihat bagaimana wajah sahabatnya yang sangat panik dalam hal ini.
" Carey," tegur Erina yang melihat calon menantunya datang bersama Nayra. Carey menunduk tersenyum.
" Ayo sayang duduk! ujar Jihan menepuk kursi di sampingnya di depan Dion.
" Iya ma," jawab Carey.
Nayra juga menyusul duduk di samping sang mama.
" Wanita ini kenapa bisa cari masalah denganku," batin Dion yang terus melihat Carey dengan tatapan dingin.
" Apa dia tidak bisa menjaga matanya," batin Carey risih dengan tatapan Dion.
Bersambung....
__ADS_1