Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 87


__ADS_3

" Raina ada apa kenapa bengong?" tanya Raihan melihat adiknya yang tiba-tiba bengong.


" Oh tidak aku hanya merasa ketinggalan. Masa iya klien terbesar tetapi aku tidak tau kedatangannya," sahut Raina berusaha menyembunyikan pemikirannya.


" Bukannya kau juga sudah tidak di Perusahaan, jadi kita juga tidak harus memberitahu secara detail kan," sahut Alex nada bercanda.


" Jadi menurutmu masalah Perusahaan aku sudah tidak perlu ikut campur iya?" tanya Raina wajah kesalnya.


" Hey, aku hanya bercanda, kau langsung marah. Lagi pula kau memang tidak bisa meninggalkan Perusahaan. Sudahlah Raina menetap lah di sini," sahut Alex.


" Aku tidak mau. Aku berada di Perusahaan hanya untuk mengawasi kalian ber-2 termasuk dirimu," ujar Raina dengan tegas.


" Kenapa kalian, malah ribut. Sudah Zetty kamu sebaiknya pulang, siapkan semuanya jamuan makan malamnya harus sebaik mungkin," ujar Raihan.


Raina menggedikkan bahunya, meletakkan majalah di atas meja. Lalu dia berdiri.


" Oke," sahut Raina lalu langsung berpamitan pergi.


" Alex," panggil Raihan setelah kepergian Raina.


" Hmmm," sahut Alex.


" Apa Pak David datang sendiri. Atau dia bersama keponakannya?" tanya Raihan memastikan. Alex langsung menatapnya curiga.


" Kenapa kau mengatakan itu. Kau takut jika Samuel akan mendekati Nayra?" tebak Alex.


" Tidak, siapa bilang," jawab Raihan mengelak.


" Sudahlah Raihan. Kau paling tidak bisa bohong soal perasaanmu dengan Nayra. Semua orang juga bisa melihat dari wajahmu. Kalau kau sangat bucin terhadapnya," ujar Alex dengan senyumnya.


" Aku bukan Pria yang seperti yang kau katakan," sahut Raihan mengelak.


" Hahhhhh, sudahlah terserahmu, aku ke ruanganku dulu," ujar Alex berdiri dan langsung pamit.


**********


Bandara.


Nayra di antar Raka untuk menjemput klien penting Adverb. Raka menunggu di dalam mobil. Sementara Nayra menunggu di dalam Bandara. Mencari Pria yang di temuinya di Turki beberapa Minggu yang lalu.


Raina berdiri, dengan beberapa orang yang juga menjemput orang terpenting mereka.


" Di mana Pak David, bukannya pesawatnya sudah landing," gumam Nayra melihat arloji yang menempel di tangannya. Kepalanya berkeliling mencari Pria itu.


Nayra tersenyum ketika melihat orang yang di carinya


" Itu dia," ujarnya setelah menemukannya, " Pak David," panggil Nayra mengangkat tangannya dan melambaikannya.


David yang mendengar namanya di panggil langsung mencari arah suara itu dan dengan cepat langsung menemukannya.


David juga tersenyum ketika melihat Nayra. David pun menghampiri Nayra dengan menyeret kopernya.


" Hay Nayra," sapa David tersenyum lebar yang sudah berdiri di hadapan Nayra.


" Hay, Pak, Bapak apa kabar?" tanya Nayra dengan ramah.


" Saya baik-baik saja, saya sudah mengatakan kepada Pak Alex. Agar tidak menjemput saya. Tetapi pak Alex masih saja mengirim kamu," ujar David merasa tidak enak.

__ADS_1


" Tidak apa-apa. Pak, saya justru sangat senang, di beri kesempatan menjemput Bapak," sahut Nayra yang sedari tadi tersenyum.


" Oh, ya ampun kamu sangat sweet sekali," sahut David.


" Ya sudah pak, mari pak," ujar Nayra mempersilahkan David agar berjalan terlebih dahulu. David kembali mengembangkan senyumnya dan berjalan.


Ketika sampai mobil. Raka dengan sigap membukakan pintu mobil untuk. Nayra dan David. Mereka juga duduk berdampingan di belakang Raka.


Setelah melihat Nayra dan David sudah duduk manis di belakangnya. Raka melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang agar klien penting itu merasa nyaman.


" Jakarta tidak pernah berubah," ujar David membuka obrolan. Ketika matanya melihat gedung-gedung tinggi dari jendela mobil.


" Bapak pernah tinggal di Jakarta?" tanya Nayra.


" Iya saya di Jakarta sangat lama, Mantan istri saya juga kalau tidak salah dulu tinggal di Jakarta," sahut David. Dia merasa sangat terbuka dengan Nayra.


" Mantan istri?" tanya Nayra.


" Iya mantan istri," sahut David. Nayra hanya mengangguk tidak ingin membahas lebih lanjut.


" Hmmm, Nayra saya ingin makan, apa boleh kamu menemani saya makan?" tanya David merasa perutnya keroncongan.


" Oh, pasti pak," sahut Nayra dengan cepat.


" Soalnya di pesawat saya tadi tidak makan. Jadi perut saya sudah mulai demo," ujar David bercanda.


" Baiklah Pak, saya tau di mana tempat makanan yang enak, jadi bapak pasti tidak akan menyesal.


" Oh iya benarkah, kalau begitu saya sangat beruntung," sahut David.


" Pak Raka kita cari makan dulu ya!" ujar Nayra.


Dengan cepat Nayra dan David menemukan Restaurant yang biasa di datanginya bersama Raihan. Restaurant yang memang sudah berdiri sejak tahun 80 an.


Nayra dan David duduk berhadapan. David memesan sirlon steak sama dengan Nayra. Dengan minuman orens jus.


" Bagaimana Pak apa enak?" tanya Nayra dengan memegang garfu dan pisau.


" Sangat enak, pilihan tempat dan makanannya sangat bagus, kamu memang sangat pintar," puji David mengunyah makanannya.


" Bapak bisa aja," sahut Nayra malu. David melihat Nayra mengasingkan jagung yang ada di makanannya.


" Kamu tidak suka jagung?" tanya David.


" Iya, saya alergi dengan jagung," jawab Nayra, " memang sedikit aneh jika alergi dengan jagung," lanjut Nayra sambil memotong steaknya.


" Saya juga tidak menyukainya," sahut David.


" Oh iya benarkah, apa bapak alergi atau hanya sekedar tidak suka saja?" tanya Nayra memastikan.


" Saya juga alergi, jika memakannya saya merasa kedinginan, dan..."


" Napas akan sesak," sahut Nayra melanjutkan kalimat David. David heran melihat Nayra yang sangat tau apa yang akan di katakannya.


" Kamu juga merasakan itu?" tanya David memastikan.


" Iya saya merasakan itu. Dokter bilang itu alergi dari faktor keturunan. Tetapi keluarga saya tidak ada yang mengalami hal seperti itu. Dokter juga bilang yang punya alergi itu jarang di rasakan orang Paling 1 dari seribu. Tetapi ternyata saya menemukan teman. Mengalami hal yang sama dengan saya," ujar Nayra dengan ceria.

__ADS_1


" Kenapa aku merasa sangat nyaman dengan anak ini. Hhhh mungkin aku hanya merindukan. Bayi ku dulu," batin David menahan kesedihannya. Mengingat kematian bayi kecilnya.


" Pak David, are you oke?" tanya Nayra yang melihat David termenung.


" Oh, iya, saya hanya memikirkan putri saya saja. Hhhhhh, jika melihat anak perempuan seusia kamu. Pasti saya langsung mengingatnya. Mungkin karena saya juga tidak memiliki anak. Tuhan hanya memberi saya kesempatan. Tetapi saya tidak bisa menjaga bayi itu," ujar David dengan matanya berkaca-kaca.


Dia merasa nyaman berbicara dengan Nayra. Dia tidak pernah seterbuka itu kepada orang lain.


" Maaf Pak David, saya pasti membuat bapak kembali sedih saya merasa tidak enak," ujar Nayra memegang tangan David.


Hatinya sangat tersentuh melihat kesedihan di wajah Pria yang baru di kenalnya itu.


" Hahhhh, tidak apa-apa," saya memang sedikit cengeng. Saya jadi malu sama kamu. Kamu jangan bongkar rahasia ini ya kepada siapa-siapa. Kalau saya sangat murah sedih. Orang lain tau saya sangat garang. Jadi kamu mengetahui kelemahan saya," ujar David kembali tersenyum.


" Iya saya tidak akan bongkar bapak tenang saja," sahut Nayra tertawa lebar.


David kembali tersenyum melihat Nayra yang tertawa luas. Dia merasa mungkin ini hari yang paling bahagia untuknya.


David dan Nayra melanjutkan makan mereka. Sambil terus mengobrol panjang lebar. Ke-2 nya memang sangat nyaman berbicara. Bahkan mereka berbicara dengan terbuka. Seperti orang yang sudah saling mengenal.


*************


Nayra Mencuci piring di dapur, dia tersenyum kala mengingat pertemuannya dengan Pak David.


" Ternyata Pak David sangat baik, sangat berbeda dengan yang di katakan Pak Alex. Dia mengatakan Pak David sangat ketus, sombong dan pemarah, buktinya dia sangat humbel, juga sangat ramah," Nayra bergerutu sambil membilas piring mengingat kebaikan yang di lakukan David.


Tingnong, Tingnong,


Nayra menoleh ke arah ruang tamu ketika mendengar bel apartemennya.


" Siapa yang datang," tanyanya mematikan keran air melap tangannya lalu pergi menuju pintu.


Nayra membuka pintu dan melihat Raihan yang sudah berdiri membelakanginya. Walau tidak melihat wajahnya. Nayra tau jika itu adalah Raihan.


" Raihan," ujar Nara pelan. Raihan langsung berbalik.


" Hay," sapa Raihan tersenyum.


" Ngapain kamu kemari?" tanya Nayra.


" Aku ingin membawamu kerumah, Pak David sebentar lagi akan datang, jadi kau juga harus ada di sana," jawab Raihan menjelaskan dengan singkat.


" Tapikan," ujar Raina.


" Sudah jangan pakai tapi-tapi, Nara kamu itu Sekretarisku, dan sudah sewajarnya kamu ada di sana untuk menjamunya," ujar Raihan.


" Iya tapi kan itu hanya makan malam. Bukan bicara pekerjaan," sahut Nayra yang masih mencari alasan.


" Sudahlah Nara, jangan banyak protes, buruan," sahut Raihan yang terus memaksa.


" Ya sudah, aku ganti baju dulu, tidak mungkin kan aku pergi dalam keadaan seperti ini," ujar Nayra. Raihan melihatnya hanya menggunakan kaos pink dan hotpadn putih sebatas pahanya.


" Baik lah aku akan menunggumu," ujar Raihan.


" Oh, yasudah," ujar Nayra menutup pintu dan langsung di tahan Raihan.


" Kamu serius akan menyuruhku, menunggu di luar?" tanya Raihan menaikkan alisnya memastikan. Nayra menarik napasnya dan membuangnya perlahan.

__ADS_1


" ya sudah masuk, awas kalau macam-macam," ujar Nayra dengan nada mengancam.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung.....๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2