
Raihan menuruni anak tangga, langsung menuju meja makan. Di bawah sudah ada Addrian, Zira Raina dan Amira sudah memulai sarapan bersama.
" Pagi," sapa Raihan dengan wajah yang terlihat begitu ceria. Meneguk air putih. Addrian, Zira dan Raina saling melihat. Mereka heran dengan Raihan yang sepertinya sangat bahagia.
" Raihan kamu tidak sarapan?" tanya Addrian.
" Tidak Pak, nanti saja di Kantor," jawab Raihan.
" Kenapa harus di kantor, sarapan lah bersama," sahut Zira.
" Di kantor aja Pa, Ma, Raihan hampir telat," jawab Raihan
" Telat, baru juga jam 7, tekad dari mana," sahut Raina mengoles setangkap roti.
" Ada meeting pagi ini," jawab Raihan.
" Kalau begitu, kamu sarapan di mobil, biar mama siapkan?" ujar Zira berdiri.
" Tidak usah ma, nanti saja di kantor, ya sudah Raihan pergi dulu ya," ujar Raihan. Meraih tangan papa dan mamanya mencium punggung tangan itu secara bergantian.
Raihan juga mencium kening Zira dan pastinya mencium keponakannya yang langsung di balas oleh Amira mencium pipi Raihan.
" Kamu rajin belajar ya," ujar Raihan.
" Siap Om," sahut Amira dengan senyum sumringahnya.
" Ya sudah semuanya, aku pergi dulu," ujar Raihan pamit.
" Dadada Om," teriak Amira saat melihat omnya pergi. Raihan kembali menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya.
" Aneh sekali, sejak kapan dia pagi-pagi sudah kekantor," gerutu Raina merasa tingkah kakaknya sangat aneh.
" Ya itulah Raihan, kalau sudah kenal kerja. Dia bahkan melupakan semuanya dan fokus pada pekerjaan lainnya.
" Raihan sangat aneh. Sebenarnya hubungan Raihan dan Nayra sudah seperti apa. Apa mereka sudah berbaikan. Ahhhhh, sebaiknya aku harus fokus dengan David dan Nayra dulu. Apa lagi Raina setiap saat selalu mencurigaiku," batin Zira yang terus gelisah.
" Sayang kamu kenapa, kok bengong?" tanya Addrian melihat istrinya yang seperti banyak berpikir.
" Oh, tidak, tidak apa-apa," jawab Zira gugup.
" Mama semenjak, kedatangan Pak David, selalu banyak pikiran. Apa sih ma, yang mama pikirin," sahut Raina dengan santai sambil memakan roti. Zira hanya melihat Raina saja. Yang secara terang-terangan mencurigainya.
" Memang ada apa sayang, apa yang kamu pikirkan?" tanya Addrian. Dia juga merasa istrinya sangat aneh belakangan ini.
" Oh, tidak, kamu kan tau sendiri. Sejak dulu Adverb selalu ingin kerja sama dengan Pak David. Jadi aku hanya khawatir kalau Raihan membuat Pak David kecewa," jawab Zira dengan tenang. Raina mendengar jawaban sang mama hanya menyunggingkan senyumnya.
" Iya kan Raina," ujar Zira. Raina langsung melihat ke arah mamanya. Dan tersenyum tipis.
" Mama santai saja, selagi tidak ada apa-apa, semua akan berjalan dengan lancar," sahut Raina dengan nada menyindir.
" Sudahlah sayang, kita serahkan semua kepada Raihan dan Raina pasti akan membantu, iya kan sayang," sahut Addrian melihat ke arah Raina.
" Pasti Pak," jawab Raina dengan senyum lebarnya.
__ADS_1
" Ya sudah kita sarapan lagi!" ujar Addrian. Zira tersenyum dan kembali menikmati sarapan. Walau dengan pikiran yang tidak tenang.
" Aku yakin, ada sesuatu. Dan Papa pasti tidak tau masalah ini," batin Nayra.
*********
Setelah selesai mandi. Nayra keluar dari kamar mandi menggunakan kimono berwarna putih. Dengan handuk di lilit di kepalanya. Karena masih pagi Nayra menyempatkan diri untuk keramas.
Nayra membuka lemarinya dan mengambil pakaian yang akan di pakainya untuk kekantor. Nayra meletakkan di atas tempat tidur. Lalu Nayra beralih ke depan cermin.
Nayra mengoles foundation kewajahnya. Sebelum memulai proses make-up simplenya. Lalu dia meratakan dengan jarinya. Karena hatinya terasa bahagia. Keluar suara indah dari mulutnya. Suara alunan nyanyian.
Na-na na na na na na na na na
Nayra membuka handuk yang di gulung di rambutnya. Mengambil hairdryer dan mengirimkan rambutnya. Sambil terus bernyanyi-nyanyi dengan lirik yang itu-itu saja.
Tingnong-tingnog.
" Siapa pagi-pagi begini," gumamnya menghentikan pekerjaannya.
" Mengganggu saja," ujarnya lalu langsung keluar dari kamarnya. Nayra langsung menuju pintu. Tanpa melihat layar monitor. Nayra langsung membuka pintu.
Raihan sudah berdiri tegak di depan pintu dengan wajahnya yang cool.
Dengan paper bag ditangannya.
" Jam berapa ini. Ada apa pagi-pagi seperti ini?" tanya Nayra heran.
Raihan langsung menuju dapur dan meletakkan paper bag yang sedari tadi di pegangnya. Nayra hanya heran dengan apa yang dilakukan Raihan di dapurnya yang sudah mengambil piring dan meletakkan di meja.
" Sudah sana ganti baju, jangan-jangan berlama-lama dengan pakaian seperti itu. Jika aku khilaf jangan salahkan aku," sahut Raihan menggoda Nayra.
Jelas mata Raihan di cuci dengan Nayra yang terlihat fress. Mendengar ucapan Raihan. Nayra kembali mengkerutkan dahinya.
" Issssh, dasar mesum," celetuk Nayra.
" Sudah sana," usir Raihan.
Nayra langsung pergi kembali kekamarnya dengan kesal. Raihan tersenyum miring dengan Nayra kembali kesal.
Setelah beberapa lama bersiap. Nayra kembali keluar dari kamarnya yang sudah rapi. Nayra memakai dress berbentuk kimono berwarna hijau army. Dengan heels hitam. Dan tas yang di sandang di bahunya.
Nayra menuju dapur. Melihat Raihan sudah di meja makan. Dengan 2 mangkuk makanan di atas meja. Dan 2 gelas susu.
" Kemari kita sarapan dulu," ajak Raihan ketika melihat Nayra.
Nayra pun menghampiri Raihan dan duduk di sampingnya. Raihan sudah menyiapkan sarapan sereal untuknya.
" Makanlah!" ujar Raihan.
Nayra mengangguk dan mulai menyendokkan kemulutnya. Raihan juga ikut sarapan.
" Jam berapa kamu bangun?" tanya Nayra di sela-sela makannya.
__ADS_1
" Kenapa bertanya seperti itu?
" Ha heran aja, masih pagi sudah ada di sini," sahut Nayra.
" Aku sengaja datang, supaya bisa melihatmu sarapan. Kau sangat payah jika di suruh untuk makan," ujar Raihan mengus kepala Nayra. Nayra tersenyum mendapatkan perhatian Raihan.
" Setiap hari akan seperti ini?" tanya Nayra memastikan.
Raihan tersenyum mendengarnya.
" Kamu keberatan kalau aku melakukannya," tanya Raihan.
" Hahhhh, tidak, hanya saja itu akan menyulitkanku. Bagaimana jika aku masih tertidur. Dan kamu datang. Suara bel yang berisik akan menggangguku. Dan tidurku akan selesai," jawab Nayra
" Kalau begitu, berikan Sadi Apartemenmu, supaya kau tidak merasa terganggu," ujar Raihan menaikkan alisnya, dengan seriangi nakal di wajahnya.
" Enak saja, yang adanya kau akan masuk sesukamu dan menggangguku," jawab Nayra ketus.
" Kau tidak suka aku mengganggumu?" tanya Raihan.
" Hhhhhhh, suka-suka tapi dikit," sahut Nayra dengan mengedipkan sebelah matanya.
" Dasar, suudah lanjutkan sarapan mu!" ujar Raihan.
Nayra tersenyum dan kembali menikmati sarapan yang di buatkan Raihan kepadanya Raihan juga melanjutkan makanannya. Mereka menikmati sarapan mereka sambil mengobrol dan saling tertawa.
*************
Setelah selesai sarapan bersama. Raina dan Raihan pun kekantor bersamaan. Mobil Raihan sudah berhenti di depan Perusahaan Adverb E-Group.
" Ayo turun!" ujar Raihan. Membuka seat beltnya. Tetapi Nayra menghentikannya. Raihan langsung menoleh ke arah Nayra.
" Ada apa?" tanya Raihan heran.
" Raihan Kitakan, sudah, sudah," Nayra sangat gugup menyampaikan apa yang ingin di sampaikan nya.
" Sudah apa?" tanya Raihan menaikkan alisnya.
" Hahhhh, begini hubungan kita kan sudah kembali. Jadi kalau di kantor bersikap biasalah. Seperti biasanya. Kamu atasan aku sekretaris," jelas Nayra. Raihan hanya menyimak dengan datar.
" Jadi kamu, jangan yang melakukan hal yang aneh-aneh, saat di kantor. Yang membuat orang-orang berpikir lain terhadapku," lanjut Nayra yang memang tidak ingin orang-orang di kantor akan menjadikannya bahan gosip.
" Bukannya aku pimpinan. Jadi terserahku. Jika ingin melakukan apapun," sahut Raihan.
" Hehhhhh, jangan seperti itu. Aku tidak mau orang-orang di kantor akan menceritaiku," sahut Nayra dengan bibirnya yang kerucut. Raihan mendengus melihat kelakuan Nayra.
" Hey, lagi pula bukannya selama ini, kamu Yang yang tidak bersikap biasa. Kamu masa lupa, kamu yang membongkar hubungan kita. Bahkan kamu juga memelukku di depan umum," sahut Raihan mengingatkan hal itu.
" Hahhhhhhhh.... Itu karena kamu menyebalkan. Dan soal memeluk aku sudah mengatakan kalau yang itu aku tidak sengaja sadar," jawab Nayra dengan beribu alasan.
" Mana ada di peluk tidak sadar," ujar Raihan.
🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1