
" Kamu bisa kan?" tanya Raihan seperti tidak sabaran.
" Sayang tidak mungkin, itu terlalu sulit dan sepagi ini mana mungkin aku membuatnya, belum lagi kita juga tidak punya bahan di rumah," jelas Nayra yang merasa tidak mungkin membuatkan itu di pagi yang buta.
" Jadi kamu tidak bisa membuatnya?" tanya Raihan dengan wajahnya penuh kecewa.
" Aku memang belum pernah membuatnya. Tetapi bibi mungkin pernah," sahut Nayra mengingat asisten rumah tangganya.
Biasanya pekerja rumah tangga bisa memasak apapun. Walau semenjak Nayra memiliki asisten rumah tangga belum pernah meminta membuatkan makanan itu.
" Aku panggil bibi dulu," ujar Nayra ingin bergerak Raihan menahan tubuhnya. Naura kembali pada posisi awalnya.
" Tapi aku ingin kamu yang membuatnya," ujar Raihan yang banyak maunya. Membuat Nayra melebarkan matanya sedikit.
" Sayang kamu bisa kan," kata-kata lembut Raihan seakan Nayra harus mengatakan iya. Wajah pasrah Nayra yang bisa menanggapi permintaan Raihan. Mungkin bagi Raihan makanan seperti itu mudah di buat.
" Tapi kita juga tidak punya bahan," sahut Nayra masih punya kesempatan untuk memberi alasan.
" Ya sudah lah," sahut Raihan berbicara dengan nada kecewa dan ingin berbaring.
Tetapi Nayra menahannya sehingga wajah suaminya masih tetap berada di dekatnya.
" Apa aku harus membuatnya?" tanya Nayra yang tidak ingin membuat suaminya kecewa. Raihan yang memang menginginkan hal itu mengangguk cepat.
" Tapi kita harus kepasar untuk membeli bahan. Karena supermarket belum buka jam segini," ujar Nayra yang memang tidak memiliki bahan itu di rumahnya.
" Tidak apa-apa untuk kamu keluar sepagi ini,? tanya Raihan. Raihan bahkan tau itu sangat pagi. Tetapi masih saja menyuruh Nayra memasakkan makanan itu.
" Tidak apa-apa," jawab Nayra yang sebenarnya sangat malas.
Matanya bahkan sangat mengantuk. Tetapi sang suami benar-benar aneh membangunkannya hanya untuk makanan itu
mau tidak mau dia harus menurutinya. Karena tidak ingin suaminya kecewa kepadanya.
" Ya sudah aku temani kamu," ujar Raihan mengusap lembut pipi Nayra. Nayra tersenyum tipis. Lebih tepatnya senyumnya tidak ikhlas.
Memang dirinya harus di temani. Karena mana mungkin dia kepasar sendirian. Raihan mencium kening Nayra dengan lembut dengan senyum yang indah di wajah Pria yang banyak maunya itu.
" Makasih sayang," ujar Raihan menatap dalam-dalam sang istri. Nayra menganggukkan matanya.
***********
__ADS_1
Rumah sakit.
Kondisi Della benar-benar kritis. Beberapa Dokter sedang menolong Della di ruangan UGD. Angga hanya menunggu di luar.
Sebentar-sebentar mengintip dari jendela kecil yang pasti sebenarnya tidak akan terlihat kedalam.
Rasa khawatir, marah, dendam bercampur menjadi satu. Sangat kejam Pria yang akan menikahi sahabatnya.
Pria itu lebih tepat di panggil psikopat yang benar-benar tidak punya hati sanggup melakukan itu kepada Della.
Tanpa Della bercerita Angga bisa menebak jika pasangan itu sebelumnya bertengkar dan pasti alasan Pria itu murka berkaitan dengan dirinya. Karena tadi Angga melihat beberapa fotonya dan Della berserakan di lantai.
Pasti pemicu Della bisa seperti itu karena hal itu. Tetapi apakah itu sangat tidak pantas pria yang tidak pernah di lihatnya secara langsung memperlakukan Della seperti itu.
Sementara orang tua Della saja tidak pernah bermain kasar kepada anak-anaknya. Dan Pria yang bernama Ramah itu melakukan itu. Belem menikah saja sudah seperti itu. Apalagi sudah menikah.
Angga sangat bahagia dengan Della yang menelponya mengatakan cinta. Tetapi kebahagiannya hilang saat melihat wanitanya terkapar dengan luka dan darah.
Saat Della bangun masih sempat mengatakan cinta kepada Angga. Bahkan Della mengatakan kalimat itu dengan tersenyum.
Ceklek
Pintu UGD itu terbuka. Membuat Angga langsung berdiri mendekati Dokter yang keluar dari ruang UGD tersebut.
" Banyak luka yang terdapat di kepala, luka tangan dan luka pada kakinya,"
" Lalu kondisinya bagaimana?" tanya Angga yang benar-benar cemas dia ingin mendengar intinya saja dari Dokter yang wajahnya tidak meyakinkan.
" Dokter Della sudah melewati masa kritisnya," jawab Dokter tersebut membuat Angga bernapas lega. Angga mengusap wajahnya dengan napasnya yang masih tidak beraturan.
" Tapi...." kata tapi dari Dokter membuat Angga melihat ke arah Dokter, mengubah wajah lega nya menjadi wajah yang benar-benar serius dan justru rasa khawatir semakin besar.
" Tapi apa Dokter?" tanya Angga memiliki perasaan buruk.
Angga dan Dokter tersebut sudah berada di dalam ruangan. Angga dengan mata berkaca-kaca melihat lembaran hasil ronsen Della.
Melihat terlalu lama dengan Dokter yang terus menjelaskan membuat air matanya akhirnya tumpah.
Ramah memang handal melakukan sesuatu. Apa yang di inginkan Ramah terjadi. Akibat perbuatan Ramah, Della mengalami lumpuh, akibat pukulan keras pada ke-2 kaki Della.
Hanya sekali pukulan saja berhasil membuat Della benar-benar lumpuh. Angga benar-benar ingin membunuh pria yang menghancurkan masa depan Della.
__ADS_1
" Apa dia bisa sembuh?" tanya Angga dengan suara serak yang sangat berharap banyak. Tangannya sedari tadi mengusap kasar air matanya.
" Segala sesuatu pasti akan sembuh. Jika pasien dan Dokter saling bekerja sama. Untuk Dokter Della sendiri mungkin akan sangat lama,"
" Karena pukulan membuat tulangnya rusak. Tetapi jika melakukan banyak terapi mungkin akan cepat sembuh," jelas Dokter.
" Berapa lama waktu untuk sembuh?" tanya Angga.
" Kita tidak bisa tahu. 1bulan 1 tahun, 10 tahun dan mungkin lebih dari semua itu," jawab Dokter yang sama sekali tidak ada yang diinginkan Angga.
" Pak Angga bisa bersabar. Dokter Della adalah seorang Dokter dan dia juga sering menangani kasus kelumpuhan. Dia pasti tau apa yang harus di lakukannya dan ini tidak akan merusak mentalnya," jelas Dokter tersebut.
***********
Angga sudah selesai berdiskusi dengan Dokter tersebut. Kondisi Della memang membuatnya sangat hancur. Di saat ada kebahagian di depannya untuk bersama Della dan sekarang tuhan memberi cobaan yang sangat berat kepada Della.
Angga hanya berjalan dengan langkah pelan dengan tidak bersemangat menuju ruang perawatan Della. Angga memang belum menghubungi keluarga Della.
Della sewaktu di bawa kerumah sakit masih sadar dan meminta Angga untuk tidak dulu menghubungi keluarganya. Angga pun melakukan hal itu demi Della.
Ceklek.
Angga membuka pintu. Berdiri di depan pintu melihat kondisi Della yang masih menutup mata. Hatinya kembali seperti diremas saat melihat wanita itu lemah tidak berdaya.
Dengan langkah yang tidak bersemangat Angga mendekati Della sehingga sudah berdiri di depan Della. Kepala Della di balut dengan perban. Beberapa luka lainnya juga di tempeli pernah.
Angga menundukkan kepalanya dan mencium kening Della dengan lembut. Angga mengalah sedikit kepalanya. Mengusap pipi yang memerah akibat tamparan itu dengan lembut.
" Aku mencintaimu Della," ujar Angga serak. Air matanya menetes kepipi wanita lemah itu. Angga menurunkan kembali kepalanya dan mencium bibir Della dengan air matanya kembali jatuh.
" Maafkan aku, aku terlambat, maafkan aku, semua ini gara-gara ku, maafkan aku Della, aku sangat tidak berguna, maaf," beberapa kali Angga hanya mengucapkan kata maaf pada wanita itu.
Bersambung
Buat para readers kesayangan aku. Hari ini aku mau info akan up 3 eps. Jadi tunggu sesuai jadwal ya.
Jangan lupa pastinya, like, komen, vote
Dan yang pastinya kalian harus mampir ke novel terbaru aku.
__ADS_1
Terima kasih.....