
Pagi hari kembali. Nayra terbangun dan melihat Amira yang masih tertidur lelap. Sementara Raihan masih tetap memeluknya dari belakang. Nayra menggeserkan tangan Raihan dari pinggangnya.
Raihan tidak terbangun. Tetapi bergeser sedikit menjadi terbaring hal itu memudahkan Nayra untuk bergeser. Dengan hati-hati Nayra bangkit dari tempat tidur. Tanpa membangunkan Amira dan juga Raihan.
Nayra yang sudah berdiri di pinggir ranjang, menarik selimut menutupi tubuh Raihan dan Amira.
" Kalian memang om dan keponakan sama-sama suka tidur," batin Nayra geleng-geleng.
Sebelum meninggalkan Raihan dan Amira. Nayra mencium kening Raihan, juga bergantian dengan Amira. Lalu Nayra memasuki kamar mandi. Nayra ingin mandi terlebih dahulu. Baru menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Karena sudah pagi 1 persatu orang masih yang masih berada di Villa itu sudah mulai bangun. Dara juga sudah bangun dan melihat Luci yang menonton TV sambil memakan kripik.
" Sudah bangun kak?" tanya Luci. Dara masih menguap dan menutup mulutnya. Hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Luci. Dara mengambil air mineral dan langsung meneguknya.
" Hmmmm, yang lain belum bangun?" tanya Luci.
" Nggak tau, mungkin masih pada ngantuk," jawab Dara yang menghampiri Luci dan duduk di Sofa.
" Pengantin baru gitu ya bangunnya lama," sahut Luci tersenyum penuh arti.
" Hmmmm, biasalah masih baru-baru," sahut Dara.
" Kakak nggak mau sarapan?" Tanya Luci.
" Yang lain belum bangun. Tunggu yang lain bangun aja. Biar sekalian pesan aja ," ujar Dara.
" Iya sih benar juga, paling sebentar lagi juga pada bangun, Oh iya kak, kita pulangnya sore ini ya?" tanya Luci.
" Hmmmm, iya kita pulang sore ini," jawab Dara membenarkan.
" Kak Raina juga?" tanya Luci.
" Iya, merekakan harus mengurus pekerjaan kantor. Jadi semuanya pulang hari ini," jelas Dara.
Tiba-tiba Celine yang tampak rapi sudah menghampiri Luci dan Dara.
" Hmmmm, dah mandi aja Kak Celine," ujar Luci.
__ADS_1
" Gue mau jalan-jalan, setelah ini. Kan ini terakhir di Bali. Jadi harus benar-benar di puaskan," sahut Celine yang duduk di samping Dara.
" Hmmmm, gimana setelah pulang dari Bali kita jenguk Angga dan Carey," sahut Dara tiba-tiba.
" Kok tumben kepikiran ke situ?" tanya Celine.
" Ya, aku rasa ini sudah waktunya, menemui mereka. Apapun itu kita kan tidak ada masalah dengan urusan Carey dan Angga. Kita tau perbuatan Carey dan Angga memang sangat kelewatan. Tetapi kan kita temannya, apa salahnya jika kita menjenguknya," ujar Dara.
" Iya sih, tapi kan nggak enak sama Raihan dan Nayra. Bagaimana jika mereka berpikir jika kita berpihak pada Carey dan Angga," sahut Celine.
" Ya nggak lah, mana mungkin mereka berpikiran seperti itu. Kita hanya menjenguk teman kita. Bukan berarti kita membenarkan masalah perbuatan mereka. Lagi pula masalah Nayra dengan mereka sudah sangat lama dan bahkan berbulan-bulan. Kalau Nayra tidak bisa memaafkan Angga dan Carey itu hak Nayra. Tetapi kita. Kita adalah teman mereka. Bukannya kita harus sudah memaafkan mereka," jelas Dara lagi.
" Kak Dara ada benarnya juga. Kita sudah lama tidak menemui mereka. Jangan sampai kak Carey dan Angga merasa jika mereka di tinggal," sahut Luci yang juga menyetujui pendapat Dara.
" Hmmmm, ya sudahlah jika memang harus seperti itu. Tetapi jujur aku tidak tau harus bicara apa kepada Carey dan juga Angga. Aku malah takut mereka tidak menerima kita," sahut Celine was-was.
" Itu memang bakalan canggung banget. Karena kita nggak pernah ketemu mereka," sahut Dara yang juga ikut merasa grogi.
Ternyata Nayra mendengarkan pembicaraan Luci, Dara, dan Celine.
" Apa karena aku, hubungan mereka tidak baik dengan Angga dan juga Carey," batin Nayra yang merasa bersalah.
Raihan, Nayra, Amira, Raka, Raina, Dara, Alex, Andini, Sony, Celine, dan Luci makan siang di restauran yang berada di pinggir pantai. Karena hari terakhir di Bali. Jadi mereka menghabiskan kebersamaan mereka di Luar. Mereka akan kembali kejakarta nanti sore.
Restaurant yang mereka pilih untuk makan. Lumayan starategis. Bisa makan dengan nikmat dan sekalian menikmati pemandangan yang indah.
Meja panjang itu juga. Sudah di penuhi dengan aneka berbagai macam makanan yang lezat-lezat. Mereka juga makan sambil mengobrol.
" Kita akan pulang hari ini ma?" tanya Amira yang berada di antara Raka dan Raina.
" Iya sayang, makanya Amira harus makan banyak," jawab Raina yang terus menyuapi Amira.
" Kapan kita kesini lagi ma?" tanya Amira.
" Memang Amira belum puas main-main di Bali?" tanya Nayra.
" Tidak Tante, Amira masih enak jika tinggal di sini, apa lagi tidur sama om Raihan dan Tante," ujar Amira.
__ADS_1
" Iya enak, akunya menderita," batin Raihan yang masih tampak kesal.
" Oh, jadi tadi malam Amira tidur sama om Raihan dan Tante Nayra. Katanya mau tidur sama papa dan mama," sahut Andini yang Setaunya Amira berpamitan tidur dengan orangtuanya.
" Seharusnya iya Tante, tetapi mama menyuruh Amira untuk tidur sama Om Raihan dan Tante Nayra," jawab Amira polos. Membuat Raina yang ingin makan langsung tersedak makanan begitu juga dengan Raka yang tiba-tiba berhenti makan.
" Oh seperti itu, jadi sudah di rencanakan," sahut Raihan dengan geram melihat ke arah adiknya. Sementara yang lainnya melihat ke arah Raina dan Raka yang sekarang malu.
" Memang mama bilang apa Amira?" tanya Sony yang kepo.
" Amira plis tutup mulut," batin Raina yang merasa malu.
" Mama bilang. Papa sedang sakit. Jadi kalau Amira tidur sama papa dan mama itu akan mengganggu papa. Dan papa lama sembuh," jawab Amira jujur. Raina memejamkan matanya sudah tidak tau mau di taruh di mana wajahnya dengan Amira yang membongkar semuanya.
" Memang papa kamu sakit apa?" tanya Alex yang menambah kericuhan suasana.
" Benar coba tanya papa kamu sakit apa," sahut Raihan lagi yang masih geram.
" Papa memang sakit apa?" tanya Amira langsung melihat ke arah Raka. Yang sekarang jadi gugup.
" Ha, itu papa sedang sakit," Raka menjadi gugup. Dia juga tidak tau skenario yang di buat Raina. Jadi dia belum punya jawaban.
" Ayo dong papa di jawab," sahut Sony paling senang memperburuk keadaan.
" Hmmmm, Amira sudah ya sayang, jangan dengarkan kata-kata mereka," sahut Raina yang semakin salah tingkah.
" Memang kenapa ma?" tanya Amira.
" Ehmmm, sudahlah jangan di bahas lagi, sekarang ayo kita lanjutkan makannya," sahut Nayra yang membuat Raina bernapas lega. Nayra benar-benar penyelamat untuknya.
" Besok-besok Amira terus aja nginap di rumah Om, biar papamu cepat sembuh," sahut Raihan masih kesal mengundang tertawa kecil dari yang lainnya.
" Raihan," desis Nayra.
" Apaan sih kak Raihan," sahut Raina kesal.
" Pake nanya lagi," sahut Raina geram.
__ADS_1
" Sudah dong sayang jangan di bahas lagi," Nayra mencoba membujuk suaminya agar tidak memperpanjang masalah itu.
Bersambung....