Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 169.


__ADS_3

Raihan terus memeluk Nayra. Meski napas Nayra serak karena berada dalam pelukan yang erat tetapi Nayra tetap nyaman.


" Jam berapa sekarang?" tanya Nayra.


Raihan tidak tau di mana ponselnya. Dia juga melepas arloji di lengannya. Jadi dia tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya.


" Aku tidak tau, memang kenapa?" tanya Raihan.


" Tidak, aku hanya merasa lapar," jawab Nayra. Raihan melonggarkan pelukannya dan melihat Nayra.


" Aku pesan makanan," ujar Raihan.


" Kurirnya akan datang kemari?" tanya Nayra ragu. Raihan mengangguk.


" Kita masih seperti ini," ujar Nayra gugup. Merasa ngeri dengan ke adaan mereka. Raihan tersenyum.


" Kamu mandilah! aku akan memesan makanan," ujar Raihan. untung saja di tempat itu ada kamar mandi jadi Nayra bisa mandi.


Raihan melepas pelukannya dari Nayra dan duduk. Sementara Nayra masih berbaring dengan tetap memegang selimut dengan erat.


" Kenapa belum bangkit?" tanya Raihan.


" Jika aku kekamar mandi membawa selimut kamu akan....." Nayra tidak dapat melanjutkan kalimatnya yang terlalu vulgar.


" Jadi pakailah dulu pakaianmu. Setelah itu aku akan mandi," ujar Nayra gugup. Raihan tersenyum miring.


" Baiklah," sahut Raihan langsung berdiri. Raihan ke luar dari selimut yang menutup tubuhnya. Membuat Nayra kaget reflex mengalihkan pandangannya. Ketika melihat Raihan berdiri di depannya tanpa sehelai benangpun.


Raihan tersenyum melihat exsperesi Nayra yang kaget.


" Kenapa harus malu, bukannya kamu sudah melihatnya," goda Raihan dengan santai memakai pakaiannya.


" Sudah jangan berisik, cepat ganti pakaianmu," sahut Nayra kesal masih tidak ingin melihat suaminya yang memakai pakaian di depannya.


" Sudah selesai," ujar Raihan.


" Serius!" tanya Nayra tidak percaya.


" Iya aku tidak mungkin membohongimu," jawab Raihan.


Dengan ragu Nayra mengembalikan pandangannya ke arah suaminya dan ternyata benar suaminya sudah memakai pakaiannya.


" Ya sudah sana mandi!" suruh Raihan kepalanya mengarah kamar mandi. Nayra mengangguk dan mencoba duduk.


" Auhhhhhh," lirih Nayra ketika merasa sakit ketika ingin bergerak. Reflek Raihan langsung mendekati tempat tidur mendekati Nayra.


" Kenapa?" tanya Raihan panik.


" Sakit!" lirih Nayra.

__ADS_1


" Maaf," sahut Raihan merasa bersalah.


" Tidak apa-apa," jawab Nayra menahan perih.


" Apa sesakit itu?" tanya Raihan tidak tega. Nayra tersenyum.


" Tidak, aku hanya kaget, jadi tidak berhati-hati. Jadi tidak apa-apa," jawab Nayra.


" Ya sudah aku mandi dulu," ujar Nayra Raihan mengangguk. Perlahan Nayra bangkit dari tempat tidur tetap dengan balutan selimut dengan genggaman yang erat.


Ketika Nayra berdiri sempurna. Nayra melihat bercak darah di atas seprai milik mereka. Mata Raihan juga melihat ke arah mata yang di lihat Nayra.


" Aku akan membersihkannya dulu," ujar Nayra gugup. Raihan berdiri mencegah Nayra melakukannya.


" Mandilah, biar aku yang mengerjakannya," sahut Raihan memegang ke-2 bahu Nayra.


" Tapi..."sahut Nayra.


" Sudah sana," Raihan mendorong pelan pundak istrinya menuju kamar mandi. Nayra terlalu ribet mau mandi saja susah.


Setelah beberapa lama. Nayra sudah selesai mandi dan memakai pakaiannya tadi malam. Rambutnya masih basah. Karena tidak ada hair dryer di tempat itu.


Sementara Raihan masih membersihkan dirinya di kamar mandi. Nayra duduk di pinggir ranjang tanpa balutan seprai. Karena memang benar Raihan yang merapikan tempat tidur mereka yang berantakan dan kotor akibat permainan mereka tadi malam.


Nayra tersenyum saat melihat ke arah tempat tidur. Tangannya meraba tempat itu dengan senyum kebahagian di wajahnya. Bagaimana tidak dia bisa menjadi istri seutuhnya untuk Raihan suaminya.


Ternyata benar jika berpikir hanya untuk memenuhi kewajiban itu hanya akan terlihat memaksakan diri dan tidak berhasil. Tetapi karena dia mencintai Raihan. Semuanya seakan hilang di kalahkan cintanya dan berhasil.


Seketika Nayra tersenyum geli mengingat pengalaman malam pertamanya yang di lakukan di rumah kaca tempat yang di penuhi bunga-bunga.


Tidak berapa lama Raihan ke luar dari kamar mandi dan melihat Nayra yang berdiri dengan senyum indah di wajahnya.


Raihan mendekati Nayra dan memeluknya dari belakang. Menempelkan wajahnya di pipi sang istri sambil mengusap-ngusapkan wajah itu.


Nayra hanya tersenyum memegang lengan suaminya yang di berada di pinggangnya. Nayra berbalik badan. Melingkarkan tangannya di leher Raihan. Kening mereka saling menyatu. Ke-2 nya memang seperti pengantin baru yang masih hangat-hangatnya.


" I love you," ujar Raihan.


" I love you to," jawab Nayra


Raihan memiringkan kepalanya meraih bibir Nayra. Hampir mendapatkannya jika ponselnya tidak berbunyi.


Ya Raihan harus mengundurkan niatnya lagi. Raihan melepas pelukan itu dan mengangkat telpon yang ternyata kurir yang mengantarkan makanan mereka.


" Aku akan mengambilnya sebentar," ujar Raihan. Nayra mengangguk.


Raihan pun ke luar menjemput makanan mereka. Kurir menunggu di dekat parkir mobil mereka.


*************

__ADS_1


Akhirnya ke-2 sudah duduk berhadapan di atas tempat tidur dan memulai makan. Nayra masih malu-malu di depan Raihan yang terus melihatnya saat makan. Seperti tidak pernah melihat dirinya.


" Jangan melihatku terus," sahut Nayra makan menunduk.


" Kau sangat cantik, jadi mana mungkin aku tidak melihatmu," goda Raihan yang terus merayu Nayra.


" Ishhhh, kamu," desis Nayra kesal dengan Raihan semakin hari semakin lancar menggombal.


" Apa masih sakit?" tanya Raihan. Nayra menegakkan kepalanya dan menggeleng pelan.


" Tidak terlalu. Nanti juga akan sembuh. Kalau pertama memang seperti itu akan sakit," jawab Nayra. Jawaban Nayra membuat Raihan menaikan alisnya.


" Kamu tau dari mana, Kamu sepertinya memahami masalah itu?" tanya Raihan penuh curiga.


" Aku memba...." Nayra menghentikan perkataannya ketika sudah mulai sadar. Sementara Raihan menatapnya penuh dengan senyuman nakal di wajahnya.


" Ihhhhhh, Raihan sudah lupakan. Kau selalu membuatku malu," sahut Nayra kesal. Dengan wajahnya yang cemberut dan menunduk pada pada makanan. Raihan tersenyum dan mengacak pucuk kepala Nayra.


" Maafkan aku sayang aku tidak akan menggodamu lagi," ujar Raihan. 1 kata Raihan membuat Nayra mengangkat kepalanya dan ingin mendengar pengulangan kata itu.


" Tadi kamu bilang apa?" tanya Nayra. Raihan mengkerutkan keningnya.


" Maaf," jawab Raihan.


" Bukan, bukan itu tadi kamu memanggilku dengan panggilan lain," sahut Nayra menekan Raihan.


" Apa, aku tidak mengatakan apa-apa," jawab Raihan mempermainkan Nayra.


" Ada, kamu katakan sekali lagi," desak Nayra yang ingin mendengarnya.


" Aku tidak mengatakan apa-apa Nara," jawab Raihan.


" Kamu mengatakan sesuatu, aku mendengarnya sendiri," jawab Nayra.


" Hmmmmm, itu hanya perasaanmu saja. Aku tidak akan mengatakan apa-apa," jawab Raihan yang masih terus membuat istrinya kesal.


" Ya sudahlah terserah," sahut Nayra kembali kesal. Raihan berdecak melihat tingkah Nayra bentar-bentar marah.


" Aku mengatakan sayang," ujar Raihan memegang pipi Nayra. Membuat Nayra melihat kembali ke arah Raihan.


" Aku tidak mendengarnya," sahut Nayra.


" Sayang," ujar Raihan memperjelas omongannya. Membuat Nayra tersenyum lebar.


" Sekali lagi," sahut Nayra yang mengerjai Raihan.


" Sayang, sudah puas," ujar Raihan menekan suaranya. Nayra mengangguk cepat.


" Ya sudah makanlah," ujar Raihan Nayra mengangguk mereka kembali menikmati makan mereka.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung 🌹🌹🌹🌹


__ADS_2