
Di sisi lain Zira dan Addrian juga tidak kalah paniknya di Jakarta, ketika mendengar berita kehilangan cucu mereka. Mereka baru mendapat telpon pagi hari dan Zira sangat marah di kabari pagi hari padahal Amira hilangnya jam 2 malam.
Addrian juga sudah menghubungi polisi dan mencari keberadaan cucunya, sebagai kakek pasti dia sangat mengkhawatirkan Amira.
" Bagaimana, sudah ada kabar dari Raihan?" tanya Zira yang melihat suaminya sedari tadi sibuk menelpon. Addrian menggeleng.
" Lalu Raina bagaimana?" tanya Zira lagi yang tadi mendengar kondisi putrinya juga tidak baik-baik saja.
" Raina sudah lumayan tenang, dia tidak terlalu histeris lagi," jawab Addrian.
" Ada apa ini, kenapa dia menculik Amira, apa yang di inginkannya siapa sebenarnya orang itu apa maunya?" Zira terus mengoceh kebingungan.
" Kenapa masalah tidak pernah selesai, kenapa ada lagi, ada lagi," keluh Zira memijat kepalanya.
" Tenanglah Zira, kamu juga tidak boleh panik, kita serahkan semuanya kepada pihak yang berwajib," ujar Addrian menenagkan istrinya.
" Malang sekali nasib kamu Amira, kamu masih sangat kecil, kasihan kamu sayang, kamu pasti ketakutan," ujarnya lagi yang tidak tega dengan cucunya yang pasti kesepian.
Akhirnya Raihan dan yang lainnya memutuskan pulang ke Jakarta. Mereka membawa Raina dulu pulang supaya bisa lebih tenang, agar Raihan dan yang lainnya bisa mencari Amira dengan tenang.
Raihan mengendarai mobil, Raina dan Andini berada di belakang. Sementara Nayra di samping Raihan.
Della, Celine, Luci, dan Dara juga kembali ke Jakarta, mengingat keberangkatan Della nanti malam. Sebenarnya Della sangat tidak enak pergi dalam ke adaan seperti ini.
Tetapi Dia juga harus menjalankan tugasnya dan yang lainnya juga mengerti dan membuat Della pergi tanpa ada beban
Sementara Raka masih berada di puncak bersama Sony. Mereka masih berdiskusi dengan Polisi dan masih berusaha mencari petunjuk tentang keberadaan Amira.
Raka yang sibuk berbicara serius dengan Sony tiba-tiba menerima telpon.
tredd tredd.
Raka mengambil ponselnya dari sakunya dan melihat panggilan masuk yang ternyata dari Saras. Wajah Raka yang penuh kecemasan berubah menjadi kesal melihat panggilan dari Saras.
" Ngapain sih, dia nelpon," batin Raka kesal dengan panggilan telpon dari Saras. Raka yang tidak ingin ambil pusing langsung mematikan telpon dari Saras.
" Kenapa tidak di angkat?" tanya Sony.
" Tidak penting," jawab Raka. Sony juga tidak bertanya lagi dan melanjutkan obrolan mereka.
Di sisi lain Saras yang sudah sampai rumahnya duduk dipinggir ranjang melihat Raka menolak panggilannya.
__ADS_1
" Dia mengabaikanku, kamu salah Raka mengabaikanku, anak kesayangan kamu ada di tanganku," desisnya tersenyum miring menengok ke arah Amira yang terbaring miring.
Saras berpikir jika Amira tertidur. Tetapi tidak Amira bahkan pura-pura memejamkan matanya. Karena ketakutan dengan Saras.
" Anak ini hanya akan menyusahkan, ku saja, heh bangun, bangun," ujar Saras menggoyang-goyangkan Amira. Amira tetap berpura-pura tidur.
" Bangun atau aku akan melemparmu, kalau kau mati kau tidak akan menemui ibumu si gatal itu," teriak Saras. Amira yang takut tidak bertemu dengan mamanya pun bangun dan duduk ketakutan.
" Tante bangunin Amira?" tanya Amira dengan bibir bergetar. Saras langsung mencengkram bibir Amira dengan 1 tangannya.
" Aku sangat membencimu," ujar Saras.
" Memang Amira salah apa?" tanya Amira polos. Dia juga kesulitan berbicara karena mulutnya yang di cengkaram Saras.
" Itu semua gara-gara mamamu, dan juga kamu. Apa kamu ingin Raka menjadi papa mu," teriak Saras. Amira mengangguk polos. Membuat Saras melepas kuat cengkramannya dan tertawa terbahak-bahak.
Ha-ha-ha-ha.
" Mimpi kamu bisa mendapatkan semua itu," ujar Saras dengan sinis.
" Memang kenapa Tante?" tanya Amira dengan matanya yang bergenang.
" Kamu tidak pantas memiliki seorang ayah, dan Raka tidak pantas menjadi ayahmu. Kamu hanya menyusahkannya, kamu membuat beban. Kamu sebaiknya mati menyusul papamu yang tidak berguna itu," teriak Saras.
" Iya sayang Tante mengenalnya. Kamu mau buktinya?" tanya Saras.
Amira mengangguk. Saras membuka ponselnya dan melibatkan foto-foto dirinya yang tidak pantas dengan ALM papa Amira.
Sebagai anak kecil Amira tidak tau apa-apa dan juga tidak mengerti harus mengatakan apa.
" Kamu lihat sendirikan, aku mengenal papamu, kami selalu berduaan di belakang ibumu, dan kamu tau, aku mengira hanya aku simpanannya satu-satunya. Tapi aku salah dia punya banyak simpanan. Dan aku yakin ibu mu mengetahui jika aku salah satu simpanan suaminya, makanya dia ingin balas dendam kepada ku dengan mengambil Raka dari ku," Saras terus berbicara dengan senyum-senyum. Sementara Amira hanya diam. Karena memang tidak mengerti apa-apa.
" Jadi tidak akan ku biarkan rencananya berhasil, Raka hanya milikku," ucap Saras sinis.
" Tante Amira lapar," ujar Amira mengusap perutnya merasa kelaparan.
" Oh iya benarkah, kamu lapar," sahut Saras dengan nada mengejek. Amira mengangguk pelan.
" Baiklah tunggu sebentar ya sayang," Saras pun beranjak dari tempat tidur dan pergi ke luar dari kamar.
Tidak berapa lama Saras kembali membawa nasi kotak.
__ADS_1
" Makan itu," Saras melempar nasi kotak itu di lantai sehingga nasinya berserakan di lantai.
" Ayo makan!" perintah Saras.
" Itu sudah kotor Tante," ujar Amira. Hal itu membuat Saras geram dan melangkah mendekati Amira menarik paksa tangan Amira dan menjatuhkannya ke lantai.
" Makan aku bilang!" bentak Saras. Amira yang sudah terduduk di lantai mengeluarkan air matanya saat nasi itu lengket di tangannya.
" Cepat makan," bentak Saras dengan suara menggelegar membuat Amira ketakutan dan dengan ragu mengambil nasi tersebut.
Ha-ha-ha-ha-ha Saras tertawa puas melihat anak dari wanita yang di bencinya.
**********
Sony dan Raka sedang dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Tiba-tiba Raka menerima pesan wa dari Saras.
" Apa lagi sih maunya," desis Saras melihat sebuah Vidio karena penasaran Raka membukanya.
Mata Raka langsung membulat sempurna dan rahangnya seketika mengeras ketika melihat isi Vidio tersebut adalah Amira yang sedang memakan makanan dari lantai.
" Saras," geram Raka mengepal ponselnya.
" Kenapa Raka?" tanya Sony yang menyetir mobil.
Tidak menjawab pertanyaan Sony Raka langsung menelpon Saras dan langsung di angkat Saras.
📞" Apa yang kamu lakukan kepada Amira?" bentak Raka.
📞" Kamu langsung menelpon ketika melihat anak itu seperti itu, apa kamu sangat mencemaskannya," jawab Saras dengan santai.
📞" Tutup mulutmu, di mana kamu?" teriak Raka.
📞" Tenanglah Raka aku hanya butuh teman sebentar," sahut Saras dengan suara yang manja.
📞" Aku akan membunuhmu, jika kamu berani menyentuh Amira sedikitpun," tegas Raka dengan penuh ancaman.
📞" Takut, aku takut dengan ancaman mu, tapi aku tidak peduli, itu bukan urusanku, aku punya tangan, aku bisa melakukan apapun kepadanya," ujar Saras yang memang tidak takut dengan ancaman Raka.
Raka menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan. Sementara Sony masih heran dengan Raka yang terlihat panik dan terus menyebut nama Amira.
" Katakan apa mau mu?" tanya Raka mencoba menenangkan menghadapi iblis seperti Saras tidak bisa dengan kekerasan.
__ADS_1
Bersambung......