
" Berani sekali Raihan menolakku di depan semua orang. Dan bahkan membawa nama Nayra dalam hal ini," batin Carey kesal merasa di permalukan.
" Siapa itu Nara?" tanya Nugraha.
" Satu-satunya wanita yang akan aku nikahi," tegas Raihan.
" Raihan tapi ini adalah wasiat dari ALM kakek Carey," sahut Gia.
" Lalu bagaimana jika aku mencintai wanita lain. Kalian akan tetap memaksaku?" tanya Raihan.
" Raihan pernikahan memang tidak bisa di paksakan. Kakek Carey menginkan hal itu dan kami memang berjanji akan melaksanakan wasiat itu kecuali..." sahut Opa Nugraha.
" Kecuali apa?" tanya Raihan. Carey mendengarnya seakan panik.
" Kecuali kamu dan Carey tidak menginginkan pernikahan itu. Kami tidak bisa memaksakannya, jika kalian berdua memang tidak menginginkannya," lanjut Opa Nugraha.
" Dan Opa sudah tau jawabannya kan. Opa sudah dengar sendiri. Jika aku mempunyai wanita lain, dan tidak mungkin melanjutkan pernikahan itu," sahut Raihan.
" Lalu bagaimana dengan Carey," sahut Gia.
Raihan langsung melihat ke arah Carey. Carey juga menatap Raihan.
" Carey, apa kamu masih mau menikahi Raihan?" tanya Jihan. Carey dan Raihan saling menatap.
" Iya, aku akan menikah dengan Raihan. Karena mama tau kan aku mencintainya, dan aku akan melanjutkan pernikahan itu," sahut Carey tanpa melepas tatapannya. Raihan mendengarnya mendengus. Mengusap wajahnya kasar. Zira dan Addrian juga langsung melihat ke arah Carey.
" Ada apa denganmu Carey, kamu tau kan jika aku menjalin hubungan dengan Nara," ujar Raihan menekan suaranya.
" Iya aku tau. Justru itu aku ingin menikahimu. Aku tidak ingin kamu menikah dengan wanita yang menyakitimu. Wanita yang membuatmu hancur," jelas Carey.
" Tutup mulutmu, kau tidak tau apa-apa tentang Nara," sahut Raihan geram.
" Aku tau tentang dia. Wanita yang tidak pantas untukmu. Wanita yang tidak terdidik. Wanita yang menghancurkan hidupmu. Wanita yang membuatmu seperti orang gila, wanita...."
" Carey cukup," sahut Zira seakan tidak ingin Carey semakin menjelek-jelekkan Nayra.
" Tante Zira selalu membelanya," batin Carey kesal.
" Maaf Carey, aku tidak bisa menikah dengan mu. Aku tidak memiliki perasaan apapun kepadamu. Dan aku sangat kecewa dengan sikapmu hati ini. Ternyata kau bukanlah temanku," ujar Raihan merasa kecewa. Carey hanya diam mengepal tangannya.
" Raihan apapun yang kamu katakan. Pernikahan itu akan tetap di jalankan, karena Carey menginginkannya," Sahut Opa Nugraha penuh penekanan dan penegasan. Mendengarnya Carey hanya tersenyum miring seakan menang dalam hal itu.
Raihan membuang napasnya kasar. Dengan keputusan bodoh itu.
__ADS_1
" Aku tetap tidak mau. Jangan mencampuri urusan pribadiku," tegas Raihan.
" Raihan," tegur Addrian merasa Raihan berbicara kelewatan.
" Pa kenapa aku harus melakukan itu?" tanya Raihan.
" Karena kamu anak dari orang di rumah ini dan sudah kewajiban kamu menjalan kan wasiat dari kakek kamu," sahut Addrian dengan tegas.
" Lalu bagaimana jika aku berhenti menjadi anak kalian," sahut Raihan membuat Zira kaget dan langsung melihat ke arah Raihan dengan matanya yang terbelalak.
" Raihan," desis Zira.
" Mama tau kata lelah. Atau kata capek. Raihan capek dengan semua ini. Jika menjadi anak Addrian Admaja Wijaya dan Zira Aqella Wijaya sangat melelahkan Raihan memilih untuk tidak pernah di lahirkan dari rahim mama," tegas Raihan yang sudah terbalut emosi.
Plakkkkkkk.
Zira tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menampar Raihan. Napas Zira naik turun ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut putranya.
Tamparan itu membuat semua orang kaget termasuk Carey yang sampai menutup mulutnya. Raihan yang ke-2 kalinya menerima tamparan itu tersenyum.
" Apa yang kamu bicarakan. Apa kamu tidak bisa dewasa sedikit menghadapi semuanya," ujar Zira menekan suaranya.
" Bisa kamu mengatakan semua itu. Apa kamu tidak memikirkan perasaan mama," lanjut Zira meneteskan air matanya.
" Raihan tanya sama mama apa mama pernah memikirkan perasaan Raihan. Raihan hanya jatuh cinta sekali. Dengan gadis yang masih berseragam sekolah SMP. Raihan bukan anak kecil saat itu ma. Usia Raihan 21 tahun saat itu. Apa yang mama lakukan hah!. Mama ikut campur dalam hubungan Raihan dan Nara. Mama memanfaatkan kepolosan Nara. Menyuruh dia memutuskan hubungan itu. Mama bahagia dia menuruti kemauan mama. Mama bahagia melihat hancurnya Raihan saat itu. Mama bahagia melihat Raihan membencinya. Apa mama tau bagaimana perasaan Raihan," ujar Raihan dengan meneteskan air matanya.
Dia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dengan mamanya yang selalu mempermaikannya.
" Apa lagi yang harus Raihan lakukan. Apa mama tidak bisa melihat Raihan sekali saja bahagia, apa mama tidak bisa memahami Raihan sedikit saja," ujar Raihan lagi suaranya bahkan sangat sulit untuk keluar.
" Raihan kamu tidak bisa menghakimi mama kamu seperti itu," sahut Addrian.
" Kalau begitu papa kasih tau sama mama. Jika Raihan sudah lelah dengan semuanya. Kasih tau sama mama Raihan ingin bahagia sekali saja, kasih tau sama mama sampai kapanpun Raihan tidak akan meninggalkan Nara. Kasih tau sama mama jika Raihan sangat mencintai Nara," tegas Raihan mengusap air matanya, menatap Carey dengan tajam, menatap semua orang yang berada di meja makan. Lalu Raihan pergi dengan langkah kakinya yang panjangnya.
" Raihan, mau kemana kamu, Raihan," teriak Addrian memanggil-manggil nama Raihan. Tetapi Raihan sama sekali tidak merespon dan kembali melanjutkan langkahnya.
Zira langsung terduduk lemas di kursi dengan air matanya yang mengalir. Zira menutup wajahnya dengan tangannya. Menangis melihat apa yang terjadi. Jihan melihat hal itu langsung mendekati Zira.
" Zira kamu tidak apa-apa?" tanya Jihan mencoba menenangkan Zira. Zira hanya menggeleng.
" Raihan sangat marah dengan perjodohan itu. Dan Carey kenapa dia sampai seperti itu," batin Jihan yang mulai bingung.
" Tenanglah Zira," ujar Jihan.
__ADS_1
" Ada apa dengan anak itu," desis Addrian mengacak rambutnya kasar.
" Sialan si Raihan," batin Carey.
Sementara di sisi lain. Raina ternyata mendengar pertengkaran itu. Raina mengusap air matanya yang sempat jatuh.
" Ada apa lagi ini. Kenapa Raihan dan Carey malah di jodohkan," gumanya dengan yang sudah tidak tau harus berbuat apa-apa.
********
Hujan deras turun. Nayra sedari tadi mondar-mandir. Meja makan kecil itu sudah penuh dengan berbagai jenis lauk. Yang menggugah selera.
Nayra mondar-mandir seperti setrikaan dengan ponsel yang di genggam di tangannya. Sebentar-sebentar matanya melihat jam yang menggantung di dingding. Yang menunjukkan pukul 9 malam.
" Di mana Raihan kenapa dia belum datang, apa dia sibuk, atau dia lupa," ujar Nayra semakin gelisah.
" Seharusnya dia menelpon jika tidak jadi datang untuk makan malam. Jadi aku bisa makan terlebih dahulu," ujarnya lagi.
" Sebaiknya aku telpon Raihan," Nayra memutuskan menelpon Raihan.
***********
tetttttttttt tetttttttttt
Ponsel Raihan berdering di dalam mobil yang berhenti di pinggir jalan. Raihan tidak ada di dalam mobil. ponselnya terus berdering. Ternyata Raihan terduduk di aspal di depan mobilnya. Di bawah hujan yang deras.
Raihan terduduk dengan air matanya yang terus mengalir. Dia hanya merenungi dengan semua yang terjadi. Seakan Raihan tidak di ijinkan untuk bahagia.
" Kenapa ma, kenapa? hanya kalimat itu yang terucap dari mulut Raihan. Sangat kecewa dengan mamanya yang tidak berhenti mencampuri urusannya. Dia sangat marah. Tetapi kemarahannya tidak pernah berbuah manis.
Yang ada dia semakin terluka. Membiarkan mamanya melakukan hal itu. Hanya semakin melukainya dan juga Nayra.
*************
Nayra terus menelpon tetapi tetap saja tidak di angkat.
" Jika tidak ingin datang apa salahnya mengabari," gumam Nayra dengan kecemasan yang besar. Nayra meletakkan ponselnya di dekat pencucian piring dan beralih ke arah kulkas. Entah apa yang akan di lakukannya lagi.
Sementara di sisi lain Raihan masih saja tetap berada di bawah guyuran hujan. Entah sudah berapa lama dia masih tetap berada di tempatnya semula.
" Nara," desis Raihan ketika teringat dengan Nayra. Raihan melihat arlojinya di tangannya sudah pukul 11 malam.
" Apa yang aku lakukan. Nara," ujarnya lagi langsung berdiri memasuki mobilnya. Raihan langsung melajukan dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Dengan cepat mobil Raihan berhenti di gedung Apartemen Nayra. Raihan langsung ke luar buru-buru dan berlari kencang. Dengan basah kuyup Raihan berlari kencang memasuki lift.
๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung.๐น๐น๐น๐น๐น