
Mendengar perkataan Zira. Raihan kembali melihat ke arah Nayra. Nayra hanya bisa menelan salavinanya.
" Aku ada urusan," ujar Raihan langsung berdiri merapikan jasnya.
" Makanannya belom habis Raihan," ujar Addrian.
" Maaf pa. Aku buru-buru," ujar Raihan lalu pergi. Nayra merasa lega dengan kepergian Raihan.
********
Setelah bermain-main dengan Amira dan Andini. Andini kembali mengantarkan Nayra pulang ke Apartemennya.
Nayra langsung menuju dapur dan melihat sisa makanannya tadi pagi yang dia pikir adalah Andini yang menyiapkannya.
" Apa benar Raihan yang menyiapkan semua ini," ujarnya masih penasaran. Nayra mengeluarkan senyum tipis. Seakan sangat bahagia mendapat perhatian dari Raihan.
Nayra pun duduk dan dengan bersemangat kembali menikmati makanan itu.
" Kenapa tidak setiap hari saja baik kepadaku," gumamnya dengan senyum cerianya.
Raihan memang menyiapkan makanan itu untuk Nayra. Raihan menyuruh Raka membelikannya. Mengingat Nayra selalu ceroboh tentang pola makannya.
Raihan memang memilih pulang terlebih dahulu sebelum Nayra bangun. Yang ada nantinya Nayra malah kepedean karena mendapat perhatian darinya.
********
Hari-hari Nayra di laluinya sebagai Sekretaris Raihan. Nayra harus double ekstra kerja keras. Karena Nayra akan ikut bergabung menjadi relawan di Desa yang sedang tertimpa musibah.
Hanya ada beberapa orang yang di tunjuk untuk berangkat. Termasuk Nayra, Anita dan Ria. Hal itu justru membuat Nayra senang karena ke-2 temannya ikut dengannya.
" Nay bisa minta data-data kerja sama Perusahaan!" ujar Anita yang sibuk dengan laptopnya.
" Hmmm, bisa gue cari bentar ya," jawabnya mengecek laci-laci meja kerjanya.
" Astaga lupa, sudah di pindahin," ujarnya menepuk jidatnya.
" Bagaimana ada?" tanya Anita memastikan.
" Aduh, udah di pindahin ke gudang. Memang butuh banget ya," jawab Nayra.
" Iya, soalnya harus segera gue selesain. Lo kan tau sendiri 2 hari lagi kita akan berangkat. Jadi harus selesai semuanya, kalau ngga nanti Pak Raihan malah ngomel-ngomel," sahut Anita dengan bibirnya yang cemberut.
" Iya ya, aduh gimana ya," ujar Nayra yang bingung.
" Ya sudah, biar gue cari kegudang aja," sahut Anita mengambil tindakan.
" Udah nggak usah, biar gue aja, lagian lo pasti susah nyariknya," sahut Nayra langsung berdiri.
" Lo yakin?" tanya Anita. Nayra tersenyum lalu langsung pergi.
__ADS_1
Nayra berjalan menuju gudang yang lumayan jauh.
" Kenapa betis ku sakit sekali, emang ini tanggal berapa?" tanyanya merasa pegal dengan seluruh tubuhnya.
Nayra yang menggunakan dress putih yang di atas lututnya. Dengan hils nya yang lumayan tinggi.
Nayra sudah tiba di depan pintu gudang. Nayra memegang kenopi pintu dan memasuki gudang.
Nayra mulai melihat rak-rak buku yang banyak terdapat tumpukan berkas-berkas Perusahaan. Nayra mencari dengan teliti karena dia juga tidak tau di mana berkas itu di letakkan.
" Aduh di mana lagi harus cari Dokumentnya," gumam Nayra bingung.
" Ehmmmm," tiba-tiba terdengar suara deheman. Nayra yang sibuk mencari tersentak kaget. Nayra langsung menoleh ke belakang.
Betapa terkejutnya Nayra melihat Raihan, yang bersandar di pinggir meja. Dengan ke -2 tangan di dadanya.
" Raihan," ujar Nayra pelan.
" Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Raihan menaikkan alisnya.
" Oh, itu aku, aku sedang mencari Dokument Perusahaan," jawab Nayra gugup.
" Apa kau tidak punya kerjaan lain harus turun tangan sendiri. Bukannya ada yang memiliki tugas untuk mencarinya?" tanya Raihan.
" Iya. Hanya saja aku tidak melihat Pak Raka. Jadi sebaiknya aku cari sendiri saja," jawab Nayra gugup.
" Alasan, bilang saja kau mengetahui. Jika aku ada di sini. Jadi kau sengaja datang kemari," sahut Raihan dengan percaya diri.
" Sudah tertangkap basah masih ingin mengelak," sahut Addrian sini.
" Aku sudah mengatakan. Aku juga tidak tau mengapa kau ada di sini," ujar Nayra mem
nyangkah omongan Raihan.
" Carilah apa yang kau inginkan. Jangan mengajakku bicara terlalu banyak. Telingaku sakit mendengar suaramu. Walaupun aku tau. Itu hanya trikmu agar bisa dekat denganku," sahut Raihan lagi dengan percaya dirinya.
Nayra kembali mendengus. Tidak habis pikir jika Raihan bisa sangat percaya diri sekali kepadanya.
" Terserah, apa yang kau pikirkan," sahut Nayra kesal. Nayra pun kembali mencari data-data yang di butuhkan Anita. Raihan tersenyum miring melihat Nayra.
Nayra tidak mempedulikan Raihan yang ada bersamanya. Dia tetap mencari apa yang di inginkannya. Nayra juga sudah tidak dekat dengan Raihan dia menelusuri gudang.
Sementara Raihan masih tetap berada di tempatnya semula dan sekarang membuka-buka berkas bermap merah.
" Aduh kenapa dari tadi tidak dapat sih," keluhannya terus mencari-cari. Tiba-tiba Nayra memengang perutnya yang sangat sakit seperti keram.
" Auhhhhhhh," lirihnya sampai terjongkok karena menahan sakit.
" Kenapa sakit sekali? Jangan bilang, hari ini aku, ahhh tidak mungkin, tapi ini sakit banget. Aduh pliss ini bukan waktu yang tepat, jangan sekarang pekerjaan ku sedang banyak," keluhnya terus memegang perutnya yang sudah bersandar di rak buku.
__ADS_1
Raihan yang masih membaca buku dengan serius, mendengar suara rintihan. Raihan penasaran apa yang terjadi. Matanya mulai melihat ke arah di mana Nayra mencari apa yang di butuhkannya.
Raihan cukup gelisa tidak melihat Nayra keluar juga. Akhirnya Raihan pun menyusul Nayra karena suara rintihan itu semakin kuat.
Nayra terus memegang perutnya. Tubuhnya sangat mengigil bahkan keringat sudah membasahi wajahnya. Dan rambutnya sudah lepek. Nayra yang sangat lemas langsung terduduk. Saat ingin duduk tubuhnya tersandar kuat pada rak. Sampai buku-buku yang ada paling atas jatuh.
" Nara," Teriak Raihan melihat beberapa buku itu akan jatuh pada Nayra.
Dengan sigap Raihan langsung berlari mendekati Nayra dan memeluknya melindunginya dari jatuhan buku-buku itu.
" Auhhh," lirih Raihan sakit pada punggungnya akibat buku-buku itu berjatuhan kepadanya. Nayra memejamkan matanya menundukkan kepalanya yang shock dengan apa yang terjadi.
Setelah semua buku itu jatuh semua. Raihan melihat ke adaan Nayra apakah Nayra terluka. Nayra membuka matanya perlahan dan melihat Raihan sudah ada didepannya sangat dekat dengannya.
Ke dua tangan Raihan memegang pipi Nayra, memastikan apa jika Nayra baik-baik saja. Sesaat itu juga Raihan dan Nayra saling adu pandang.
Sepasang bola mata itu bertemu dan saling mengeliling, menatap dengan dalam. Tatapan yang penuh arti. Mata seakan itu ingin berbicara banyak hal.
Debaran jantung Nayra mulai tidak beraturan, seperti dia sedang di kejar-kejar, belum lagi dia harus menerima tatapan yang sangat menusuk dari Raihan.
Raihan melihat wajah Nayra yang pucat dengan cucuran keringat. Nayra juga terlihat seperti menahan rasa sakit.
" Kau tidak apa-apa?" tanya Raihan lembut. Nayra membuyarkan lamunannya dan menggeleng pelan menahan sakit di perutnya.
" Apa yang terjadi?" tanya Raihan cemas. Melihat Nayra kesakitan memegang perutnya.
" Dia datang dengan tidak tepat waktu," jawab Nayra dengan pelan. Jawaban Nayra membuat Raihan bingung maksud dari Nayra.
" Maksudnya," tanya Raihan bingung.
" Aku, aku_aku," Nayra sangat sulit melanjutkan kalimatnya.
" Kenapa?" tanya Raihan penasaran yang masih berada di depan Nayra. 1 lututnya menyentuh lantai.
" Perutku perih, pinggangku sakit, karena aku datang bulan," jawab Nayra pelan. Raihan menaikkan alisnya.
" Ohhhh," sahut Raihan dengan santai.
" Hanya oh saja, apa dia tidak bisa pergi sekarang, biar aku mengganti bajuku," batin Nayra yang merasa bajunya sudah kotor karena di tidak memakai pembalut.
" Ya sudah berdirilah," ujar Raihan berdiri terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya pada Nayra. Nayra masih diam dia justru ragu.
" Ada apa lagi, kau masih ingin tetap dinsitu?" tanya Raihan yang tidak mendapat uluran tangan dari Nayra.
" Tapi aku," jawab Nayra gugup. Raihan menaikkan alisnya tidak mengerti dengan Nayra.
" Ada apa? berdirilah!" ujar Raihan lagi masih menunggu Nayra berdiri.
Nayra melihat ke arah pakaiannya. Dia tidak ingin keluar dari ruangan itu karena pakaiannya pasti sudah terdapat bercak darah.
__ADS_1
...Bersambung........