
Setelah memakan apa yang di berikan suaminya. Nayra kembali merasa sakit dan bahkan memiringkan tubuhnya. Dan mulai menangis karena sakit di arae pinggangnya.
Raihan suaminya kembali kekamar dan melihat istrinya semakin kesakitan. Raihan langsung duduk di samping Nayra di bagian kepala Nayra dengan mengusap-usap pucuk kepala Nayra.
" Sayang," ucap Raihan yang sangat kasihan pada istrinya. Nayra langsung berbalik badan dan memeluk suaminya.
" Sakit," keluh Nayra.
" Ya sudah, kita Kerumah sakit ya," ujar Raihan mengusap-usap rambut istrinya agar bisa tenang. Nayra pun akhirnya mengangguk. Dia memang sedari tadi malam pulang dari tempat Carey sudah merasa sakit terus.
Raihan pun langsung menggendong istrinya. Walau berat tetapi tenaganya masih kuat kalau hanya menggendong sang istrinya dia mana tega sang istri harus berjalan. Raihan membawa Nayra kedalam mobil mendudukkan istrinya.
Dahi Nayra berkeringat, wajahnya juga sangat pucat, Raihan yang memakaikan seat belt untuk istrinya benar-benar tidak tega dengan istrinya menahan sakit. Mungkin saking sakitnya Nayra sampai tidak bisa menangis bersuara.
" Sayang sabar ya," ujar Raihan melap keringat itu dengan tangannya. Nayra begitu gelisah dan memegang tangan Raihan.
" Sebentar lagi kita akan sampai Kerumah sakit, sabar ya sayang," ujar Raihan yang mencoba menenangkan istrinya. Nayra hanya mengangguk-angguk saja.
Raihan pun akhirnya selesai memakaikan seat belt dan langsung menutup pintu mobil. Raihan mengeluarkan ponselnya dan terlihat ingin menelpon seseorang sambil berjalan cepat menuju kursi pengemudi.
" Hallo, ma, Nayra kondisinya sedang tidak baik dia sakit terus, Raihan membawanya Kerumah sakit," ujar Raihan yang menelpon mamanya sambil membuka pintu mobil. Dia juga buru-buru memasang seat belt sambil bicara dengan mamanya lewat telpon.
" Iya ma, Raihan baru berangkat," ucap Raihan menutup telponnya. Raihan mengusap sebentar kepala pucuk kepala Nayra dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
***********
" Amira, cepat, kita harus buru-buru Tante Nayra kasihan nungguin," teriak Zira yang pasti setiap saat akan berteriak melihat cucunya yang super super lelet.
" Memang Amira lagi ngapain?" tanya Addrian yang juga sudah gelisah menunggu di ruang tamu.
" Papa tau sendirilah, Amira memang selalu lama," ujar Zira kesal. Semakin lama Zira memang akan sama seperti Raina yang kerjanya mengoceh Amira saja.
Amira memang menginap di rumah Omanya dan pasti dia menginap karena di marahi Raina. Karena bikin ulah dan ngambek. Lalu nginap di rumah Omanya.
Memang hanya Nayra yang sabar menghadapi Amira yang tingkat bandalnya semakin meningkat.
" Amira buruan," teriak Zira lagi semakin lama geram dengan keponakannya itu.
__ADS_1
" Iya Oma," sahut Amira yang sudah menuruni anak tangga dengan santainya seperti pengantin. Apa Zira semakin tidak emosi melihatnya.
" Sayang, ayo cepat-cepat," ujar Addrian yang harus turun tangan.
" Iya Opa," sahut Amira yang akhirnya mempercepat langkahnya. Sehingga sudah tiba di depan sang eyang dan opanya.
" Kamu ini ya, lama banget," ujar Zira kesal.
" Maaf Oma," sahut Amira.
" Sudah-sudah, ayo pergi," ajak Addrian.
***********
Sementara di rumah Dion dan Carey. Carey terlihat merapikan pakaian di dalam lemari. Setelah pulang dari rumah sakit dia memang rada-rada rajin dan tidak bisa untuk diam apalagi beristirahat.
Tidak berapa lama Dion pun kembali kekamar mereka. Dia melihat istrinya yang sibuk tanpa berbicara sedikitpun. Padahal dia sudah membuka pintu lumayan kuat. Agar Carey melihatnya.
Dion duduk di pinggir ranjang dan menoleh ke arah Carey yang tampak diam dan wajah itu yang murung.
" Nggak ada yang di perlu Bicarakan," sahut Carey ketus.
" Kita perlu bicara," ujar Dion. Carey membalikkan badannya dan melihat ke arah Dion.
" Kami ingat malam itu. Aku mengatakan apa. Jika kamu pergi menemuinya maka kamu sudah tau jawabannya dan aku tadinya hanya mengira kamu hanya pergi untuk menenangkan diri. Tetapi benar-benar kamu Kerumah sakit untuk menemuinya," ucap Carey.
" Aku minta maaf, jika aku benar-benar pergi tanpa mendengarkan bicara kamu. Aku memang harus pergi untuk mengantarkan obat Vira. Setelah itu aku langsung pergi dari ruang perawatan Vira," jelas Dion. Carey tersenyum palsu mendengarnya.
" Iya, kamu memang sangat peduli dengan pengobatannya, kamu sampai tidak sadar aku juga ada di sana, ya lanjutkan saja. Aku tidak akan menegurmu," ujar Carey.
" Kamu sedang hamil Carey," ujar Dion.
" Vira juga sedang hamil dan tidak punya siapa. Dia hanya punya kamu. Sementara aku masih punya orang tua, jadi jangan seakan cemas denganku. Cemaskan saja dia," ucap Carey dengan ketus. Lalu melangkah pergi. Dion langsung berdiri dan menahannya, memegang lengannya.
" Ayolah Carey, jangan seperti ini. Aku tidak ingin ribut dengan kamu," ujar Dion berusaha membujuk Carey. Carey langsung melepas tangannya dari suaminya itu.
" Sama, aku juga tidak ingin ribut, maka dari itu jangan ganggu aku," ujar Carey dengan santai. Lalu melangkah pergi. Tetapi Dion kembali menahannya.
__ADS_1
" Aku ingin bicara, jadi tetaplah di sini," ujar Dion dengan wajah seriusnya.
" Tapi aku tidak," sahut Carey menekankan.
" Aku suami mu Carey. Kau tau semua hukumnya jika kau membantah suamimu," ujar Dion yang membawa-bawa nama suami. Carey menatap Dion seakan tidak bisa berbicara apa-apa lagi.
Dratttt Dratttt, Dratttt tiba-tiba ponsel Carey berbunyi. Carey melepas tangannya dari Dion dan langsung menghampiri meja rias dan mengambil ponselnya.
" Iya ma," sahut Carey yang ternyata menerima telpon dari sang mama.
" Carey, kamu cepat Kerumah sakit ya. Nayra masuk rumah sakit," ujar Jihan dengan suara panik. Carey yang mendengar nya menjadi ikutan panik.
" Nayra, iya ma, Carey akan segera kesana," sahut Carey yang langsung panik dan menutup telponnya sementara Dion pun yang penasaran ikut panik.
" Ada apa?" tanya Dion ketika melihat Istrinya sudah menutup telponnya.
" Naya masuk rumah sakit," jawab Carey.
" Aku harus pergi," ujar Carey.
" Aku akan mengantarmu," ujar Dion.
" Tidak usah aku bisa sendiri," ujar Carey yang menolak dengan mengambil tasnya.
" Kalau begitu jangan pergi," sahut Dion dengan suara dinginnya. Carey langsung melihat kearah Dion. Dion yang langsung melarangnya untuk tidak pergi.
" Dion," lirih Carey.
" Jika tidak mau di antar, jangan pergi," ujar Dion menjelaskan sekali lagi.
Memang tidak mungkin Carey pergi tanpa izin suaminya dan meski sedang marahan dia masih tau apa yang harus di lakukan dan yang tidak harus di lakukan. Carey terlihat menarik napasnya panjang dan membuatnya perlahan kedepan.
" Baiklah, kamu bisa mengantarku," sahut Carey yang mau tidak mau memang harus mengalah untuk Dion. Dia sangat khawatir pada adiknya. Jadi dia juga akan menghilangkan egonya.
Carey yang masih tampak ketus. Langsung keluar dari kamar dan Dion terlihat menarik napas panjang dan akhirnya.
Bersambung.....
__ADS_1