Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 415.


__ADS_3

Malam hari tiba. Angga bersama Della sedang jalan-jalan ke luar rumah. Tidak jauh dari rumah Della sekitar di taman di dekat rumah Della. Angga mendorong kursi roda dengan santai.


" Della ini sudah malam, sebaiknya kita masuk. Nanti kamu kenapa-napa lagi," ujar Angga yang khawatir dengan Della.


" Nggak, aku tidak mau, aku masih mau di luar siapa suruh kamu temani aku. Aku tadi ingin pergi sendiri. Kamu aja yang sok kerajinan menemani aku," sahut Della dengan ketusnya bicara sampai. Angga harus bersabar menghadapi calon istrinya itu.


" Aku jelas menemani kamu. Mana mungkin aku membiarkan kamu sendirian. Itu sangat mustahil," sahut Angga.


" Siapa suruh menemani aku. Orang aku juga tidak apa-apa aneh. Lagian tidak ada yang mustahil. Aku terbiasa sendirian," sahut Della.


" Kebiasaan kamu akan di ubah, menjadi apa-apa kamu akan bersamaku. Jadi aku tidak mungkin membiarkan kamu sendirian dan pergi sendirian," sahut Angga.


" Kamu kayak tidak punya kerjaan saja," sahut Della kesal menolehnya kebelakang melihat Angga.


" Aku memang tidak punya pekerjaan. Untuk orang yang saling mencintai. Pekerjaan itu akan di kesampingkan," sahut Angga. Della tersenyum mendengarnya.


" Mencintai apa maksud kamu. Aku tidak bilang. Kalau aku mencintaimu," sahut Della dengan jutek, Angga tersenyum mendengus lalu menghentikan mendorong kursi roda Della.


Angga membuka jasnya menyisakan kemeja putihnya dan Angga berjongkok di hadapan Della dan mentupkan jasnya pada tubuh Della agar tidak kedinginan. Angga melihat wajah Della yang mengkerut.


" Aku bisa melihat dari matamu. Jika kamu mencintaiku sama seperti aku mencintaimu," sahut Angga.


" Itu hanya pemikiranmu saja. Pada kenyataannya. Aku tidak menyukaimu. Aku juga tidak mencintaimu," sahut Della masih membantah perasaannya. Angga tersenyum miring mendengarnya.


" Della cinta di matamu menutupi kebohongan yang barusan engkau katakan. Kau hanya berusaha menutup perasaanmu untukku. Tetapi pada kenyataannya. Kamu mencintaiku," sahut Angga dengan tegas.


" Tidak seperti itu juga," sahut Della.


" Kamu tidak bisa bohong Della. Lagian jika kamu tidak mencintaiku. Mana mungkin kamu menyetujui pernikahan kita," ujar Angga.


" Siapa yang setuju dengan pernikahan itu. Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku mengatakan iya. Kalian saja yang mempersiapkan pernikahan yang tidak tau untuk siapa," sahut Della kesal yang membuat Angga tersenyum mendengarnya.


" Kamu juga mengatakan tidak dan membiarkan semuanya seperti itu. Jadi itu adalah jawaban. Kalau kaku menyetujui pernikahan kita," ujar Angga dengan tegas membuat dahi Della berkerut.

__ADS_1


" Sudahlah, kamu jangan terus menerus membantah perasaan mu. Yang penting kita akan menikah dan tanggal pernikahan kita sebentar lagi. Hanya tinggal 5 hari lagi. Jadi kamu jangan membantah perasaan kamu," ujar Angga dengan lembut berbicara pada Della. Angga memegang tangan Della yang ada di atas paha Della. Memegangnya dengan erat.


" Aku Akan menjadi suamimu Della dan kamu akan menjadi istriku. Kita akan menikah dan memulai semuanya dari awal rumah tangga dan yang lainnya akan kita mulai," ujar Angga menegaskan. Berbicara tanpa melepas tatapan yang dalam itu.


" Angga kenapa kamu kamu tetap kekeh untuk menikah denganku. Padahal kamu tau sendiri bagaimana keadaan aku sudah mengatakan Angga. Aku tidak bisa menjadi istrimu. Aku tidak sempurna Angga yang hanya bisa menyusahkanmu jika kita menikah," batin Della yang terus merasa tidak pantas untuk Pria di depannya itu.


" Sekarang ayo kita pulang," ujar Angga. Della menggeleng, Angga pun melihatnya dengan menaikkan 1 alisnya.


" Kenapa? kamu mau ngapain lagi?" tanya Angga.


" Aku masih ingin di sini. Kalau kamu mau pulang. Maka pulanglah," sahut Della.


" Ini sudah malam, dan katanya tempat ini kalau malam, lumayan serem. Kamu mau terjadi sesuatu nanti," sahut Angga menakut-nakuti. Della mendengarnya sedikit merinding. Namun tau Angga hanya menakut-nakutinya saja.


" Aku tidak takut, dengan hantu, atau siapapun. Jadi bagiku. Tempat ini sangat aman. Jadi kalau kamu pulang. Pulang sana," sahut Della dengan nada seakan memang dia wanita pemberani.


" Kamu ya Della, benar-benar keras kepala. Kamu dari kecil tidak pernah berubah," sahut Angga yang tidak lelah untuk membujuk Della.


" Sok, tau. Kamu mana mungkin mengingat waktu aku kecil," sahut Della. Angga tersenyum tipis mendengarnya.


" Tidak, aku tidak seperti itu. Kamu asal-asalan bicara," sahut Della kesal yang langsung memukul lengan Angga.


" Tapi memang itu kenyataannya," sahut Angga yang terus menggoda Della. Sampai Della benar-benar kesal dan wajahnya semakin merengut, bahkan Della tampak merajuk sampai mengalihkan pandangannya kekirinya dan tidak ingin melihat Angga. Angga melihatnya tersenyum tipis.


Lalu memegang dagu Della dan mensejajarkan kembali wajah itu sehingga tepat di depannya dengan jarak yang sangat dekat sehingga napas ke-2nya saling menerpa dengan 2 pasang bola mata yang saling bertemu dengan arti masing-masing.


" Tidak ada satupun yang aku tidak ingat dari kamu. Aku mengingat semuanya. Karena kamu adalah satu-satunya. Wanita yang paling mencintaiku sejak dulu," sahut Angga berbicara dengan serak. Della kali ini tidak bisa menyembunyikan senyumnya dan tersenyum tipis mendengar kata-kata Angga.


" Kita pulang ya!" ajak Angga lagi. Della pun akhirnya menganggukkan matanya. Angga tersenyum dengan mengusap-usap pucuk kepala Della.


" Angga!" tiba-tiba terdengar suara wanita membuat Della menoleh kebelakang Angga di mana wanita yang memanggil Angga itu adalah Karen yang berdiri di belakang Angga dengan ke-2 tangan wanita itu memegang tasnya di depannya.


Angga menolehkan kepalanya kebelakang untuk melihat wanita yang memanggilnya dan kaget saat melihat Karen.

__ADS_1


" Karen!" lirih Angga. Dan Angga langsung berdiri menghadap Karen.


" Aku ingin bicara denganmu!" ujar Karen dengan wajah sedih dan suara lembut.


" Tidak ada yang harus di bicarakan. Masalah kita sudah selesai. Dan sebaiknya kamu jangan muncul lagi di hadapanku. Aku tidak ingin suamimu melihat kita yang akan menimbulkan salah paham," sahut Angga menegaskan yang tidak akan membuka ruang untuk Karen.


" Aku datang tidak bermaksud apa-apa. Aku juga tidak mengganggu kamu dan Della. Aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang aku lakukan," sahut Karen tampak tulus dan Della melihatnya hanya datar saja.


" Kalau minta maaf, maka minta maaf lah, aku sudah Angga selesai masalah kita dan masalah maaf. Jika kamu memang tulus untuk minta maaf, aku sudah memaafkannya, maka tidak ada lagi yang harus di bicarakan. Sebaiknya kamu dari sini," ujar Angga menegaskan.


" Iya Angga aku akan pergi. Aku tidak akan mengganggu hubungan kamu dan Della. Juga pernikahan kalian berdua," sahut Karen.


" Jadi Karen tau aku dan Angga akan menikah," batin Della.


" Tetapi Angga izinkan aku bicara 5 menit saja dengan mu, aku hanya ingin mengakui semua perbuatan ku. Agar aku merasa plong," sahut Karen.


" Kalau ingin bicara maka bicara di sini saja," sahut Angga.


" Maaf Angga aku tidak bermaksud apa-apa. Tapi hanya bisa berdua, tidak lama hanya 5 menit dan juga tidak di mana, di sana juga tidak apa-apa," sahut Karen tampak mendesak.


" Aku mohon Angga. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu. Setelah semuanya selesai aku akan tidak akan muncul di kehidupan kamu lagi," bujuk Karen. Angga melihat kearah Della. Dan Della mengangguk seakan memberikan izin pada Angga untuk bicara berdua dengan wanita itu.


" Baiklah, tapu ingat hanya 5 menit," sahut Angga menegaskan. Karen mengangguk dengan tersenyum.


" Della, kamu tunggu sebentar di sini!" ujar Angga pamit. Della menganggukkan matanya.


" Ayo!" ajak Angga. Karen mengangguk dan mengikuti Angga.


Angga tidak ingin jauh-jauh dari Della. Berjarak 15 meter dari Della tempat yang di ambil Angga untuk berbicara dengan Karen. Karen dan Angga berbicara berduaan dan terlihat Karen yang banyak bicara dan Angga menyimak saja.


Della bisa melihat Angga dan Karen yang saling berhadapan berbicara dan terlihat jelas di mana Karen berbicara sambil mempertahankan tangan dan beberapa kali menyatukan tangan seperti memohon maaf dan terlihat air mata Karen.


Della hanya melihat saja dan tidak tau apa yang di bicarakan Karen dan Angga. Dia hanya bisa menebak jika Karen memang tulus untuk meminta maaf dan melepaskan Angga.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2