Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 187


__ADS_3

Ternyata rasa malas di tubuh Raina semakin menjadi-jadi. Tidak terasa sudah malam hari dan dia masih berbaring di atas tempat tidur bersama Raka. Tidak Raina maupun Raka sama-sama bolos kekantor demi melepas rindu.


Mereka terlalu banyak bercerita sampai lupa waktu. Bahkan untuk menjemput Amira. Raina minta tolong pada kakaknya. Dan syukur Amira mau dan tidak rewel, maklumlah mama sedang pacaran.


Raina juga sudah menyuruh supirnya pulang, kasian juga supirnya harus menunggui Raina yang berpacaran. Pacaran boleh tetapi masa iya mengorbankan supirnya.


Meski berada di atas ranjang berduaan bukan berarti Raina dan Raka melakukan hal yang aneh-aneh, Raka dan Raina hanya mengobrol saja. Tanpa melakukan hal yang jauh.


Dengan perlahan Raina membuka matanya, dirinya masih berada di dalam pelukan Raka. Raina tersenyum menatap wajah Raka yang tertidur pulas dengan terus memeluknya. Raina melihat arloji tangannya sudah jam 7 malam.


" Aku sampai lupa waktu," gumamnya tersenyum kecil.


Raina perlahan duduk tanpa ingin membangunkan Raka. Raina memegang tenggorokannya yang terasa kering.


Raina bangkit dari ranjang, keluar kamar ingin mengambil air minum untuk mendinginkan tenggorokannya. Saat menuruni anak tangga Raina melihat Saras yang masuk ke rumah Raka.


Saras tidak melihat Raina yang berada di ujung anak tangga. Wajah Raina sangat kesal melihat wanita itu yang masuk dengan mengendap-ngendap.


" Ngapain sih dia di sini," batin Raina kesal. Tetapi Raina tersenyum seketika mendapat penerangan.


Raina mengurungkan niatnya menuruni anak tangga dan memilih kembali menuju kamar Raka.


Dengan buru-buru Raina memasuki kamar, membuka satu persatu kancing kemejanya membukanya lalu membuangnya di lantai dengan sembarang.


Tidak sampai di situ. Raiana juga melepas ikat rambutnya dan mengacak-acak rambutnya. Membuka anyingnya dan melemparnya sembarangan. Lalu Raina menaiki tempat tidur dan kembali meletakkan kepalanya di atas lengan Raka.


Raina menghadap Raka, menarik selimut sampai ke leher mereka. Raina pun menurunkan dirinya agar bibir Raka mencium keningnya dan memeluk Raka dengan erat. Memejamkan matanya dengan cepat.


Saras menaiki anak tangga, kemana lagi jika bukan kekamar Raka.


" Aku harus membujuk Raka, apapun itu Raka harus jadi milikku, aku tidak akan membiarkannya pergi," gerutu Saras terus menaiki anak tangga sampai berada di depan kamar Raka.


Raina sengaja tidak menutup pintu kamar, membiarkan terbuka sedikit.

__ADS_1


" Apa kamu sengaja memancingku masuk Raka," gumam Saras tersenyum miring dengan percaya dirinya.


Saras memegang kenopi pintu dan mendorongnya, betapa terkejutnya Saras melihat Raka yang tidur bersama Raina dalam ringkupan selimut. Apa lagi melihat Raka yang mencium kening Raina.


Mata Saras turun ke lantai, melihat kamar yang berantakan. Bahkan heels dan pakaian Raina berserakan di lantai yang bisa di pikirkan Saras adalah Raina dan Raka habis melakukan hubungan intim.


Dalam tidurnya Raina tersenyum ingin tertawa terbahak-bahak, dia bisa menebak kekesalan wajah Saras saat melihatnya seperti itu.


" Syukurin," batin Raina merasa puas.


" Apa mereka sudah baikan, kurang ajar aku kembali di kalahkan sama janda itu," desisnya dengan kesal dan menutup keras pintu kamar tanpa membangunkan Raka.


Saras dengan kesal mengepal tangannya. Di luar pintu kamar Raka.


" Kenapa mereka bisa secepat itu saling berbaikan," batin Saras dengan geram tidak terima dengan apa yang di lihatnya.


Saras pun memilih pergi dari pada semakin panas dengan apa yang barusan di lihatnya.


Setelah mendengar suara gebrakan pintu membuat Raina bernapas lega dan akhirnya tertawa kecil. Dia sebenarnya ingin melihat wajah Saras yang pasti sudah seperti monster yang ingin menerkam.


" Raina," lirih Raka dengan suara serak.


Raina membulatkan matanya, menyadari jika dirinya tidak memakai pakaian. Karena Kemejanya sudah di lepasnya.


Refleks Raina menarik selimut dan duduk menutup seluruh tubuhnya. Hal itu membuat Raka bingung. Belum lagi dia masih setengah sadar karena masih mengantuk.


" Ada apa?" tanya Raka heran yang sudah duduk.


Raina menggeleng dengan wajah memerah, takut jika Raka melihatnya dalam ke adaan yang memalukan.


" Kamu sebaiknya keluar dulu, aku mau memakai bajuku," ujar Raina dengan gugup membuat Raka menaikkan ke-2 alisnya.


" Emang kamu tidak memakai baju?" tanya Raka dengan cepat membuat Raina memejamkan matanya merasa sangat bodoh.

__ADS_1


" Bukan, bukan seperti itu, tadi aku kepanasan jadi aku membuka kemejaku dan apa yang aku pakai sekarang bukan untuk tontonan," jelas Raina dengan beribu alasan.


" Panas, perasaan dingin," ucap Raka yang merasa aneh bahkan matanya melihat ke arah AC yang suhu AC sangat dingin.


" Sudahlah, jangan banyak bicara, ayo tinggal aku sebentar saja," oceh Raina yang mulai kesal.


Raka yang juga tidak paham. Langsung beranjak dari ranjang. Raka melihat ke lantai dan melihat kemeja Raina. Raka pun berjongkok dan mengambil kemeja tersebut.


" Apa lagi?" tanya Raina dengan suara keras, ketika melihat Raka mendekatinya.


" Aku hanya memberi ini," ujar Raka menyerahkan kemeja Raina.


" Ya sudah letakkan," pekik Raina yang benar-benar ingin Raka pergi cepat-cepat.


Raka mengangguk dan meletakkan kemeja tersebut di samping Raina. Tanpa bertanya lagi Raka langsung keluar dari kamar dan membiarkan Raina melakukan apa yang di inginkannya.


Raka menuruni anak tangga dan melihat pintu rumah yang terbuka. Dengan cepat Raka menghampiri pintu ingin menutupnya. Saat menutupnya Raka melihat mobil Saras yang melaju.


" Saras," batinnya melihat ke arah kamarnya. Raka tersenyum seperti mengetahui gerak-gerik Raina barusan karena berhubungan dengan Saras yang datang.


Tanpa mempedulikan apa yang terjadi. Raka menutup pintu dan menuju dapur. Jujur matanya sangat mengantuk. Raka mengambil air mineral dari kulkas meneguknya.


Dia tidak menyangka bisa ketiduran sampai malam karena hanya berduaan dengan Raina. Jelas senyum di wajahnya tidak akan memudar jika mengingat hal itu. Seperti ada rasa ingin menghalalkan Raina secepatnya.


Raka membuka lemari dan mengambil mie instan. Bersama Raina membuat Raka tidak kelaparan sama sekali. Dan sekarang baru merasa lapar.


Raka pun langsung menghidupkan kompor untuk memasak mie instan untuk Raina yang juga pasti lapar. Karena mereka belum makan siang sama sekali.


Setelah beberapa menit, akhirnya Raka selesai memasak mie instan dan membagi kedalam 2 mangkok.


Raina juga sudah turun dan sudah memakai kemejanya dengan rapi. Begitu juga rambutnya sudah tidak berantakan lagi.


" Ehmmm," Raina berdehem berdiri di belakang Raka. Raka membalikkan badannya dan meletakkan 2 mangkok di atas meja makan.

__ADS_1


" Kamu makan dulu, kamu pasti lapar," ujar Raka menarik kursi untuk Raina duduk. Raina mengangguk dan dengan gugup duduk. Raka pun ikut duduk di depan Raina.


Bersambung......


__ADS_2