
Akhirnya Dion dan Raihan mengobrol di ruang tamu di lantai 2 yang di jadikan rumah Carey dan Jihan.
Sementara Carey dan Nayra berdiri di dapur dengan menyiapkan minuman dan beberapa hidangan terus melihat ke ruang tamu yang jaraknya tidak jauh.
" Mereka sangat akrab, apa mereka berteman baik?" tanya Carey mengaduk orens jus yang di buatnya.
" Entahlah, aku juga tidak tahu, soalnya aku juga baru bertemu dan Raihan tidak pernah memberi tahuku sebelumnya," jelas Nayra.
" Tetap saja dia sangat menyebalkan," ujar Carey pelan seperti masih kesal dengan Dion.
" Memang ada masalah apa sih?" tanya Nayra yang masih penasaran dengan pertengkaran tadi.
" Pesanan bunga yang di pesannya rusak saat diterima," jawab Carey.
" Lalu!"
" Ya aku sudah mengatakan, akan mengganti rugi dan memberi bunga yang baru tanpa di bayar, tetapi dia tidak mau dan terus mengoceh," lanjut Carey.
" Aneh sekali, dia bahkan menjelekkan toko ini, dari pelayanan sampai penanaman, memang sepertinya dia sangat marah," ujar Nayra.
" Iya, mungkin memang karena bunga itu untuk ibunya, makanya dia sampai semarah itu," sahut Carey.
" Tapi tetap saja dia tidak perlu memprovokasi florist itu," ujar Nayra masih kesal dengan Dion.
" Kamu benar-benar, dia segitu marahnya sampai suka-suka bicara sembarangan," sahut Carey.
" Kak Carey jangan-jangan..." ujar Nayra tidak melanjutkan kalimatnya.
" jangan-jangan apa?" tanya Carey penasaran.
" Setelah pulang dari sini, dia akan memprovokasi hal yang buruk-buruk mengenai toko ini kepada orang-orang," jawab Nayra, membuat Carey juga was-was.
" Bisa jadi, mulutnya sangat tajam," sahut Carey. Nayra sampai menggedikkan bahunya. Ke-2 wanita itu malah bergosip dengan ketakutan.
" Sayang, minumannya belum selesai?" tanya Raihan menoleh ke arah istrinya. Nayra dan Carey sampai kaget.
" Oh iya sayang, sudah selesai," sahut Nayra.
" Ayo cepat," ujar Nayra. Akhirnya 2 wanita itu mengantarkan minuman dan cemilan, menghidang di meja.
" Ayo silahkan di minum," ujar Nayra tidak ikhlas.
" Terimakasih," sahut Dion.
Nayra pun duduk di samping suaminya. Sementara Carey ingin pergi.
" Carey mau kemana?" tanya Raihan.
" Aku mau ke bawah?" jawab Carey.
" Di sini dulu, kita ngobrol bareng," sahut Raihan.
" Tapi...."
" Sudah lah kak, di sini aja," sahut Nayra. Carey tersenyum tipis dan akhirnya duduk di samping Nayra.
" Ngapain juga wanita sok manis ini, berada di sini, sudah tidak profesional, sekarang pasti mau bicara sok manis," batin Dion tampak tidak suka melihat Carey.
__ADS_1
" Kenapa dia melihatku seperti itu, apa ada yang aneh, dia memang masih semarah itu kepadaku," batin Carey yang mendapat tatapan tidak menyenangkan dari Dion.
" Dion aku berharap masalah kamu cepat selesai dengan Carey," ujar Raihan.
" Benar, jangan di bawa-bawa sampai keluar," tambah Nayra.
" Kita bicarakan yang lain saja, jangan masalah itu," sahut Dion melirik Carey yang tidak suka membicarakan tentang masalahnya dengan Carey.
" Benar, berarti kau sudah melupakannya," sahut Raihan. Dion hanya menggedikkan bahunya.
" Aku tidak percaya Raihan, kau benar-benar akan menikah dengan wanita yang dulu mantan kekasihmu," ujar Dion.
" Oh, kau bisa saja," sahut Raihan.
" Nayra asal kau tau dia selalu menceritaimu kepadaku," ujar Dion.
" Benarkah!" sahut Nayra.
" Ya wajarlah, kamu sangat cantik, jadi wajar saja Raihan tergila-gila kepadamu. Makanya aku kaget. Jika kau mengatakan bersaudara dengannya. Karena kalian terlihat berbeda dengan..." ujar Dion melihat ke arah Carey.
" Dengan apa, kenapa kau melihati ku," sahut Carey kesal.
" Jangan kepedean nona," sahut Dion sinis.
" Sudahlah, kau jangan memuji istriku di depanku, aku bisa cemburu," sahut Raihan dengan nada bercanda.
" Benar, aku soalnya tidak bisa berbohong," sahut Dion
" Bisa-bisanya dia tertawa seperti itu," batin Carey yang tambah kesal dengan Dion.
Dion dan Raihan itu terus mengobrol panjang lebar dengan Nayra dan juga Carey yang hanya diam dan menyimak.
************
Angga pulang dari kantor mampir kerumah eyangnya membawa makanan kesukaan eyangnya. Eyang Farah dan Angga pun sudah makan bersama sambil mengobrol.
" Kamu sering-sering mampir kemari, eyang kesepian, apa lagi semenjak Andini bekerja, dia sangat sibuk dengan urusannya," ujar Farah mengeluhkan.
" Iya eyang, pasti!" jawab Angga sambil makan.
" Angga," tegur Farah.
" Iya Eyang, ada apa?" tanya Angga sambil melihat eyangnya.
" Hmmm, kapan kamu akan menikah?" tanya Farah to the point.
Uhuk-uhuk-uhuk, mendengarnya Angga langsung kaget sehingga tersedak makanan. Angga langsung mengambil minum yang di siapkan eyangnya.
" Baru bertanya kamu sudah seperti itu," ujar Farah, " Belum juga eyang menyuruhmu," lanjut Farah lagi.
" Pertanyaan eyang membuat Angga kaget, Angga tidak kepikiran soal itu," jawab Angga gugup.
" Angga, Eyang ingin melihat kamu secepatnya menikah," sahut eyangnya menuntut.
Angga hanya tersenyum, dia bingung harus menanggapi seperti apa.
" Della saja sudah akan menikah, kenapa kamu belum, jika kamu menikah akan ada yang mengurusi kamu," ujar Farah lagi.
__ADS_1
Mendengar nama Della malah membuat Angga bengong, dia terus kepikiran tentang Della yang di rasanya ada yang aneh dengan sahabatnya itu.
" Aku pulang," teriak Andini membuyarkan lamunan Angga. Andini langsung menghampiri meja makan.
" Eyang, eh ada kak Angga," sapa Andini, Angga tersenyum tipis.
" Ya sudah kamu juga makan!" suruh Farah.
" Tau aja aku lagi lapar," sahut Della.
" Ya sudah, eyang tinggal ke atas dulu, makanlah kalian berdua," ujar Farah beranjak dari duduknya.
" Iya Eyang," sahut Andini.
" Ya sudah kalian makanlah," ujar Farah pergi.
Andini dan Angga makan berdua duduk saling berhadapan.
" Bagaimana hubungan kamu dengan Alex?" tanya Angga.
" Jangan di bahas, lagi tidak mood," sahut Andini menyendokkan nasi kedalam piringnya.
" Putus lagi," tebak Angga.
" Hmmm," jawab Andini yang mengunyah makanannya. Angga hanya geleng-geleng yang juga terbiasa dengan hal itu.
" Masalahnya itu lagi?" tanya Angga lagi.
" Huhhhhhhh, sudahlah kak, aku juga tidak tau, kenapa seperti itu. Alex mungkin tidak bisa menjalin hubungan denganku, jadi maklum saja, mungkin memang lebih baik, kita berpisah," ujar Andini pasrah.
" Ya semoga ada jalan yang terbaik, untuk kamu dan Alex," ujar Alex penuh harapan.
" Iya," jawab Andini.
" Hmmm, oh iya Andini, kamu sering bertemu Della?" tanya Angga tiba-tiba.
" Tidak terlalu, memang kenapa?" Tanya Andini tumben-tumbennya Angga menanyakan Della.
"Tidak, belakangan ini aku merasa Della menyembunyikan sesuatu," sahut Angga.
" Maksudnya?" tanya Andini bingung.
" Mungkin hanya perasaan kakak saja, mungkin karena sudah lama tidak bertemu, jadi tidak tau kebiasaan barunya yang suka ceroboh," ujar Angga.
" Suka terluka maksud kakak," sahut Andini membuat Angga menatapnya.
" Kamu juga sering melihat dia terluka?" tanya Angga. Tiba-tiba Andini terdiam seperti bicara kelancaran.
" Kenapa juga harus mengatakan itu," batin Andini keceplosan.
" Andini, kamu tau sesuatu?" tanya Angga curiga.
" Ya memang kak, Della suka ceroboh dan akhirnya terluka," sahut Andini gugup.
" Tapi sepertinya ada hal lain yang kamu ketahui dari itu, katakan ada apa dengan Della?" tanya Angga yang benar-benar merasa Della tidak beres. Andini menarik napasnya panjang dan membuangnya perlahan.
" Hmmm, aku juga kurang tau kak, semenjak pacaran dengan Kak Ramah, aku memang melihat ke anehan pada kak Della. Dia lebih tertutup, sudah begitu dia juga sering terluka dengan alasan ceroboh. Tetapi aku pernah memergoki beberapa kali, kalau kak Ramah main fisik dengan kak Della. Lebih parahnya aku melihat Kak Della di tampar," jelas Andini dengan pelan.
__ADS_1
Bersambung.......