
Angga pun akhirnya pergi pantai untuk menjemput Della dan juga Celine dan Luci yang masih ada di sana. Tetapi tibanya sampai di pantai.
Angga tidak menemukan Luci maupun Celine yang ada hanya Della yang duduk di pinggir pantai di atas pasir dan kursi Roda Della berada sekitar 5 meter dari tempat itu.
" Di mana Luci dan Celine?" tanya Angga kebingungan yang tidak melihat 2 orang wanita yang akan di ajaknya untuk pulang.
Dia hanya melihat Della yang sepertinya menikmati suasana malam di pantai yang begitu indah, menghirup udara itu dalam-dalam dengan wajahnya yang tersenyum yang menunjukkan kebahagiannya.
" Della!" panggil Angga membuat Della menoleh kebelakang dan melihat Angga yang berdiri di belakangnya.
" Angga," sahut Della.
" Luci sama Celine mana?" tanya Angga.
" Baru aja pergi, tadi katanya mau ke Villa mau mengambil sesuatu," jawan Della.
" Lalu kamu kenapa tidak pulang sama mereka?" tanya Angga.
" Aku masih mau di sini," jawab Della.
" Ya, sudah kalau begitu ayo pulang. Tante Aca memanggil kamu," ujar Angga.
" Nanti saja. Kamu bilang aja sama mama. Aku masih mau di sini dan belum mau pulang," sahut Della mengalihkan pandangannya kedepan menatap lurus ke depan. Dan Angga masih berdiri di belakangnya.
" Pulanglah Angga. Ini baru jam berapa, kalau nanti aku mau pulang aku akan menelpon Celine atau Luci. Jadi tidak akan ada masalah," sahut Della. Yang tampaknya masih ingin menikmati suasana pantai sampai tidak ingin pulang.
Angga terlihat menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. Lalu duduk di samping Della. Della menoleh dan melihat Angga dengan heran.
" Kenapa kamu di sini?" tanya Della.
" Aku mana mungkin meninggalkan mu di sini," ujar Angga yang duduk dengan santai dengan bersilah kaki.
" Aku akan lama pulangnya," sahut Della yang tidak ingin menyusahkan Angga.
" Lalu apa urusannya denganku," sahut Angga terlihat santai. Della hanya menggedikkan bahunya.
" Ya sudah terserah kamu," sahut Della Kembali menatap lurus kedepan. Angga mendengus tersenyum menoleh ke arah Della.
" Kamu mau makan?" tanya Angga menoleh.
" Memang ada makanan apa?" tanya Della yang kelihatan ingin makan.
__ADS_1
" Kamu mau apa?" tanya Angga.
Della melihat-lihat kebelakang tidak jauh dari pantai itu memang banyak Restauran dengan berbagai makanan yang pasti enak-enak.
" Sate boleh," sahut Della ketika melihat tulisan nama yang bertuliskan Restaurant sate.
" Baiklah, kalau begitu, kamu tunggu di sini. Aku akan membelikannya," ujar Angga. Della mengangguk dan Angga langsung pergi Della hanya melihat kepergian Angga saja.
Tidak berapa lama akhirnya Angga kembali ketempat Della setelah membeli makanan yang di inginkan Della, Angga membelikan sate lengkap dengan minumannya.
" Cepat juga," sahut Della yang melihat Angga sudah duduk di sampingnya.
" Namanya juga tidak jauh," sahut Angga. " Nih," ujar Angga yang langsung memberikan makanan itu pada Della.
" Makasih," sahut Della. Angga mengangguk. Dan tidak lama Della menikmati makanan itu.
" Kamu tidak bekerja?" tanya Della di selang makannya.
" Mana ada orang bekerja di malam hari," sahut Angga. Della tersenyum tipis.
" Maksudku tadi bukan sekarang," sahut Della geleng-geleng.
" Ohhh, begitu. Tidak mungkin lusa baru. Aku harus menyiapkan mental untuk menutupi rasa malu kemarin," ucap Angga.
" Ya kejadian kemarin malam jelas memberikan rasa malu kepadaku. Sebagian pasti berpikiran yang tidak-tidak kepadaku," sahut Angga.
" Itu hanya perasaanmu saja. Mereka juga tau apa yang benar dan salah. Jadi jelas mereka tidak akan mengatakan apa-apa," sahut Della dengan terus melanjutkan makannya.
" Lalu kamu sendiri bagaimana. Bagiamana tanggapan kamu dengan apa yang kamu lihat. Apa kamu kaget saatendengarnya?" sahut Angga bertanya.
" Kenapa harus kaget, aku sudah tau awalanya," sahut Della keceplosan dan membuat Angga melihat Della dengan serius. Dengan menaikkan 1 alisnya.
" Kamu mengetahuinya?" tanya Angga dengan penasaran. Della terdiam dan merasa salah bicara.
" Della, apa kamu sudah tau sebelumnya?" tanya Angga memastikan.
" Hmmm," Della mengangguk pelan.
" Sejak kapan kamu tau dan kenapa kamu diam?" tanya Angga dengan wajahnya yang begitu penasaran.
" Aku tidak punya hak untuk memberitahumu dan lagian jika aku memberi tahumu. Mana mungkin kamu percaya," sahut Angga.
__ADS_1
" Lalu kapan kamu tau?" tanya Angga begitu penasaran.
" Waktu kita bertemu di hotel. Aku tidak sengaja melihat Karen bertemu suaminya dan aku mendengar obrolan mereka. Walau tau. Tetapi aku mana mungkin memberi tahumu," sahut Della bercerita dengan santai.
" Tapi Della. Apapun itu. Seharusnya kamu memberi tahuku," ujar Angga.
" Seperti yang aku katakan tadi. Mana mungkin kamu akan mempercayaiku. Kamu itu seperti sudah di guna-guna oleh Karen," ujar Della melihat Angga dengan matanya menyipit dengan wajahnya yang begitu serius. Angga mendengarnya mendengus kasar.
" Bukan dia yang menguna-gunaku. Tetapi kamu," sahut Angga membuat Della mengkerutkan dahinya.
" Kenapa aku?" tanya Della heran.
" Buktinya aku tidak bisa melupakanmu," sahut Angga mengeluarkan gombalan jaman dahulunya. Membuat Della mendengus tersenyum dan kembali meluruskan pandangannya, geleng-geleng dengan kata-kata Angga.
" Kenapa kamu tertawa apa kata-kata salah," sahut Angga.
" Jika kamu tidak bisa melupakanku. Itu bukan aku yang salah. Itu mungkin kamunya aja yang punya masalah," sahut Della.
" Tapi apa yang aku katakan adalah kebenarannya," sahut Angga.
" Jika memang begitu, lalu kenapa Angga kamu menjalin hubungan dengan wanita lain," batin Karen.
" Hmmm, Della, kamu suka melihat ombak?" tanya Angga. Della mengangguk.
" Kamu lihat batu itu," tunjuk Angga yang melihat ada batu yang tidak terlalu besar tapi untuk di duduki bisalah.
" Kenapa?" Della.
" Aku seperti ombak dan kamu seperti batu itu," ujar Angga dengan perempuannya.
" Kenapa seperti itu?" tanya Della heran.
" Lihat lah ombak itu mau sebesar apapun ombaknya mengenai batu itu. Tapi tetap saja dia tidak akan bisa membawa batu itu bersamanya," ujar Angga membuat Della kebingungan dengan mengkerutkan dahinya.
" Itu sama halnya dengan aku. Mau sebesar apapun aku berusaha. Aku tidak akan bisa mengembalikan mu di sisimu, kau akan tetap pada pertahanan mu," ujar Angga menatap Della dengan dalam-dalam dan Della pun menoleh ke arah Angga.
" Tetapi batu itu tetap berada di tempatnya dan melihat ombak itu menggapai atau menyeret apa yang ambilnya. Dan batu itu tetap setia di tempatnya menemani ombak itu," sahut Della yang juga tidak kalah puitisnya
" Dan memang jika aku memang batu yang tidak bisa kamu gapai. Paling tidak aku tetap ada. Tetap di tempatnya dan melihat kamu yang bersama orang lain. Aku tetap di tempatku tanpa pergi kemana-mana," lanjut Della membuat Angga terdiam
Dan mereka saling melihat dengan tatapan mereka yang dalam. Tatapan yang jelas. Masih ada cinta di sana. Tetapi masih ada perasaan yang menghalangi.
__ADS_1
Bersambung