Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 143


__ADS_3

Papa Nayra yaitu aryo sekarang sedang menyetir mobil. Hari ini dia akan menemui Nayra. Setelah beberapa hari yang lalu mendapat permintaan dari Nayra. Papanya berencana akan menemuinya hari ini.


" Kenapa ponselnya tidak aktif?" tanyanya heran. Sedari tadi mencoba menelpon Nayra dan tidak bisa di hubungi.


" Sebaiknya aku ke Apertemennya. Atau aku temui Bu Zira dulu," gumamnya bingung harus melakukan yang mana.


Dia juga berencana menemui Zira untuk menyelesaikan beberapa masalah yang memang harus di ungkapkan.


Sebelum menikahkan Nayra dia juga harus bertanya dulu ke pada Zira tentang masalah itu.


*********


Raihan masih terus berada di samping Nayra. Terus menjaga Nayra. Bahkan genggaman tangannya tidak lepas dari Nayra.


Dia tidak ingin Nayra bangun dan akan histeris lagi. hal itu hanya akan membuat Nayra semakin sakit dan dia tidak ingin itu terjadi.


" Raihan," tegur Farah menepuk bahu Raihan.


" Eyang," sahut Raihan melihat ke arah eyangnya.


" Kamu makan dulu, dari kemarin kamu belum makan," ujar Farah meletakkan makanan di meja di samping tempat tidur Nayra.


" Nanti saja Eyang," jawab Raihan.


Farah membuang napasnya perlahan. Dia yakin Raihan memang tidak akan bersemangat untuk makan.


" Raihan, eyang mengerti apa yang terjadi kepada Nayra. Tapi kamu harus ingat kata Dokter. Cuma kamu satu-satunya yang bisa menenangkan Nayra. Jika kamu tidak makan. Kamu tidak akan memiliki tenaga. Kamu bisa sakit. Lalu bagaimana dengan Nayra. Siapa yang akan menengakannya, apa kamu mau dia terus mendapat suntik ketenangan," jelas Farah.


Raihan memejamkan matanya. Dia sungguh tidak ingin jika Nayra di tenangkan dengan suntikan.


" Iya Eyang Raihan akan makan," sahut Raihan harus mengesampingkan egonya. Dia harus menentukan kesembuhan Nayra. Jadi dia juga harus kuat.


Farah tersenyum, lalu mengambil makanan, membukanya dan memberikannya kepada Raihan.


" Makanlah," ujar Farah.


" Makasih Eyang," ujar Raihan.


Mengambil makanan dari tangan Eyangnya. Raihan berdiri dan pindah ke Sofa untuk makan.


Farah mengusap rambut Nayra. Baru kali ini dia melihat wajah Nayra yang terluka. Belum lagi tangan Nayra yang lebam.


" Malang sekali nasib kamu," lirih Farah dengan mata bergenang.


Jika dia adalah ibu Nayra. Mungkin akan membunuh orang yang menyakiti putrinya.

__ADS_1


Tetapi sampai sekarang tidak satupun orang tua Nayra melihat kondisi Nayra. Seandainya mengetahui mungkin tidak akan peduli dengan apa yang terjadi ke pada Nayra.


Farah merapikan selimut yang menutup separuh tubuh Nayra. Lalu menghampiri Raihan dan duduk di samping Raihan yang sedang makan nasi kotak.


" Andini, sedang ke Apartemen Nayra, mengambil beberapa pakaian Nayra," ujar Farah tanpa di tanyak.


" Eyang, aku ingin Nayra di rawat di rumah saja. Dokter bilang kondisinya sudah membaik. Tinggal kondisi mentalnya. Jika di rawat di rumah juga tidak apa-apa," ujar Raihan yang memikirkan hal itu dari kemarin.


" Jika itu yang terbaik lakukanlah, bawa dia kerumah Eyang saja. Eyang akan merawatnya," sahut Farah memberi saran.


" Tidak Eyang. Aku akan membawanya ke Apartemen Nayra. Aku akan merawatnya sendiri. Dokter mengatakan Nayra tidak bisa bertemu dengan siapa-siapa. Dia akan histeris. Itu akan membuatnya semakin sulit untuk sembuh," jelas Raihan.


" Eyang mengerti Raihan. Tapi kamu tidak mungkin tinggal bersama Nayra. Oke sehari dua hari kalian tinggal berdua. Bagaimana jika kesembuhan Nayra butuh waktu lama. Seminggu 2 Minggu atau sampai berbulan-bulan. Tidak mungkin kalian tinggal ber-2. Raihan kita tinggal di negara yang memiliki budaya yang sakral. Eyang hanya mengingatkan kamu. Berpikir sebelum bertindak," jelas Farah yang mengingatkan cucunya.


Raihan menghentikan makannya. Dia juga sudah memikirkan hal itu sebelumnya.


" Aku akan menikahinya. Agar aku bisa merawatnya sendiri," sahut Raihan dengan yakin.


" Dengan ke adaan seperti ini?" tanya Farah ragu. Raihan melihat ke arah Nayra yang masih tidur lelap.


" Iya, aku tidak peduli bagaimana ke adaan Nara. Menikah jalan satu-satunya agar aku bisa menjaganya," ujar Raihan dengan keyakinan penuh.


" Baiklah, jika memang itu yang kamu mau Eyang setuju. Jika kamu yakin menikahi Nayra dalam ke adaan dia sakit. Jika itu terbaik Eyang mengurusnya," sahut Farah yang setuju.


Uhuk-uhuk- uhuk-uhuk.


Tiba-tiba Nayra terbangun dan langsung terbatuk.


" Nara," Raihan langsung menghentikan makannya dan mendekati Nayra. Duduk di depan Nayra.


"' Nara kamu tidak apa-apa," Raihan membantu Nayra duduk dan Nayra terbatuk.


Menunduk dengan menutup mulutnya. Nayra membuka mulutnya dan tangannya berdarah.


" Astaga," desis Farah yang melihat darah itu. Raihan mengambil tisu dan melap telapak tangan Nayra.


Kepala Nayra menunduk dia merasa ada orang yang akan menyakitinya dan memegang kuat baju Raihan dengan penuh ketakutan. Raihan bisa merasakan betapa ke takutkannya Nayra.


Raihan menoleh ke arah eyangnya. Farah yang mengertipun mengangguk.


" Eyang tunggu di luar," ujar Farah. Raihan mengangguk.


" Nara tenanglah," ujar Raihan menundukkan kepalanya melihat wajah Nayra yang tertutup rambutnya. Raihan memegang ke-2 pipi itu agar Nayra melihatnya.


" Tidak akan ada mengganggumu. Percayalah kepadaku," ujar Raihan meyakinkan Nayra. Nayra masih terdiam dan tetap ketakutan.

__ADS_1


Raihan mengambil tisu kembali dan melap bibir Nayra yang terdapat bekas darah muntahan Nayra.


Setelah itu Raihan kembali memeluk Nayra.


" Jangan takut, aku akan selalu bersamamu. Kamu sekarang sudah aman jadi jangan takut," ujar Raihan memeluk erat sambil terus mengusap-usapnya rambut Nayra.


Dokter memang benar. Karena yang di percayai Nayra hanya Raihan. Nayra tidak akan histeris jika bersama Raihan.


*********


Aryo tidak menemukan Nayra di Apertemenya. Tetapi beruntung papa Nayra bertemu dengan Andini. Andini memberi tahu kabar sebenarnya tentang Nayra.


Aryo sangat schok dan langsung menuju rumah sakit tempat Nayra di rawan. Aryo langsung ke luar dari mobil. Buru-buru mencari di mana Nayra di rawat.


Saat mencarinya papa Aryo bertemu dengan Zira yang berlawanan arah dengannya. Tidak Zira dan papa Nayra.


Sama-sama menghentikan langkahnya ketika mereka saling melihat. Mereka bahkan terdiam sejenak.


Aryo dan Zira mengobrol di kantin rumah sakit.


" Saya tidak menyangka hal itu bisa di alaminya. Dan itu justru perbuatan Carey kakak kandungnya sendiri," ujar Aryo yang schok mendengar cerita Zira.


" Iya itu memang sudah terjadi. Carey memang tidak mengetahui siapa Nayra sebenarnya. Dan itu adalah ke salahanku," ujar Zira mengakui kesalahannya.


" Lalu sampai kapan semua ini akan di tutup-tutupi. Bukannya Nayra harus kebenarannya. Begitu juga dengan Jihan," tanya Aryo.


" Iya kamu benar. Tetapi Nayra masih dalam pemulihan. Apa yang di alaminya membuatnya trauma berat. Jika kita memberitahunya tentang hal ini dia tidak akan siap. Yang ada mentalnya akan semakin Farah. Nayra bisa kehilangan nyawanya," jelas Zira yang tidak ingin mengambil resiko.


" Lalu kapan lagi. Sebelumnya Nayra memintaku untuk menikahkannya sebagai hadiah ulang tahunnya. Jika tidak memberi tahu siapa sebenarnya orang tuanya. Kado itu tidak akan diterimanya," jelas Aryo. Bagaimana pun dia ingin memberikan Nayra kado yang di minta Nayra.


" Nikahkan dia. Kamu adalah pamannya. Walinya jadi sah jika kamu menikahkannya," jawab Zira yang sudah matang.


" Lalu mas David bagaimana?" tanya Aryo.


" David memang ada di Indonesia. Untuk sementara biarlah seperti itu. Nayra butuh pemulihan. Dia tidak bisa bertemu orang lain selain Raihan. Jadi nikahkan lah dia. Biarkan Raihan yang menjaganya. Setelah dia sembuh. Apapun itu dia pasti akan mengetahuinya. Karena tidak mungkin selamanya Nayra tidak tau siapa dirinya sebenarnya," ujar Zira.


" Lalu bagaimana dengan Raihan?" tanya Aryo.


" Dia tidak tau semuanya. Tetapi mungkin Raina sudah tau. Tapi sudahlah jangan pikirkan apa-apa. Kamu sebagai ayah yang merawatnya beberapa tahun dan juga adalah pamannya. Berhak menikahkan dia. Itu lah yang penting kamu lakukan," jelas Zira sekali lagi.


" Baiklah Bu," jawab Aryo setuju.


Ternyata di sisi lain Raina mendengar percakapan mamanya dengan papa Nayra.


" Jadi semuanya jelas. Jika Nayra benar-benar anaknya Pak David dan Tante Jihan. Adik dari Carey. Dan papa Nayra adalah pamannya. Adik dari Pak David. Mama juga sudah tau jika aku mengetahuinya. Sebaiknya aku tahan dulu semuanya. Yang penting sekarang mau merestui pernikahan Raihan dan Nayra. Itu yang paling utama," batin Raina.

__ADS_1


__ADS_2