
" Baiklah Della aku semoga Nayra baik-baik saja dan aku bisa kesana memenuhi undangan mu," ujar Raihan yang tidak bisa berjanji.
" Iya, ya sudah kalau begitu aku pamit dulu ya, salam buat Nayra, semoga dia cepat sembuh," ujar Della berpamitan.
" Iya terima kasih untuk doanya," sahut Raihan.
" permisi," ujar Della. Raihan mengangguk.
" Hati-hati," ujar Raihan sebelum Della pergi.
Setelah kepergian Della Raihan membereskan ruang tamu dan memasuki kamar Nayra. Nayra sudah bangun. Raihan yang berdiri di depan kamar itu tersenyum dan menghampiri Nayra duduk di samping Nayra.
" Bagaimana ke adaan kamu?" tanya Raihan memegang tangan Nayra.
" Sudah tidak apa-apa, nyerinya paling besok sudah hilang, seperti biasa," jawab Nayra.
" Syukurlah kalau begitu," sahut Raihan ikut senang.
" Kak Della sudah pulang?" tanya Nayra.
" Iya dia sudah pulang. Dia juga mengundang kita ke villa besok malam," ujar Raihan langsung menyampaikan undangan sahabatnya.
" Oh iya untuk apa, apa ada yang ulang tahun?" tanya Nayra.
" Tidak Della hanya melakukan acara perpisahan. Della akan menjalankan tugasnya di Papua barat sebagai Dokter suka relawan di sana," jelas Raihan.
" Begitu, memang sampai berapa lama?" tanya Nayra penasaran.
" Katanya sih lumayan lama, jadi Della juga tidak tau kapan akan kembali," jawab Raihan.
" Bagaiman apa kita bisa menghadiri acaranya?" tanya Raihan memastikan. Nayra mengangguk.
" Kenapa tidak lagi pula dia pasti berharap kamu akan datang," jawab Nayra. Raihan tersenyum mengangguk.
" Iya kamu benar, jika kondisi kamu baik-baik saja kita akan menghadiri undangannya," sahut Raihan.
" Aku bahagia melihat kamu dan kak Della sudah baik-baik saja," ujar Nayra tersenyum lebar.
" Semua itu berkat kamu," sahut Raihan mengusap pipi Nayra dengan lembut.
Nayra menjulurkan ke-2 tangannya ke arah Raihan. Raihan mendengus mengerti maksud Nayra yang ingin di peluk. Raihan pun langsung mendekatkan wajahnya dan memeluk erat Nayra.
" Aku menyukai jika kamu manja seperti ini," ujar Raihan terus memeluk erat.
Nayra melepas pelukannya dan menatap wajah Raihan dengan dalam. Mencium bibir Raihan sekilas.
__ADS_1
" Terima kasih, sudah mencintaiku," ujar Raihan masih dengan ke-2 tangannya mengalung di leher Raihan. Raihan tersenyum miring.
" Ini bukan waktu yang tepat untuk menggodaku, jadi jangan melakukan itu," ujar Raihan.
" Aku tidak menggodamu," sahut Nayra dengan matanya yang menyipit dan kembali mencium bibir Raihan.
" Dasar istri nakal," pekik Raihan geram. Kalau saja Nayra tidak datang bulan mungkin Nayra sudah habis di terkam.
Tapi Nayra memang sengaja melakukan itu untuk membuat Raihan resah. Dengan entengnya Nayra kembali mengecup bibir Raihan.
" Aku tidak nakal," ujar Nayra dengan suara manjanya. Raihan menaikkan 1 alisnya dan meraih Nayra ke dalam pelukannya.
" Jangan melakukan itu, aku bisa khilaf. Kamu hanya akan membuatku tersiksa," ujar Raihan.
Nayra hanya tersenyum di dalam pelukan suaminya. Sakitnya memang akan hilang jika Raihan bersamanya.
**********
Disisi lain Raina lebih memilih berduaan dengan Raka di bandingkan harus kekantor. Raihan rebahan dan Raka rebahan di atas tempat tidur. Raina berbaring di samping Raka dengan beralaskan bantal lengan Raka.
Mereka berdua melihat sama-sama hasil lab rumah sakit yang belum sempat di tunjukkan Raka tadi. Sebenarnya Raina sudah tidak peduli. Tetapi apa salahnya jika melihatnya. Melihat perjuangan Raka berusaha membuktikan dirinya.
Kertas putih yang di pengang Raina sama-sama mereka baca. Sementara satu tangan Raka mengusap-usap rambut Raina.
" Aku tidak tau, aku baru mendapat pengakuannya saat kejadian pagi itu. Mungkin dia melakukan itu supaya membuatku tidak lepas darinya," ujar Raka.
" Begitu, tapi memang sepertinya dia sangat menggilaimu," ujar Raina sedikit kesal. Raka tersenyum menatap Raina dengan dalam.
" Terima kasih, sudah mempercayaiku," ujar Raka.
" Apa ini bisa membuktikan semuanya?" tanya Raina menatap Raka dengan menyipitkan matanya.
" Aku kira dengan apa yang barusan terjadi di antara kita sudah membuktikan semuanya," sahut Raka. Membuat Raina malu seketika.
" Memang apa yang aku lakukan?" tanya Raina malu-malu.
" Apa aku harus mengingatkannya kembali," goda Raka membuat Raina menggeleng.
" Baiklah, kalau begitu katakan kenapa kamu bisa ada di sini dan apa yang kamu lakukan di ruang kerjaku?" tanya Raka.
" Aku tadi tidak sengaja melihat mobil Saras mengikutimu. Awalnya aku ingin mengikuti mobil Saras. Tetapi entah mengapa aku lebih memilih datang kerumahmu. Dan aku penasaran dengan ruang kerjamu. Aku melihat semuanya," jelas Raina membuat Raka bingung.
" Apa yang kamu lihat?" tanya Raka.
" Apa kamu menyukaiku sejak dulu?" bukannya menjawab Raina malah kembali bertanya.
__ADS_1
" Kamu melihatnya," tebak Raka. Raina mengangguk.
" Apa kamu menyukaiku sebelum aku menikah?" tanya Raina menatap Raka dengan dalam. Raka terdiam tanpa bisa menjawab.
" Raka, jawab aku," ujar Raina memegang pipi Raka. Raka mengangguk.
" Maaf jika aku menyukaimu diam-diam, tapi percayalah setelah kamu menikah aku tidak pernah menatapmu diam-diam. Aku melakukan itu saat kamu belum menikah dan sudah menjadi single parents," jelas Raka yang tidak ingin membuat Raina salah paham dan dianggap menyukai istri orang.
" Aku tau, lalu kenapa tidak mengatakan itu dari dulu, kenapa memilih diam tanpa mengatakan perasaanmu?" tanya Nayra. Raka tersenyum.
" Kamu benar, seharusnya aku melakukan itu dari dulu, aku hanya merasa belum pantas jika harus menjalin hubungan dengan kamu. Tapi tidak kusangka secepat kilat kamu menemukan pria yang tepat dan kamu memilih berumah tangga dengannya. Tapi percayalah Raina aku bahagia melihat pernikahanmu, aku sangat bahagia melihat kau dan dia bahagia," ujar Raka dengan tulus.
" Tapi aku tidak bahagia," jawab Raina dengan matanya bergenang. Raka memegang menggeserkan tubuhnya dan memegang pipi Nayra.
" Apa dia menyakitimu?" tanya Raka. Raina tersenyum tipis.
" Aku tidak ingin membahasnya, itu adalah masa lalu dan sekarang masa depanku adalah kamu," sahut Raina. Raka mengangguk tersenyum. Lalu Raka duduk.
Raina yang bingung pun ikut duduk dan melihat Raka yang membuka laci di samping tempat tidur.
Raka mengeluarkan kotak kecil dan menghadap ke arah Raina. Membuat Raina tambah bingung. Raka membuka kotak tersebut yang ternyata melihat sebuah kalung yang liontin.
" Seharusnya aku memberikan ini dulu tapi ternyata sangat lama baru selesai di tempah. Saat sudah selesai aku merasa tidak pantas memberikannya karena kamu sudah milik orang lain," ujar Raka sambil memakaikan kalung itu ke leher Raina. Hal itu membuat Raina bingung.
" Maaf baru memberinya sekarang," ujar Raka selesai memasangkan kalung tersebut.
Raina memegang liontin tersebut dan membukanya melihat isi di dalam kalung itu adalah foto dirinya saat memakai pakaian wisudanya. Raina mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Raka.
" Aku ingin memberinya sebagai hadiah wisuda mu. Tetapi tidak sempat kuberikan," jelas Raka. Membuat Raina meneteskan air matanya dan memeluk Raka.
" Apa aku sungguh jahat, tidak membalas perasaanmu," ujar Raina merasa bersalah.
" Ini bukan salah kamu. Aku yang terlalu pengecut untuk mengungkapkan isi hati ku," ujar Raka sambil mengusap-usap rambut Raina.
" Maaf Raka, aku pasti membuatmu menderita," ucap Raina.
Raka melepas pelukannya memegang ke-2 pipi Nayra dan mencium kening Nayra.
" Aku tidak pernah menderita justru aku sangat bahagia. Akhirnya aku bisa membuatmu kembali percaya kepada ku. Itu yang paling terpenting untukku," ujar Raka dengan tulus.
" Aku mencintaimu Raina, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, aku sangat mencintaimu sangat dan sangat," ujar Raka memperjelas perasaannya.
" Iya aku tau, aku juga mencintaimu, aku sangat mencintaimu," jawab Raina. Raka kembali meraih Raina kedalam pelukannya.
Bersambung......
__ADS_1