Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 109


__ADS_3

" Opa sehat?" tanya Raihan.


" Sehat, kamu tidak pernah berkunjung ke Surabaya," ujar Opa Nugraha.


" Maaf Opa nanti kalau Raihan ada waktu akan berkunjung ke Surabaya," ujar Raihan.


" Opa akan tunggu cucu yang tampan ini datang," ujar Opa Nugraha tersenyum lebar. Berbeda dengan ekspresi Zira yang datar. Seperti tidak menikmati candaan-candaan kecil itu.


" Tante tidak kamu sapa?" sahut Gia. Adik bungsu Zira.


" Iya maaf Tante," sahut Raihan mendekati Gia dan memeluknya.


" Kamu tambah keren," puji Gia.


" Makasih tante," jawab Raihan.


" Raihan Tante Jihan juga baru balik kemarin dari New York," sahut Addrian.


" Iya Pa Raihan sudah bertemu di supermarket," jawab Raihan.


" Mama sudah bertemu Raihan. Tapi kenapa nggak bilang sama aku," batin Carey melihat ke arah mamanya.


" Kamu baru pulang bekerja Raihan?" tanya Gia.


" Hmmmm," Raihan menjawab dengan deheman.


" Dari mana, bukannya ini weekend ya?" tanya Carey.


" Aku ada urusan penting tadi," jawab Raihan datar.


" Apa dia pergi bersama Nayra," batin Carey sinis


" Ya sudah kita sebaiknya makan malam," sahut Zira selesai menuang minum.


" Mama tadi ingin bicara apa?" tanya Raihan pada intinya. Dia sedikit gelisah. Karena tadi meninggalkan Nayra dan berjanji makan bersama.


" Raihan kita makan dulu bisa," jawab Zira dengan dingin.


" Ma," lirih Raihan.


" Raihan ayo duduk," sahut Addrian.


" Raihan ada janji Pa," sahut Raihan.


" Raihan, Oma jauh-jauh datang kemari, kamu malah mementingkan janji kamu. Apa salahnya makan sebentar, apa janji kamu lebih penting di banding kehadiran kami," ujar Oma Widiya.


" Benar Raihan, ini semua Oma kamu yang masak," tambah Opa Nugraha.


Raihan menelan salavinanya dan hanya melihat ke arah mamanya yang tampak acuh.


Dengan terpaksa Raihan pun duduk di samping mamanya dan di berhadapan dengan Carey yang sedari tadi terlihat senang. Sementara dari wajah Raihan terlihat tidak bersemangat.


" Raina belum pulang?" tanya Gia.


" Sebentar lagi pasti pulang," jawab Zira.


" Kita makan saja dulu. Raihan bukannya sedang buru-buru," sahut Jihan.


" Iya Opa juga sudah lapar," sahut Opa Nugraha.


Mereka mulai membuka piring dan mengisi piring dengan nasi dan lauk yang berbagai macam. Tidak dengan Raihan yang malah gelisah, dia hanya terus melihat jam tangannya.

__ADS_1


" Raihan sebenarnya mau kemana sih?" batin Carey yang kesal dengan Raihan yang terlihat cuek.


" Raihan kamu pake apa lauk apa?" tanya Zira setelah memasukkan nasi ke piring Raihan.


" Mama ingin bicara apa sebenarnya, kenapa tidak katakan langsung. Jika hanya untuk makan malam," lirih Raihan sangat pelan. Sehingga tidak ada yang mendengarkannya. karena yang lain sibuk berbicara.


" Kamu tidak bisa makan sebentar," ujar Zira menatap horor.


" Pake ayam," jawab Raihan ketus.


Memang lebih baik dia makan buru-buru agar bisa ketempat Nayra. Dari pada berdebat dengan mamanya yang hanya akan memperlama waktu. Apa lagi ada Oma dan Opanya.


Zira pun memasukkan lauk ke piring Raihan. Sementara yang lain sudah mulai makan.


" Carey, bagaimana dengan bisnis kamu di New York?" tanya Gia.


" Semua lancar Tante, Carey juga akan membuat bisnis di Indonesia," jawab Carey.


" Kamu sama seperti mama kamu sangat giat bekerja," sahut Opa Nugraha.


" Om bisa saja. Aku hanya mengajarkan kemandirian untuk Carey dari usia dini," sahut Jihan.


" Ya wanita yang sempurna. Kamu memang harus membuat bisnis kamu di Indonesia. Karena mana mungkin bisnis kamu di New York sementara suami kamu nanti juga akan mengurus Adverb di Indonesia," sahut Oma Widia.


Mendengar hal itu Raihan yang menyendokkan nasi kemulutnya tidak jadi. Karena Raihan mulai merasa ada yang tidak beres. Sementara Zira yang di sampingnya tetap makan dengan tenang


" Oma jangan bicara seperti itu, Carey jadi malau sama Raihan," sahut Carey menatap Raihan sambil tersenyum sementara Raihan menatap heran dengan perkataan Carey.


" Kenapa harus malu, kalian kan akan menjadi suami istri nanti," sahut Opa Nugraha.


Raihan tersentak kaget mendengar hal itu. Sementara Zira meneguk air putih yang hampir keselak makanan.


" hahahhahaha," Addrian tertawa kecil, " kenapa harus bicarakan pernikahan di meja makan," sahut Addrian mencoba mengalihkan pembicaraan.


" Bukannya memang kita harus membahas ini Addrian," sahut Oma Widia.


" Benarkan Jihan," Oma Widiya langsung melempar kepada Jihan yang juga tiba-tiba merasa gelisah.


" Oh, Saya hanya mengikut saja. Yang menjalankan Raihan dan Carey, mereka juga sudah sama-sama dewasa. Jadi saya hanya mengikuti jika itu yang terbaik," sahut Jihan gugup.


Dia memang merasa sedikit resah. Apalagi ketika melihat Raihan yang tampak panas mendengar pembicaraan itu. Jihan juga melihat meremas sendok.


Zira yang di samping Raihan hanya melirik tanpa bisa berkata apa-apa. Sementara Addrian hanya tertawa kecil. Dia juga beberapa kali melihat exsperesi Raihan yang tampak tidak senang. Tetapi Addrian hanya berusaha tenang agar suasana mencair di depan mertuanya itu.


" Apa maksudnya?" tanya Raihan dengan wajahnya yang sudah memerah menatap Carey tajam.


Sementara Carey tersenyum. Walau dia tau Raihan akan sangat tidak suka degan hal ini.


" Kenapa harus bertanya Raihan. Bukannya dari dulu kamu sudah tau," sahut Gia.


" Biasalah anak muda. Pasti malu jika masalah ini di bahas," sahut Opa Nugraha.


" Apa maksudnya?" tanya Raihan sekali lagi menahan amarahnya.


" Raihan, kamu sama Carey sudah dewasa dan ini juga sudah waktunya kalian untuk menikah," ujar Oma Widia membuat Raihan kaget.


" Menikah, maksudnya apa?" tanya Raihan dengan suara menekan.


" Raihan dari kecil Oma dan Opa dan Nenek dan ALM kakek Carey sudah berencana akan menjodohkan kamu dengan Carey. Apa lagi sedari kecil kalian sudah sangat cocok. Sampai dewasa kalian masih tetap dekat. Jadi ini sudah waktunya memperlancar niat kami yang tua-tua. Mengingat umur kami yang sudah hampir punah," jelas Oma Widia dengan tertawa kecil.


" Iya Raihan, Opa juga ingin melihat kamu dan Carey segera menikah, dari kecil kalian pasangan yang serasi," tambah Opa Nugraha.

__ADS_1


" Benar sekali, dulu Gia yang jagain. Jika anak-anak bermain pernikahan. Pasti yang menjadi pasangan suami istri Carey dan Raihan. Sekarang jadi terkabul," tambah Gia dengan tawanya.


Raihan semakin mengepal tangannya. Rahang kokohnya terlihat mengeras. Sementara Zira beberapa kali minum untuk menenangkan dirinha. Dan tidak bisa bicara sama sekali.


" Kalian akan menikah dalam waktu yang dekat," sahut Opa Nugraha.


" Hhhhh, tidak sabar melihat cucuku jadi pengantin," Tambah Oma Widia.


" Cukup," bentak Raihan membanting sendok sampai jatuh ke lantai. mebuat penghuni meja meja makan tersentak kaget.


" Raihan," desis Addrian melihat sikap Raihan yang tidak sopan. Raihan langsung berdiri.


" Mama tau semua ini. Ini rencana mama. Apa ini juga alasan mama selama ini. Iya ma," bentak Raihan dengan segala pertanyaannya. Zira hanya berusaha tenang. Makan dengan santai.


" Jawab ma," teriak Raihan.


" Ada apa dengan Raihan," batin Jihan yang juga gelisah.


" Raihan," bentak Addrian berdiri ketika melihat anaknya membentak orang tuanya.


" Apa kamu tidak bisa kembali duduk," ujar Zira mengangkat kepalanya melihat ke arah Raihan.


" Ada apa ini ma?" tanya Raihan menekan suaranya.


" Raihan kamu apa-apa an, kenapa reaksi kamu sampai seperti itu. Kamu dengan Carey sudah saling mengenal jadi apa yang salah," sahut Oma Widia sedikit berteriak. Carey hanya tersenyum karena mendapat dukungan.


" Salah, sangat salah. Aku sama Carey hanya berteman. Dan perjodohan apa lagi pernikahan, itu tidak akan pernah ada," tegas Raihan dengan matanya yang hampir ingin keluar.


" Raihan jaga sikap kamu. Yang kamu ajak bicara. Oma dan Opa kamu," tegas Addrian.


" Apa ini Pa, papa sama mama sengaja melakukan semua ini," teriak Raihan.


" Cukup Raihan," bentak Addrian.


" Raihan kamu kenapa jadi marah. Bukannya seharusnya kamu senang dengan pernikahan ini. Kalian bukannya saling mencintai," sahut Opa Nugraha berbicara nada rendah.


" Cinta, Raihan dan Carey tidak pernah memiliki perasaan apapun. Kita hanya berteman. Sama seperti yang lainnya hanya berteman. Mama sama papa tau kan siapa yang aku cintai," ujar Raihan melihat mamanya yang masih saja diam.


" Raihan apapun itu kamu akan tetap menikah dengan Carey," sahut Gia. Hal itu membuat Carey tersenyum.


" Itu benar ma?" tanya Raihan dengan suara pelan seakan lelah dengan permainan mamanya.


" Jawab ma," ujar Raihan menekan suaranya.


" Jawab," teriak Raihan.


" Raihan," bentak Addrian. Zira berdiri dan menghadap Raihan yang terbalut emosi dengan mata berkaca-kaca.


" Jawab ma," ujar Raihan menekan suaranya.


" Jawab," teriak Raihan.


" Raihan," bentak Addrian. Zira berdiri dan menghadap Raihan yang terbalut emosi dengan mata berkaca-kaca.


" Iya itu benar, kamu sama Carey sudah di jodohkan dari kecil. Dan itu amanat dari kakeknya Carey," jelas Zira berusaha tenang.


" Jodohkan. Dan mama tau kan kalau aku tidak akan melakukan itu," sahut Raihan.


" Raihan tenangkan diri kamu," sahut Zira memegang lengan Raihan. Raihan langsung menepisnya.


" Tenang mama bilang. Mama tau aku tidak mungkin menikahi Carey. Jika aku menikah itu hanya akan menikah dengan Nara. Mama tau aku mencintainya," teriak Raihan.

__ADS_1


" Nara, itu kan wanita yang di kenalkan Raihan di Supermarket. Jadi memang benar Nara kekasihnya. Raihan sepertinya sangat mencintai gadis itu," batin Jihan yang bisa melihat penolakan Raihan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2