
Nayra dengan jarinya yang lincah mengetik pada keyboard laptop nya. Dengan serius Nayra bekerja. Tetapi Nayra kembali melirik bunga pemberian Raihan.
Dia bahkan menghentikan ketikannya, dan menatap fokus bunga itu. Nayra menyentuh boucket itu.
Nayra mengingat sewaktu Raihan memberinya bunga yang sama di pagi hari dan saat itu juga Raihan meninggalkannya pada saat itu. Hal itu membuat Nayra menjadi murung.
" Raihan aku tidak tau, bagaimana perasaan ku terhadap kamu. Jujur aku masih bingung. Aku takut jika perasaanku akan sakit lagu," batinya sambil memegang dadanya dan kembali melihat ke arah Raihan yang menelpon.
Nayra membuang napasnya kedepan dan melihat arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 12 waktunya makan siang.
" Nayra," tegur Alex membuat Nayra kaget dan langsung berdiri.
" Pak Alex," sahut Nayra membukukan badannya.
" Selesai makan siang, kamu langsung keruangan rapat. Kita ada rapat hari ini!" ujar Alex.
" Rapat?" tanya Nayra.
" Iya rapat membahas kerjasama dengan Pak David Willson," jawab Alex.
" Oh Baik pak," jawab Nayra mengangguk. Lalu Alex pun kembali pergi.
trettttttretttttttttttttt. trettttttretttttttttttttt.
Ponsel Nayra berdering dan Nayra melihat panggilan masuk. Nayra kaget melihat panggilan masuk dari mamanya.
" Mama, kok bisa, bukannya mama masih di penjara," ujarnya bingung, " Aliya mungkin," tebaknya melihat di sekelilinya. Nayra mengambil ponselnya lalu pergi.
Nayra mengangkat telpon dari mamanya di dapur.
" Hallo," sapa Nayra ragu.
" Lama sekali sih kamu mengangkatnya," sahut mama Nayra langsung marah.
" Mama, kok mama bisa nelpon. Mama sudah bebas?" tanya Nayra schok.
" Apaan sih kamu, sudah jangan Drama. Kamu menyuruh wanita itu membebaskan mama. Kamu kasih tau ya sama dia. Kalau bicara lebih sopan sedikit," ujar Helena mamanya Nayra.
Nayra mengkerutkan keningnya bingung dengan apa yang di maksud mamanya.
" Apa maksud mama, wanita siapa?" tanya Nayra heran.
" Siapa lagi, jika bukan istri kolongmerat itu. Dengar Nayra. Walaupun kamu menyuruhnya membebaskan mama, bukan berarti dia bisa seenaknya berbicara dengan pedas kepada mama. Dia pikir dia siapa Seenaknya kalau bicara," ujar Helena dengan ocehannya.
" Tante Zira maksud mama?" tebak Nayra.
" Siapa lagi jika bukan dia, sudah jangan banyak bicara. Sekarang mama lagi butuh uang. Kamu segera transfer secepatnya," ujar Helena yang tidak ingin basa-basi.
" Transfer, buat apa ma?" tanya Nayra.
" Pakai di tanyak lagi, ya mama sudah tidak ada uang. Kamu gimana sih, Dan satu lagi kamu juga...," belum sempat Helena mengatakan semua keinginannya.
Nayra kaget saat ponsel yang menempel di telinganya telah di ambil. Nayra membalikkan tubuhnya dan kaget melihat Raihan yang ternyata yang sudah mengambil ponselnya. Raihan langsung mematikan ponsel itu.
" Raihan apa yang kamu lakukan?" tanya Nayra berusaha mengambil ponselnya.
__ADS_1
" Aku sudah mengatakan jangan menerima bantuan dari mama," ujar Raihan dengan wajah seriusnya yang mulai memerah.
" Aku tidak menerimanya," jawab Nayra.
" Kamu pikir aku tuli," sahut Raihan.
" Raihan aku juga tidak tau jika Tante Zira yang melakukannya. Aku tidak pernah meminta bantuan Tante Zira untuk membebaskan mama dari penjara," jelas Nayra apa adanya.
" Mamamu masuk penjara dan kamu tidak memberi tahuku," sahut Raihan dengan nada kecewanya.
" Aku rasa itu tidak penting," sahut Nayra.
" Kamu bilang tidak penting, jadi menurut kamu yang lebih penting adalah mama. Supaya dia menebus mama kamu iya dan aku tidak bisa melakukannya," ujar Raihan dengan nada sedikit keras.
" Kamu apa-apaan sih, nggak jelas banget," sahut Nayra.
" Apa kamu tidak bisa. Jika tidak menerima bantuan mama Nara,".
" Aku sudah katakan, aku tidak menerimanya," bantah Nayra dengan nada tinggi.
" Terus ini apa buktinya. Apa kamu tidak bisa menolak hah! mau sampai kapan kamu terus terikat dengan mama hah!" teriak Raihan dengan rahang kokohnya yang sudah mengeras.
trettttttretttttttttttttt
Di tengah pertengkaran Raihan dan Nayra. Ponsel Nayra kembali berbunyi, Raihan melihat panggilan masuk dari mamanya. Zira memang panjang umur. Di bicarakan langsung muncul. Raihan merapatkan giginya melihat panggilan masuk itu.
" Lihat malaikat kamu kembali menelpon. Dia akan menawarkan uang lagi untuk mamamu yang sangat membutuhkan," ujar Raihan menunjukkan layar ponsel itu pada Nayra.
Nayra tidak tau harus berbuat apa. Dia memang sial. Kenapa telpon Zira bertepatan datang saat ada Raihan yang sedang emosi.
" Jangan di angkat!" perintah Raihan.
" Itu bukan urusan kamu," sahut Nayra.
" Aku bilang jangan di angkat!" ujar Raihan dengan tegas.
Nayra tidak peduli dan mengangkat telpon dari Zira. Dia merasa tidak enak jika lama-lama mengangkat telpon Zira. Sementara Raihan melihat Nayra membantahnya mengepal ke -2 tangannya.
" Hallo Tante," sapa Nayra dengan gugup.
Raihan yang semakin marah, menarik kembali hanphone Nayra dan yang benar saja Raihan langsung membantingnya ke lantai.
Pranggg
Nayra kaget dan menutup mulutnya dengan ke-2 tangannya saat melihat handphonenya pecah terbelah di lantai.
" Raihan," desis Nayra.
" Apa kamu tidak bisa mendengarkanku," bentak Raihan membuat Nayra tersentak kaget kembali. Nayra hanya terdiam dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Tiba-tiba teriakan Raihan membuat beberapa karyawan memasuki dapur dan kaget melihat kejadian yang di dapur.
" Ada apa?" tanya pelan salah satu karyawan. Mendengar suara nyinyir karyawan yang sudah berkumpul di depan pintu. Raihan meredakan emosinya.
Nayra mengangkat kepalanya. Dan melihat tajam Raihan dengan matanya yang sudah berair. Nayra melap kasar air matanya lalu pergi keluar meninggalkan Raihan.
__ADS_1
" Nara," panggil Raihan.
" Sial," teriak Raihan menonjok dingding. Kemarahan Raihan membuat pukulan itu sangat kuat dan membuat tangan Raihan berdarah.
" Apa kalian masih tetap di sini," teriak Raihan pada Karyawan yang masih kepo dengan urusannya.
" Maaf pak," ujar mereka gugup dan langsung pergi.
Raihan melihat ponsel Nayra yang sudah berserakan di lantai. Dia memijat kepalanya yang semakin berat dengan ke jadian yang baru saja terjadi.
Napasnya naik turun. Jika berhubungan dengan mamanya Raihan memang tidak bisa mengontrol dirinya untuk tidak marah-marah.
Di sisi lain Helena yang menelpon kembali namun tidak bisa malah kesal.
" Sialan, beraninya dia tidak meresponku," ujar Helena kesal.
" Kenapa aku sial sekali, sudah di omeli wanita itu, sekarang Nayra tidak mengangkat telponku," ujarnya kesal.
Flashback.
Mendengar mama Nayra masuk penjara Zira bergerak sendiri menemui wanita yang selalu menyusahkan itu. Sebenarnya dia bisa saja menyuruh Raka membebaskannya.
Tetapi kesabaran Zira sudah habis. Dia ingin bicara dengan Helena dengan serius. Helena dan Zira sedang duduk berhadapan di ruang pengunjung.
" Mbak akan bebas hari ini," ujar Zira dengan serius.
" Hahhhhh, syukurlah kenapa lama sekali anak itu membebaskanku," jawab Helena bernapas lega. Seperti tidak merasa bersalah sama sekali.
" Mbak Helena, saya berharap setelah mbak keluar dari penjara Mbak bisa berubah," ujar Zira dengan bijak.
" Maaf ya mbak Zira. Saya berubah atau tidak itu bukan urusan Mbak," sahut Helena dengan sinis.
" Itu akan menjadi urusan saya, karena menyangkut dengan Nayra," sahut Zira serius. Helena membuang napasnya kesamping.
" Nayra itu anak saya, dan seharusnya kamu tidak terlalu jauh mengurusnya," ujar Helena. Zira mendengarnya mendengus dan tersenyum.
" Saya tidak ingin berdebat. Saya hanya memperingatkan untuk tidak mengganggu Nayra. Jangan usik hidupnya. Kalian bukan tanggung jawabnya," ujar Zira penuh penekanan dan penegasan.
Mendengar hal itu. Helena hanya terdiam. Zira mengeluarkan amplop tebal dari tasnya. Dan menyorongnya ke depan Helena.
" Saya masih banyak pekerjaan. Gunakan sebaiknya dan berhenti mengganggu Nayra. Jika kamu masih menekan dia soal uang. Jangan salahkan saya. Jika saya akan kembali memasukkan kamu kedalam penjara," ujar Zira mengancam. Lalu iya berdiri.
" Terima kasih waktunya," ujar Zira pamit.
" Hhhhhhh, Dia pikir Nayra anaknya apa," desis Helena dengan napasnya yang naik turun. Mulutnya seakan tertutup saat Zira mengancamnya.
Flassaon.
Mengingat ucapan Zira yang di temuinya kemarin. Sebenarnya jujur membuat Helena berpikir panjang.
" Dia pikir dia siapa, beraninya mengancamku karena aku mengganggu Nayra. Jangan dia pikir dia kaya bisa sesukanya. Memang Nayra anakmu seenaknya mengaturnya apa," gerutu Helena yang kesal jika mengingat ancaman Zira.
Meski kesal tetapi tetap saja uang Zira masih di gunakannya. Entah berapa banyak uang yang di berikan Zira kepada Helena. Agar Helena tidak mengusik hidup Nayra.
...🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung 🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1