Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 35


__ADS_3

Nayra nongkrong dengan ke-2 sahabatnya di salah satu Restaurant di dekat Apartemennya.


" Nay lihat ini deh," ujar Anita menunjukkan ponselnya. Nayra yang duduk di depannya langsung mengambilnya.


" Desa Suka Jadi," ujar Nayra melihat berita di desa Suka Jadi tersebut.


" Iya Desa itu sekarang tertimpa bencana. Angin badai dan juga longsor yang sangat parah," sahut Ria.


" Ya ampun, kasian banget," ujar Nayra memberikan ponsel Anita kembali.


" Oh iya Nayra, beberapa orang dari kantor akan di kirim menjadi sukarelawan kesana," ujar Anita yang sudah mendengar simpang siur beritanya di kantor.


" Oh iya, siapa aja, alangkah enaknya jika menjadi sukarelawan, bisa memberikan tenaga kita untuk orang-orang di sana," sahut Nayra meneguk orens jus pesanannya.


" Ya belum tau, siapa aja tetapi besok saja kita lihat," jawab Anita.


" Beberapa perusahaan, dan juga para relawan lainnya juga sudah mulai berdatangan kesana. Sekedar berdonasi. Atau seperti yang kamu katakan tadi mengeluarkan tenaga untuk orang-orang yang membutuhkan," sahut Ria yang memakan kentang goreng.


" Iya semoga saja tidak ada bencana susulan, dan semoga para relawan di sana baik-baik saja," ujar Nayra penuh harapan.


" Amin," sahut Ria dan Anita menghapus wajah mereka.


Ting. Ponsel Nayra berbunyi.


..." Nay aku sudah di depan," Andini...


" Hmmm... sorry ya guess, gue balik dulu, soalnya ada janji sama Andini," ujar Nayra menghabiskan minumannya.


" Buru-buru amat," keluh Anita.


" Iya sorry banget ya. Besok kayak nggak ketemu aja," ujar Nayra langsung mengambil tasnya.


" Bye-bye bye," ujar Nayra pamit sebelum pergi. Anita dan Ria melambaikan tangannya pada sahabat mereka.


Nayra keluar dari Restaurant dan langsung menghampiri mobil Andini. Brukk.


" Sorry nunggu lama," ujar Nayra yang sudah masuk kedalam mobil dan memakai seat belt.


" Nunggu lama gimana, orang aku baru juga sampai, seharusnya aku yang bilang Sorry. Karena udah ganggu makan kamu sama Anita dan Ria," ujar Andini yang Justru merasa bersalah.


" Nggaklah, lagian kita ber-3 cuma ngobrol aja. Hanya pesan minum dan makanan ringan," jawab Nayra.


" Kenapa nggak pesan makanan sekalian. Ini sudah hampir jam makan siang tau," ujar Andini melihat jam tangannya.


" Aku masih kenyang, dengan semua makanan yang kamu bawakan," sahut Nayra mengusap perutnya. Andini mengkerutkan dahinya. Dia heran dengan perkataan Nayra.


" Makanan apa?" tanya Andini masih bingung.


" Ya makanan tadi pagi," sahut Nayra melihat ke arah Andini. Andini masih tetap bingung.


" Nayra, aku tidak pernah membawakanmu makanan. Lagi pula aku sengaja menemui mu hari ini. Karena khawatir denganmu karena masalah tadi malam. Lagi pula kamu aneh-aneh aja mana mungkin aku membawakanmu makanan tanpa sepengetahuamu, memangnya aku tau sandi Apartemenmu," ujar Andini menjelaskan.


Nayra sejenak terdiam. Dia menggigit ujung jarinya.


" Benar juga, bagaimana cara Andini masuk. Lalu jika bukan Andini siapa. Apa mungkin Raihan. Tapi....," batin Nayra kebingungan.

__ADS_1


" Ahhh sudah lah kamu kebanyakan halu. Sekarang kita jalan aja," ujar Andini langsung menginjak gas mobilnya dan menyetir.


Sementara Nayra masih bengong. Percaya tidak percaya. Jika tebakannya Raihan yang menyiapkan makanan itu. Tetapi Nayra masih merasa jika itu tidak mungkin.


*********


Mobil Andini berhenti di depan rumah Addrian Admaja Wijaya.


" Kok kita kemari?" tanya Nayra bingung yang tau keberadaannya.


" Sebentar, aku ingin menjemput Amira, kita mau main bareng, soalnya aku ada janji dengannya," ujar Andini membuka seat beltnya.


" Oh," ujar Nayra dengan santai.


" Kamu nggak turun?" tanya Andini yang melihat Nayra masih bengong.


" Nggak, aku nunggu di mobil aja," jawab Nayra.


" Ayolah kedalam, ngapain sih di mobil," ajak Andini. Nayra tetap menolak tetapi Andini tetap memaksa dan akhirnya Nayra menyerah.


Dia memang jelas tidak ingin masuk kerumah itu. Karena takut bertemu dengan Raihan. Nayra dan Andini memasuki rumah.


" Amira," panggil Andini sedikit berteriak, duduk Nay!" titah Andini.


Nayra mengangguk dan langsung duduk. Nayra melihat di sekelilingnya. Perasaannya sangat gugup dia sangat menghindarkan pertemuannya dengan Raihan.


" Amira lagi pergi," sahut seseorang dari ujung tangga dengan suara lantangnya.


Andini dan Nayra langsung melihat ke arah suara itu. Melihat Raihan yang berdiri tegak. Raihan dengan arogannya berdiri menegangkan kepalanya. Dengan ke-2 tangannya di saku celananya.


Dia beberapa kali mengusap di bagian belakang telinganya menghilangkan kegugupannya. Jelas Nayra sangat gugup. Awalnya dia berada di meja makan dan pindah kekamar.


Belum lagi makanan yang di makannya tadi pagi pasti semua Raihan yang menyiapkannya. Raihan sudah berada di depan Andini. Nayra tidak melihat sama sekali dia masih sibuk di sofa berusaha tenang.


Berbeda dengan Nayra yang tidak ingin melihat Raihan. Namun Raihan justru melihat ke arah Nayra.


" Ada les balet. Mungkin sebentar lagi kembali," jawab Raihan terus melihat Nayra.


" Ohhhhh begitu," sahut Andini.


" Andini," sapa Zira yang tiba-tiba menghampiri ke ruang tamu. Karena mendengar teriakan keponakannya.


" Tante," sapa kembali Andini memeluk Nayra Nayra juga berdiri melakukan hal yang sama.


" Apa kabar kamu Nayra," ujar Zira tersenyum lebar.


" Baik Tante," jawab Nayra.


" Kalian nungguin Amira ya," tebak Zira.


" Iya Tante," jawab Andini.


" Paling sebentar lagi pulang, kita ketaman belakang yuk, mengobrol, Tante lagi buatin puding mangga dan beberapa kue, Tante akan siapkan," ujar Zira menawarkan dengan ramah.


" Tidak usah Tante, kayaknya Nayra harus kembali," sahut Nayra langsung menolak.

__ADS_1


" Kok, gitu Nay, sudahlah ayok, lagi pula kita sekalian nungguin Amira. Aku juga kebetulan lapar," ujar Andini memegang perutnya.


" Iya Nayra, kamu juga sudah jarang datang kemari, ayolah om Addrian juga ada di belakang," bujuk Zira. Nayra menjadi bingung. Dia sungguh tidak ingin berlama-lama di rumah Raihan.


Akhirnya Nayra kembali kalah. Andini terus merengek agar Nayra mau ikut bersamanya. Mereka sudah mulai menikmati makanan yang di buat oleh Zira.


Bukan hanya ada Nayra, Andini, Zira. Tetapi Raihan dan Addrian juga ikut bergabung. Nayra hanya bisa diam tanpa berkata-kata.


Biasanya dia sangat aktif, tetapi kali ini dia diam seribu kata. Karena adanya Raihan yang duduk di depannya.


" Apa buatan Tante enak?" tanya Zira pada Nayra.


" Enak Tante," jawab Nayra.


" Kalau enak makalah yang banyak," sahut Addrian.


" Makasih om," jawab Nayra.


" Oh iya Nayra. Om dengan kamu sudah menjadi Sekretarisnya Raihan?" tanya Addrian memastikan.


Nayra langsung melihat ke arah Raihan yang sekarang sibuk bermain ponsel. Dengan kakinya yang menyilang.


" Iya om," jawab Nayra jujur.


" Raihan apa kamu yang meminta Nayra menjadi Sekretaris kamu?" tanya Addrian melihat ke arah Raihan. Raihan langsung melihat papanya.


Dia tidak bisa menjawab dengan cepat. Tidak mungkin dia mengatakan iya yang adanya. Nayra akan ke GR an.


" Maksud papa apa. Soal itu bukan urusanku. Itu urusan Zetty," sahut Raihan dengan cepat mengelak.


" Oh iya Andini, bagaimana ulang tahun Luci tadi malam?" tanya Zira.


" Lancar kok Tante. Hanya saja kita tidak jadi menginap di Villa," jawab Andini sambil menikmati makanan.


" Tidak jadi, lalu kamu tadi malam menginap di mana Raihan?" tanya Zira langsung melihat ke arah Raihan.


Uhuk uhuk uhuk Raihan langsung terbatuk mendengar pertanyaan mamanya. Sementara Nayra langsung keselak dan buru-buru minum. Andini melihat ke arah Nayra dan bergantian melihat ke arah Raihan. Andini tersenyum seperti mengetahui sesuatu.


" Raihan," ujar Zira memastikan.


" Ha_ oh itu, Raihan menginap di...," jawab Raihan terbata-bata.


" Di mana?" tanya Zira terus meminta jawaban. Sementara Nayra sudah sangat gelisah. Zira bahkan melihat ke arah Nayra yang duduk di sampingnya.


" Kamu menginap di apartemen Nayra?" tebak Zira.


Nayra langsung kaget. Bagaimana jika ucapan Zira benar apa adanya.


" Maksud mama apa?" tanya Raihan gugup.


" Mama hanya menebak. Kamu dengar ya Raihan mama tidak suka jika ulah kamu di Luar Negri kamu kemari," tegas Zira.


" Udah deh ma, nggak usah mikir yang aneh-aneh," ujar Raihan berusaha tenang.


" Satu lagi Raihan. Mama tidak suka jika kamu mengganggu Nayra," ujar Zira terus terang. Raihan langsung melihat ke arah Nayra yang sekarang sedang menunduk.

__ADS_1


...Bersambung.........


__ADS_2