Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 172


__ADS_3

Raihan dan Raina sampai ke Apartemen mereka. Tangan ke duanya masih saling bergandengan. Mereka berdiri di depan pintu Apartemen saling berhadapan dengan tangan yang tetap bergandengan.


" Kamu yakin tidak ikut?" tanya Raihan pada istrinya. Raihan ingin keluar sebentar.


" Tidak usah, aku menunggu di dalam saja," jawab Raina yakin.


" Baiklah aku akan secepatnya kembali, kamu mau nitip sesuatu?" tanya Raihan. Nayra berpikir sejenak mengingat-ingat apa yang ingin di titip nya.


" Hmmmm, apa ya, aku ingin makan buah, di kulkas sudah tidak ada buah, kamu belikan aku buah saja," jawab Raina.


" Baiklah, aku akan membelinya, ya sudah aku pergi ya," ujar Raihan pamit. Nayra tersenyum menganguk.


" Tutup pintunya dan lihat monitor dulu baru membuka pintu jika bel berbunyi," ujar Raihan mengingatkan.


Nayra menganguk kan kepalanya. Raihan mendekati Nayra memegang pipi Nayra lalu mencium kening Nayra.


" Terima kasih," ujar Raihan mengusap-ngusap pipi Nayra yang kembali merona.


" Kamu selalu mengucapkan terima kasih kepada ku, apa tidak bosan," sahut Nayra yang sudah mendengar beberapa kali.


" Tidak," jawab Raihan, " Kamu sangat cantik," puji Raihan terus menatap wajah istrinya. Nayra hanya tersenyum mendapat pujian itu.


" Sudah sana pergi," usir Nayra yang akan semakin salah tingkah di goda suaminya.


" Iya," Raihan kembali mencium kening Nayra mencium pipi Nayra. Maklumlah dia masih mengingat moment indah mereka.


" I love you," ucap Raihan lagi.


" I love you to," jawab Nayra mencium pipi Raihan.


" Ya sudah aku pergi ya," ujar Raihan lagi. Nayra mengangguk. Nayra melambaikan dan memasuki Apartemen mereka. Raihan memang harus memastikan istrinya masuk terlebih dahulu. Baru dia pergi.


***********


Raina memasuki kamarnya merapikan tempat tidur. Tadi malam mereka tidak tidur di kamar itu. Karena mereka menghabiskan malam pertama di rumah kaca bunga liliy. Jika mengingatnya Nayra hanya akan tersenyum geli.


Nayra berdiri di depan cermin dan melihat dirinya di cermin. Beberapa tanda kemerahan di area lehernya masih saja membekas. Nayra begitu bahagia di perlakukan dengan istimewa oleh Raihan.


Tingnong


Bel Apartemen berbunyi membuat Nayra menatap ke arah pintu.


" Siapa itu?" tanyanya bingung dan langsung keluar dari kamarnya.


Seperti apa kata suaminya saat ada yang bertamu. Wajib melihat layar monitor dulu, sebelum membuka pintu. Nayra pun melihatnya.


" Mama," gumamnya tidak percaya akan kedatangan mamanyanya dengan cepat Nayra membuka pintu.


" Mama," ujar Nayra tidak percaya mamanya akan berkunjung ke rumahnya. Mamanya hanya melihatnya seperti tidak suka.


" Mana Aliya, dia tidak ikut?" tanya Nayra mencari-cari adiknya.


" Yang tidak ada di cari," sahut Mamanya sinis dan langsung memasuki Apartemen itu tanpa di suruh Nayra.


Mamanya memasuki Apartemen itu dengan ke-2 tangan di silangkan di dadanya. Kepalanya berputar-putar melihat Apartemen itu seperti mengabsen isi ruang tamu itu. Memang itu pertama kali untuknya datang ke Apartemen itu.

__ADS_1


" Mama mau minum apa biar Nayra buatin?" tanya Nayra yang sudah menyusul mamanya ke ruang tamu.


Meski hubungan ke-2nya tidak pernah baik tetapi Nayra senang melihat ke hadiran mamanya.


" Hebat kamu ya, menikah tidak memberi tahu," sahut mamanya sinis langsung duduk dengan menyilangkan kakinya. Nayra mendengarnya menelan salavinanya.


" Maaf ma, Nayra belum sempat memberi tahu mama," jawab Nayra gugup merasa bersalah.


" Ya, okelah, kamu sudah menikah juga," sahut Mamanya tidak peduli.


" Maafkan Nayra ma, Nayra tidak bermaksud. Lagi pula pernikahannya hanya sederhana," sahut Nayra mencoba menjelaskan agar mamanya tidak salah paham.


" Sudahlah, itu tidak penting, sekarang kamu sudah menikah. Kamu juga menikahi anak wanita itu," sahut sinis mamanya.


" Maksud mama?" tanya Nayra.


" Sudahlah, mama datang kemari, karena mama perlu uang. Pihak bank akan menyita rumah, jadi butuh uang," sahut mamanya menjelaskan maksud tujuannya.


" Mama menggadaikan rumah," sahut Nayra kaget.


" Semua sudah terlanjur, sudahlah kamu jangan banyak berpikir, buruan uangnya," sahut mamanya dengan menadahkan telapak tangannya.


" Tapi Nayra tidak ada uang," jawab Nayra.


" He Nayra, kamu mau rumah itu di sita Bank hah!" sahut mamanya langsung berdiri emosi dengan Nayra.


" Mah, Nayra beli rumah itu supaya mama punya tempat tinggal bersama Aliya dan suami mama. Tapi apa mama, malah menggadaikannya dan sekarang minta tebusan pada Nayra. Nayra tidak ada uang," sahut Nayra dengan tegas. Memang bukan Nayra namanya jika bertemu mamanya jika tidak bertengkar.


" Kamu masih bilang tidak ada uang, kamu mau menikmati kekayaan suami kamu sendiri hah! pelit banget kamu jadi anak," sahut mamanya dengan kesal.


" Aku menikah dengan Raihan bukan karena uangnya," tegas Nayra.


" Aku tidak punya uang, lagi pula kenapa mama menggadaikan rumah, untuk apa uangnya, untuk membayar berbondong-bondong mama. Mama stop melakukan semua itu jangan menjadi perempuan murahan," teriak Nayra tidak bisa mengontrol emosinya.


Plakkkkkkk


1 tamparan melayang kepipi Nayra dan sudah menjadi makanan wajibnya jika bertemu mamanya wajib menerima tamparan.


" Jangan sok mengajari kamu," ujar mamanya geram.


Mamanya langsung pergi melangkah bukan ke luar rumah tetapi seperti mencari sesuatu.


" Mama mau ngapain," teriak Nayra yang masih memegang pipinya yang panas akibat tamparan mamanya.


" Di mana kamu sembunyikan uang kamu," teriak mamanya tanpa peduli dengan Nayra. Sekarang mamanya sudah memasuki kamar Nayra.


" Ma, apa yang mama lakukan?" tanya Nayra melihat mamanya mengacak-acak kamarnya.


" Kamu menikah dengan anak orang kaya semakin pelit," desis mamanya membongkar kamar itu mencari uang Nayra.


" Ma, di sini tidak ada uang hentikan ma?" teriak Nayra mencegah mamanya yang sudah membuka lemarinya dan dengan kejinya mamanya membongkar pakaiannya mengeluarkan semua pakaian itu dari dalam lemari mencari-cari barang berharga Nayra.


" Ma stop," Nayra memegang tangan mamanya berusaha menghentikan mamanya.


" Minggir kamu?" mamanya mendorong Nayra sehingga membuat kening Nayra membentur siku meja.

__ADS_1


" Auhhhh," lirih Nayra memegang keningnya dan melihat darah di tangannya.


" Di mana kamu sembunyikan uang, itu, anak tidak tau diri," mamanya terus mencari-cari dan akhirnya menemukan kartu ATM.


Mamanya tersenyum miring kartu ATM itu pasti ada uangnya. Mamanya membalikkan tubuhnya dan berjongkok menghadap Nayra.


" Berikan kata sandinya?" tanya mamanya dengan tegas.


" Tidak akan, itu bukan punya Nayra. Itu punya Raihan," jawab Nayra ingin mengambilnya dari tangan mamanya.


Tapi mamanya langsung menggeser tangannya sehingga Nayra tidak bisa mengambilnya.


" Kamu sungguh pelit, berikan tidak. Mama butuh uang," mamanya berbicara menekan suaranya.


" Aku tidak tau apa sandinya?" sahut Nayra tidak akan memberikan uang suaminya ke pada mamanya. Mamanya melihat kalung yang melingkar di leher Nayra. Mamanya tersenyum dan dengan cepat menarik kalung itu.


" Mama," desis Nayra menahan sakit di lehernya. Karena tarikan itu.


" Berikan ma," Nayra berusaha mengambilnya.


" Sepertinya ini sangat mahal," ujar mamanya tersenyum miring dengan memegang kalung itu.


" Nayra mohon ma, jangan ambil kalung itu, kembalikan ma," ujar Nayra memohon agar mamanya tidak membawa kalungnya.


" Jika ini berharga, kamu bisa memilih berikan kata sandi pada ATM. Jika tidak ini saja yang kubawa.


" Ma, jangan ma, Nayra mohon, itu bukan punya Nayra. Itu punya Raihan, Nayra memang tidak punya uang, Nayra tidak bohong," ujar Nayra menangis memohon belah kasihan.


" Uang dia berarti uang kamu juga," bentak mamanya.


" Baiklah, ini saja yang aku jual," sahut mamanya mengancam.


" Baiklah," sahut Nayra mencegah.


Tidak ada yang bisa di lakukannya selain memberikan kata sandi ATM milik suaminya. Dari pada kehilangan kalung yang dulu di belikan Raihan kepadanya.


Dia tidak tau mana yang lebih tinggi nilainya. Tetapi kalung itu sangat berharga untuknya.


" Dari tadi kek," sahut mamanya tersenyum saat Nayra sudah menuliskan di ponselnya.


" Awas ya kalau kamu bohong," ujar mamanya.


" Aku tidak bohong," sahut Nayra kesal.


Iya dia memang tidak bohong. Karena dia tau mamanya seperti apa. Jika dia bohong bisa-bisa adik tirinya akan menjadi korban.


" Ambil ini," mamanya membuangkan kalung itu tepat kewajah Nayra. Mamanya langsung berdiri dan melangkahkan kakinya.


" Kenapa mama melakukan semua ini? kenapa mama tidak pernah bersikap baik sedikitpun kepadaku. Mama bahkan memperlakukan ku sebagai mesin ATM dari pada seorang putri?" tanya Amira dengan air mata yang terus jatuh membuat mamanya menghadap kepadanya


" Apa ada seorang ibu yang tega melakukan hal serendah itu," sahut Nayra menekan suaranya.


" Iya kamu benar aku hanya menjadikan mu mesin ATM. Masih untung seperti itu. Di bandingkan ibu-ibu di luar sana yang menjual anak tirinya," sahut mamanya membuat Nayra kaget mendengar kata anak tiri.


" Apa maksud mama apa Nayra......? tanya Nayra dengan debaran jantungnya yang tidak menentu.

__ADS_1


" Iya kamu bukan lahir dari rahimku jadi anggaplah semua uang dan yang lainnya yang kamu berikan sebagai ucapan terima kasihmu, karena aku sudah merawatmu," ujar mamanya mengungkap kebenaran bahwa Nayra bukan anak kandungnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2