
************
Raihan langsung memasuki kamarnya, membanting pintu kamarnya. Amarahnya memuncak ketika bertengkar dengan orang tuanya yang apa lagi jika tidak menyalahkannya.
Wajahnya sangat merah. Rahang kokohnya mengeras. Dia ingin meluapkan emosinya dengan mendinginkan hatinya dengan minuman yang selalu mendampinginya.
Tetapi dia sedang berada di rumah, dan minuman itu tidak ada di rumahnya. Raihan hanya duduk di pinggir ranjang, terus mengacak rambutnya dengan frustasi.
Bayangan Nayra kembali muncul di dalam pikirannya. Wanita yang tadinya tersenyum lebar berubah menjadi wajah yang senduh. Dengan matanya yang berkaca-kaca.
Emosi yang menjalar di tubuhnya, adalah akibat ulahnya sendiri. Menghancurkan perasaannya sendiri. Tidak bisa di bohongi jika Raihan juga sangat sakit dengan perbuatannya sendiri yang sengaja menyakiti Nayra.
Seharusnya dia puas dengan apa yang di lakukannya hari ini. Semua berjalan dengan lancar. Tetapi bukan kepuasan yang di dapatkannya. Tetapi malah rasa sakit hati yang tidak bisa di ucapkan.
" Kenapa mama melakukan semua ini," gumamnya merebahkan dirinya di ranjang menatap langit kamarnya.
Raihan selalu merasa jika mamanya mempermaikan dirinya. Dia selalu berpikir jika mamanya sengaja membuatnya kembali ke Indonesia untuk mengenang luka.
*************
Dengan tidak bersemangat Nayra menekan tombol sandi Apartemennya. Satu tangannya memegang hills nya, dia sangat lelah berjalan dengan hills yang terlalu tinggi.
Saat pintu itu terbuka Nayra, melangkah dengan pelan, Nayra langsung terduduk di lantai dengan lemas.
" Tidak aku tidak boleh seperti ini. Ini pasti cuma salah paham. Aku pasti berlebihan, Raihan tidak mungkin melakukan itu. Aku yakin dia akan datang kemari, dia akan menjelaskannya aku yakin itu," ujarnya tersenyum menyemangati dirinya sendiri.
" Kamu tidak boleh menangis Nayra. Raihan akan datang," Nayra mengusap dengan cepat air matanya, dan memukul-mukul pipinya. Dia masih berpikir positif terhadap Raihan yang barusan membuat goresan luka di hatinya.
Dia sangat meyakini. Jika Raihan pria yang di cintainya tidak mungkin melakukan itu. Dia hanya menunggu Raihan menemuinya dan meminta maaf padanya.
**********
Malam sudah kembali berubah menjadi cerah. Nayra terbangun dari tidurnya, ketika kepalanya merasa sangat berat. Ternyata sedari tadi malam Nayra tidak pindah dari ruang tamu.
Dia tertidur di lantai masih dengan gaunnya tadi malam. Dia masih menunggu Raihan datang kepadanya.
Nayra kesulitan membuka matanya yang terasa perih karena semalaman, Nayra menangis. Dia mencoba untuk duduk dan memijat kepalanya yang terasa berat.
" Auhhhh, kepala ku sakit sekali," keluhnya dengan suara seraknya.
Suaranya bahkan habis, karena menangis sengugukan.
__ADS_1
" Apa Raihan tidak datang. Atau dia datang tetapi aku tidak tau. Kenapa aku tidur, seharunya aku bangun, supaya aku mengetahui kehadirannya," gumamnya masih berharap jika Raihan datang kepadanya. Dia malah menyalahkan dirinya sendiri. Karena tertidur.
" Jam berapa sekarang, Aku harus kekantor, aku harus bertemu Raihan, aku harus menanyakan semuanya, dia harus menjelaskannya. Iya ini harus di jelaskan," ujarnya dengan semangat dan langsung bangkit meski tubuhnya sangat lemas.
Nayra mencoba berjalan dengan tenaganya yang lemas. Tetapi semangatnya yang 45. Dia hanya ingin buru-buru kekantor untuk mendapat penjelasan dari Raihan.
Padahal Nayra masih dalam masa cuti. Karena dalam setahun ini Nayra bekerja terus, tanpa ada cuti. Sebelumnya Raihan menyarankannya untuk cuti. Dan Nayra yang memang perlu istirahat menurutinya.
Masa cutinya masih ada 4 hari lagi. Tetapi dia akan kekantor agar dapat penjelasan dari Raihan. Dia ingin kejelasan dalam hubungannya dan Raihan yang mengarah kemana.
************
Kediaman Addrian Admaja Wijaya.
Keluarga kecil itu sekarang sedang memulai sarapan mereka. Meja makan tampak hening. Mungkin karena ada kekacauan tadi malam. Jadi mereka lebih memilih diam tanpa ada yang memulai pembahasan.
Raihan juga sarapan dengan santai. Dia sengaja tidak memulai pembicaraan. Yang dia pasti tau, jika bicara sedikit mamanya akan mengungkit apa yang terjadi tadi malam.
Apa lagi masalah foto-fotonya dengan Nayra. Dia masih tidak habis pikir jika selama ini mamanya mengawasinya. Sebenarnya menurutnya tidak pantas jika orangtuanya harus melihat dia dan Nayra berciuman.
" Mama nanti mama sibuk?" ujar Amira yang membuka obrolan, sedikit mencairkan suasana.
" Tidak sayang, memang kenapa?" tanya Raina.
" Kalau mama sibuk. Tidak perlu jemput Amira," ujar Amira membuat Raina mengkerutkan keningnya.
" Oh, iya kenapa, kamu pengen ya Oma yang jemput?" sahut Zira.
" Tidak perlu Oma," ujar Amira menggeleng.
" Aduh, biasanya kamu selalu rewel jika tidak ada yang menjemput. Jika mama dan Oma tidak menjemput, memang tidak apa-apa?" tanya Raina memastikan.
" Tidak apa-apa, asal Om Raka yang jemput. Kalau mama sibuk, nggak apa-apa Om Raka aja yang jemput," ujar Amira membuat Raina bingung. Addrian dan Zira saling melihat, mereka juga bingung melihat cucu mereka.
" Apa karena Om Raka, membelikanmu eskirim, kamu jadi tidak ingin di jemput oleh mama?" tebak Raina merasa curiga. Amira langsung menggeleng. Namun wajahnya terlihat berbohong.
" Amira dengarin mama, meski Om Raka memberimu eskirim. Tetapi bukan berarti mama akan mengijinkan kamu memaksa Om Raka membelikanmu eskrim," ujar Raina dengan penuh penegasan.
" Tidak ma, aku tidak memaksa Om Raka. Aku hanya suka, karena Om Raka mengajakku main," ujar Amira dengan kesal.
" Sayang, kamu juga tidak boleh, terlalu banyak permintaan, kamu harus tau Om Raka juga sibuk, jadi jangan merepotkannya," tegas Raina sekali lagi yang membuat wajah Amira menjadi cemberut.
__ADS_1
" Sudah-sudah, kalau masalah main. Nanti biar Om yang ajakin kamu," sahut Addrian mencoba membuat Amira kembali ceria.
" Sudahlah, Amira sudah tidak mau main, Amira mau ke sekolah aja," sahut Amira yang langsung turun dari kursi. Langsung ngambek dan tidak ingin mendengarkan siapa-siapa lagi.
" Amira," panggil Raina sedikit berteriak, dia menghembus napasnya perlahan. Memang dia harus sabar menghadapi mood Amira yang berlebihan.
" Ma, Raina antar Amira dulu ya," ujar Raina pamit. Zira dan Addrian mengangguk. Setelah kepergian Raina. Raihan merasa sarapannya sudah cukup. Dia mengambil tisu dan melap mulutnya lalu berdiri.
" Raihan kekantor dulu," ujar pamit Raihan.
" Selesaikan semua masalah kamu dengan kepala dingin," ujar Addrian dengan sinis. Raihan tidak menggubrisnya dan memilih pergi tidak ada gunanya menjawabnya. Yang ada dia akan kembali ribut dengan orang tuanya.
*************
Perusahaan Adbver E-Group.
Nayra turun dari taxi menggunakan, dress pink di atas lututnya. Dengan tas yang memanjang di letakkan di bahunya. Dia memang tidak memakai pakaian formal. Karena memang datang bukan untuk bekerja.
Nayra berhenti di depan Adverb melihat sejenak di sekitarnya. Adverb sudah kembali di sulap seperti biasa tempat bekerja. Bukan acara pesta seperti tadi malam.
Nayra menarik napasnya dan membuangnya perlahan, lalu dia melanjutkan langkahnya. Nayra keluar dari lift. Tangannya sangat dingin. Bagaimana tidak dia hanya mempunyai keberanian menemui Raihan.
" Hey, Nay bukannya kamu lagi cuti ya?" tanya Anita yang berpapasan dengannya.
" Iya, aku ada perlu di kantor," jawab Nayra.
" Memang ada apaan, kan bisa minta tolong sama aku," ujar Anita.
" Tidak perlu, ini penting," jawab Nayra, " ya sudah aku duluan ya," ujar Nayra pamit dan melangkahkan kakinya.
Belum sampai Nayra ke ruangan Raihan. Orang yang ingin di temuinya. Dari kejauhan Nayra sudah melihat pemandangan yang sangat menjijikkan.
Nayra melebarkan matanya, ketika melihat dari
dingding kaca tersebut. Nayra melihat Raihan Raihan memangku Jesika. Sekretaris yang beberapa hari menggantikannya karena dia cuti.
Jesika dan Raihan terlihat sangat mesra. Nayra jelas melihat bagaimana Jesika mengalungkan tangannya di leher Raihana dan kepalanya menunduk menghadap wajah Raihan.
Padahal tempat itu jelas. Bisa di lihat orang lain. Tetapi Raihan dengan tidak tau malunya melakukan hal itu di tempat umum. Hati Nayra kembali tergores. Dia mengepal ke-2 tangannya
Wajahnya sudah memerah. Banyak emosi yang tertahan di dalam dirinya. Dia tidak bisa diam saja. Sudah cukup tadi malam dengan apa yang di lihat dan didengarnya.
__ADS_1
...Bersambung..........