
Nayra benar-benar kaget mendengar pernyataan dari mamanya. Bahwa selama ini dia bukan anak kandung dari mamanya.
" Jadi selama ini Nayra bukan anak kandung mama?" tanya Nayra memastikan dengan air matanya yang membasahi pipinya.
" Iya kamu bukan anak kandungku. Aku menikahi papamu saat usiamu 5 tahun. Jadi kau tidak lahir dari rahimku. Jadi anggaplah ini balas Budi mu karena aku merawatmu," jelas mamanya membuat dada Nayra sesak. Tidak percaya wanita yang dianggapnya ibu selama ini adalah ibu tirinya. Memang perlakukan wanita itu melebihi perlakuan ibu tiri.
" Bukannya seharusnya kau bahagia. Karena mengetahui aku bukan ibu," sahut mamanya. Nayra tidak menjawab dia bahkan tidak bisa menerima kenyataan itu.
" Ahhhhhh,,, seharusnya aku tidak memberitahumu. Dengan begini aku akan kehilangan mesin ATM ku," ujar wanita itu lagi tanpa henti hanya membuat hati Nayra semakin sakit.
" Apa mama tidak pernah menyayangiku sedikitpun?" tanya Nayra penuh harapan, " walau aku bukan lahir dari rahim mama, apa mama tidak bisa memberiku sedikit kasih sayang menjadikanku benar-benar memiliki seorang ibu, atau bersandiwara lah paling tidak sekali saja untuk menyayangiku walau hanya pura-pura," ujar Nayra yang memang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu.
" Nayra, kamu jangan memanggilku mama lagi. Kamu sudah tau siapa aku. Jadi sudahlah jangan terlalu meratapinya. Aku tidak akan meminta uangmu lagi, aku menganggap kau sudah membalasnya," sahut mamanya yang melihat Nayra menangis, ada rasa sedikit rasa iba di dalam hatinya melihat terpuruknya wanita itu. Tapi di benteng dengan rasa kekesalannya.
" Aku pergi dulu, selamat untuk pernikahanmu, wajar sih kau tidak memberi tahuku," sahut wanita itu tidak mau berlama-lama, bisa-bisa hatinya luluh dengan Nayra yang membutuhkan pelukan dengan kehancuran hatinya.
" Kalau begitu katakan siapa ibu ku sebenarnya?" tanya Nayra menghentikan kembali langkahnya.
" Jangan tanya aku. Aku tidak pernah tau dan tidak pernah menanyakannya kepada papamu. Jadi tanyalah papamu. Jangan aku," sahut mamanya kembali melangkah.
" Mah, katakan sekali saja jika mama pernah benar-benar menyayangi Nayra walau Nayra bukan anak kandung mama. Katakan sekali saja dulu mama pernah khawatir sama Nayra kalau Nayra sakit, kalau Nayra lama pulang sekolah, mama akan mencari. Katakan ma, mama menyayangi Nayra sewaktu Nayra kecil sebelum bercerai sama papa, katakan ma," ujar Nayra uang berharap dengan kata-kata itu.
" Ma, Nayra tidak marah, Nayra akan tetap memanggil mama. Meski mama beberapa kali memukul Nayra, Nayra tidak akan marah. Karena memang mulut Nayra jahat. Tapi Nayra mohon katakan sekali saja kalau mama pernah menyayangi Nayra, katakan ma," desak Nayra.
Wanita itu semakin tidak tahan mendengarnya dan memilih pergi meninggalkan tempat itu.
" Mama," teriak Nayra yang mengesot memanggil mamanya.
Hatinya benar-benar hancur mengetahui wanita yang terus ribut bersamanya bukan ibu kandungnya. Mungkin untuk orang-orang akan merasa bahagia mengetahui hal itu.
Karena pasti tidak ada yang ingin mempunyai ibu seperti itu. Tetapi tidak untuk Nayra dia sangat hancur benar-benar hancur dengan kenyataan itu.
__ADS_1
Nayra meratapi dirinya menangis Sengugukan di lantai dengan memeluk tubuhnya berharap jika dia mimpi buruk.
**********
Mobil Raihan berhenti di parkiran gedung Apartemen. Setelah mematikan mesin mobilnya Raihan membuka pintu mobil, dengan membawa kantung plastik, berisi buah-buahan titipan istrinya.
Raihan langsung berjalan menuju Apartemennya. Keluar dari lift Raihan langsung menekan sandi Apartemen dan memasuki rumah.
" Nara," panggil Raihan ketika sampai di ruang tamu. Raihan menuju dapur meletakkan buah-buahan di atas meja makan.
" Apa dia sudah tidur," gumamnya yang tidak mendapat respon dari istrinya. Raihan langsung menuju kamar melihat istrinya.
Saat membuka pintu, betapa terkejutnya Raihan saat melihat seisi kamar berantakan, pakaian berserakan di mana-mana dan istrinya menangis memeluk tubuhnya di sudut ruangan dengan kepalanya yang terus menunduk.
" Nara," lirih Raihan langsung menghampiri Nayra. Raihan berlutut dan memegang ke 2 pipi istrinya agar wajah Nayra melihat ke arahnya.
" Sayang apa yang terjadi, kenapa kamu bisa seperti ini," ujar Raihan panik melihat wajah Nayra yang penuh air mata dan keningnya berdarah. Nayra langsung memeluk Raihan. Dia hanya butuh pelukan dari suaminya yang ditung-tunggunya dari tadi.
" Maafkan aku Raihan, maafkan aku?" ujar Nayra. Raihan melepas pelukan itu heran dengan ucapan Nayra. Raihan masih memegang ke-2 pipi Nayra.
" Ada apa Nara, katakan?" tanya Raihan.
" Tadi mama datang kemari, dia butuh uang untuk menebus rumah yang sudah di gadaikan, mama memasuki kamar kita, dan mencari uang dengan mengacak-acak semuanya. Mama menemukan kartu ATM mu. Mama memaksaku untuk memberi sandinya. Awalnya aku menolak tapi mama mengancam akan mengambil kalung ku, aku terpaksa memberikannya, maafkan aku. Uang itu pasti si habiskan mama, maafkan aku Raihan," ujar Nayra merasa bersalah karena tidak bisa menjaga harta suaminya.
" Heyyyy, sudahlah, jangan di pikirkan, yang penting kamu tidak apa-apa, kamu jauh lebih berarti di bandingkan uang itu," ujar Raihan menenagkan istrinya.
" Apa dia memukulmu?" tebak Raihan melihat pipi istrinya merah dan keningnya berdarah. Nayra mengangguk. Hati Raihan sangat sakit jika ada yang menyakiti istrinya. Raihan kembali meraih Nayra kembali kedalam pelukannya. Memeluk erat Nayra.
" Maafkan aku, seharusnya aku tidak meninggalkanmu," ujar Raihan penuh penyesalan. Baru saja meninggalkan istrinya beberapa jam tetapi istiranya sudah celaka.
" Kenapa dia Setega itu kepadamu Nara. Kenapa dia terus menyakitimu," lirih Raihana dengan perlakuan ibu mertuanya yang sangat keji.
__ADS_1
" Mama mengatakan aku bukan anak kandungnya," jawab Nayra. Sontak jawaban itu membuat Raihan kaget. Raihan langsung melepas pelukannya.
" Dia mengatakan itu?" tanya Raihan memastikan. Nayra mengangguk pelan.
" Lalu apa lagi yang di katakannya?" tanya Raihan.
" Mama bilang dia menikah dengan papa dan aku sudah ada. Aku bukan lahir dari rahimnya. Aku bukan anak mamaku Raihan. Raihan kita harus ketempat papa. Kita harus tanya sama papa itu benar atau tidak. Kalau benar aku harus tanya papa siapa ibu kandungku sebenarnya. Kita harus tanya papa," desak Nayra memegang lengan Raihan dengan tangisannya yang tidak berhenti.
" Ayo Raihan, kita harus tanya papa?" ajak Nayra lagi yang melihat Raihan hanya Bengong.
" Iya, kita akan tanya, nanti ya, kamu terluka, kita obati dulu, kamu tenangi diri dulu, baru kita pergi," ujar Raihan menenangkan Nayra.
" Tapi Raihan, kita harus tanya sekarang," Nayra terus mendesak. Raihan kembali menarinya kepelukannya. Dia tau Nayra begitu sangat hancur.
" Tenanglah Nara, kita pasti pergi, kamu harus tenang dulu," ujar Raihan lembut sambil mengusap-usap rambut belakang Nayra.
" Kenapa Nara, kamu harus menghadapi semua ini, mengetahui wanita yang selama ini terus memperlakukanmu tidak seperti manusia bukan ibu kandungmu. Kau sudah sehancur ini. Bagaimana jika kau tau jika ibu kandungmu justru ingin membunuhmu. Bahkan saudara mu sendiri juga melakukan itu. Kenapa harus Nara, kenapa harus dia yang mengalami semua ini," batin Raihan memeluk erat Nayra. Tanpa sadar air matanya juga jatuh menyaksikan penderitaan istrinya. Raihan terus mengembuskan napasnya. Mungkin jika dia berada di posisi itu tidak akan kuat.
Nayra sudah lumayan tenang mereka duduk di sisi ranjang saling berhadapan. Raihan mengobati luka di kening istrinya. Meski tenang air mata Nayra tidak henti-hentinya menangis.
" Raihan, aku sudah tidak apa-apa, ayo kita pergi," lirih Nayra yang ingin tau secepatnya. Raihan tersenyum memegang pipi Nayra.
" Iya kita akan pergi, pasti pergi. Nara kondisi kamu sedang tidak baik. Kamu harus istirahat," ujar Raihan yang tidak tega Nayra akan mendapat serangan selanjutnya.
" Tapi......" Raihan kembali memeluk Nayra. Tubuh Nayra masih bergetar hebat.
" Tenanglah Nara, kamu harus tenang dulu, baru kita pergi," ujar Raihan.
" Mungkin memang ini saatnya. Kamu harus tau semuanya. Siap tidak siap kamu harus tau kebenarannya. Aku tidak ingin melihatmu menderita lagi," batin Raihan.
🌹🌹🌹🌹🌹Bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1