Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 336


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Tidak terasa sudah beberapa bulan setelah hilangnya Raihan. dan berarti Raihan tidak ada di sisi Nayra selama itu. Nayra berdiri di pinggir pantai dengan Dress biru dengan perutnya buntingnya yang seperti balon.


Usia kandungannya sudah sangat tua dan mungkin Nayra akan menunggu masa kelahirannya. Banyak waktu yang dihabiskan Nayra tanpa suaminya. Menghabiskan masa kehamilannya tanpa Raihan.


Tetapi tetap orang-orang di sekelilingnya terus menjaganya. Selalu berusaha menggantikan Raihan yang selalu memperhatikannya. Meski seribu orang yang menggantikan Raihan. Tidak akan mungkin tergantikan posisi pria yang sangat mencintainya. Cinta pertamanya dan sampai detik ini dia sangat mencintainya.


Tangan Nayra mengusap-usap perutnya dengan matanya yang bergenang. Pasti dia kembali merindukan suaminya.


" Raihan, aku sudah banyak mengalah. Aku menjaga anak kita sendirian. Sudah berbulan-bulan dan aku tidak mau jika harus melahirkan tanpa kamu. Jadi aku mohon mengalah untuk kali ini saja," ujar Nayra di dalam hatinya.


Meski Raihan di nyatakan tiada. Tetapi Nayra masih tetap berharap jika suaminya akan kembali. Karena sebelum melihat mayat sang suami. Dia tidak akan percaya. Jika suaminya sudah tiada. Jadi dia masih mengharapkan suaminya akan kembali.


" Aku dan anak kita menunggu mu Raihan. Dia ingin lahir ke dunia ini. Jika ada kamu. Jadi aku mohon kembalilah. Temani aku dalam kelahiran anak kita. Aku tidak mau melahirkan anak kita tanpa kamu. Jadi datanglah kepadaku," batin Nayra.


" Aku mencintaimu, sangat mencintaimu, sampai kapanpun cintaku tidak akan pernah berubah," ujar Nayra.


" Nayra," panggil seorang wanita.


Membuat Nayra dengan cepat mengusap air matanya. Nayra membalikkan tubuhnya yang ternyata, Celine, Luci, Dara dan Andini. Nayra tersenyum tipis. Ke-4 wanita cantik itu langsung menghampiri Nayra.


" Bagaimana apa kamu sudah menyuruh kak Raihan untuk pulang?" tanya Andini yang sudah berdiri di samping Nayra.


" Hmmm, aku sudah menyuruhnya," jawab Nayra mengangguk.


" Hmmm, kalau begitu pasti dia akan pulang. Karena sebentar lagi bayi ini akan lahir," ujar Luci mengusap perut Nayra. Nayra tersenyum tipis mendengarnya.


" Kalau nanti Raihan pulang. Kita akan menghukumnya. Karena berani-beraninya. Dia membiarkan kita semua mengurus bayi ini. Tapi dia sama sekali tidak mengerjakan apa-apa. Apa dia pikir itu hal yang gampang apa," sahut Celine lagi dengan wajahnya yang mengkerut.


" Dia itu kan temannya Sony. Pasti terpengaruh sama Sony. Suka meninggalkan wanita cantik yang sedang mengandung dan tidak bertanggung jawab," sahut Dara lagi.


Nayra mendengus tersenyum kecil dengan ucapan teman-teman masa kecil suaminya itu. Ya memang itu yang membuatnya bertahan selama ini.


Karena mereka selalu bersama Nayra dan juga sama seperti Nayra. Yang akan percaya jika Raihan akan pulang dan bercandaan kecil seperti itu akan membuat Nayra tersenyum.


" Iya kalian benar dia akan pulang. Dan kalian boleh melakukan apapun kepadanya nanti," sahut Nayra.


" Memang kita akan memberinya hukuman dan awas saja. Jika kamu sampai membelanya," sahut Andini.


" Kalau kamu sampai membelanya. Kita akan musuhan," sambung Dara lagi.


" Aku tidak akan membelanya. Aku akan menyerahkannya kepada kalian," ujar Nayra.


" Ya sudah kalau begitu. Sekarang kita pulang. Ini sudah sangat sore. Udaranya sangat dingin, lagian kita harus pergi," ujar Andini.


" Pergi! pergi kemana?" tanya Nayra heran dengan dahinya yang mengkerut. Ke empat wanita itu saling melihat dengan senyuman sepertinya sedang merencanakan sesuatu.

__ADS_1


" Sudah nanti kamu juga tau," sahut Luci membuat Nayra menjadi tambah penasaran.


" Tau apa. Memang kita akan kemana?" tanya Nayra masih kebingungan.


" Sudah-sudah jangan di pikirkan, ayo buruan kita pergi," sahut Selina. Nayra semakin bingung.


" Ya sudah," jawab Nayra. Andini dan Luci merangkul Nayra dan langsung berbalik badan membawa wanita itu pulang.


Sementara Dara dan Celine masih berhenti di tempat.


" Memang semuanya sudah selesai?" tanya Dara pada Celina.


" Sudah aman, Carey sudah mengurusnya. Kamu tenang aja rencana kita akan berhasil dan Nayra akan bahagia dengan Supraise yang kita berikan," ucap Celine.


" Okelah kalau begitu," sahut Dara. Mereka pun menyusul Nayra, Luci dan Andini.


*********


Di sisi lain, Carey sedang berhias di depan cermin. Kali ini dia tampak anggun dengan gamis putih dengan motif-motif yang indah sehingga Carey terlihat cantik. Dengan balutan pasmina yang iya gunakan membuatnya menjadi tambah anggun.


Sementara Dion sedang memakai sepatunya duduk di pinggir ranjang dan beberapa kali menoleh kebelakang melihat cantiknya istri. Dari persiapan mereka sepertinya mereka ingin kepesta.


" Memang semuanya sudah beres?" tanya Dion menengok kebelakang.


" Hmmm... semuanya sudah beres. Sebelum aku pulang. Aku sudah pastikan. Semua dekor, makanan dan pastinya kue ulangtahunnya sudah beres. Jadi Nayra akan bahagia dengan hal ini," ucap Carey yang tampaknya sudah menyiapkan sesuatu untuk perayaan ulang tahun adiknya.


" Kamu bersemangat sekali," ucap Dion yang memakai jasnya tepat di belakang Carey.


" Ya. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk Nayra. Agar dia tetap sadar. Jika dia tidak pernah sendirian. Dan banyak orang-orang yang sayang kepadanya," ujar Carey.


" Ya. Dia memang akan bahagia. Karena kakaknya sangat repot. Dari jauh-jauh hari mempersiapkan ulang tahun. Untuk Nayra dan pasti Nayra akan bahagia di hari ulang tahunnya," sahut Dion dengan tersenyum tipis


" Tetapi mungkin moment kali ini akan membuatnya sedih. Karena tidak ada Raihan di sampingnya," ujar Carey jadi tiba-tiba sedih jika mengingat status sang adik.


Dion yang sudah selesai memakai jasnya mendekati Carey. Tangannya memegang ke-2 pundak Carey dan menatap Carey dari cermin.


" Kamu tidak boleh bicara seperti itu. Dia akan bahagia. Walau tidak ada Raihan di sampingnya. Bukannya kamu mengatakan jika dia wanita yang kuat dan Nayra juga sadar. Bahwa banyak orang yang menyayanginya. Jadi pasti dia akan bahagia di hari ulang tahunnya," ucap Dion dengan yakin.


" Iya semoga saja dia tidak akan sedih. Karena aku tidak mau dia sedih," ujar Carey yang penuh harapan. Walau dia tau Nayra akan tetap sedih walau di Haria bahagianya.


" Hmmm pasti, ya sudah sekarang ayo Kesana. Yang lain pasti sudah menunggu," ujar Dion.


Carey membalikkan badannya dan menghadap Dion seperti ingin mengatakan sesuatu. Sampai menatap Dion dengan dalam.


" Apa penampilanku sudah bagus?" tanya Carey. Ingin meminta pendapat suaminya tentang penampilannya. Dion mengangguk.


" Hanya bagus saja," sahut Carey yang sepertinya mengharapkan kata lain dari Dion.

__ADS_1


" Kamu cantik malam ini. Mungkin di pesta Supraise ulang tahun Nayra. Kamu yang akan menjadi pusat perhatian. Karena kamu sangat cantik," ujar Dion memuji Carey.


Pujian itu membuat Carey Melayang-layang dan ingin melompat-lompat atau terjun bebas. Karena pujian suaminya. Yang membuat hatinya meleleh.


" Benarkah seperti itu?" tanya Carey tidak percaya.


" Iya apa yang aku katakan adalah benar. Kamu sangat cantik," jawab Dion mengusap pipi Carey dan berlanjut mencium lembut kening Carey.


" Ayo kita pergi," ucap Dion tersenyum pada Carey setelah melepas kecupan itu.


" Ayo!" jawab Carey mengangguk. Dan menggandeng tangan Dion. Keluar dari kamar mereka.


*********


" Amira buruan. Kita sudah hampir telat," teriak Zira dari ruang tamu yang menunggu cucunya lama sekali berhias.


Karena Amira menginap di rumahnya. Jadi dia dan Amira akan berangkat ke acara Supraise ulangtahun menantunya


berduaan. Raka dan Raina pergi dari rumah mereka. Sementara Addrian sehabis dari kantor langsung menyusul ke tempat acara.


" Amira cepat dong sayang!" panggil Zira lagi yang terus melihat arloji di tangannya.


" Iya eyang sabar," ujar Amira yang sudah menampilkan dirinya. Menuruni anak tangga dengan santainya dengan dress putih yang di pakainya dan rambutnya yang di beri gelombang dan mahkota yang menambah hiasannya menjadikannya. Sebagai seorang princess.


" Oma makin bawel," protes Amira. Zira geleng-geleng dengan cucunya itu.


" Sudah jangan banyak protes. Ayo buruan," ujar Zira yang sudah berdiri dan menjulurkan tangannya.


" Iya Oma," jawab Amira menggenggam tangan Omanya.


" Apa Amira cantik?" tanya Amira melihat sang Oma. Amira memang sangat centil. Makanya bisa menanyakan hal itu.


" Hmmm, kamu sangat cantik," jawab Zira.


" Makasih Oma," sahut Amira kesenangan. Zira hanya geleng-geleng dengan cucunya itu.


Cucu dan nenek itu saling bergandengan tangan menuju depan penyu. Zira membuka pintu. Tetapi betapa terkejutnya Zira saat membuka pintu dan menampilkan seseorang.


Sampai matanya mau keluar menatap orang tersebut. Mulutnya menganga lebar. Dengan debaran jantungnya yang berdetak tidak beraturan. Amira juga mengangkat kepalanya dan melihat sosok yang di kenalnya.


" Om Raihan," ucap Amira. Yang pasti masih mengingat Raihan. Sementara Zira masih diam dengan dada yang mulai sesak dan mata yang bergenang.


" Mah," lirih Raihan dengan suara napas beratnya.


Mendengar suara itu. Air mata Zira langsung jatuh. Dia tidak tau apa mimpi atau tidak. Tetapi Amira juga melihatnya dan bahkan memanggil nama omnya itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2