Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 45


__ADS_3

Nayra terus duduk, mengibas-ngibaskan tangannya yang perih. Karena terkena ranting kayu.


" Nara," desis Raihan yang sudah berdiri di belakang Nayra. Nayra yang mendengar seseorang memanggil namanya. Langsung menoleh kebelakang. Nayra mengangkat kepalanya dan melihat Pria tersebut.


" Kau," sahut Nayra menekan suaranya. Dia merasa terluka saat melihat Raihan.


" Nara," Raihan mendekatinya, Nayra langsung mengangkat tangannya.


" Jangan mendekatiku," sahut Nayra nada sedikit keras. Raihan melihat punggung tangan Nayra yang terluka. Darah dari punggung tangan itu masih berdarah.


" Ayo kita kembali," ujar Raihan berjongkok. Nayra kembali menghindar.


" Aku bilang jangan mendekatiku," bentak Nayra.


" Ada apa denganmu, kau sedang terluka," sahut Raihan berteriak di depan Nayra.


" Kau yang ada apa. Aku terluka dan tidak itu bukan urusanmu, pergi dari sini ngapain kamu di sini?" teriak Nayra mendorong Raihan, sampai Raihan terjatuh.


Raihan merapatkan giginya. Geram dengan Nayra yang keras kepala. Raihan langsung berdiri dan dengan kasar menarik Nayra berdiri.


" Aku bilang ayo," tegas Raihan.


" Lepaskan aku," Nayra yang sudah berdiri melepaskan tangannya sendiri dari Raihan.


" Kau tau tempat ini berbahaya. Jika kau masih di sini kau bisa mati," bentak Raihan. Mendengarnya Nayra mendengus.


" Lalu apa urusannya denganmu. Jika kau tau tempat ini berbahaya, kau tidak akan menyuruhku datang kesini," teriak Nayra dengan bibir bagian bawahnya yang terus bergetar.


Nayra memang menahan rasa dingin di tubuhnya. Dan perih di tangannya, belom lagi Raihan yang membuatnya marah.


" Aku tidak ingin berdebat denganmu, ayo kita pergi, sebentar lagi akan ada longsor susulan," ujar Raihan menenangkan dirinya.


Menurutnya melawani Nayra bertengkar hanya akan membuang waktu saja. Dia juga tidak tega melihat Nayra yang mengigil.


Nayra meredakan napasnya.


" Aku bisa pulang sendiri," sahut Nayra membalikkan tubuhnya dan melangkahkan kakinya.


" Pulanglah bersamaku. Kamu akan kesasar jalan yang kamu jalani membawamu kerawan bencana. Kau bisa mati tertimpa longsor," ujar Raihan menghentikan langkah Nayra.


" Bukankah lebih baik mati, dari pada terus mendapat penghinaan dari mu," sahut Nayra dengan matanya yang berkaca-kaca. Tanpa membalikkan tubuhnya.


Nayra tetap melanjutkan langkahnya. Raihan membuang napasnya kasar. Berjalan mendekati Nayra. Menarik tangan Nayra. Nayra kaget, yang tiba-tiba membalikkan tubuhnya. Dan tubuh itu sudah berada di dalam pelukan Raihan.


Raihan memeluknya erat. Merasakan getaran tubuh Nayra. Mata Nayra terbuka lebar. Saat dirinya di peluk oleh Raihan. Ke-2 tangannya masih belum menyentuh Raihan. Dia masih shock dengan apa yang di terimanya.


" Aku bilang kembalilah bersamaku," ujar Raihan dengan suara seraknya.


Jantung Nayra berdetak tidak beraturan. Belum lagi deru napasnya yang naik turun.

__ADS_1


" Jangan membuat ku cemas, aku sangat mengkhawatirkanmu," lagi dan lagi kata-kata Raihan membuat Nayra semakin tidak tenang. Ada rasa tidak percaya.


Nayra memejamkan matanya dan dan membalas pelukan Raihan yang memang sangat di butuhkannya. Dia tidak bisa menolak atau memberontak pelukan dari mantan kekasihnya.


Setelah sibuk dengan perasaan masing-masing dalam pelukan itu. Raihan melepas pelukannya dari Nayra. Dia melihat wajah Nayra yang menunduk.


" Kita pulang!" ujar Raihan. Nayra mengangguk.


Tarrrrr suara petir tiba-tiba menyambar kuat. Nayra tersentak kaget. Raihan dan Nayra sama-sama melihat ke arah langit. Saat itu juga hujan kembali turun.


Raihan langsung menarik tangan Nayra dan meninggalkan lokasi tersebut.


*********


Raihan dan Nayra berteduh di depan gubuk kecil. Hujan terus mengalir deras. Nayra terus memeluk tubuhnya yang semakin bergetar.


Sejak tadi dia sudah kedinginan, bajunya juga sudah basah kuyup di tambah lagi sekarang makin hujan. Menggil di tubuhnya semakin berasa.


" Kenapa harus hujan lagi," ujar Raihan yang melihat ke langit. Raihan menoleh kesamping. Dan melihat Nayra yang kedinginan. Bibirnya yang bergetar juga memucat.


Raihan menghela napasnya. Dia terus melihat ke arah Nayra. Nayra yang menyadari sepertinya Raihan melihatnya langsung menoleh ke arah Raihan.


Nayra melihat ke pakaian yang di pakainya. Karena kemejanya yang putih dan sudah basah kuyup membuat pakaian dalamnya terlihat. Dengan spontan Nayra meletakkan ke-2 tangannya didadanya menutup bagian berharganya.


" Apa yang kamu lihat?" tanya Nayra panik, " sana jauhkan pandanganmu, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan," lanjutnya yang terus menutupi tubuhnya. Melihat mata Raihan yang jelalatan.


" Hey matamu mau ku congkel," ujar Nayra lagi dengan keras.


Raihan kembali menghela napasnya tidak menggubris perkataan Nayra. Raihan membuka lengan kemejanya dan satu persatu membuka kancing kemejanya. Nayra yang melihatnya semakin panik.


" Apa lagi ini, apa lagi yang akan di lakukannya," batin Nayra yang berpikir sudah sejauh planet mars.


" Kau mau ngapain?" tanya Nayra dengan gugup. Raihan selesai menyelesaikan membuka kancing kemeja putih itu dan membuka pakaiannya yang hanya tertinggal tubuhnya yang kotak-kotak.


Nayra langsung takjub melihat tubuh kekar Raihan. Tetapi dengan cepat Nayra memalingkan wajahnya kesamping dan sedikit menunduk. Wajah pucat itu sudah berubah menjadi memerah.


Raihan mengendus melihat Nayra yang salah tingkah. Raihan maju satu langkah, Nayra yang melihat Raihan maju, spontan mundur.


" Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Nayra semakin gugup.


" Ganti pakaianmu," ujar Raihan memberikan kemejanya pada Nayra.


" Nayra langsung melihat pakaian yang masih di tangan Raihan. Lalu melihat ke arah Raihan yang kembali menyuruh dengan memberi isyarat dengan mata dan kepalanya.


" Pakailah, pakainamu sudah basah, kau bisa sakit," ujar Raihan dengan lembut.


" Aku harus ganti di mana?" tanya Nayra yang terus melihat ke arah Raihan. Sangat terlihat Nayra yang berusaha tenang.


Raihan melihat di sekitarnya. Raihan memengang pintu gubuk tersebut dan pintu gubuk itu sama sekali tidak tertutup. Raihan kembali menoleh ke arah Nayra yang masih gugup.

__ADS_1


" Masuk lah kedalam?" ujar Raihan.


Nayra menelan salavinanya di sangat ragu dengan perkataan Raihan.


" Gantilah di dalam," ujar Raihan lagi, kembali memberi kemejanya pada Nayra. Dengan ragu Nayra meraih kemeja tersebut dari tangan Raihan, dengan langkah yang pelan Nayra memasuki gubuk tersebut.


Raihan kembali menutup pintu gubuk tersebut, membiarkan Nayra mengganti pakaiannya yang memang sudah sangat lepek.


Raihan menunggu di luar dengan menggosok-gosokkan ke-5 jarinya mengurangi rasa dinginnya.


Sebentar-sebentar Raihan menoleh kebelakang ya, menunggu Nayra yang tidak juga tidak keluar dari dalam gubuk.


" Auhhhh," ujar Nayra yang meringgis tiba-tiba. Raihan mendengarnya tersentak kaget. Perasaannya tiba-tiba khawatir.


" Nara," spontan Raihan langsung membuka pintu. Tangannya masih berada di kenopi pintu. Sementara matanya mengarah pada Nayra yang berdiri.


Raihan terdiam melihat Nayra yang sudah mengganti pakaiannya. Tangan kemeja yang di pakainya kebesaran. Sementara ukuran panjangnya hanya sampai pahanya saja.


Raihan menelan salavinanya, saat melihat dari ujung kaki Nayra sampai ke rambutnya dengan menelusuri secara pelan.


Paha mulus Nayra yang terexpos. Dengan memakai kemeja itu semakin menampilkan tubuh Nayra yang membuat Raihan tidak habis pikir dan bahkan menimbulkan gairahnya sebagai laki-laki normal.


Nayra memegang erat bagian bawah bajunya. Dia sangat gugup saat melihat mata Raihan yang tidak berkedip memandanginya. Tatapan itu bahkan tatapan yang sangat berbeda.


Nayra menunduk sedikit, karena tidak tahan melihat sorot mata yang tajam itu. Tubuh bergetar Nayra membuat Raihan tidak bisa mengontrol dirinya.


Dia sungguh ingin memiliki Nayra detik itu juga. Nayra benar-benar menggoda imamnya dan meruntuhkan pertahanan Raihan. Apa lagi dia sudah lama tidak bermain-main dengan wanita. Zira memang pasti mengawasinya.


" Kau tidak apa-apa?" tanya Raihan dengan suara beratnya.


" Aku tidak apa-apa," jawab Nayra dengan nada bergetar.


" Apa ada yang salah denganku, sampai kamu terus melihatku," ujar Nayra yang tidak nyaman dengan tatapan Raihan.


Raihan tersenyum, dan baru menyadari jika sedari tadi dia lupa untuk berkedip, karena terlalu sibuk dengan indahnya tubuh Nayra.


" Ayo kembali keluar," ajak Raihan membalikkan tubuhnya.


" Raihan!" panggil Nayra. Raihan kembali menoleh ke arah Raihan.


" Ada apa?" tanya Raihan.


" Di luar sangat dingin, aku tidak tahan, aku ingin di sini saja," ujar Nayra meski mengganti pakaiannya tetapi tetap saja tubuhnya menggigil.


" Baiklah," jawab Raihan.


" Kau juga, sebaiknya di sini. Kau tidak memakai pakaian, pasti sangat dingin," ujar Nayra lagi yang cemas dengan Raihan.


Raihan tersenyum dan menganggukkan matanya. Nayra juga membalas dengan senyum tipisnya.

__ADS_1


...Bersambung..........


__ADS_2