Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 299


__ADS_3

Vira yang harus menerima nasipnya yang hamil tanpa suami. Niat menjebak Sony akhirnya dia yang terjebak sendiri dan tidak menyangka apa yang di lakukannya membuatnya hamil.


Vira menangis di kamarnya dengan kehamilannya. Vira duduk di lantai dengan bersandar ke dinding ranjang. Terus mengusap perutnya yang masih ramping. Vira terus menangis Sengugukan dengan keadaannya.


" Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin meminta pertanggung jawabannya. Itu tidak mungkin. Sony sudah mengatakan sendiri. Jika dia benar-benar tidak akan bertanggung jawab. Lalu bagaimana ini," gumamnya yang terus menangis.


2 lembar foto hasil USG janin di dalam kandungannya berada di lantai. Dia tidak menyangka nasibnya akan seburuk ini. Karena tidak mungkin meminta pertanggung jawaban dari Sony.


Tidak tau bagaimana lagi nasib kandungannya. Tiba-tiba Vira kepikiran mamanya. Dia menyeka air matanya.


" Tidak! mama tidak boleh tau hal ini. Jika mama tau. Dia akan manfaatkan semua ini. Aku tidak mau mama akan memanfaatkan hal ini. Seperti rencana awal mama yang menyuruh ku sengaja melakukannya. Tidak akan. Aku tidak akan memberi tahu mama semua ini. Aku tidak mau ini terjadi. Aku tidak akan memberi tahu mama soal ini. Tidak akan. Jangan sampai masalah ini terjadi. Masalah ini tidak boleh terjadi," ucap Vira yang ketakutan. Vira memang tidak akan membiarkan mamanya mengetahui masalahnya. Karena takut dia akan semakin di manfaatkan.


Mengingat sebelumnya mamanya telah menyuruhnya mendekati Sony dengan sengaja dan bahkan mamanya menyuruhnya untuk tidur dengan Sony agar bisa menjebak Sony.


Kali ini dia tidak akan mengijinkan rencana sang mama benar-benar akan berjalan dengan lancar. Dia bahkan tidak tau apa masalah mamanya kenapa bisa memiliki dendam seperti itu sampai harus mengorbankan dirinya


Vira sudah mulai lelah dengan permainan sang mama yang membuat hidupnya berantakan. Bahkan rela mencelakai papa angkatnya sendiri demi tujuan sang mama.


tok-tok-tok-tok.


Ketukan pintu membuat Vira terkejut. Vira buru-buru mengusap air matanya. Vira juga langsung menyelipkan foto hasil USG itu ke kolong tempat tidurnya.


" Masuk!" ucap Vira yang merasa sudah tidak seperti menangis lagi.


" Kak Ramah," sahut Vira yang melihat kakaknya.


" Kamu sedang apa. Kenapa tidak keluar dari tadi?" tanya Ramah yang memang tidak melihat adiknya keluar sejak tadi pagi. Dia penasaran dengan kondisi sang adik dan membuatnya akhirnya untuk mengecek kondisi adiknya.


" Ohhhh, itu. Vira hanya kurang enak badan kak," jawab Vira bohong.

__ADS_1


" Oh begitu," ujar Ramah yang spontan memegang kening dengan punggung tangannya. Dan memang benar Vira sedang panas.


" Ya sudah, kamu istirahat saja, jangan banyak pikiran. Biar kamu cepat sembuh," ucap Ramah memberi saran pada adek nya.


" Iya kak," jawab Vira.


" Apa mama melakukan sesuatu kepada kamu?" tanya Ramah yang merasa curiga. Jika adiknya kenapa-napa. Tetapi Vira langsung menanggapinya dengan senyuman.


" Tidak kok, Kak," jawab Vira bohong.


" Benar?" tanya ramah tidak percaya.


" Iya kak," jawab Vira. Lalu bagaiman dengan kakak. Apa yang di katakan mama sudah kakak laksanakan?" tanya Vira. Ramah menggeleng.


" Sampai sekarang. Kakak belum menemukan di mana Della. Kakak juga tidak tau di mana dia. Sudah berbulan-bulan. Tetapi jejaknya sama sekali tidak bisa di temukan," ucap ramah yang benar-benar pasrah dengan perintah mamanya.


Dia sudah berusaha untuk menemukan Della. Tetapi sudah mencari kemana-mana dan sang wanita tidak kunjung tau di mana. Dia bahkan pasrah jika sang mama pada akhirnya akan kembali memarahinya, memakinya dengan susuka hatinya.


" Kak," ujar Vira memegang tangan kakaknya.


" Ada apa?" tanya Raihan.


" Bagaimana jika kita menolak apa yang di katakan mama," ucap Vira melihat kakaknya dengan matanya yang benar-benar lelah. Jika harus melakukan perintah sang mama lagi.


" Vira. Itu tidak mungkin," sahut Ramah yang mengusap pipi adiknya.


" Tapi aku capek kak," batin Vira di dalam hatinya.


" Kak, kita tidak tau apa yang kita lakukan ini untuk apa. Dendam mama. Tetapi kita tidak tau. Dendam yang seperti apa. Keinginan mama. Kita selalu menurutinya. Mengoper kita ke sana kemari. Melakukan dengan semaunya, berbuat dengan semaunya dan ini itu yang kita lakukan. Kita tidak tau kak apa artinya. Dendam yang seperti apa kita juga tidak tau. Tujuannya untuk apa. Aku tidak tau kak," ucap Vira yang sudah berderai air mata.

__ADS_1


Ramah langsung menghapus air mata sang adik. Dia mengetahui sepertinya adiknya sedang mendapatkan masalah makanya sampai bisa berbicara seperti itu.


" Kakak tau kamu ingin hidup bebas. Kamu ingin melakukan segala sesuatu tanpa beban. Tapi ini sudah jalan kita. Semuanya sudah di atur. Kita harus mengikuti karena kita sudah terlanjur melangkah," ucap Ramah seakan membuat adiknya mengerti.


" Sudah ya jangan pikirkan lagi. Kamu jangan mencoba-coba untuk melawan mama. Kakak tidak mau kalah kamu sampai kenapa-kenapa. Bersabarlah Vira. Kakak janji kita akan secepatnya keluar dari masalah ini. Kakak janji kita akan menyelesaikannya secepatnya," ujar ramah seakan membuat pengertian kepada adiknya.


" Sudah ya, sebaiknya kamu istirahat. Kamu jangan banyak pikiran. Kamu harus istirahat agar cepat sembuh," ujar Ramah.


" Iya kak," sahut Vira.


" Kakak kembali kekamar dulu. Kalau kamu butuh sesuatu bilang sama kakak," ujar ramah lagi.


" Iya kak, pasti. Nanti kalau Vira butuh sesuatu nanti Vira akan panggil kakak," jawab Vira.


" Baiklah kalau begitu. Kakak keluar dulu, istirahatlah," ujar ramah mengusap pipi Vira. Vira mengangguk dan ramah pun keluar dari kamar adiknya.


Setelah kepergian kakaknya Vira kembali meneteskan air mata. Seakan kembali lelah dengan ke adaannya.


" Aku capek kak," batin Vira lagi yang kembali mengeluh dengan keadaannya.


********


Ramah keluar dari kamar Vira dan langsung memasuki kamarnya. Ramah duduk di pinggir ranjang dengan wajahnya yang lesu.


" Kakak juga lelah Vira dengan semuanya. Tetapi kita tidak punya pilihan lain. Kita harus melakukan hal ini,"


" Kaka juga ingin bebas. Ingin hidup damai tanpa terseret dalam dendam mama. Tetapi itu sepertinya tidak mungkin Vira. Itu sangat mustahil Vira,"


Ramah hanya bisa bergerutu di dalam hatinya. Hatinya yang benar-benar lelah. Hatinya yang tidak bisa damai layaknya manusia biasa. Melihat adiknya yang seperti itu juga membuatnya kasihan dan merasa bersalah kepada sang adik.

__ADS_1


Tetapi semua memang sudah terlanjur. Semuanya sudah. Dan mungkin takdir ke-2 nya memang seperti itu.


Bersambung


__ADS_2