
" Lalu sekarang bagaimana. Apa yang harus kita lakukan agar bisa menyelamatkan Sony, Luci, Celine dan Andini," sahut Kayla bingung.
Dia juga semakin khawatir dengan masalah yang memang harus di tanggapi dengan serius. Karena nyawa anak-anak dari temannya sedang dalam bahaya.
" Sebaiknya kita lapor Polisi agar masalah ini cepat selesai," sahut Roni yang langsung mengambil keputusan.
" Tidak ada gunanya," sahut Zira yang kembali memperlihat kan ponselnya dan membuat semua melihat kembali ke arahnya dengan wajah mereka yang sangat serius.
" Ada apa lagi ma?" tanya Raihan. Zira langsung memberikan ponselnya dan semua kembali melihat secara bergantian.
..." Jika kalian berani melapor pada Polisi. Anak-anak ini akan mati sebelum Polisi datang,"...
Ternyata Sisil kembali mengirim pesan berupa ancaman. Sisil memang tidak akan main-main dengan apa yang di katakannya. Karena dia memang akan menghancurkan orang-orang yang dulu sudah memasukkannya ke dalam penjara.
" Dasar wanita gila," desis Saski benar-benar geram dengan Sisil dan rasanya ingin langsung menghabisi Sisil.
" Aku sudah menduga ini akan seperti itu," sahut Addrian.
" Lalu apa maunya," sahut Kayla.
" Raihan. Raina bagaiman?" tanya Zira tiba-tiba mengingat anak perempuannya.
" Mama jangan khawatir. Raka sedang menuju kemari dan pasti mereka akan baik-baik saja," jawab Raihan yang memang baru mendapat kabar dari Raka.
" Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Saski lagi.
" Untuk masalah ini kita harus tenang. Kita harus bicarakan dengan kepala dingin. Agar anak-anak kita bisa selamat tanpa kekurangan apapun," sahut Addrian mencoba untuk memberi ketenangan.
" Bagaimana aku bisa tenang anak perempuanku nyawanya sedang terancam dan aku tidak mungkin bisa tenang," sahut Aca.
" Aca aku mengerti apa yang kamu rasakan. Zira, Kayla kalian bawa Aca untuk istirahat dulu. Dan kamu Nara, Carey, Dara. Kalian juga naik ke atas. Kalian juga tenangkan diri dulu Biar Om dan yang para Pria akan membicarakan masalah ini. Kalian jangan mencemaskan apapun. Percayakan kepada kami," ujar Addrian mengambil keputusan.
" Benar kata Addrian. Kalian ke atas dulu. Istirahat. Masalah ini serahkan kepada kami," sahut Ilham menambahi.
__ADS_1
" Ya sudah ayo Aca kamu, tenagin diri dulu!" ajak Zira. Aca melihat suaminya dan suaminya mengangguk mengiyakan. Kayla dan Zira pun membawa Aca.
" Sayang kamu kekamar ya," ujar Raihan pada istrinya. Nayra mengangguk dan kemudian pergi kekamar bersama Dara dan Carey. Sebelum Carey pergi. Dia juga pamit dengan suaminya dan suaminya mengangguk.
*********
" Apa yang mama lakukan kepada mereka," teriak Vira pada Sisil.
Sisil telah mendapati mamanya mengirim foto pada seseorang yang dia tidak tau siapa. Saat melihat layar ponsel itu. Vira terkejut dengan mamanya yang ternyata mengirim foto Sony dan 3 perempuan yang tidak sadarkan diri dan di kelilingi darah.
" Berani sekali kamu berteriak kepada ku!" sahut Sisil membesarkan volume suaranya.
" Mama jangan aneh-aneh. Katakan apa yang mama lakukan kepada mereka. Kenapa mama menyekap mereka?" tanya Sisil benar-benar naik pitam dengan tindakan mamanya.
" Ada apa denganmu. Kamu kenapa marah. Sejak kapan kamu mencampuri urusanku," teriak Sisil.
" Memang kenapa jika aku membunuh mereka. Aku ingin melenyapkan anak-anak dari wanita-wanita sialan itu. Agar mereka merasakan apa yang aku rasakan," teriak Sisil.
" Cukup ma!" tidak ada gunanya mama dendam dengan mereka. Mereka tidak tau apa-apa dan mama tidak pantas membalaskan dendam pada mereka. Mama yang salah. Mama yang yang jahat kepada mereka. Jadi wajar saja. Jika mereka akhirnya memenjarakan mama. Karena itu pantas mama dapatkan," teriak Vira dengan suara menggelegar yang tidak takut pada Sisil.
" Anak kurang ajar apa maksud mu hah! Berani sekali kau mengatakan itu kepadaku. Kau pikir kau siapa," teriak Sisil dengan matanya yang memerah ingin menerkam Vira.
Dia benar-benar emosi kepada Vira. Sementara Vira hanya memegang pipinya yang panas. Akibat tamparan sang mamanya.
" Mama selalu bermain tangan kepadaku. Jika aku melawan. Padahal aku hanya melawan untuk kebenaran dan mengingatkan mama. Apa yang mama lakukan salah. Dendam tidak menyelesaikan masalah. Mama menggunakan ku dan kak Ramah hanya untuk balas dendam. Yang sebenarnya itu kesalahan mama sendiri," ujar Vira dengan berani berbicara sambil meneteskan air matanya.
" Pintar sekali kamu sekarang Vira. Ternyata kamu bukan hanya tidak bejus melaksanakan apa yang aku perintahkan. Sekarang kamu sangat pintar menceramahiku," sahut Sisil tersenyum miring.
" Kau tidak tau apa yang mereka lakukan kepadaku. Mereka membuangku dari aku kecil dan ketika aku dewasa. Aku hanya ingin meminta hak ku. Aku hanya ingin mendapatkan rasa keluarga. Tetapi mereka memenjarakan ku dan setelah aku keluar mereka lepas tanggung jawab dan hidup bahagia. Dan kau mengatakan jika aku tidak pantas balas dendam pada orang-orang yang sudah merenggut kehidupanku," ujar Sisil bicara dengan nada suara mengeras dengan menunjuk-nunjuk Vira.
" Mama sendiri yang sudah menghancurkan diri mama. Mama sendiri yang membuat diri mama di jauhi. Mama yang tidak punya perasaan yang mengusik kehidupan mereka dan wajar saja jika mereka harus memenjarakan mama," sahut Vira.
" Vira," teriak Sisil yang semakin geram dengan Vira yang terus menerus menyalahkannya. Sisil langsung menarik rambut Vira sehingga membuat kepala Vira mendongak keatas.
__ADS_1
" Kamu benar-benar sangat berani," ujar Sisil menekan suaranya.
" Sakit ma! lepaskan. Aku mohon hentikan semua ini. Aku dan kak Ramah adalah anak mama. Bukan alat untuk di jadikan balas dendam. Aku dan kak Ramah lelah dengan semua perintah mama. Aku ingin hidup normal. Aku mohon hentikan semua ini. Kami adalah anak mama," ujar Vira yang terus memohon agar mamanya menghentikan semuanya.
" Apa katamu anakku," sahut Sisil langsung melepaskan kuat jambakan nya dari Vira dan membuat Vira jatuh kesofa.
" Anak katamu," ujar Sisil lagi yang sekarang tertawa terbahak-bahak.
" Jangan mimpi kau. Sejak kapan kalian adalah anakku. Aku mengangkat kalian dari panti asuhan. Memberi kalian kehidupan. Agar jika kalian dewasa kalian akan menjadi alat untuk balas dendam ku. Jadi jangan pernah mimpi. Jika kau dan kakak mu yang bodoh itu bisa kujadikan anak," ujar Sisil yang bicara terang-terangan.
Sisil memang tidak punya hati nurani. Jadi mana mungkin Sisil bisa memberikan kasih sayang pada Vira dan Rama. Bahkan rasa iba sedikitpun sangat mustahil di berikannya.
" Jadi sadarlah Vira. Jika kau dan ramah. Hanyalah alat untuk balas dendam. Tidak akan pernah lebih dari semua itu," tegas Sisil. Membuat air mata Vira semakin mengalir.
" Mama benar-benar jahat. Mama sudah menghancurkan hidupku dan kakakku. Mama benar-benar keterlaluan," ujar Vira yang menahan sesak di dadanya. Menangis terisak. Sementara Sisil hanya tersenyum tanpa dosa.
" Iya aku memang sangat jahat. Tapi baiklah. Karena kamu sama Ramah sudah membantuku. Walau pekerjaan kalian tidak pernah beres. Aku membebaskan kalian. Kalian akan bebas entah kemana. Mau jadi gelandangan atau sampah. Aku akan melepas kalian dari ku. Tetapi setelah Dendam ku tuntas. Hanya sebentar lagi jadi bersabarlah. Dendamku akan selesai ketika semua anak-anak wanita itu benar-benar mati," ujar Sisil dengan senyum liciknya.
Mendengarnya Vira kaget. Dia tau mamanya pasti akan melakukan itu dan Sony ada di sana. Wajah Vira menjadi panik dengan perkataan mamanya.
" Tidak ma! jangan lakukan itu. Bebaskan mereka," ujar Vira.
" Bebaskan katamu. Kau pikir kau siapa. Mereka akan berakhir di tanganku. Jadi tunggu saja masa itu. Maka kau dan Ramah akan terbebas," sahut Sisil menekankan.
" Mama tidak bisa melakukan itu. Mereka tidak salah!" teriak Vira.
" Kau bahkan sekarang berpihak pada mereka. Berati kau harus melihat bagaimana mereka mati di tanganku," sahut Sisil dengan sinis.
" Jadi tunggulah!" lanjutnya menekankan. Sisil pun membalikkan badannya melangkahkan kakinya meninggalkan Vira yang panik.
" Wanita jahat," ujar Vira menghentikan langkah Sisil.
" Wanita kejam, wanita iblis, tidak punya perasaan," ujar Vira menekan suaranya. Dia sudah tidak takut lagi dengan Sisil.
__ADS_1
Bersambung