Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 191


__ADS_3

Nayra dan Della yang berada di sisi Raina juga melihat hal itu. Mereka juga pastinya tersenyum melihat perbuatan manis Raka yang tampak simple.


" Ehmmm, yang senyum-senyum dari tadi," goda Della menyenggol Raina.


" Apaan sih," sahut Raina malu-malu.


" Memang kapan rencananya?" tanya Della, " Kalau bisa ketika aku sudah balik bertugas biar bisa datang," lanjutnya.


" Itu kelamaan kak," sahut Nayra.


" Lo, berarti sebentar lagi," ujar Della.


" Apaan sih kalian, sudah-sudah ayo, bawain minumannya kesana, nggak usah mikir yang aneh-aneh," sahut Raina yang salah tingkah.


" Siapa juga yang aneh-aneh, dia sendiri yang aneh-aneh," ucap Della.


Raina yang tidak ingin di goda terus-menerus pun membawa minumannya ke tempat Raihan dan Sony. Nayra dan Della pun menyusul dan ikut duduk. Nayra duduk di samping Raihan dan langsung memberikan Nayra daging hasil bakarannya.


" Makasih," ucap Nayra tersenyum lebar.


" Amira sayang ayo makan," ajak Raina memanggil anaknya yang masih bersama Raka.


" Iya ma," jawab Amira. Raka dan Amira pun menyusul dan duduk di samping Raina. Raina juga menyiapkan untuk Amira dan Raka.


Mereka mulai menikmati dengan lesehan di lantai sambil mengobrol. Sebenarnya hal seperti itu sudah sering di lakukan dalam perkumpulan pertemanan Raihan.


Tapi pasti tidak untuk Nayra dan Raka. Ini ke-3 Nayra datang ke Villa itu. Pertama kali waktu Raihan menyuruhnya menjemputnya.


Saat mereka jadian kembali Raihan membawa Nayra dan memperkenalkan Nayra sebagai pacarnya dan ini ke-3 kalinya datang sebagai istri Raihan.


Sama halnya dengan Raka yang memang baru pertama kali datang dan baru mengenal teman-teman calon istrinya itu. Karena yang di kenalnya hanya Della saja.


Tetapi untunglah hari ini terlihat semua mencair. Bahkan Nayra maupun Raka sangat cepat berbaur ke pada yang lainnya tidak henti-hentinya mereka tertawa karena pembahasan yang lucu.


Meski di luar sana sedang hujan deras. Tetapi mereka sangat menikmatinya, mungkin karena lebih kekeluargaan saja.


Tiba-tiba di tengah tawanya wajah Della berubah menjadi sendu. Della seperti mengingat sesuatu.


" Andai saja kamu tidak gelap mata Angga, pasti kamu ada di sini bersama Carey," batin Della yang mengingat ke-2 temannya.


" Mama Amira mau bobo," ujar Amira yang sudah mulai mengantuk.


" Ya sudah, ayo mama antar kekamar," ujar Raina mengusap rambut Amira. Amira mengangguk.


" Om Raka Amira Bobo dulu ya," ujar Amira Raka orang yang pertama baginya untuk berpamitan.

__ADS_1


" Iya sayang selamat tidur," jawab Raka tersenyum lebar.


" Dari tadi kek Amira, mama kamu sama calon papa kamu sudah tidak sabar itu pacaran berduaan," celetuk Sony menggoda.


" Apaan sih anak kecil juga," sahut Raina kesal.


" Tau nih, pikiran mu kotor, nggak pernah berubah," sambung Raihan membela adiknya.


" Iya sorry," ucap Sony.


" Ya sudah ayo sayang," ajak Raina yang sudah berdiri.


" Dada semuanya," ujar Amira berpamitan lagi.


" Dada Amira," jawab mereka serentak.


Amira tersenyum dan pergi bersama mamanya menuju kamar.


Yang lain melanjutkan makan dan mengobrol. Sudah jam 11 malam, karena dingin jadi mengundang untuk mata yang lebih enak jika tertidur.


Nayra di dapur mencuci piring sisa makanan tadi. Luci yang ke dapur mengantarkan gelas melihat Nayra jadi menghentikan langkah kakinya.


Tetapi lucu menarik napasnya panjang dan memantapkan diri menghampiri Nayra. Walau tadi dia juga sudah berdekatan dengan Nayra. Tetapi mereka tidak sempat mengobrol.


" Taro sini aja biar sekalian," ujar Raina yang melihat Luci dengan gugup. Luci mengangguk dan meletakkan gelas-gelas di cucian kotor.


" Iya kenapa?" tanya Nayra menoleh ke arah Luci.


" Hmmmm, aku minta maaf," jawab Luci gugup sambut meremas bajunya, mungkin dek-dekan.


" Maaf, soal apa?" tanya Nayra yang benar-benar bingung.


" Semuanya, aku banyak banget salah sama kamu, jadi maafin aku," ujar Luci tulus. Nayra tersenyum dan mematikan keran air, melap tangannya dan menghadap Luci yang menunduk.


" Hmmmm, tidak ada yang perlu di maafkan, lagi pula aku tidak tau kapan kamu berbuat salah, justru aku yang minta maaf sama kamu. Aku belum sempat mengucapkan terimakasih sama kamu. Karena kamu sudah menyelamatkanku," ujar Nayra yang memang mengetahui jika Luci orang yang memberitahu Raihan tentang keberadaannya.


" Tidak Nayra, justru aku juga minta maaf dalam hal itu. Aku tidak bisa membantu kamu dan membiarkan semuanya terjadi, jadi tetap aku harus minta maaf," ujar Luci lagi.


" Hmmmm, ya sudahlah, jika kamu mau minta maaf, kalau begitu aku maafkan, dan bagaimana soal terimakasih ku?" tanya Nayra. Luci tersenyum.


" Sama-sama," jawab Luci. Nayra mengangguk senyum.


" Apa kita tidak berpelukan?" tanya Luci yang sepertinya ingin memeluk Nayra.


Nayra mendengus tersenyum dan membuka tangannya lebar-lebar agar Luci datang kepelukannya dan dengan senang hati Luci pun menyambut pelukan itu. Pada akhirnya mereka berpelukan dengan erat.

__ADS_1


" Makasih ya," ujar Luci di dalam pelukannya.


" Aku yang makasih," jawab Nayra.


" Ya sudah, aku mau lanjutin cuci piring," ujar Nayra melepas pelukannya.


" Aku bantuin," sahut Luci. Nayra mengangguk dan merekapun mencuci piring bersamaan.


**********


Setelah menidurkan Amira, Raina kembali ke luar dari kamar dengan membawa selimut tebal. Raina menghampiri Raka yang menutup pintu utama.


" Raka," tegur Raina yang berdiri di belakang Raka. Raka membalikkan badannya dan melihat Raina.


" Hmmm, kenapa?" tanya Raka.


" Nih, supaya kamu tidak kedinginan," ujar Raina yang perhatian. Raka langsung meraihnya.


" Makasih," jawab Raka, " kamu sudah mau tidur?" tanya Raka.


" Belum sih," jawab Raina.


" Kita ngobrol sebentar," ajak Raka yang juga belum mengantuk. Raina mengangguk Raka mengajaknya mengobrol di ruang tamu duduk di lantai dengan menyandarkan diri kedingding sofa yang kebetulan sudah tidak ada orang di sana. Karena yang para wanita pasti sudah tidur di kamar.


Sementara untuk tidur di luar hanya Raka dan Sony saja.


" Apa Amira sudah tidur?" tanya Raka.


" Hmmm, sudah," jawab Raina. Raka membentangkan tangannya ke pundak Raina dan meraih Raina ke pelukannya.


" Kamu jangan galak-galak sama Amira, kasihan dia, dia masih kecil," ujar Raka mengusap pucuk kepala Raina. Raina mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Raka.


" Kamu juga, kebiasaan belain dia, yang adanya dia semakin manja," sahut Raina dengan kesal.


" Aku tidak membelanya, aku hanya ingin dia merasa sedih, jadi kamu harus mengurangi kata-kata kamu yang sedikit kasar kepadanya," ujar Raka dengan tegas.


" Iya," jawab Raina tidak ikhlas.


" Aku serius," ujar Raka melihat Raina yang tidak menanggapinya.


" Aku juga serius," jawab Raina. Raka tersenyum dan mengecup dengan cepat bibir Raina membuat Raina kaget dan refleks memukul lengan Raka.


" Kamu, gimana jika anak-anak liat, aku bisa jadi bahan ejekan," sahut Raina kesal. Membuat Raka tersenyum lebar.


" Maaf, aku hanya khilaf," jawab Raka.

__ADS_1


" Khilaf, juga gak kayak gitu," sahut Raina masih kesal tetapi tersenyum tipis.


Bersambung........


__ADS_2