Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 59


__ADS_3

Raina memijat pelepisnya. Tidak menyangka kantor hari ini telah menjadi tontonan dan kakanya sendiri yang menyebabkannya. Dengan napasnya yang naik turun. Raina pun meninggalkan tempat tersebut.


" Ada-ada saja," desis Alex geleng-geleng yang juga ikut menonton pertunjukan itu.


Orang-orang kembali bekerja. Barulah Carey muncul, setelah lama melihat dari kejauhan. Kalung Nayra berada tepat di bawah heelsnya Carey berjongkok dan mengambil kalung berwarna silver itu. Kalung yang tertulis Hurup RN.


Carey lalu berdiri, dan membuang kalung itu ke tong sampah. Kemudian dia langsung pergi dengan senyum kemenangan di wajahnya.


" Tempatnya memang harus di situ," batinya dengan senyum kemenangan.


**********


Nayra memilih meninggalkan Perusahaan itu dengan luka yang sangat lebar. Meski dia berusaha tenang. Berusaha kuat di depan semua orang. Ingin memperlihatkan kepada orang jika dia baik-baik saja.


Tetapi sekarang, air matanya mengalir deras. Di dalam Taxi Nayra meratapi nasibnya. Ini ke-2 kalinya dia menangis karena Raihan. Dulu juga dia menangis di dalam Taxi. Karena tidak bisa mencegah kepergian Raihan.


" Kamu sangat jahat Raihan," batin Nayra yang merasa sesak di dadanya.


Flass back.


Nayra yang mendengar Raihan akan ke Luar Negri. Nayra yang pulang sekolah langsung buru-buru menaiki Taxi ke rumah Raihan. Dengan langkah yang cepat Nayra memasuki rumah Raihan.


" Kak Raihan, kak Raihan, kak Raihan," Nayra berteriak memanggil nama Raihan dengan keras.


" Nayra," sapa Zira yang turun dari tangga. Melihat Zira. Nayra langsung menghampirinya. Nayra memegang ke-2 tangan Zira. Zira bisa merasakan tangan Nayra yang bergetar dan matanya yang bergenang.


" Tante kak Raihan mana?" tanya Nayra dengan napas terengah-engah.


" Bukannya kamu sudah tau, jika Raihan akan ke New York, dan dia baru saja pergi," jawab Zira.


Nayra mendengarnya semakin shock. Nayra merogoh saku baju sekolahnya dan membuka tasnya. Sepertinya Nayra mencari sesuatu. Dia mengeluarkan semua isi tasnya di lantai. Zira bingung dengan apa yang di lakukan Nayra.


" Dimana ponselku?" gumamnya dengan panik. Lalu Nayra berdiri kembali memegang tangan Zira.


" Tante, Nayra boleh pinjam ponsel Tante, ponsel Nayra pasti ketinggalan di sekolah. Nayra harus menghubungi kak Raihan. Nayra harus bicara sebentar kepadanya. Nayra mohon Tante tolong telpon kak Raihan. Dia tidak boleh pergi. Nayra mohon Tante, tolong Nayra," ujar Nayra yang terus memohon dengan linangan air matanya.


" Tante Nayra mohon Tante, tolong Nayra Tante, hentikan semua ini. Nayra mohon hubungi kak Raihan. Nayra mohon Tante, Nayra mohon Tante," Nayra terus memohon.


" Nayra dengarin Tante, semua ini tidak ada gunanya. Raihan ke Luar Negri. Untuk melanjutkan kuliah," jelas Zira.


" Tante tapi Nayra harus bicara kepadanya. Nayra sangat mencintainya, Nayra mohon Tante, tolong Nayra," ujar Nayra lagi memohon menyatukan ke-2 tangannya. Zira memegang pipi Nayra dan tersenyum kepada Nayra.


" Nayra kamu masih kecil. Untuk berbicara cinta. Apa yang kamu rasakan bukan cinta. Semua itu hanya perasaan emosi kamu saja. Tidak ada gunanya menangisi kepergian Raihan. Jangan berlebihan lupakan Raihan. Pulanglah, kamu pasti lelah," ujar Zira.


" Tidak Tante, aku tidak bisa membiarkan kak Raihan pergi tanpa bicara dulu dengan ku," ujar Nayra yang langsung pergi.


" Nayra tunggu," panggil Zira menghentikan langkah Nayra.

__ADS_1


" Pulanglah, jangan kebandara. Tante akan marah jika kamu menyusul Raihan. Semua ini demi kebaikan kamu dan juga Raihan. Kamu harus fokus pada pendidikan kamu. Begitu juga dengan Raihan," tegas Zira.


Namun Nayra tetap melangkahkan kakinya berlari. Nayra langsung menaiki Taxi. Dia masih berharap bisa bertemu dengan Raihan. Dia merasa sangat sial. Karena ketinggalan ponselnya. Seharusnya dia menelpon Raihan.


Sesampai di bandara, Nayra mencari-cari dimana Raihan. Dia menelusuri bandara seperti orang gila. Namun tidak menemukan Raihan sama sekali. Nayra berlutut di lantai. Dia berteriak memanggil nama Raihan. Dia sangat berharap jika orang yang di panggilnya datang.


Sia-sia, semuanya sia-sia. Nayra pulang tanpa berbicara pada Raihan. Dengan tidak bersemangat Nayra menaiki Taxi dengan cucuran air matanya.


Flassaon


Nayra terus menangis, memegang dadanya yang semakin sesak. Dia tidak percaya. Jika Raihan melakukan ini kepadanya. Supir Taxi terus melihat ke arah Nayra dari kaca spion. Dia sangat iba dengan gadis cantik yang menangis Sengugukan.


Ting


Nayra mengusap air matanya dengan kasar. Lalu membuka pesan wa yang masuk.


..." Kak rumah sedang kacau, mama di tangkap polisi," Aliya....


" Ada apalagi ini," gumam Nayra.


" Pak kita ke perumahan City Clas!" ujar Nayra.


" Baik Bu," sahut supir Taxi.


**********


Raina tidak habis pikir dengan apa yang terjadi tadi bisa-bisanya kakaknya dan Nayra mempertontonkan masalah mereka. Raina yang berada di dapur kantor . Terus memijat kepalanya yang semakin berat.


" Kenapa melakukan ini kak Raihan. Apa kakak sadar apa yang kakak lakukan justru menyakiti diri Kakak. Kenapa harus memikirkan dendam dari pada mencari tau kebenarannya," gerutu Raina yang menyayangkan semua ini.


Flass back


Raina melihat kedatangan Amira kerumahnya dan memohon kepada mamanya. Tetapi mamanya bahkan tidak memberi kesempatan kepada Nayra untuk berbicara melewati telpon.


Trettttttretttttttttttttt ponsel Zira berdering.


" Halo sayang, kenapa menelpon ada apa?" tanya Zira yang mengangkat telpon dari Raihan.


" Ya sudah jika seperti itu, kamu menginap di hotel saja!" ujar Zira menutup telponya.


" Siapa ma?" tanya Nayra tiba-tiba.


" Raihan, keberangkatannya di tunda sampai besok pagi," jawab Zira.


" Oh iya, bukannya kita harus beri tau Nayra hal ini," sahut Raina dengan bersemangat.


" Tidak perlu Raina. Biarkan saja mereka. Nayra itu masih terlalu kecil untuk berpacaran dengan Raihan. Jadi biarkan saja Nayra dan Raihan berpisah," jelas Zira.

__ADS_1


" Ma, mereka pacaran bukan melakukan hal yang aneh-aneh. Mama juga tau itu. Jika Raihan justru ingin menjaga Nayra. Apa salahnya jika mereka bertemu sebentar. Toh juga Raihan akan tetap pergikan," ujar Raina memberi saran.


Kamu dengarkan saja kata-kata mama. Tidak ada gunanya kamu membantah. Semuanya demi kebaikan Raihan dan Nayra," jelas Zira


Flass on


" Hal ini tidak akan terjadi, jika mama memberi Nayra kesempatan, dan mungkin mama bisa menjelaskan kepada kak Raihan semuanya," batin Raina.


Raina mencoba untuk berdiri, dan memegang kepalanya. Tetapi tubuhnya semakin lemas, sampai dia hampir jatuh. Untung saja ada Raka. Yang tiba-tiba datang dan menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


" Ibu tidak apa-apa?" tanya Raka mulai panik. Tetapi Raina malah bengong dan terus melihat Raka yang berada di sampingnya, merangkul dirinya


" Bu Raina," sapa Raka lagi.


" Ha iya, tidak saya tidak apa-apa," sahut Raina yang menjadi gugup.


" Saya hanya ke kelahan," jawab Raina.


" Kalau begitu, biar saya antar ibu pulang!" ujar Raka memberi saran.


Raina yang memang harus pulang langsung mengangguk. Raka pun membantu Raina berjalan.


*********


Suasana Adverb kembali semula serius bekerja, setelah kejadian tadi pagi, mereka pasti memiliki tingkat penasaran tingkat dewa.


Terlihat OB yang mengambil tong sampah kecil yang dekat dengan ruangan Raihan. Dari arah yang berlawanan Jesika yang berjalan yang fokus dengan kacanya.


Dia terus melihat pipinya yang tadi di tampar Nayra. Karena Jesika tidak melihat jalan, hal hasil dia menabrak OB yang juga fokus pada pekerjaannya.


" Auhhh," Teriak Jesika yang terduduk di lantai. Al hasil tong sampah yang di pegang OB tersebut jatuh. Dan sampahnya berserakan di lantai dan bahkan mengenai Jesika.


" Auhhhh, jijik," keluh Jesika yang kegelian melihat sampah. Karyawan yang melihatnya hanya tertawa.


" Maaf Bu saya tidak sengaja," ujar OB tersebut, Jesika langsung berdiri.


" Tidak sengaja kamu bilang, kamu tau tidak kamu mengotori baju saya dengan sampah-sampah menjijikkan ini," bentak Jesika, menginjak-injak sampah itu dan menyerakknya dengan heelsnya.


Kalung Nayra yang tadi di masukkan Carey ke dalam tong sampah itu, langsung bergeser kebawah pintu ruangan Raihan.


" Makan tu sampah," ujar Jesika.


" He Jesika, keterlaluan banget si lo," sahut Ria yang kesal.


" Ikut campur aja," ujar Jesika yang kesal dan pergi. OB tersebutpun memunguti sampah tersebut.


...Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2