
Setelah melakukan perjalanan Bisnis lumayan lama dan mendapat istirahat 1 hari. Nayra akhirnya kembali kekantor lagi.
Nayra memencet tombol lift dan memasuki lift. Belum sempat lift tertutup. Raihan, Alex dan Jesika memasuki lift yang sama dengan Nayra.
" Kenapa mesti satu lift sih," batinnya yang tidak senang.
Berbeda dengan Raihan yang melihat Nayra di dalam lift justru menyimpan senyum. Betapa tidak akhirnya wanita yang di cintainya masuk kekantor. Paling tidak matanya tidak akan sakit lagi hanya melihat bangku kosong itu.
" Dia lagi, dasar caper," ujar Jesika di dalam hati. Menatap sinis pada Nayra.
Nayra hanya berusaha tenang dan tidak mempedulikan. Alex, Jesika dan Raihan pun memasuki lift.
Saat memasuki lift dengan jahatnya Jesika mendorong Nayra dengan bahunya sampai Nayra harus mundur kebelakang dan punggungnya terbentur dinding lift.
" Apaan sih maksudnya," batin Nayra kesal. Ingin memaki Jesika tetapi dia harus menahannya.
Jesika, Alex dan Raihan berdiri di depan Nayra. Jesika menoleh kebelakang melihat ke arah Nayra yang sedang kesal.
" Syukurin," ujar Jesika tanpa bersuara. Tersenyum sinis. Nayra mengepal tangannya ingin menonjok wajah Jesika yang seperti ibu tiri.
Alex menekan tombol lantai. Yang ingin mereka tuju. Di dalam lift hening tanpa ada suara sama sekali. Raihan berada di tengah. Raihan sepertinya memikirkan sesuatu.
Raihan dengan gayanya yang coll mundur 1 langkah dan dengan jahilnya Raihan. Menangkap tangan Nayra. Dan menggenggamnya erat.
Hal itu jelas membuat Nayra kaget, dan langsung mengangkat kepalanya melihat pria yang sampingnya. Raihan juga melihat Nayra yang sebahunya itu.
Dengan bangganya Raihan tersenyum nakal. Nayra yang kesal melepas tangannya dari Raihan. Tetapi Raihan malah menahannya dan menggengam erat. Al hasil mereka berdua tidak mau mengalah.
" Lepas tidak," batin Nayra seakan bicara dengan Raihan. Raihan dengan entengnya menggeleng. Nayra merapatkan giginya. Menancapkan kukunya pada telapak tangan Raihan.
" Auuuu, sakit," teriak Raihan kesakitan. Alex dan Jesika kaget dan melihat Raihan yang sudah menggoyang-goyangkan tangannya.
" Kenapa?" tanya Alex heran. Alex melihat ke arah Nayra. Nayra hanya terlihat acuh.
Raihan jadi salah tingkah. Di depan semua orang.
" Tidak apa-apa," jawab Raihan santai. Padahal tangannya masih sakit. Dan yang benar saja bekas kuku Nayra berbekas. Alex dan Jesika kembali fokus kedepan.
" Dasar perempuan gatal," batin Jesika yang sepertinya tau apa yang terjadi.
Raihan menoleh ke arah Nayra. Yang juga di lihat Nayra dengan sinis.
" Awas kamu," desis Raihan mengancam. Nayra dengan santai menggedikkan bahunya.
Ting....
Pintu lift terbuka. Alex dan Jesika ke luar terlebih dahulu. Saat Nayra ingin keluar Raihan dengan sigap menarik tangan Nayra dan menutup pintu lift.
" Raihan," desis Nayra yang shock yang sudah di himpit Raihan ke dingding lift. Satu tangan Raihan menempel pada dingding lift, agar Nayra tidak bisa lolos.
Alex dan Jesika keluar tanpa mengetahui jika Nayra dan Raihan masih berada di dalam lift.
" Oh iya Raihan," ujar Alex melihat kebelakang dan kaget tidak melihat ke beradaan Raihan.
" Kemana dia?" tanya Alex. Jesika juga bingung tidak melihat Raihan dan Nayra.
__ADS_1
" Hhhhhh, dasar," desis Alex geleng-geleng, yang sudah tau apa yang akan di lakukan temannya. Alex pun memilih pergi.
" Sialan si Nayra, dia selalu bisa menggoda Pak Raihan. Aku tidak akan kalah darinya," gumam Jesika yang kesal dan menyusul kepergian Alex.
Nayra sungguh panik yang sudah di himpit Raihan. Wajahnya seketika berubah menjadi pucat dengan keberadaan laki-laki yang sudah 1 inci dari wajahnya.
" Apa yang kamu lakukan, menyinggir," ujar Nayra mendorong dada Raihan. Dengan sigap Raihan menangkap lengan itu.
" Kamu lihat akibat perbuatan mu," ujar Raihan menunjukkan telapak tangannya pada Nayra yang sekarang berdarah akibat kuku Nayra.
" Itu salahmu sendiri, siapa suruh menggangguku," sahut Nayra dengan cepat. Raihan malah tersenyum miring melihat Nayra yang mulai panik.
" Kamu harus mengganti rugi atas kekerasan yang kamu lakukan," ujar Raihan dengan seriangi licik di wajahnya.
" Apa maksudmu, jangan macam-macam denganku," ujar Nayra semakin panik.
Nayra semakin gugup ketika mata Raihan melihatnya dengan intens. Bahkan mata Raihan turun pada bibirnya yang sedari tadi bergetar.
" Mau apa kamu?" tanya Nayra gugup, dan memalingkan wajahnya ke kiri. Raihan mendengus melihat Nayra yang sangat ketakutan.
" Aku sudah lama tidak menyentuhnya," bisik Raihan sambi mengusap lembut bibir Nayra.
" Jangan kurang ajar kamu. Aku bisa melaporkanmu atas tindak pelecehan," ujar Nayra mengancam tanpa melihat Raihan. Raihan bukannya takut justru tersenyum. Raihan memegang dagu Nayra, mengarahkan wajah wanita itu agar melihatnya.
" Kalau bicara lihatlah orangnya, jangan jadi salah tingkah seperti itu, lagi pula aku tidak peduli jika harus di laporkan," goda Raihan. Nayra sekarang sudah menghadap Raihan. Nayra hanya bisa menelan salavinanya melihat wajah Raihan yang seperti menginginkan dirinya.
Nayra dan Raihan bisa merasakan nafas 1 sama lain. Bahkan Raihan mungkin bisa mendengar debaran jantung Nayra yang tidak menentu.
" Kamu grogi?" goda Raihan membuat pipi Nayra merah.
" Aku tidak mau, di sini tidak ada siapa-siapa, dan kamu tau sendiri kan aku tidak akan menghilangkan kesempatan itu. Lagi pula kamu harus membayar akibat perbuatanmu," ujar Raihan terus menggoda Nayra dengan suara seraknya yang membuat Nayra merinding.
Raihan memiringkan kepalanya ingin meraih bibir Nayra. Yang sedari tadi menggodanya. Hampir saja Raihan mencapai keinginannya. Tapi sayang pintu lift sudah terbuka.
Dengan cepat Nayra mendorong dada bidang Raihan dengan ke-2 tangannya dan lari dengan cepat ke luar dari lift.
" Sihhh," desis Raihan mengendus kesal yang kehilangan mangsanya. Raihan berdiri tegak, merapikan jasnya hanya tersenyum melihat Nayra yang lari dengan cepat. Raihan malah tersenyum sambil geleng-geleng.
" Ihhhhh, apa dia tidak bisa melihat tempat," gerutu Nayra kesal sambil berjalan menuju mejanya.
Nayra sudah menduduki kursinya. Raihan pun lewat dengan cepat Nayra pura-pura bekerja. Raihan yang meliriknya kembali tersenyum miring melihat kelakukan Nayra. Lalu Raihan memasuki ruangannya.
" Dasar mesum," ujar Nayra menyimpan kekesalan pada Raihan.
" Nay," tegur Anita membuat Nayra tersentak kaget dan memegang dadanya.
" Anita ngagetin aja," ujar Nayra mengatur napasnya naik turun.
" Kenapa kamu marah-marah?" tanya Anita yang melihat wajah kesal Nayra.
" Tidak, tidak ada apa-apa," jawab Nayra gugup.
" Ohhhh... gimana pekerjaan kamu di Turki," tanya Anita.
" Ya lumayan lancar," jawab Nayra.
__ADS_1
" Sempat liburan nggak sih?" tanya Anita lagi yang kepo.
" Nggak, mana sempat kan tau sendiri pak Alex. Dia tidak akan memberi waktu untuk liburan," jawab Nayra tidak bersemangat.
" Seharusnya bisa sih liburan, kalau saja di tidak menggangguku," batin Nayra melihat ke arah ruangan Raihan yang sekarang Raihan sibuk bekerja.
" Uluh-uluh yang habis ke Cappodica," sahut tiba-tiba Ria yang datang dengan suara cemprengnya membawa boucket liliy yang jumbo sampai wajah Ria tidak terlihat lagi.
" Ya ampun, Ria besar banget," ujar Anita yang kagum.
" Cie, dapat bunga dari siapa?" goda Nayra yang sudah berdiri di depan ke-2 sahabatnya.
" Apaan, ini bukan buat aku, nih," Ria langsung memberi Boucket tersebut pada Nayra yang Nayra kesusahan menggapainya.
" Ini untuk Nayra, tadi ada kurir yang nganterin," jelas Ria.
" Buat aku?" tanya Nayra tidak percaya.
" Iya, sudah liburan, eh pulang-pulang dapat boucket, malah gede amat lagi," sahut Ria yang merasa Nayra sangat beruntung.
Nayra masih terlihat bingung. Nayra di dalam bouket tersebut terdapat kartu ucapan.
...Morning By Raihan...
Hanya 1 kata itu yang tertulis. Nayra tersenyum tipis dan langsung melihat ke arah Raihan yang masih sibuk dengan pekerjaannya. Raihan sangat terlihat tampan jika serius dalam bekerja.
" Cie malah senyum-senyum," goda Anita menunjuk Nayra.
" Apaan sih, nggak biasa aja," sahut Nayra mengelak dengan pipinya yang sudah merah.
" Ayo dari siapa?" tanya Ria menatap curiga.
" Kalau di lihat- lihat sih, ini pasti dari sultan atau jangan-jangan, ini dari.." Anita menutup mulutnya dan melihat ke ruangan Raihan.
" Oh May good, serius," lanjut Anita yang menebak asal.
" Apapun sih, sudah sana nggak usah pada buat gosip," sahut Nayra yang jadi panik.
Jika teman-temannya benar-benar tau kalau bunga itu dari Raihan yang ada dia akan di goda terus.
" Cie malu-malu," goda ria yang terus membuat Nayra malu.
" Sudah sana," usir Nayra lagi yang lama-kelamaan kesal.
Ria dan Anita pun kembali. Ketempat duduk mereka sambil terus menggoda Nayra. Nayra kembali tersenyum lebar dan menghirup panjang wanginya aroma bunga liliy tersebut.
Nayra kembali melihat ke arah Raihan yang ternyata. Raihan sudah berdiri di depan kaca menghadap kepadanya. Dengan ke-2 tangan di silangkan ke dadanya. Pria itu bahkan menaikkan alisnya.
Nayra ke tangkap basah. Menjadi salah tingkah dan berpura-pura biasa. Dengan cepat Nayra langsung meletakkan bunga itu di mejanya dan kembali duduk. Lalu berpura-pura sibuk pada laptopnya.
" Aduh, Nayra bego," gerutunya mengetuk kepalanya sambil menunduk di depan laptopnya.
Raihan yang melihatnya mendengus. Nayra begitu menggemaskan ketika sedang tertangkap basah mengagumi pemberiannyam
Dengan seperti itu. Diia sangat yakin Nayra pasti akan secepatnya kembali kepadanya dan hubungan mereka pasti akan kembali utuh.
__ADS_1
๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung.๐น๐น๐น๐น๐น