Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 104


__ADS_3

Raina tersenyum, Sama seperti Raka yang juga tersenyum tipis.


" Kenapa akhir-akhir ini jantungku, berdebar kencang. Apa aku periksa ke dokter dulu, apa jantungku sudah mulai bermasalah," batin Raina merasa debaran jantungnya semakin kuat.


" Aneh kenapa merasa canggung jika berbicara dengan Bu Raina. Kenapa hanya mendengar kata makasih dan maaf, seperti suatu hal yang sangat istimewa," batin Raka yang juga ikut merasa aneh akan dirinya.


Raina yang tadinya ketakutan menjadi bahagia. Semenjak kecelakaan yang pernah di alaminya bersama anak dan suaminya. Raina memang masih mengalami trauma.


4 tahun lalu. Kecelakaan itu menewaskan suaminya. Membuat Amira koma sampai hampir 3 bulan. Dia merasa akan kehilangan Amira juga pada saat itu. Tetapi tuhan masih memberinya kesempatan untuk menjaga Amira. Sampai akhirnya Amira pulih kembali.


Menyetir dan rumah sakit adalah ketakutan Raina selama ini. Apa lagi harus membawa Amira kerumah sakit. Raina hanya akan berpikir jika Amira pasti pergi.


Makanya saat Amira sakit parah Raina hanya bisa linglung seperti tadi malam. Jika tidak ada Raka dia tidak akan berani membawa Amira ke rumah sakit.


Apa lagi orang tuanya dan Raihan juga tidak ada saat itu. Tetapi Raka justru sebagai penyelamat untuknya.


************


Amira sudah bisa pulang ke rumah setelah melakukan perawatan yang lebih insentif. Semenjak kejadian itu. Raina lebih banyak menghabiskan waktu bersama Amira. Dia juga memperbolehkan Raka menjemput Amira.


Hari-hari Amira belakangan ini terlihat bahagia. Sepertinya Amira merasa nyaman dengan Raka.


Nayra dan Raihan sedang berbelanja di supermarket. Raihan berjalan berdampingan dengan Nayra dengan satu tangan mereka sama-sama mendorong troli belanjaan. Seperti pasangan suami istri yang berbelanja bulanan.


Tidak Nayra dan Raihan mereka sama-sama mengisi keranjang itu. Seperti memang tinggal 1 rumah saja tau apa yang harus di beli.


" Kamu memasak?" tanya Raihan ketika Nayra memilih sayuran.


" Hmmm, aku akan memasak makan malam. Kamu makan malam bersama ku ya," ujar Nayra memasukkan beberapa jenis sayuran ke dalam trolinya.


" Jangankan makan malam, menginap saja pun aku mau," bisik Raihan di telinga Nayra. Raihan langsung mendapat pukulan di pundaknya.


" Tidak boleh," sahut Nayra kesal langsung menolak.


" Kenapa tidak boleh?" tanya Raihan menyunggingkan senyumnya.


" Kamu tidak boleh menginap di rumah seorang wanita yang tinggal sendirian," ujar Raina kesal.


" Kenapa tidak boleh, kamu kan pacarku," ujar Raihan menyenggol Nayra dengan sikunya.


" Tidak, karena kita belum halal, jadi tidak boleh," tegas Nayra mengulang sekali lagi. Mendorong keranjangnya ke bagian daging. Raihan yang masih berdiri di tempat tersenyum miring dan menyusul Raina.


" Kalau begitu, aku akan menghalalkan mu," bisik Raihan. Nayra langsung melihat ke arah Raihan menatapnya tidak yakin.


" Kenapa eksperesi mu seperti itu. Bukannya impianmu menikahiku," goda Raihan.


" Percaya diri sekali," desis Nayra memakai sarung tangan untuk memilih-milih ikan.


" Jadi kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Raihan menaikkan alisnya.


" Bukannya kamu mengatakan, kalau aku masih bocah," sahut Nayra.


" Iya memang kamu bocah. Memang ada masalahnya menikah dengan bocah selagi aku mencintaimu," ujar Raihan.


" Sudah jangan terus-terusan menggodaku," ujar Nayra.


" Baiklah, tapi jika aku melamarmu. Awas saja kalau sampai menolak," ujar Raihan ikut memilih ikan. Mendengarnya Nayra tersenyum lebar. Mungkin ucapan Raihan hanya terdengar bercandaan mengajaknya menikah tetapi dia justru bahagia mendengar hal itu.

__ADS_1


Mereka kembali berbelanja, memilih-milih yang di perlukan. Nayra sekarang memasukkan beberapa cup buah Ceri kedalam keranjang belanjaannya. Raihan melihatnya mendengus.


" Sengaja mengambil banyak. Biar aku terus datang ketempatmu," goda Raihan sambil melihat-lihat jenis buah lainnya.


" Percaya diri sekali," sahut Amira kesal.


" Oh May God, ada Liliy," ujar Nayra membalikkan badannya melihat bunga Liliy yang berjarak 5 meter darinya.


Mata Nayra langsung berbinar. Nayra pun berlari ketempat bunga itu.


Raihan hanya geleng-geleng melihat Nayra yang tampak bahagia hanya karena sebuah bunga.


Saat ingin meraih bunga itu. Ternyata ada juga yang menginginkannya membuat tangan Nayra dan tangan seseorang itu saling tertimpa.


Nayra langsung melihat ke arah orang yang juga ingin mengambil bunga itu. Seorang wanita berusia. 40 tahunan ke atas. Mereka saling melihat satu sama lain. Sangat menginginkan bunga itu. Sampai tidak ada yang melepas sudah lebih 2 menit.


Nayra tersenyum dan melepas tangannya perlahan. Dia harus mengalah dengan wanita yang jauh lebih tua darinya.


" Maaf Tante," ujar Nayra merasa tidak enak.


" Kamu menyukainya?" tanya wanita itu. Nayra mengangguk.


" Tapi hanya satu, saya juga sangat menyukai bunga Liliy, mata saya tidak akan tahan jika melihatnya. Tetapi tidak mengambilnya," ujar wanita itu dengan senyumnya.


" Aku juga, apa salahnya mengalah untuk ku," batin Nayra.


" Oh, begitu rupanya, ya sudah buat Tante aja," ujar Nayra tidak ikhlas.


Jika wanita bukan orang tua. Nayra pasti rela bertengkar agar mendapatkan bunga itu.


" Kenapa Nara?" tanya Raihan menghadap Nayra dan memegang pundak Nayra.


Lalu mata Raihan melihat ke arah wanita yang berhadapan dengan Nayra.


" Tante Jihan," tegur Raihan kaget melihat orang yang di kenalnya.


" Raihan," sahut Jihan. Nayra kaget dengan Raihan dan wanita itu ternyata saling mengenal.


" Tante kapan kembali?" tanya Raihan.


" Oh, baru semalam," sahut Jihan.


Nayra masih bengong. Melihat Raihan dan pandangannya berpindah ke pada wanita yang berbicara akrab dengan Raihan yang sekarang memegang bunga Liliy yang ingin di rebutnya.


" Ini siapa?" tanya Jihan mengarahkan matanya kepada Nayra.


" Ini Nara, Nara kenalin ini Tante Jihan mamanya Carey," jelas Raihan.


Nayra kaget mendengar wanita itu adalah mama dari wanita yang selalu mencari masalah dengannya.


" Oh, iya, Hay tante saya Nara," ujar Nayra mengulurkan tangannya. Jihan dengan ramah menjabat tangan itu.


" Saya Jihan," sahut Jihan.


" Nara kenapa nama itu sangat khas. Seperti nama yang pernah keluar dari mulutku," batin Jihan tiba-tiba teringat sesuatu.


" Raihan ternyata Nara sangat menyukai bunga Liliy. Kami merebutkan bunga yang sama," ujar Jihan.

__ADS_1


" Iya Tante, Nara memang menyukainya, dia bahkan berlari mengejar bunga itu," jawab Raihan.


" Tetapi Nara. Tante bisa mengalah apapun itu. Tapi untuk ini Tante tidak bisa mengalah. Tante mencium aromanya saja. Tante sudah tidak tahan.


" Aku juga tidak tahan, apa salahnya memberikan kepadaku," batin Nayra lagi.


" Tidak apa-apa kok Tante, nanti saya cari di tempat lain saja," sahut Nayra dengan senyum tipisnya. Padahal dia tidak rela.


" Hmmmm, terima kasih ya," sahut Jihan memegang lengan Nayra.


Nayra seakan merasa ada serangan listrik di tubuhnya saat Jihan menyentuhnya.


" Kenapa sentuhan wanita itu sama seperti Tante Zira. Sangat damai dan tenang," batin Nayra.


" Ya sudah, Raihan, Nara, Tante kembali dulu ya, Tante ada urusan," ujar Jihan pamit.


" Oh iya Tante," sahut Raihan tersenyum.


" Mari Nara," ujar Jihan tersenyum lebar. Nayra hanya mengangguk.


" Huhhhhhh," setelah kepergian Jihan Nayra membuang napasnya kasar dengan wajahnya yang cemberut.


" Ada apa?" tanya Raihan melihat wajah Nayra cemberut.


Raihan tersenyum miring. Apa lagi jika tidak kesal karena Nayra tidak mendapatkan bunga itu.


" Kita akan mencarinya setelah pulang dari sini," ujar Raihan membujuk Nayra agar hati kekasihnya kembali ceria. Mendengar hal itu Nayra kembali tersenyum.


" Sekarang ayo kita lanjutkan belanjaan kita," ajak Raihan.


" Oke," sahut Nayra dengan ceria.


Raihan dan Nayra kembali berbelanja. Mengisi penuh keranjang mereka.


********


Raina berada di dalam mobil yang di setiri oleh Raka. Dia akan menjemput Amira ke sekolah hari ini bersama Raka.


Ting pesan wa dari ponsel Raina berbunyi. Raina langsung membuka pesan itu.


..." Ini foto-foto Pak David sewaktu berada di Indonesia,"...


Raina langsung menscroll ponselnya dan melihat beberapa Foto-foto Pak David sewaktu masih anak muda.


" Lumayan tampan," gumamnya tiba-tiba mengagumi David sewaktu masih muda. Mendengar kata tampan.


Raka langsung melihat dari kaca spion. Melihat Raina yang tersenyum melihat ponselnya. Raka kembali fokus menyetir kedepan. Tidak mungkin juga dia bertanya.


Tiba-tiba Raina heran melihat beberapa foto.


" Tante Jihan, Pak David kenal dengan Tante Jihan," batin Raina melihat Jihan, David, dan ke-2 orang tuanya berfoto bersama.


Raina semakin kaget melihat foto David dan Jihan berdampingan. Jihan memakai kebaya putih dan David memakai jas hitam.


" Kenapa Fotonya sangat Formal, seperti pernikahan," batin Raina bingung.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒนBersambung ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2