
Jihan menjenguk Carey ke dalam penjara. Sudah lebih 1 bulan Carey berada di dalam penjara. Seperti biasa Jihan menunggu di ruang tunggu.
Tidak berapa lama Carey pun datang. Jihan melihat Carey sungguh sangat prihatin. Tubuh Carey kurus kering.
Memang selama di penjara Carey makan tidak teratur. Belum lagi tekanan batin yang di terimanya membuat menjadi kurus kering. Wajahnya juga sangat kusam.
Bahkan Beberapa kali Carey mendapat kekerasan fisik di dalam penjara dari teman satu kamarnya.
Tetapi pada akhirnya polisi mengetahui hal itu dan memindahkan Carey dari teman satu kamarnya.
Jihan yang melihat Carey, berusaha menahan air matanya. Agar tidak jatuh. Walau dia ingin menangis karena kondisi Carey yang sangat memperihatinkan.
" Mama datang," ujar Jihan ketika dudak di depan Jihan.
" Iya, bagaimana ke adaanmu?" tanya Jihan.
" Seperti yang mama lihat," jawab Carey dengan wajah lesuh.
" Hmmmm, ini mama membawa makanan, makalah! agar kamu memiliki tenaga," ujar Jihan menggeser paper bag yang di bawanya kedepan Carey. Carey tersenyum tipis.
" Untuk apa memberiku tenaga, aku justru ingin tenaga ku habis, supaya aku tidak berada di sini lagi, aku lelah jika hidup terus. Dan Jika di sini terus," ujar Jihan dengan putus asa karena terus berada di dalam penjara.
" Carey, kamu tidak boleh bicara seperti itu. Kamu berada di sini, karena kebodohan kamu sendiri, kamu melakukan sesuatu di luar batas kamu. Dan sekarang kamu harus ikhlas menerima semua yang terjadi. Hukuman ini tidak setimpal dengan apa yang kamu lakukan," ujar Jihan membuat Carey mengerti.
" Tidak setimpal, bukankah dia bahagia sekarang. Dia sudah menikah dengan Raihan. Sementara aku di sini. Apa lagi yang tidak setimpal," sahut Carey yang masih belum bisa menerima kenyataan tentang pernikahan Raihan dan Nayra.
" Carey, mereka saling mencintai dan wajar jika mereka menikah. Tetapi kamu hanya mencintai dan kamu juga tidak tau perasaan kamu sama Raihan itu seperti apa. Benarkah kamu mencintainya atau hanya sebatas ambisi kamu yang hanya ingin memilikinya saja," ujar Jihan. Carey mendengus tersenyum.
" Mama selalu membelanya. Bahkan ketika aku di sini. Beberapa kali aku mendengar mama membelanya. Lalu untuk apa mama memberiku makanan ini. Untuk apa memberiku tenaga. Karena aku tidak ingin hidup lagi. Karena mama sekarang juga sudah tidak membutuhkanku," ujar Carey dengan rasa kecewanya.
" Andai kamu tau Carey. Jika Nayra adalah adik kamu. Mama yakin kamu tidak akan seperti ini," batin Jihan.
" Sebaiknya mama pulang, jangan menemuiku, jika hanya ingin berbicara tentang dia dan terus menyalahkanku. Aku membencinya sangat membencinya," ujar Jihan masih menyimpan kebencian yang besar kepada Nayra.
" Carey kapan kamu bisa berubah?" tanya Jihan.
" Aku tidak perlu berubah, hanya untuk orang seperti dia," sahut Carey dengan hatinya yang keras.
" Apa kamu tidak menyesali perbuatanmu?" tanya Jihan.
" Aku tidak akan pernah menyesal melakukan itu kepada wanita yang sudah mengambil Raihan dari hidupku," jawab Carey dengan sinis.
Jihan terdiam. Tidak bisa berkata apa-apa lagi. Carey benar-benar di buatkan oleh cinta. Walau dalam ke adaan seperti ini. Carey masih tetap membenci Nayra.
__ADS_1
" Mama sebaiknya pergi," usir Carey sekali lagi.
" Baiklah, mama akan pulang," sahut Jihan berdiri.
" Kamu jaga kesehatan kamu. Apapun itu, bagaimanapun kamu. Kamu tetap Carey anak mama," ujar Jihan. Carey dia tanpa menjawab apa yang di katakan mamanya.
" Mama pulang dulu," ujar Jihan pamit. Jihan langsung pergi dari ruang tunggu tersebut. Sia-sia dia datang.
Carey sama sekali tidak bisa di kasih tau. Carey tetap keras kepala dan tetap membenci Nayra.
***********
Mobil Raihan berhenti di depan rumah ke-2 orang tuanya. Raihan dan Nayra saling melihat. Sambil membuka seat belt masing-masing.
" Ayo," ajak Raihan.
Nayra mengangguk, ke-2nya pun keluar dari mobil. Dengan tangan yang menggandeng mereka memasuki rumah.
1 tangan Raihan memegang paper bag yang berisi makanan. Sebelum kerumah orang tuanya dia dan Nayra mampir sebentar membeli kue kesukaan Zira.
" Ya ampun kalian sudah datang," sahut Zira yang melihat Nayra dan Raihan datang.
Dengan ramah Zira langsung menghampirinya kedepan pintu dan memeluk Nayra.
" Baik ma," jawab Nayra melepas pelukannya. Zira tersenyum dengan Nayra yang memanggilnya mama.
Zira mengusap pipi Nayra. Dia sangat terharu melihat perkembangan kesehatan Nayra yang semakin lama semakin membaik.
" Mama senang kamu sudah semakin pulih," ujar Zira tersenyum lebar.
" Oh iya ma, ini kita bawa makanan," ucap Nayra. Memberikan paper bag yang di pegang suaminya.
" Teri makasih, mama sudah merepotkan kamu," ujar Zira.
" Tidak dong ma, itu hanya kue," sahut Raihan.
" Ya sudah sekarang ayo kita duduk," ujar Zira mempersilahkan. Raihan. Nayra dan Zira pun duduk.
" Amira mana ma?" tanya Nayra dengan kepalanya yang mencari-cari.
" Raina lagi menjemputnya les balet. Paling sebentar lagi pulang," jawab Zira. Nayra hanya mengangguk tersenyum.
" Papa kemana ma?" tanya Raihan.
__ADS_1
" Papa lagi keluar sebentar," jawab Zira, " mama tidak tau kalau kalian akan datang lebih cepat. Eyang sama Andini juga belum datang," ujar Zira.
" Iya soalnya Nara pengen cepat-cepat kemari," sahut Raihan.
" Benarkah, ya sudah kalau begitu. Jika Nayra sudah ada di sini. Maka Nayra harus membantu mama memasak," sahut Zira.
" Iya boleh," sahut Nayra mengangguk setuju.
" Ya sudah ayo," ajak Zira. Nayra mengangguk, Zira meraih tangan menantunya dan mengajaknya kedapur.
Raihan tersenyum melihat Nayra yang memang sudah benar-benar sembuh. Dia tidak menyangka jika Nara yang dulu ceria sekarang telah kembali. Berkat dari usaha Raihan yang bersabar dengan kesembuhan Nayra.
*********
Raihan menghampiri dapur dan melihat Zira memasak sendirian.
" Nayra mana ma?" tanya Raihan tidak melihat istrinya.
" Lagi di atas ganti baju. Tadi bajunya kotor, jadi mama suruh ganti pakaian," jawab Raihan.
" Ohhh, begitu, ya sudah Raihan ke atas dulu," ujar Raihan yang ingin menyusul istrinya.
" Raihan?" panggil Zira.
" Iya ma," sahut Raihan.
" Mama lihat, perkembangan Nayra semakin membaik," ujar Zira.
" Benar ma, Nayra memang sudah mulai normal," sahut Raihan.
" Apa kamu sudah memberitahunya tentang siapa dia?" tanya Zira dengan berhati-hati.
" Belum ma, mungkin sebentar lagi. Besok Raihan akan konsultasi kembali dengan Dokter. Setelah itu jika memang waktunya tepat. Raihan akan bicara," ujar Raihan yang sudah memikirkan hal itu dari sebelum-sebelumnyanya.
" Iya mama percayakan sama kamu, semoga semuanya lancar," ujar Zira penuh harapan.
" Iya ma, Raihan juga berpikir seperti itu," sahut Raihan. Zira mengangguk- angguk.
" Ya sudah, Raihan ke atas dulu, Raihan mau melihat Nara dulu," ujar Raihan pamit.
" Iya, nanti kalau eyang sudah datang mama panggil kamu dan Nayra," sahut Zira.
" Iya ma," sahut Raihan lalu langsung pergi.
__ADS_1
๐๐น๐น๐น๐นBersambung ๐น๐น๐น๐น๐น