Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 329.


__ADS_3

Tengah malam. Akhirnya mereka kembali dengan tangan kosong tanpa Raihan. Zira dan yang lainnya menunggu di depan rumah dan 3 mobil yang berisi orang-orang yang menjadi sandera Sisil berhenti berbaris kebelakang.


Belum juga melihat orang-orang itu akan turun. Zira, Raina, Jihan, Dara, Aca, Kayla, Saski dan Carey sudah menangis terlebih dahulu yang mungkin mereka tau apa yang terjadi.


Seketika pintu mobil terbuka bersamaan dan menunjukkan wajah-wajah yang lesu, ada beberapa yang terluka dan pasti derain air mata yang tidak bisa terbendung kan.


Luci dan Celine langsung berlari dan menghampiri mamanya yang pasti menunggu kepulangan. Tetapi Zira yang sama sekali anaknya tidak di lihatnya langsung terduduk lemas.


" Ma," Raina berjongkok dan memeluk mamanya.


Menangis bersamaan karena sang kakak yang sama sekali tidak pulang. Meski awalnya sudah di beritahu. Raihan tidak juga di temukan. Tetapi mereka masih berharap banyak ketika pulang Raihan ikut bersama mereka.


Addrian langsung berlari dan memeluk istrinya yang terduduk lemas.


" Di mana anakku, di mana Raihan, di mana dia, kenapa kamu meninggalkannya kenapa," ujar Zira menangis Sengugukan di pelukan suaminya. Yang sangat terpukul karena tidak melihat putranya.


" Maafkan aku Zira, maaf kan papa Raina," ujar Addrian yang hanya bisa meminta maaf pada anak dan istrinya.


" Kenapa semua bisa seperti ini pa," Raina juga terisak-Isak menangis. Karena kakaknya yang tidak di temukan. Raka langsung menghampiri istrinya berjongkok dan memeluk istrinya memberikan kekuatan.


Raina memang bahkan tidak perduli lagi dengan suaminya yang sekarang terluka. Dia hanya merasa hancur karena kakaknya yang tidak ikut pulang bersama papa dan suaminya.


" Sayang kamu tenang ya, besok kita cari kak Raihan lagi," ujar Raka yang hanya bisa memberikan harapan pada istrinya.


" Kenapa kamu meninggalkan kakakku. Seharusnya kamu mencarinya. Apa yang terjadi kepadanya," ujar Raina yang memukul-mukul dada suaminya.


" Maafkan aku Raina, maaf," Raka hanya bisa menyesal dengan rasa kecewa istrinya.


Sementara Carey beberapa kali menyeka air matanya yang menangis di pelukan mamanya melihat ibu dan anak yang menangis histeris duduk di lantai.


" Mereka saja seperti ini. Bagaimana nanti dengan Nayra. Apa yang terjadi kepadanya. Bagaimana dia menerima semua ini," batin Carey yang terus memikirkan nasib adiknya.


" Carey," tegur Dion yang tanpa Carey sadari sudah berdiri di samping Carey dan membuat Carey menoleh dan melihat suaminya yang kembali selamat walau wajahnya di penuhi luka.


Perlahan Carey melepas pelukannya dari mamanya dan berpindah pada Dion. Carey memeluk erat Dion. Karena sangat merindukan Dion yang telah kembali dengan selamat. Walau dia juga merasa kehilangan dengan tidak adanya Raihan yang bergabung di sana.


Dion juga memeluk istrinya dengan erat. Tanpa bicara apapun. Dia sangat bahagia masih bisa melihat Carey dan bahkan memeluknya seperti ini.


Della yang juga ada di sana yang masih memeluk ke-2 adiknya. Matanya mencari-cari Angga dan ternyata melihat Angga yang ikut kembali membuatnya lega. Di mana Angga juga memeluk sang mamanya.

__ADS_1


Mereka mungkin bahagia dengan pasangan dan anak atau keluarga mereka kembali dengan selamat.


Tetapi tidak dengan Zira terus menangis menyebutkan nama Raihan. Zira, Raina harus merasakan hancur kehilangan anak dan saudara kembar. Hal yang sama sekali tidak pernah terbayangkan.


Mereka hanya menangis di pelukan suami mereka dengan duka yang begitu mendalam. Dengan nama yang itu-itu terus di panggil. Selain itu mereka pasti memikirkan nasib Nayra yang hamil sudah memasuki bulan ke-4.


Kondisi kandungan yang masih lemah. Dan Nayra dan bayinya akan kembali diuji dengan berita duka yang mendalam itu.


" Kenapa kalian semua ada di sini, Raihan mana?" terdengar suara yang tampak tenang menyimpan rasa panik itu.


Membuat semuanya kaget dan langsung melihat kearah suara yang menampilkan Nayra yang berdiri dengan mata yang penuh harapan melihat semua orang yang tampak berpelukan dan sangat lengkap.


Lalu dia bagaimana. Di mana suami yang di rindukannya yang seharusnya membangunkannya dan memeluknya erat.


" Nayra," kata itu keluar dari mulut setiap orang yang melihat Nayra dengan penuh simpatik.


Jihan langsung melangkah mendekati putrinya. Ingin memeluk Nayra. Tetapi Nayra langsung mundur selangkah memebuat Jihan kaget.


" Di mana Raihan?" tanya Nayra dengan suaranya beratnya yang berusaha menahan air matanya.


Dia seakan menutup pendengarannya ketika kata tidak ada akan terdengar di telinganya.


" Mama katakan di mana Raihan. Kenapa kalian pulang. Sementara suamiku Raihan tidak ada di sini. Apa misinya sudah selesai dan kalian meninggalkannya atau menumbalkan ya," ucap Nayra tampak menekan suaranya.


Belum di katakan apa-apa tentang Raihan. Tetapi Nayra seakan tau. Jika suaminya memang tidak ikut pulang.


" Katakan di mana Raihan!" teriak Nayra dengan suaranya menggelegar. Matanya yang melotot dengan wajahnya yang memerah dengan menatap1 persatu orang yang ada di sana. Yang telah pulang kembali tanpa suaminya.


Jihan langsung mendekati lagi dan kali ini berhasil dan langsung memeluk Nayra dengan erat.


" Nayra kamu tenang dulu. Kita akan secepatnya menemukannya," kata yang terdengar dari mulut mamanya.


Akhirnya membuatnya meneteskan air mata. Seakan menjawab pertanyaannya. Kata akan menikah yang berarti suaminya benar-benar tidak ada.


" Apa yang terjadi," lirih Nayra dengan suara beratnya. Dadanya begitu sesak. Napasnya yang tidak stabil.


" Sayang kamu harus kuat. Raihan pasti kembali. Percaya pada mama," ujar Jihan lagi yang terus memberikan anaknya kekuatannya. Nayra geleng-geleng dengan derain air matanya dan pandangannya yang sudah benar-benar kosong.


" Apa yang mama katakan, di mana suamiku. Kenapa dia tidak pulang di mana dia?" Nayra langsung histeris dengan kenyataan yang pasti tidak mudah untuk diterimanya.

__ADS_1


Addrian berdiri dan langsung menghampiri Nayra. Dia adalah orang yang harus bertanggung jawab atas semua ini.


" Maafin papa Nayra. Raihan


menolong papa dari tembakan Sisil. Pada akhirnya Raihan terkena tembakan dan masuk kedalam jurang," ujar Addrian yang malah menjelaskan kronologinya. Yang pasti Nayra tidak siapa dengan hal itu.


" Apa yang papa katakan," teriak Nayra mendorong mamanya sehingga Jihan hampir jatuh dan untungnya Carey berlari dan menahan tubuh mamanya agar d


tidak jatuh.


Sementara Nayra yang penuh kemarahan langsung menghampiri Raihan.


" Papa sudah berjanji kepada Nayra. Kalau papa akan membawa Raihan pulang. Tetapi apa. Papa membohongi Nayra. Sekarang di mana Raihan. Papa meninggalkannya. Papa jahat, papa jahat, kalian semua jahat kalian pulang tanpa Raihan. Kalian menjadikannya tumbal. Kalian jahat," teriak Nayra menunjuk semua orang.


" Nayra, papa janji papa akan mencarinya dan membawanya bersama kamu. Papa janji sayang," ujar Addrian mencoba menenagkan Nayra dan memeluknya. Nayra memberontak dengan menangis histeris.


" Papa tega sama Nayra. Papa tega, papa tega," ujar Nayra yang memukul-mukul dada Addrian. Menangis sengguguka dengan kenyataan yang mana mungkin iya terima. Sampai akhirnya suara teriakan itu semakin memelan dan tidak bersuara lagi yang akhirnya tubuh itu melemas dan tersungkur di lantai.


" Nayra," ucap Addrian yang ikut terduduk memeluk Nayra yang sudah tidak sadarkan diri.


" Nayra," teriak semua orang yang schok dan langsung berlari mendekati Nayra.


" Nayra sayang bangun," ujar Jihan memegang pipi putrinya yang sudah tidak sadarkan diri.


" Ayo bawa dia kekamar," ujar Zira yang ikut panik. Addrian dengan cepat langsung mengangkat tubuh Nayra dan berlari membawanya kekamar.


" Carey, kamu telpon Dokter," ujar Jihan yang kepanikan.


" Iya ma," jawab Carey yang juga tergesa-gesa.


Zira, Jihan, berlari kekamar menyusul Addrian untuk melihat kondisi Nayra. Nayra juga langsung ikut melihat keadaan Nayra.


" Kasihan Nayra. Dia pasti sangat terpukul dengan kejadian ini. Kenapa tuhan harus menguji hubungannya kembali dengan kak Raihan," batin Andini yang sedari tadi meneteskan air mata menyaksikan bagaimana sahabatnya yang kembali terluka.


Dia memang menjadi saksi bagaimana hubungan Raihan dan Nayra. Banyak ujian sampai mereka akhirnya bahagia dan hari ini dia kembali melihat hubungan itu kembali di uji.


Sebuah tangan hinggap di pundaknya membuat Andini menoleh yang ternyata Alex. Andini langsung memeluk Alex. Dia juga butuh orang untuk menenagkan kan dirinya. Alex memeluknya erat. Dia tau Andini pasti terpukul dengan kehilangan kakak sepupunya itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2