
Kekesalan Dion pada Carey menghantarkan Dion harus meredakan emosinya untuk mengunjungi surga di dunia dan memperbanyak tiket untuk ke neraka akhirat.
Di mana lagi jika bukan Club malam. suara dentuman musik yang keras membuat tubuh para pengunjung di dalam club itu menari-nari sesuai dengan irama musik.
Aroma alkohol yang menyengat di tambah asap rokok yang ada di mana-mana bertebaran di dalam Club tersebut.
Begitu juga dengan Dion yang duduk do sofa beberapa kali meneguk minuman haram itu. Baginya menghilangkan steres yang paling tepat datang ketempat itu.
" Jika berbicara mau atau tidak mau menikah. Aku juga tidak mau menikah dengan mu. Sebagai wanita muslim yang baik. Aku hanya menerima pinangan ibumu tanpa ingin melukai perasaan siapa-siapa,"
" Kamu juga bukan tipe ku. Tipe ku Pria yang berbicara sopan, lembut dan pasti tidak melenceng dari agama seperti apa yang kamu lakukan barusan,"
Semua kata-kata Carey terus merasuki pikirannya. Dia merasa harga dirinya hilang saat Carey mengatakan hal itu. Belum lagi dia tidak berbicara apa-apa setelah mendengar kalimat itu.
" Bukan tipe, tidak menyukai," ujar Dion mendengus kasar.
" Kita lihat saja. Kau sudah merusak kehidupanku. Kau merebut kesenanganku. Itu berarti kau bersiap-siap untuk menerima akibatnya. Aku pastikan kau menyesal telah mengambil jalan itu," desis Dion meneguk kembali minuman itu.
Ternyata di Club yang sama Vira juga ada di sana, memang sudah menjadi langganannya tiap malam untuk datang kesana. Bukannya menjaga David.
Vira lebih memilih datang ke Club untuk merefleksikan pikirannya. Dari pada di rumah seperti baby siter yang merawat orang yang sudah hampir mati.
Kepala Vira berkeliling mencari tempat duduk dan lokasi yang nyaman untuk minum. Matanya berhenti pada Dion yang sedang meneguk minumannya.
" Dion, ngapain dia di sini, seperti dia sedang stress," gumam Vira yang memang mengenal Dion. Vira tidak berpikir lama dan langsung menghampiri mendekati Dion.
" Dion," tegur Vira berdiri di samping Dion. Dion mengangkat kepalanya dan milihat siapa yang memanggil namanya.
" Kau," Dion melihat wanita itu dengan jelas. Vira langsung mengambil posisi duduk di samping Dion.
" Kau sedang ada masalah sampai minum sebanyak ini," ujar Vira melihat meja Dion berantakan dan beberapa botol alkohol yang sudah kosong.
" Kalau tidak ada masalah. Aku tidak mungkin datang kemari," sahut Dion yang menyandarkan punggungnya di di sofa Agar lebih santai.
Dion menoleh ke arah Vira yang mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Dion melihat Vira mengeluarkan rokok. Mengambil 1 batang rokok dari kotaknya meletakkan di mulutnya dan menghidupkan mancis mengisap rokok itu.
Dari cara Vira melakukannya dia sudah terlihat sangat ahli dan sudah sangat biasa. Memang benar Vira sudah sangat terbiasa dengan hal itu.
__ADS_1
" Apa masalahmu, sampai kau seperti ini?" tanya Vira menyembur asap rokok itu kewajah Vira.
" Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk," Dion terbatuk-batuk sambil mengipas- ngipaskan dengan 5 jarinya menghilangkan asap rokok dari wajahnya yang akibat perbuatan Vira.
" Kau masih tidak terbiasa dengan hal itu," ujar Vira tersenyum miring melihat Dion yang batuk-batuk.
" Jangan membuang asapnya kewajahku, menjauh sana," ujar Dion kesal yang masih batuk-batuk.
" Baiklah! kau belum menjawab pertanyaanku apa yang menjadi masalah besar untukmu?" tanya Vira penasaran.
" Aku akan menikah dalam bulan ini," jawab Dion meneguk kembali minumannya. Vira mendengarnya tercengang
" Aku tidak tau kalau kau punya kekasih," sahut Vira.
Vira memang berteman dengan Dion cukup dekat. Jadi Vira juga kaget dengan berita yang di sampaikan Dion. Karena memang setaunya Dion tidak memiliki pacar.
" Justru itu, mama ku menjodohkan ku," sahut Dion.
" Hah!" pekik Vira. " ha-ha-ha," Vira tertawa terbahak-bahak mendengar kata perjodohan yang di sampaikan Dion.
" Siapa yang menyuruhmu tertawa. Apa kau sangat bahagia mendengar penderitaan ku," ujar Dion tambah kesal. Merasa menyesal menceritakan hal itu kepada Dion.
" Aku tidak tau kenapa mama sangat suka melihat ku menderita. Bisa-bisanya dia menikahkanku dengan wanita seperti itu," Dion hanya akan semakin kesal. Jika mengingat Carey.
" Wanita itu. Melihat ekspresi mu menyebutkan namanya, aku bisa menebak. Kalau kau tidak menyukainya," ujar Vira menebak-nebak.
" Mana mungkin aku menyukainya. Dia hanya parasit yang merusak kehidupanku," desis Dion meneguk kembali minumannya.
" Lalu kau akan tetap melanjutkan pernikahanmu?" tanya Vira.
" Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus menikahinya. Karena mama dan aku juga tidak enak dengan temanku. Karena dia kakak dari istri temanku," jawab Dion.
" Berarti hidupmu sekarang berada di tangan wanita itu yang akan menjadi istrimu," sahut Vira terus mengisap rokoknya sambil meneguk minuman beralkohol itu.
" Tidak akan ku biarkan. Yang ada kebalikannya. Hidupnya berada di tanganku dan akan ku buat dia menyesali keputusannya," sahut Dion geram dengan Carey.
" Hahhhh!!! itu terserahmu. Mau kau apakan dia nantinya. Apa aku akan di undang kepernikahanmu?" tanya Vira.
__ADS_1
" Aku hanya berharap kau tidak datang. Jika kau datang kau akan melihat bagaimana wanita yang berpenampilan sok suci. Dengan kata-kata sok pintar dan wajah penuh simpatik," desis Dion.
" Kau membuatku penasaran saja. Jadi ingin melihat wanita yang membuatmu jadi kesal begini," ujar Vira kembali meneguk minumannya.
" Bagaimana denganmu. Aku juga melihat kau seperti ada masalah?" tanya Dion melihat kearah Vira. Bisa menerka-nerka Vira juga sedang steres. Mendengarnya Vira tersenyum miring.
" Aku gagal mendapatkannya," jawab Vira.
" Maksudnya?" tanya Dion bingung.
" Pertama kali melihatnya. Aku sudah menyukainya. Tetapi aku sangat tergesa-gesa sampai aku harus gagal mendapatkannya," ujar Vira.
" Apa kau sedang menceritakan seorang pria?" tanya Dion.
" Iya... Kau benar. Laki-laki gagah itu membuatku ingin memilikinya. Tetapi sepertinya sangat sulit," jawab Carey kembali meneguk minumannya.
" Kenapa? bukannya kau sangat mahir dalam urusan laki-laki?" tanya Dion.
" Dia mencintai istrinya," sahut Vira dengan wajah menahan kesedihan.
" Kau ingin memiliki Pria yang sudah beristri," sahut Dion kaget mendengar kata-kata Vira.
" Jika pria itu mau apa salahnya," sahut Vira.
" Bukannya kau bilang dia mencintai istrinya. Jadi dari mana ceritanya dia akan mau dengamu," sahut Dion yang menyimak kata-kata Carey.
" Tapi aku ingin memilikinya dirinya," sahut Vira.
" Kau aneh sekali. Apa tidak ada pria lain selain yang sudah memiliki istri. Kau boleh menyukai menggilai Pria mencintai. Tetapi sangat tidak etis jika Pria itu sudah memiliki seorang istri," ujar Dion seakan memberi saran.
" Bukannya banyak seperti itu," sahut Vira.
" Dan kau mau menjadi salah satu dari kata pelakor yang sering di sebutkan orang-orang," sahut Dion. Vira terdiam menyandarkan tubuhnya ke sofa seakan memikirkan sesuatu.
" Dengarkan aku Vira. Aku berteman denganmu sudah lama. Aku hanya memberi saran. Sebaiknya kau jangan menyukai Pria yang sudah memiliki istri. Itu sama saja kau hanya menghancurkan rumah tangga mereka dan aku yakin kau juga tidak akan tenang dengan hal itu," ujar Dion walau dalam keadaan mabuk tetapi masih bisa memberi peringatan kepada temannya.
" Tetapi tugasku memang untuk menghancurkan rumah tangga Raihan dan Nayra," batin Vira dengan tatapan kosong.
__ADS_1
Bersambung.