Raihan Si Pria Arrogant

Raihan Si Pria Arrogant
Part 320


__ADS_3

Andini masih mengintip dari lubang kecil itu. Dia melihat banyak orang yang melangkah dan membuatnya kaget. Dan langsung menghampiri Sony.


" Kenapa?" tanya Sony yang ikut panik dengan tingkah Andini yang tiba-tiba berlari menghampirinya.


" Ayo tidur! mereka datang," ucap Andini kepanikan yang melihat orang-orang yang berjaga itu datang memasuki ruangan itu.


" Cepat buruan," desak Andini langsung merebahkan dirinya dan pura-pura tidur. Sony juga langsung mengikutinya dan sama-sama pura-pura tertidur mengikuti apa yang di lakukan Andini. Mungkin memang ide yang di miliki Andini sangat manjur


Brukk pintu ruangan di dobrak keras. Dan ternyata benar-benar. Orang-orang yang di lihat Andini memasuki ruangan itu. Yang di pimpin oleh Sisil.


Dan beberapa orang di belakangnya yang sudah membawa. Raihan, Raka, Dion dan Alex yang sudah terluka.


Para anak buah Sisil menyeret mereka dengan paksa dan langsung menghempaskan sehingga Raihan dan yang lainnya langsung tersungkur di dekat Alex.


" Rasakan. Makanya jangan sok jadi pahlawan," desis Sisil yang tersenyum miring.


Raihan, Alex, Raka dan Dion langsung di hempaskan dengan wajah yang penuh luka dan bahkan tidak sadarkan diri.


" Kalian memang sangat bodoh. Kalian datang mengantarkan nyawa, kalian menambah kesenangan mu," desis Sisil dengan ke-2 tangannya yang di silangkan di dadanya.


Tersenyum penuh kemenangan melihat para tahanannya yang sudah tidak sadarkan diri dan dengan wajah yang babak belur.


" Siapa wanita itu. Kenapa wanita itu seperti itu. Kenapa dia berbicara seperti itu," batin Sony. Yang tidak dapat melihat wanita yang berbicara itu. Karena matanya memang tertutup.


" Ya ampun siapa lagi yang di bawanya kemari, dan siapa dia apa maksud dari perkataannya," batin Andini yang panik.


Dia mendengar jatuhan orang-orang di sekitarnya. Dia juga mencium bau amis yang seperti darah membuatnya semakin takut siapa sebenarnya orang bertambah di dalam ruangan itu dan wanita yang berbicara tampak sangat bahagia.


" Lalu kita apakan mereka?" tanya salah anak buah Sisil.


" Aku ingin beristirahat dulu. Aku lelah. Biarkan saja mereka dulu seperti ini. Kalian jaga saja mereka. Besok kita akan bakar tempat ini. Agar mereka terpanggang di dalamnya dan wanita-wanita itu akan melihat. Bagaiman anaknya dengan wajah gosong tanpa di kenali, ha-ha-ha-ha-ha," ujar Sisil tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Mendengarnya Andini dan Sony jadi ketakutan. Bagaimana mungkin mereka akan di bakar hidup-hidup.


" Siapa sebenarnya dia. Kenapa dia ingin melenyapkan kami," batin Sony yang penasaran. Tetapi tidak mungkin membuka mata. Yang ada sebelum pembakaran dia sudah mati duluan.


" Apa. Dia ingin membakar kami. Dia wanita yang jahat. Kenapa dia sampai tega melakukan itu. Kenapa dia ingin melenyapkan kami," batin Andini semakin gemetar. Ketika mendengar bahwa dia akan di bakar hidup-hidup.


" Setelah puluhan tahun. Akhirnya aku bisa membalaskan dendam ku. Aku mungkin tidak bisa membalaskan kepada kalian. Tetapi dengan menghabisi anak-anak kalian. Itu jauh lebih baik. Karena kalian akan merasakan apa yang aku rasakan. Aku yang kehilangan semuanya karena perbuatan kalian,"


" Zira, Saski, Kayla, Putri, Jihan dan kamu Tasya. Selamat berduka, atas kematian anak-anak kalian. Karena penderitaan yang sesungguhnya adalah kehilangan orang yang di sayangi," ucap Sisil dengan senyum di wajahnya menatap-natap anak-anak dari orang yang di bencinya.


" Mama, kenapa dia membawa nama-nama mama. Apa hubungannya dia dengan mama," batin Sony semakin bingung.


" Kenapa. Semua nama orang itu di sebutkan ya. Apa maksudnya dendam. Jadi di sengaja melenyapkan anak-anak dari mama dan teman-temannya karena dendam. Tetapi siapa dia," batin Andini yang semakin bingung dengan hati bertanya-tanya. Semakin penasaran dengan wanita yang sedari tadi mengoceh itu.


" Kalian tetap awasi tempat ini. Berjaga ketat di Luar, jangan memberi cela sedikitpun," ujar Sisil menegaskan.


" Baik Bu," sahut salah satu bodyguard. Sisil kembali menatap satu-satu wajah-wajah yang tidak sadarkan diri itu.


" Ayo tinggalkan mereka!" perintah Sisil yang melangkah duluan. Para bodyguard itu mengangguk dan mengikuti Sisil pergi.


Brukkk. Suara tutupan pintu kembali tertutup Andini maupun Alex sama-sama mengintip membuka mata sedikit. Memastikan apa benar-benar orang-orang itu sudah pergi.


Dan setelah memasatikan memang tidak ada lagi orang di dalam ruangan itu. Dengan serentak mereka berdua melebarkan pandangan mata dan langsung bangkit untuk duduk.


Andini dan Sony langsung kaget dengan apa yang mereka lihat Andini sampai menutup mulutnya dengan matanya yang membulat sempurna.


" Kak Raihan," pekik Andini schock melihat Raihan yang wajahnya di penuhi dengan darah dan juga yang lainnya sama dengan Raihan.


" Raihan, Raka, Alex, Dion," ujar Sony yang menuturkan 1 persatu nama teman-temannya dan dia juga terkejut dengan apa yang di lihatnya.


" Kak kenapa mereka bisa seperti ini? apa yang terjadi kepada mereka?" tanya Andini panik memegang pipi Raihan yang berusaha membangunkan Raihan.

__ADS_1


" Kakak juga tidak tau Andini. Tapi jelas ini sengaja. Kamu dengar sendirikan apa kata wanita itu. Dia ingin melenyapkan kita semua," ujar Sony.


" Lalu bagaimana selanjutnya. Kakak mungkin mendengar sendiri jika mereka akan membakar tempat ini dan itu artinya kita semua akan mati di sini," ucap Andini yang semakin panik. Apa lagi mendengar jika mereka akan segera di bakar hidup-hidup.


" Kakak juga tidak tau. Yang jelas sekarang kita harus bebas dari sini sebelum fajar tiba. Karena jika tidak kita benar-benar akan terbakar di tempat ini," ucap Sony yang juga khawatir.


" Tapi bagaimana caranya?" tanya Andini, " Kak Raihan dan yang lainnya saja. Sama sekali tidak sadarkan diri. Kita juga di awasi banyak orang. Mana mungkin kita bisa melawan mereka. Dan aku yakin kak Raihan dan yang lainnya bisa terluka seperti ini. Pasti gara-gara melawan orang-orang itu. Mereka sangat kuat kak," ucap Andini semakin panik dan bahkan tidak dapat berpikir dengan jernih.


" Andini. Kamu tenang ya. Kamu jangan memikirkan yang aneh-aneh. Percaya sama kakak kita pasti akan terbebas dari tempat ini," ujar Sony mencoba menenangkan Andini. Padahal dia juga tidak tau harus melakukan apa-apa.


Apa lagi teman-temannya sudah sekarat seperti itu dan bahkan dia juga tidak dapat berpikir dengan jernih.


***********


Di dalam pesawat Della dan Angga sudah berada di dalam pesawat dan tidak tau sudah berapa lama mereka di dalam pesawat. Della yang duduk di sebelah Angga terus melihat Angga yang memejamkan matanya.


Sejak kejadian itu mereka sama sekali belum pernah berbicara. Tetapi walau seperti itu Angga tetap bertanggung jawab atas Della. Mengendong Della memasuki pesawat dan mengurus yang lainnya.


Sifatnya yang dingin memang membuat Della merasakan sakit hati. Tetapi itulah sebenarnya yang di inginkannya. Angga menjauh dari hidupnya.


" Maafkan aku Angga, ini jalan yang terbaik. Meski aku mencintaimu. Tetapi aku tidak bisa egois. Kamu berhak bahagia dengan wanita yang sempurna. Bukan aku yang tidak bisa melakukan apa-apa," batin Della yang terus menatap wajah yang tampak senduh itu. Bahkan air matanya menetes dengan menatap pria itu dengan dalam-dalam.


Angga mengerjapkan matanya. Della yang melihat hal itu langsung kembali seperti awal dan pura-pura tertidur. Dia tidak ingin ketahuan melihat Angga dan mungkin Angga akan tau jika dia berbohong dengan perasaannya.


Angga menoleh ke arah Della dan melihat wanita itu tertidur. Angga yang tertidur memakai selimut langsung memindahkan kepada Della.


Dia menutup tubuh Della sampai kedadanya. Agar Della tidak kedinginan. Meski sakit hati. Tetapi dia sangat perduli kepada wanita itu.


" Mungkin terakhir kalinya aku bersamamu. Mungkin ini terakhir kalinya aku melakukan ini. Karena setelah kamu kembali kepada orang tuamu. Mungkin kita tidak akan bertemu lagi. Aku tidak bisa memaksamu Della. Kau cara sendiri untuk bahagia. Tetapi aku benar-benar mencintaimu," batin Angga yang menatap wajah Della dengan dalam-dalam.


Bisa mencintai tetapi tidak untuk di miliki dan itu rasanya sangat sakit dan mungkin dulu itu yang di rasakan Della kepadanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2