
Mobil Raihan sampai di depan rumah eyangnya. Raihan mematikan mesin mobil. Membuka seat belt. Lalu keluar dari mobilnya dan langsung memasuki rumah.
" Kak Raihan," tegur Andini saat melihat kakak sepupu kembali.
" Iya Andini kenapa?" tanya Raihan menghentikan langkahnya saat ingin menaiki anak tangga.
" Kaka habis dari tempat Nayra?" tanya Andini. Raihan menganggukkan kepalanya.
" Memang ada apa?" tanya Raihan.
" Aku ada perlu dengannya, aku telpon nggak di angkat," jawab Andini. Memang sedari tadi dia menghubungi sahabatnya itu. Tetapi tidak di respon sama sekali.
" Begitu," jawab Raihan dengan wajah berpikir, " Hmmmm mungkin Nayra sedang tidur, nanti coba kakak telpon dia," lanjut Raihan yang berpikir positif.
" Oh iya kak, lagian memang sudah malam juga," sahut Andini.
" Ya sudah kakak, istirahat dulu ya, kamu juga," ujar Raihan pamit.
Andini mengangguk tersenyum. Raihan melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Raihan memasuki kamarnya, merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Raihan melihat ke langit-langit kamarnya. Teringat ucapan Andini Raihan mengambil ponselnya.
Melihat kontak bertiskan Nara dan langsung menelpon. Hanya bunyi tetttttttt, yang terdengar dari suara ponsel itu.
" Apa dia sudah tidur?" gumam Raihan melihat arloji di tangannya sudah jam 11 malam.
" Mungkin besok saja aku menelponnya," gumamnya mematikan ponselnya.
Raihan yang tidak ingin mengangu Nayra. Memilih untuk tidak menelpon lagi. Lama kelamaan Raihan memejamkan matanya dan tertidur.
************
Tubuhnya yang begitu lemas, membuat Nayra terbangun. Nayra sudah berada di dalam gedung yang sangat gelap. Duduk di atas kursi dengan badan yang terikat di kursi. Kepalanya menunduk kebawah.
Perlahan mata berat itu membuka matanya melihat, di mana keberadaannya, Dadanya sangat sesak, mungkin karena ikatan yang sangat kuat.
Nayra mengangkat kepalanya dan heran dengan keberadaannya. Tempat yang sangat gelap. Hanya ada barang-barang rongsokan di sudut-sudut ruangan.
Ruangan itu sedikit bercahaya karena adanya 1 lampu kecil yang menggantung di atas kepalanya.
" Di mana aku," lirihnya dengan suara serak.
Pengaruh obat bius yang di berikan Carey masih bereaksi sehingga tubuhnya masih lemas.
" Apa yang terjadi, kenapa aku bisa di sini?" Nayra terus bertanya-tanya, setelah menyadari bahwa tubuhnya terikat kuat.
Keringat juga sudah membasahi wajahnya, iya dia butuh minum. Tenggorokannya sakit. Dia butuh air untuk mengisi tenaganya. Bibirnya yang semakin memucat.
__ADS_1
Di tengah pemikirannya yang tidak mengetahui keberadaannya. Suara hentakan heels terdengar jelas. Sampai mata Nayra menuju ke arah pintu. Di mana berasal suara itu suara yang semakin dekat dengannya.
Pandangan yang belum jelas. Nayra melihat wanita yang bertubuh tinggi, berjalan dengan langkah pelan. Nayra belum bisa melihat wajah itu karena pandangannya yang masih buram. Belum lagi ruangan yang sangat gelap.
Sampai akhirnya. Mata indah Nayra bisa melihat wanita. Ketika wanita yang membuatnya penasaran sudah berdiri di depannya.
" Carey," 1 kata itu keluar dari mulut Nayra.
Nayra mengingat bagaimana Carey datang ke Apartemennya dan tiba-tiba menutup mulutnya dengan sesuatu yang membuat lemas. Setelah itu dia tidak mengingat apa-apa lagi.
" Iya aku," sahut Carey tersenyum miring dengan ke-2 tangan di silangkan kedadanya. Wajah Carey bak seperti seorang monster yang yang ingin menerkamnya.
" Apa yang kau lakukan, lepaskan aku!" ujar Nayra masih dengan suara seraknya.
" Melepaskan, aku akan melepaskanmu, setelah kau menuruti semua kemauanku," sahut Carey dengan senyum penuh rencana.
" Apa maksudmu?" tanya Nayra menatap Carey dengan geram.
" Kau sudah mengerti maksudku, apa lagi jika bukan tenteng Raihan," ujar Carey langsung to the point.
" Raihan," sahut Nayra mendesis.
" Iya Raihan, beberapa kali aku menyuruhmu berhenti mengganggu Raihan. Tapi kau masih saja tidak mendengarkanku, jadi terimalah akibat dari keberanianmu, tapi baiklah aku akan mengampunimu dan melepaskanmu. Tetapi kau harus meninggalkannya," ujar Carey menatap sinis Nayra. Mencoba bernegosiasi dengan Nayra.
" Jadi kau melakukan ini, hanya karena Raihan," desis Nayra. Carey tersenyum membenarkan tebakan Nayra.
Carey berjongkok dan mencengkram pipi Nayra dengan 1 tangannya.
" Aku lupa siapa kau. Kau adalah salah satu wanita yang tidak bisa di kasih tau," ujar Carey semakin mencengkram kuat.
" Kalau kau sudah tau, jangan menyuruhku melakukan itu," sahut Nayra.
" Hmmmm, tapi aku tidak suka jika ada yang mengambil milikku," ujar Carey merapatkan giginya. Nayra tersenyum mendengar ucapan Carey.
" Dia bukan milikmu, dan kau tau itu. Dia tidak pernah menyukaimu. Jadi jangan mengharapkannya," sahut Nayra dengan sinis. Membuat Carey geram menatap sampai matanya ingin keluar.
Plakkkkkkk
1 Tamparan mengenai pipi Nayra sampai wajah itu miring kesamping, Carey kembali mencengkram pipi Nayra.
" Apa kau merasa jika Raihan milikmu," tegas Carey dengan emosi yang meluap.
" Iya, Raihan milikku dan aku juga miliknya, seharusnya kau sadar diri," jawab Nayra dengan menantang kembali.
" Kurang ajar," bentak Carey yang tidak terima.
Plakkkkkk
__ADS_1
Carey kembali menampar Nayra di pipi yang sama. Sehingga ujung bibir Nayra terdapat darah. Nayra hanya tersenyum menerimanya.
" Sudah seperti ini, kau masih merasa hebat, kau pikir aku akan mengampunimu hah! aku sudah mencoba baik kepadamu. Tapi kau selalu merasa hebat, jangan harap aku mengampunimu," teriak Carey.
Plakkkk. Carey kembali menampar Nayra di pipi yang belum tertampar.
" Bukannya kau pernah menamparku, saat aku ingin membalasnya Raihan malah membentakku," teriak Carey kembali menampar Nayra.
Entah sudah berapa kali Carey menampar Nayra sampai pipi wajah itu sudah lebam. Dan Penuh darah. Nayra semakin lemas menerima pukulan dari Carey.
Tangan Carey juga sudah panas menampar pipi mulus itu entah sudah berapa kali dia melakukan itu kepada Nayra.
Carey berjongkok kembali di depan Cherry dan menjambak rambut Nayra, sehingga kepala Nayra mendongak ke atas.
" Kau masih merasa hebat?" tanya Carey dengan senyum kemenangan di wajahnya melihat hancurnya Nayra.
" Kau pikir, kau melakukan ini ada gunanya. Ketika aku keluar, jangan harap Raihan akan melepaskanmu," ujar Nayra yang tidak takut dengan Carey meski dia sudah tidak memiliki tenaga.
" Ha ha ha ha ha ha," Carey tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Nayra
" Apa katamu keluar, kau hanya mimpi bisa keluar. Apa kau pikir setelah kau ke luar dari sini kau bisa bicara dengan Raihan hah! kau bahkan tidak akan pernah menemuinya," tegas Carey menekan suaranya. Lalu Carey berdiri.
" Aku sudah memperingatkanmu Nayra, tapi kau selalu merasa hebat, Kau seharusnya sadar Raihan dan aku sudah dari kecil bersama. Tapi apa yang kau lakukan. Kau baru datang dan merebut semuanya dari ku. Bukan hanya itu kau selalu merasa hebat karena, Keluarga Raihan membela dirimu. Tapi kau tidak pernah sadar dengan apa yang kau lakukan. Kau sudah menghancurkan hidupnya. Dan yang ada saat itu hanya aku. Aku yang ada di sisinya. Setelah semua baik-baik saja, kau kembali muncul dan merebutnya dari ku," teriak Carey.
" Aku tidak pernah merebutnya, kau tidak mengerti bagaimana hubungan dengannya. Pahamlah Carey. Cinta tidak bisa di paksakan. Jika Raihan mencintaimu. Dia tidak mungkin bersamaku," sahut Nayra dengan suara yang sangat lemah.
" Benarkah, jadi maksudmu. Raihan benar-benar tidak akan pernah bersamaku jika dia masih mencintaimu," sahut Carey tersenyum.
" uhuk uhuk uhuk uhuk," Nayra terbatuk karena tenggorokannya yang kering. Napasnya juga semakin sesak.
" Apa kau haus?" tanya Carey dengan senyum di wajahnya. Nayra mengangguk.
" Kamu mau minum?" tanya Cherry dengan suara lembut. Seakan kasihan. Nayra mengangguk.
" Kasihan sekali kamu, ya aku akan memberimu minum. Agar kamu bisa bicara lebih jelas dengan ku, Baiklah tunggu sebentar aku akan mengambilnya," ujar Carey dengan senyum penuh rencana. Carey meninggal kan tempat itu.
Nayra benar-benar sangat hancur. Wajahnya sudah lebam dengan perbuatan Carey. Air matanya menetes menahan rasa sakit.
Tidak berapa lama Carey datang dengan langkah indahnya. Nayra melihat ke datangan Carey membawa 2 botol minuman beralkohol. Carey tersenyum penuh kemenangan dan berjongkok.
" Apa yang kau lakukan?" tanya Nayra panik melihat Carey membuka tutup botol itu dan memasukkan 1 butir pil ke dalamnya.
" Bukannya kau haus, jadi minumlah," ujar Carey.
" Apa kau gila, kenapa kau melakukan ini," teriak Nayra dengan suara yang serak.
" Shuttt," Carey meletakkan jarinya di bibir Nayra.
__ADS_1
๐น๐น๐น๐น๐น๐นBersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น